ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Pesta


__ADS_3

...Happy Reading...


....................


Malam datang saat siang siang pergi, bersama bulan yang menggantikan matahari. Gelap, tak ada lagi cahaya. Dingin, menjadi saksi setiap kedatangannya.


Alvin sudah bersiap untuk menghadiri pesta sejak pukul tujuh malam, orang tua yang bermurah hati meminjamkan setelan jas untuk Alvin, malah bersikeras untuk mendandaninya, hingga Alvin terlihat sangat berbeda di akhirnya.


Setelan jas yang dipakai dengan penataan rambut berbeda dari biasanya, membuat Alvin terlihat lebih tampan dari biasanya. Bahkan wanita paruh baya yang membantunya merias diri, sampai berseru senang, merasa sudah berhasil membuat Alvin tampil berbeda.


"Selesai!" seru wanita paruh baya yang merupakan pemilik penyewaan barang mahal itu.


"Wah, Kak Alvin, beda banget! Tambah ganteng!" seru anak remaja laki-laki, yang merupakan teman sekolah Ujang.


Remaja yang awalnya selalu mempunyai nilai rendah sama seperti Ujang, akhirnya bisa berlangsung membaik, setelah mengikuti les bersama Alvin.


Semua itu tentu membuat orang tuanya sangat senang, maka dari itu Alvin bahkan dipnjamkan baju gratis, ditambah dengan dirias oleh ibu remaja itu.


Alvin tampak melihat kaca, dia memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menimbang penampilan barunya yang memang tampak sangat berbeda. Kulitnya yang berwarna sedikit lebih cerah semenjak bekerja di kantor, membuat dirinya terlihat cukup jauh berbeda.


"Wah, terima kasih, Bu. Saya jadi terlihat berbeda seperti ini," ujar Alvin melihat anak remaja yang berada di sampingnya, lalu beralih pada wanita paruh baya di belakangnya.


"Justru Ibu yang berterima kasih sama kamu, Vin. Karena kamu jadi berubah tambah ganteng," jawab wanita paruh baya itu, menatap takjub laki-laki muda di depannya.


Alvin tersenyum dia tidak bisa menjawab bila sudah ada yang memuji. Sungguh, dia sama sekali tidak merasa seperti itu. Selama ini dirinya selalu merasa hanyalah orang biasa yang datang dari kampung untuk mengubah nasib di kota besar.


Dia tidak pernah memiliki waktu untuk merawat diri, walaupun dia juga tidak meninggalkan kegiatannya kecil seperti memakai body lotion, dan parfum sebelum beraktivitas. Hanya itu, sungguh.


Khusus untuk acara ini, bos cantiknya meminjamkan Alvin mobil kantor untuk transportasi. Perempuan dengan gengsi yang besar itu, tentu saja tidak mau melihat asistennya datang dengan hanya menggunakan sebuah motor, itu akan melukai harga dirinya yang setinggi langit.


Sampai di tempat acara, Alvin melihat begitu banyak tamu yang sudah berdatangan. Mereka ke luar dari mobil dengan harga-harga fantastis. Bisa dipastikan parkiran gedung itu sekarang sudah berubah menjadi acara pemeran mobil mewah.

__ADS_1


Alvin berjalan menuju arah penerimaan tamu, dia mengulurkan undangan yang didapat dari bosnya, kemudian mengisi daftar hadir.


Tidak ada yang sepesial, atau menganggapnya ada di dalam pesta itu. Alvin bahkan bisa berjalan dengan leluasa tanpa harus berpura-pura tersenyu, atau menyapa orang yang dia tidak kenal sama sekali.


Sampai di dalam, ternyata acara sudah dimulai, seorang laki-laki yang sedang memandu acara tampak berdiri tegak di atas panggung.


Suaranya tampak memberi instruksi pada para tamu untuk memulai acara malam ini. Alvin mengacuhkan semua itu, dia malah tertarik oleh desain ruang pesta yang baru saja dia lihat selama hidup.


Bunga segar yang tertata indah dan berbagai pernak-pernik pesta berharga fantastis, tampak sangat menyilaukan hingga selalu menyadarkan dirinya, bahwa dia tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan para orang-orang yang ada di sini.


Para undangan menyebar di kursi yang sudah disediakan. Ada juga yang memilih menikmati minuman sambil berbincang, kebanyakan mereka berdiri dengan memegang gelas yang berisi minuman warna warni.


Alvin berdiri di salah satu sisi ruang pesta, dia tampak bingung untuk memulai pembicaraan, mengingat selama ini dia belum pernah berhubungan langsung dengan para pengusaha sebanyak ini.


Sedangkan bos cantik dan arogannya itu, terlihat masih menikmati pesta dengan keluarganya di meja paling depan, hingga sepertinya tidak menyadari kehadiran Alvin di pesta.


Hingga beberapa saat kemudian, ada laki-laki paruh baya yang menyapa Alvin terlebih dahulu.


"Ah, benar, Pak. Apa kabar?" Alvin membalas senyuman itu, dia tahu siapa orang yang ada id depannya itu.


Seorang pengusaha besar yang pernah menjadi atasan Bapak waktu bangkrut, sebelum mengalami kecelakaan.


"Ya ampun kamu ke mana saja, saya mencarimu setelah kecelakaan itu. Maaf, karena waktu itu aku sedang berada di luar kota," ujarnya panjang lebar.


"Tapi, aku senang sekarang kamu sudah terlihat baik dan sukses tentunya," sambung laki-laki paruh baya itu sambil menepuk pundak Alvin berulang.


Senyum Alvin semakin lebar saat mendengar perkataan laki-laki paruh baya itu. Dia bahkan tidak pernah bermimpi akan bertemu dengan orang yang telah menolong kehidupan keluarganya, setelah Bapak jatuh bangkrut.


"Seminggu setelah kecelakaan itu, saya langsung dibawa ke kampung halaman oleh Kakek dan Nenek," jawab Alvin.


"Oh, pantas saja saya tidak bisa menemukan kamu waktu itu." Laki-laki paruh baya itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sekarang kamu sudah sukses, ya. Alhamdulillah," ujar laki-laki paruh baya itu.


Alvin tersenyum. "Tidak, Pak. Saya hanya seorang sekretaris biasa," jawabnya.


Laki-laki paruh baya itu tampak mengerutkan keningnya, biasanya yang menjadi sekretaris adalah seorang perempuan. Akan tetapi, Alvin malah memilih pekerjaan itu.


"Sekretaris? Di mana?" tanyanya.


"Di anak perusahaan keluarga ini. Kebetulan saya adalah sekretaris dari anak Pak Mardo dan Bu Mardo," jelas Alvin.


"Oh, ternyata begitu?"


"Iya, Pak," angguk Alvin


Percakapan keduanya terhenti saat pembawa acara mengambil perhatian para undangan dan memanggil keluarga sang empunya hajat.


Alvin dan laki-laki paruh baya di sapingnya, menalihhkan perhatiannya pada panggung di mana sepasang suami istri yang sedang merayakan ulang tahun pernikahan yang ke dua puluh tahun itu, sedang memberikan sambutan dan rasa terima kasihnya atas kehadiran para tamu undangan.


Acara pun dilanjutkan dengan pemotongan kue dan tuumpeng, sebagai rasa syukur atas pernikahan mereka.


"Vin," sapa bos cantiknya dengan wajah sumringah, saat melihat Alvin bisa mengobrol dengan pengusaha besar.


"Pak Garry, selamat datang di acara ulang tahun pernikahan orang tua saya," sambungnya beralih pada laki-laki paruh baya yang ada di samping Alvin. Perempuan itu mengulurkan tangan lentiknya.


Ya, laki-laki paruh baya itu adalah Garry Darmendra, seorang pengusaha yang sangat terkenal di dalam dunia bisnis, kesuksesannya dalam menjalankan perusahaan keluarga itu, banyak membuat para pesaingnya iri.


"Selamat malam, Nona Indira," sapa Garry dengan wajah datarnya.


"Saya sangat senang, Anda, bisa datang di acara keluarga kami," ujar Bos Alvin yang ternyata bernama Indira.


"Kebetulan saja, saat ini saya sedang ada waktu luang," jawab Garry dengan santainya, seolah dia memberi tahu kalau acara ini tidak terlalu penting baginya.

__ADS_1


................


__ADS_2