
...Happy Reading ...
......................
Alvin menghentikan mobilnya tepat di depan teras depan rumah milik keluarga Jani, diikuti oleh dua kendaraan di belakangnya.
Jani meremas tangannya yang sudah terasa dingin, wajahnya begitu terlihat resah hingga membuat Indira mengalihkan perhatiannya.
"Ada apa, Jani?" tanya Indira memperhatikan perubahan raut wajah Jani.
Jani tidak langsung menjawab, dia menatap Alvin lebih dulu kemudian beralih pada kendaraan milik kedua kakanya.
"Gak apa, itu semua sudah lama berlalu. Gak usah khawatir," ujar Alvin menenangkan.
"Ayo ke luar, biar aku ngomong dulu sama kakak atau orang tua kamu, karena udah nyulik putri kesayangan mereka," ujar Alvin, untuk kali ini Alvin malah terlihat bercanda.
Jani mendengus pelan sambil memperhatikan wajah Alvin yang masih terlihat tenang, tanpa ada keraguan atau rasa takut di dalam dirinya, dia pun akhirnya berusaha untuk percaya pada Alvin, kemudian perlahan mulai membuka pintu dan turun menyusul Alvin yang sudah ke luar lebih dulu.
Di sisi lain, Arkan juga ke luar dari mobil dengan kerutan dalam di keningnya, begitu juga dengan Anji yang turun dari motor dan membuka helm yang dia pakai.
Sepertinya semuaya masih seperti dulu, Anji masih suka menggunakan motor besar dengan gaya slengean, sedangkan Arkan terlihat berwibawa dan gagah dengan mobil mewah yang selalu dikendarainya sendiri.
Alvin tersenyum di samping mobil, menunggu kedua kakak Jani yang dulu pernah membuat dirinya hampir meregang nyawa, akibat rasa kecewa seorang kakak.
Anjani berjalan ragu menghampiri Alvin dengan kepala yang terus menunduk, takut akan tatapan tajam kedua kakaknya. Sedangkan Indira malah membelalakan matanya, saat melihat kalau Indira adalah adik dari Arkan, sosok pemimpin perusahaan yang terkenal dingin dan tegas.
"Kamu adiknya Pak Arkan?" bisik Indira pada Jani yang berdiri di sampingnya.
Jani sedikit melirik Indira kemudian mengangguk sebagai jawaban. Kakinya begitu lemas hingga hampir tidak bisa lagi menahan bobot tubuhnya, saat langkah kaki Arkan dan Anjas semakin mendekat padanya.
Detik demi detik yang berlalu, seolah berjalan lambat dan semakin menghimpit keadaan. Jani semakin gugup dibuatnya.
__ADS_1
"Jani, sedang apa kamu di sini, ayo bawa temanmu masuk!" Suara dari Mama yang tiba-tiba memecah rasa gugup Jani, dia langsung menoleh pada Mama yang berdiri di ambang pintu.
"Iya, Mah!" Jani tersenyum, merasa ada pertolongan untuk menghindari kemarahan kakanya.
"Vin, Kak Dira, ayo buruan masuk, sebelum dua singa itu datang," ujar Jani sambil merangkkul tangan Indira dan menarik baju di tangan Alvin.
"Tapi, Jani, ini tidak sopan," protes Alvin tampak melihat kedua orang yang berdiri tidak jauh darinya.
"Bertemu di dalam bersama Papa dan Mama lebih aman," jawab Jani sekenanya sambil terus membawa Alvin dan Indira ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, Tante," sapa Alvin, dia menghentikan langkahnya di depan Keyra, kemudian mencium punggng tangan Mama Jani itu dengan sopan.
"Waalaikumsalam. Masuk dulu, Nak, kamu sudah ditunggu sama Papahnya Jani," jawab Mama Keyra dengan senyum hangat di wajahnya.
"Terima kasih, Tante," ujar Alvin yang langsung kembali menyusul Jani ke dalam rumah.
Sementara itu Keyra menungu dua orang anak laki-lakinya yang baru saja pulang kerja.
"Ingat, sesuai janji kalian dulu. Kalian tidak boleh lagi mencampuri pilihan Jani, walaupun kini Jani kembali pada Alvin!" peringat Mama Keyra pada dua anaknya.
"Iya, Mah, kami masih ingat kok," jawab keduanya dengan lemas.
Ya, setelah kejadian pengeroyokan yang dilakukan oleh Arkan dan Anji pada Alvin beberapa tahun lalu, akhirnya ayahnya Jani turun tangan untuk mencari tahu tentang Alvin, yang begitu tertutup tentang kehidupannya itu.
Perlahan Ayah Jani pun mulai mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada Alvin dan keluarganya, hingga kesalahpahaman itu pun terurai di dalam keluarga Jani.
Ditambah dengan pengakuan Jani tentang hubungannya dengan Alvin hanya sebagai seorang teman dan kejadian malam itu yang ternyata inisiatif dirinya sendiri karena sudah sangat putus asa dan kecewa, mengingat akan pergi jauh dari Alvin untuk waktu yang lama.
Semua kenyataan yang terungkap terlambat itu membuat kedua orang tua Jani merasa bersalah pada Alvin, mereka pun akhirnya memberikan peringatan pada Arkan dan Anji yang telah berbuat seenaknya pada Alvin.
Hingga, sebuah keputusan untuk tidak ikut terlibat terlalu jauh pada pilihan pasangan Jani pun terjadi. Walau pengawasan tentang adik perempuan satu-satunya itu pun masih tetap menjadi yang utama bagi Arkan, Anji, dan tentunya Raka, sebagai ayahnya sendiri.
__ADS_1
Beralih kembai pada Alvin yang kini sudah duduk di ruang tamu bersama dengan Papa Raka yang ada di depanya, sedangkan Indira dan Jani sudah dipersilahkan masuk lebih dulu.
"Saya sebagai orang tua dari Arkan dan Anji ingin meminta maaf atas kejadian yang lalu, saya memang teledor menjadi orang tua hingga membiarkan emosi mengusai pikiran dan membiarkan kedua anak saya berbuat seenaknya padamu," ujar Ayah Raka pada Alvin.
Alvin tersenyum kemudian mengangguk samar sebelum menjawab perkataan dari laki-laki paruh baya di depannya.
"Kajadian itu sudah saya lupakan, Om. Lagi pula itu semua wajar dilakukan seorang kakak yang ingin melindungi adik peremuannya ... saya bisa mengerti." Alvin berkata sopan.
"Saya juga mau berterima kasih, karena Om sudah membiayai semua pengobatan saya sampai saya pulih total," sambung Alvin lagi.
"Itu hanya sebuah tanggung jawab, walau mungkin tidak bisa menebus semua kesalahan kami," ujar Ayah Raka.
Perbincangan pun terus berlanjut, Arkan dan Anji pun meminta maaf pada Alvin untuk kejadian tempo hari. Kini Alvin diterima dengan baik oleh keluarga Jani, walau sikap keras dan arogan Arkan dan Anji tetap saja tidak bisa hilang.
Alvin tidak memusingkan itu semua, dia sudah lama mengenal keluarga Jani, termasuk kedua kakaknya, ditambah keberadaan Ezra yang seakan melatih mentalnya, membuatnya lebih percaya diri menghadapi orang yang dia temui, termasuk Arkan dan kedua orang tua Jani.
Malam sudah tampak larut, saat Alvin mengendari mobilnya untuk kembali ke kontrakan dengan hati yang tenang. Setidaknya mempercayakan Indira pada keluarga Jani, membuatnya merasa lebih yakin akan keselamatannya.
Pertemuannya dengan keluarga Jani pun membuat rasa tersendiri di dalam hatinya yang sulit untuk diungkapkan oleh kata-kata.
Jauh dari perkiraannya yang akan mendapatkan berbagai pertanyaan dan tatapan curiga dari semua keluarga perempuan itu. Akan tetapi, kini yang terjadi, dirinya malah diterima dengan baik. Itu adalah suatu kejutan yang menyenangkan.
Pagi menyingsing dengan cahaya hangat matahari yang berwarna keemasan, memberi semangat bagi para pencari nafkah seperti Alvin dan jutan manusia lainnya.
Alvin sudah kembali berkendara menerobos padatnya jalanan ibu kota, saat sebuah pesan tiba-tiba masuk di ponselnya.
[Hari ini Eyang akan pergi ke Jakarta, bisa kita bertemu, Nak?]
Alvin mengernyit, membaca pesan dari nomor yang tidak dikenal itu, tidak biasanya orang tua dari ibunya itu mengiriminya pesan.
...****************...
__ADS_1