
...Happy Reading...
......................
"Dasar bodoh! Kenapa kalian tidak memberitahuku sejak awal kalau Ganis sudah ditemukan, hah!" sentak Pak Mardo yang baru saja menerima laporan dari anak buahnya yang disuruh untuk mengikuti Alvin.
"Kalau saja teman kalian yang aku tugaskan di rumah orang tua itu tidak melapor jika Alvin datang ke sana dengan Indira, aku pasti tidak akan mempercepat kepulangku ... dan kalian akan terus berleha-leha, makan gaji buta seperti ini kan!" imbuh Pak Mardo lagi dengan emosi yang meluap.
"Kita harus segera menjalankan rencana kita, Papi, takutnya Alvin akan lebih dulu mencuci otak Eyang untuk menyerahkan warisan kepadanya." Roy tampak ikut menambah emosi suasa hati Pak Mardo dengan sangkaan tidak berdasarnya pada Alvin.
"Papi, juga harus memberi hukuman untuk Indira, agar lain kali anak itu tidak lagi berani untuk membantu Alvin. Berani-beraninya dia membawa Alvin ke rumah Eyang, disaat kita mati-matian mencegah mereka bertemu," sambung Roy lagi dengan tatapan tajam dan tangan mengepal erat, sepertinya kali ini dia juga sangat kesal pada Indira.
Pak Mardo tampak mengalihkan perhatiannya pada Roy, dia melihat anak pertamaya itu dengan sorot mata yang tidak bisa terbaca, hingga beberapa detik kemudian Pak Mardo mengangguk samar sebagai jawaban dari keinginan anaknya.
"Kamu benar, sepertinya kita harus mulai mempersiapkan diri untuk melakukan rencana yang sudah kita susun," angguk Pak Mardo.
Sial! Ternyata Alvin diam-diam juga mengincar harta warisan itu, kalau tau begini aku sudah habisi dia dari awal! batin Roy, merasa terancam oleh kehadiran Alvin.
.
Waktu terus berlalu, Alvin pun sudah kembali pada kesehariannya yang dipenuhi oleh kerja, kerja, dan kerja. Seperti saat ini, Alvin dan Ezra baru saja kembali setelah mengunjungi salah satu cabang bengkel yang berada di kota sebelah.
Awal perjalanan memang berjalan lancar, Ezra yang kelelahan memilih untuk beristirahat di kursi belakang, sedangkan Alvin fokus mengemudi.
Namun, semua itu tidak berjalan lama, karena di tengah perjalanan tiba-tiba Alvin merasa ada yang mengikuti, hingga beberapa saat kemudian mobil yang dia kendarai sudah berhasil dicegah oleh tiga mobil Van, sampai Alvin tidak bisa mengelak ataupun melarikan diri.
Ezra pun terbangun saat Alvin menginjak rem mendadak. Akibat beberapa hari ini Zain sedang tidak enak badan dan dia ikut begadang untuk bergantian menjaganya, membuat Ezra kurang tidur dan memilih mencari waktu luang saat bekerja.
Kini Ezra terpaksa harus kembali terganggu oleh aksi sekelompok orang tidak tahu diri.
"Ada apa, Vin?" tanya Ezra sambil berusaha untuk mengumpulkan nyawa.
__ADS_1
"Maaf, Pak, ada mobil yang tiba-tiba menyalip dan berhenti di depan kita," jawab Alvin sambil bersiaga saat melihat pintu mobil di depannya mulai terbuka.
Ezra mengedarkan pandangannya di menghembuskan napas kasar hingga terdengar seperti mendengus, merasa terganggu oleh semua itu.
"Ck, dasar orang-orang gak guna! Bisanya cuman main keroyokan saja," kesal Ezra, mengumpat orang-orang yang kini sudah mulai ke luar dari mobil satu per satu.
Alvin bisa melihat ada lebih dari lima belas orang yang kini sedang berjalan hendak mengepung mobil mereka.
"Apa mereka gengster, Pak?" tanya Alvin merasa khawatir karena sekarang mereka hanya berdua.
"Coba kamu perhatikan lagi, dan tenangkan dirimu," perintah Ezra saat melihat Alvin sedikit gugup.
Alvin menghirup napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, mencoba untuk menenangkan dirinya dan berpikir jernih kembali, dia juga mencoba menajamkan pandangannya, melihat lebih jelas lagi para laki-laki yang kini berjarak semakin dekat dengan mobilnya.
"Anak buahnya Pak Mardo," gumam Alvin yang masih bisa terdengar oleh Ezra.
"Hem, kamu benar, mereka memang antek-antek paman kamu sendiri," ujar Ezra dengan nada sedikit mengejek.
Namun, sampai kapan pun di dalam hati Alvin, tidak akan pernah mengakui pembunuh adik dan ayahnya menjadi keluarga. Sungguh Alvin tidak akan sudi melakukannya.
Walau keinginan untuk membalas dendam itu tidak ada. Akan tetapi, luka di dalam hati tetap saja akan terus terasa, apa lagi ini berhubungan dengan nyawa orang-orang yang dia sayangi.
"Ya, terserah kamu lah kalau soal itu. Sekarang lebih baik kamu hubungi staf keamanan dan suruh mereka menyusul kita ke sini. Kita hanya perlu mengulur waktu agar bantuan segera datang," titah Ezra tegas, walau suaranya terdengar sedikit malas.
"Tapi, Pak, ini adalah urusan saya. Lebih baik saya saja yang ke luar, sedangkan, Bapak, pergi tinggakan saya menggunakan mobil ini." Alvin tampak ragu untuk melakukan tugas yang diberikan bosnya.
Pasalnya ini adalah urusannya dengan Pak mardo dan dirinya tidak mau melibatkan Ezra di dalam masalah ini.
"Dasar bodoh!" hardik Ezra, sambil menggeleng kepala.
"Mereka menyerangmu di saat bersamaku, Alvin! Jadi mereka juga menyerangku dan membahayakan nyawaku, lagi pula kamu sekarang sudah menjadi asisten pribadiku. Itu artinya keselamatan kamu sudah menjadi tanggung jawabku juga," jelas Ezra dengan suara kesal, sungguh dia tidak pernah menyangka kalau Alvin sebodoh ini.
__ADS_1
"Tapi, Pak, ini terlalu berbahaya." Alvin masih saja merasa ragu.
"Ke luar kamu!" suara gedoran di kaca pintu depan dengan suara teriakan dari salah satu laki-laki yang kini sudah mengelilingi mobil mereka.
Alvin yang tengah berbicara dengan Ezra sampai terjingkat kaget karenanya. Dia dan Ezra kini beralih melihat ke sekeliling mobil.
"Kamu masih mau bernegosiasi dengaku dan membahayakan kita berdua, heh?" kesal Ezra, karena sekarang Alvin menjadi banyak bicara.
"Baik, Pak. Aku hubungi mereka sekarang." Alvin akhirnya memilih menurut setelah merasa terpojok.
"Heh, keluar kalian atau kita pecahan kaca mobil ini!" teriak orang-orang itu lagi.
Alvin menelan salivanya susah payah saat mendengar ancaman dari para laki-laki itu, pasalnya yang sekarang dia kendarai adalah mobil milik Ezra. Entah berapa uang yang dia butuhkan untuk memperbaikinya jika sampai mobil itu rusak.
Ah, pikirannya benar-benar kacau saat ini, hingga segala yang ada di pikirannya pun begitu rancu dan bercampur menjadi satu.
"Pak, bagaimana ini?" tanya Alvin lagi.
"Kira-kira butuh berapa menit lagi sampai bantuan datang?" tanya Ezra, tampaknya laki-laki dewasa itu tengah memikirkan sesuatu.
"Sepuluh menit, Pak," jawab Alvin, setelah sambungan telepon dengan para pengawal Alvin terputus.
"Kita biarkan dulu mereka di luar ... cukup kendalikan saja sampai bantuan datang," ujar Ezra penuh percaya diri.
"Tapi, Pak, bagaimana kalau mereka merusak mobil, Bapak, bukannya ini mobil kesayangan, Bapak?" tanya Alvin ragu.
"Kamu pilih mobil atau nyawa? Kalau mau mati, silahkan ke luar! Berisik sekali!" sentak Ezra, entah mengapa kali ini Alvin terlalu banyak berbicara dan membantah perintahnya, itu semua semakin membuat Ezra kesal dan pusing dibuatnya.
Alvin langsung menutup mulutnya, jika dulu dia diberi pilihan seperti sekarang, mungkin Alvin akan memilih untuk ke luar dan mati. Akan tetapi, untuk sekarang, dia lebih memilih hidup, ingatan kesehatan ibunya yang sudah semakin membaik menjadi semangat hidup baru untuk Alvin.
......................
__ADS_1