ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Makan bekal


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Alvin cukup terkejut saat melihat isi di dalam bungkusan dari daun pisang itu. Ternyata di dalamnya ada nasi dan lauk yang lumayan mewah untuknya.


Bebek bumbu kuning, itulah masakan neneknya yang menjadi kesukaan ayahnya. Dulu, menu ini hanya ada saat keluarganya pulang ke kampung.


Namun, sekarang neneknya sudah sangat jarang memasak menu ini, mengingat harga bebek yang lumayan mahal.


Esih hanya memasak ini saat anak-anaknya berkumpul atau ada acara di keluarga mereka.


"Apa itu, Vin?" tanya Mang Lukman yang baru ke luar dari kamar mandi.


Sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil, Lukman menghampiri Alvin yang sedang menuangkan masakan neneknya ke dalam piring.


"Tadi pagi nenek bawain aku bekal, kayaknya masih enak deh, jadi tinggal dihangatkan aja," jawab Alvin.


"Wah, bebek bumbu kuning, lama banget mamang udah gak makan makanan ini, jadi laper," ujar Lukman sambil mengusap memutar perutnya.


Alvin terkekeh melihat wajah Lukman yang sangat terlihat sudah menginginkan makanan dari neneknya itu.


"Tunggu, aku angetin dulu ya, Mang," ujar Alvin.


"Kamu mandi aja sana, ini biar mamang aja yang angetin," ujar Lukman, mengingat waktu maghrib sudah dekat.


"Hem, ya udah kalau gitu aku mandi dulu ya, Mang."


"Iya, sana cepetan, nanti waktu magribnya keburu mepet." Lukman mengibaskan tangannya.


Alvin pun berjalan menuju ke depan untuk mengambil baju ganti dan handuk, juga peralatan mandi yang sengaja sudah dia siapkan dari kampung.


Untung saja di kontrakan itu, ada alat masak sederhana, seperti kompor satu tungku, wajan dan panci, jadi mereka tidak kesusahan untuk menghangatkan makanan itu.


Menjelang maghrib, Alvin sudah bersiap untuk pergi ke masjid atau musala. Akan tetapi, dia melihat Lukman belum bersiap.


"Mang, gak siap-siap ke masjid?" tanya Alvin.


"Mamang gak biasa, Vin. Kamu sendiri saja ya, nanti mamang tunjukin musalanya sama kamu," jawab Lukman.


Kerutan halus di kening Alvin terlihat saat mendengar jawaban dari Lukman, walaupun akhirnya dia mengangguk.


"Ayo, aku antar sampai ke depan, biasanya ada tetangga yang juga mau ke musala, nanti aku titipin kamu ke dia," ujar Lukman, sambil bersiap ke luar rumah.


Alvin mengangguk lalu mengikuti Lukman ke luar rumah. Begitu mereka ke luar pas sekali salah satu tetangga di depan rumah ada yang juga hendak pergi ke musala.


"Pak Umar, mau ke musala?" tanya Lukman.


"Iya, ada apa, Man?" Laki-laki dengan usia kira-kira lima puluh tahunan itu berhenti di depan rumahnya.


"Aku mau nitip ponakan aku, Pak. Dia baru datang, belum tau jalan di sini," ujar Lukman.

__ADS_1


"Ya udah, yuk bareng aja," jawab Pak Umar.


Pak Umar yang memiliki perawakan besar dan terlihat tegap itu, membuat Alvin sedikit takut padanya.


Namun, dia memberanikan diri untuk berangkat bersama dengan orang yang baru saja dikenalnya.


"Vin, kamu bareng sama Pak Umar aja, ya," ujar Lukman yang langsung diangguki oleh Alvin.


"Aku berangkat ya, Mang," pamit Alvin.


Alvin pun berangkat ke musala bersama dengan Pak Umar.


"Siapa nama lu, Tong?" tanya Pak Umar dengan nada bicara khas orang betawi.


"Saya? Alvin, Pak," jawab Alvin


"Oh, Alvin. Cuma lagi liburan ke sini, atau mau kerja?"


"Mau kuliah, Pak."


Keduanya berbincang sambil berjalan.


"Kuliah di mana?"


Alvin menyebutkan nama kampus yang menerima beasiswa untuknya.


"Wah, kampus bagus itu. Kamu, pasti anak orang berada, ya? Mahal tuh kuliah di sana."


"Enggak, Pak. Aku masuk lewat jalur beasiswa," jawab Alvin.


"Beasiswa?! Wah, kamu termasuk anak pinter ternyata," ujar Pak Umar.


"Assalamualaikum," ujar salah satu laki-laki paruh baya yang juga hendak ke musala.


"Wa'alaikumsalam," jawab Alvin dan Pak Umar bersamaan.


Mereka pun mulai berbincang dengan orang yang semakin banyak bergabung, untuk berangkat ke musala bersama.


Alvin pun semakin kenal banyak orang, karena bantuan dari Pak Umar, ditambah sikap ramah dan sopan Alvin yang membuat banyak orang menyukainya.


Pulang dari musala, Alvin kembali bersama-sama dengan para laki-laki lainnya, dia pun semakin akrab dengan Pak Umar.


Dia tidak pernah menyangka kalau di balik tampang sangarnya, Pak Umar sosok yang terbuka dan hangat.


"Gue mau beli nasi dulu di warteg depan, kamu sudah tau jalan dari sini ke rumah?" tanya Pak Umar.


Alvin mengangguk. "In Sya Allah, saya ingat, Pak."


"Ya sudah, kita pisah di sini ya," ujar Pak Umar.


"Iya, Pak. Kalau begitu saya pamit duluan, Assalamualaikum," pamit Alvin.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Umar.


Alvin pun meneruskan perjalanan ke rumah Lukman sendirian, untung saja ingatannya lumayan bisa diandalkan.


Sampai di rumah, Alvin melihat Lukman sedang merokok di kursi depan kontrakan mereka.


"Baru pulang, Vin?" tanya Lukman.


"Iya, Mang. Aku masuk dulu, Mang," ujar Alvin.


"Heem, makanan udah mamang sisain di meja ya, Vin. Maaf tadi mamang makan duluan," ujar Lukman.


"Iya, gak apa-apa kok, Mang," jawab Alvin.


Alvin kemudian masuk ke rumah, dia mengganti baju lebih dulu lalu berjalan menuju ke dapur.


Benar saja, di sana sudah ada makanan dari neneknya tadi pagi yang sudah terasa hangat.


Alvin pun mulai menyantap makanannya, tanpa terasa dadanya terasa sesak saat mengingat neneknya yang memasak semua itu untuknya.


"Terima kasih, Nenek, Kakek. Aku tau kalian sangat menyayangi aku. Tapi, seharusnya kalian gak usah membeli bebek hanya untuk aku seperti ini," lirih Alvin sambil menyuapkan satu suapan nasi ke dalam mulutnya.


Setelah Alvin menyelesaikan makan malamnya, dia langsung mencuci piring bekas dirinya makan.


"Vin, sementara kita tidur berdua saja ya, aku belum sempat beli tempat tidur lagi untuk kamu," ujar Lukman, saat Alvin baru saja ke luar dari dapur.


Ternyata Lukman sedang duduk di ruang depan dengan pintu terbuka.


Alvin mengangguk, kemudian duduk di depan Lukman.


"Iya, Mang, gak apa-apa kok," jawab Alvin.


"Ngomong-ngomong kapan kamu mulai kuliah?" tanya Lukman.


"Lusa, sudah harus datang ke kampus sih, Mang."


"Kamu sudah tau letak kampusnya?"


Alvin menggeleng. "Aku sih rencananya besok mau coba lihat ke sana, sekalian coba naik angkutan umum ke sana juga."


Lukman mengangguk-anggukkan kepalanya, dia mengambil kembali satu batang rokok lalu mulai menghisapnya.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu saja, aku mau ke depan dulu," ujar Lukman sambil beranjak berdiri.


"Ke mana, Mang?" tanya Alvin.


"Nongkrong sama bapak-bapak yang lain. Pintu gak usah dikunci, di sini daerah aman kok, lagian aku juga cuman di depan kontrakan," jawab Lukman.


Alvin mnegangguk, lalu mengikuti Lukman ke luar, dia menatap kepergian Lukman ke sebuah pos yang berada di dekat kontrakan itu, kemudian memilih duduk di kursi.


......................

__ADS_1


Penampilan tidak bisa mencerminkan sikap dan perilaku seseorang.


__ADS_2