
...Happy Reading...
......................
Hari ini Imran sudah kembali bersekolah lagi, setelah hampir seminggu dia izin karena sakitnya.
"Aku malu banget nih, bekas luka aku masih kelihatan banget, udah kayak macan tutul aja, banyak totol-totol hitamnya," keluh Imran, sambil memperlihatkan tangannya yang tidak tertutup baju.
"Gak apa-apa, lagian semua orang juga tau kalau kamu sakit cacar air. Ya, pasti ada bekasnya dong," jawab santai Alvin.
"Hah! Jadi semua teman-teman di sekolah udah pada tau aku sakit cacar air? Aduh, gimana nih, malu banget?!" Imran berujar panik.
"Ya, tau lah, kan ada perwakilan dari teman-teman sekelas kamu yang jenguk. Ya, satu hari setelahnya, berita tentang kamu langsung tersebar satu sekolah."
"Aduh, Vin, kenapa kamu gak ngomong dari awal sih? Kalau aku tau begini, aku gak bakalan mau masuk sekolah dulu deh," gerutu Imran.
"Lah, emang kamu ke sekolah mau ngapain, kok pake malu?" Alvin menatap kesal temannya itu.
"Belajar sih ... tapi, kalau kayak gini kan aku jadi malu." Imran menggaruk belakang kepalanya.
"Ngapain malu, itu kan hanya bekas luka akibat dari skait, bukan bekas luka karena tauran dan bolos dari sekolah."
"Udah lah, yuk buruan jalan, aku aja yang suka diejek sama Babdi dan teman-temannya, gak mau tuh masuk sekolah lagi." Alvin berjalan mendahului Imran.
Imran berdecak pelan, kalau Alvin sudah membandingkan antara mereka berdua, maka Imran sudah tidak bisa membantah lagi.
Imran sadar kalau dirinya lebih beruntung segala-galanya dari saudaranya itu, hingga Imran suka malu jika ingin mengeluh di depan Alvin.
Akhirnya Imran pun mengikuti langkah Alvin, mereka berjalan bersama menuju sekolah.
.
.
Istirahat sekolah Alvin dan Imran menikmati makna siangnya di belakang sekolah seperti biasa.
Namun, ketenangan keduanya terganggu oleh suara ribut tidak jauh dari tempat mereka berdua duduk.
"Vin, kamu denger gak?" tanya Imran sambil memelankan suaranya.
Alvin mempertajam suaranya, mendengarkan suara di sekitarnya, hingga telinganya mendengar suara aneh dari balik bangunan gudang yang sudah lama tidak terpakai.
"Suara apa itu, Ran?" tanya Alvin sambil menatap pintu gudang itu.
Imran mengusap tengkuknya sambil mengedarkan pandangannya memperhatikan sekitar, memastikan di sana memang tidak ada orang lain selain mereka berdua.
__ADS_1
"Emang ada hantu yang gentayangan siang-siang begini?" tanya Imran, mengira kalau suara itu adalah hantu.
"Apaan sih, Ran? Selama ini kita selalu makan siang di sini, gak pernah tuh ada hantu. Lagian mana ada hantu di siang bolong begini?" debat Alvin.
"Terus itu suara apaan dong?" tanya Imran, memegang baju Alvin yang longgar di pinggangnya.
Alvin berdiri.
"Mau ke mana, Vin?" tanya Imran sambil menarik baju Alvin.
Alvin berhenti, dia menoleh kepada Imran. "Aku mau lihat lah?"
"Gak usah lah, kita balik ke kelas aja yuk, kalau engga ke taman depan sekolah aja yang banyak orang," ajak Imran.
"Kita lihat dulu, takutnya ada yang butuh bantuan?" Alvin kekeh dengan pendiriannya.
"Apaan yang butuh bantuan di tempat itu? Tuyul kejepit, kuntilanak mau beranak, atau genderewo kebelet boker!"
"Astagfirullah, Imran! Nyebut, Ran, kamu ini ada-ada aja sih." Alvin menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan perkataan saudaranya itu.
"Tapi, Vin–" Imran masih berusaha menahan Alvin.
"Kamu mau ikut gak? Kalau gak mau, tunggu di sini aja," ujar Alvin langsung memotong perkataan Imran.
Imran tampak memberengut menata melas pada saudaranya itu. Semantara itu Alvin mulai melangkahkan kaki mendekati sebuah gudang yang sudah lama tidak terpakai itu.
Semakin mendekat pada bangunan itu, suara aneh itu pun terdengar semakin jelas di telinga.
"Vin, itu kayaknya beneran suara kuntilanak mau beranak deh," bisik Imran yang mendengar suara itu mirip suara tangisan seorang perempuan.
"Hus! Mana ada makhluk begitu siang-siang begini," jawab Alvin.
Alvin lebih dulu mengintip dari balik jendela usang yang kacanya sudah terlihat sangat kotor, dia berusaha mencari asal suara yang semakin jelas terdengar.
"Ketemu gak, Vin?" tanya Imran lagi, yang tidak berani mengintip.
Alvin menggeleng, mereka berpindah pada kaca yang lainnya, hingga Alvin bisa melihat ada seseorang yang terlihat sedang duduk, di antara banyaknya barang bekas di sana, hingga tidak terlihat jelas.
"Orang," gumam Alvin, saat melihat punggung seseorang di dalam.
Jika dilihat dari rambutnya yang terurai panjang, Alvin bisa menebak kalau itu adalah seorang perempuan.
Imran yang mendengar gumaman Alvin, mendongak melihat wajah saudaranya itu.
"Beneran orang atau bukan, Vin? Coba kamu lihat lebih jelas lagi, sebelum masuk," ujar Imran.
__ADS_1
"Orang, Ran," jawab Alvin, sambil berjalan mendekati pintu masuk.
"Hati-hati, Vin," peringat Imran.
"Iya," jawab Alvin yang mulai jengah melihat sikap penakut Imran.
Alvin terlebih dahulu mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum membukanya.
"Assalamualaikum, ada orang di dalam?" tanya Alvin.
Alvin mendekatkan telinganya ke pintu, mencoba mendengar lebih jelas lagi. Imran pun akhirnya mengikuti apa yang dilakukan oleh Alvin.
"Kok sepi?"ujar Imran hanya menggunakan gerakan bibirnya saja, tanpa mengeluarkan suara.
Alvin mengerutkan keningnya, saat kini sudah tidak ada lagi suara seperti tangisan dari dalam sana.
"Kita ke kelas aja yuk, itu tadi pasti cuman salah denger aja," ajak Imran lagi, saat dirinya semakin merasa takut berada di sana.
Nyesel aku, tadi pake bilang begitu sama kamu, Vin. Kalau tau begini, tadi aku langsung ajak kamu ke kelas aja deh, batin Imran mengeluh.
"Permisi! Kami masuk ya," ujar Alvin lagi, sambil mulai memutar gagang pintunya.
Saat pintu terbuka Alvin dan Imran terkejut saat ada seseorang yang berdiri di hadapan mereka.
"Bu Leni?" lirih Alvin dan Imran bersamaan, menatap terkejut salah satu penjaga kantin mereka.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya Bu Leni, sambil membenarkan pakaiannya yang terlihat berantakan.
"Kami tadi, mendengar seperti ada suara tangisan dari sini, makanya mencoba masuk, takut ada yang membutuhkan bantuan," jelas Alvin.
"Ibu sendiri, sedang apa di sini?" tanya Imran sambil melihat ke arah dalam gudang.
"Euh ... gak apa-apa, aku hanya sedang mencari sesuatu di sini. Ya sudah, kalian balik lagi ke kelas sana, sebentar lagi waktu istirahat selesai," jawab Bu Leni, terdengar sedikit ragu di nada suanya.
"Tapi, Ibu, beneran gak apa-apa kan?" Alvin menatap khawatir wanita yang terlihat masih cukup muda itu di depannya.
"Ya, Ibu, gak apa-apa," angguk Bu Lina, berusaha meyakinkan kedua anak sekolahan itu.
"Ya udah, yuk ke kelas," ajak Imran.
Alvin tersenyum lega lalu mengangguk. "Kalau begitu kamu permisi, Bu."
Alvin dan Imran pun memilih pergi dari sana dan kembali ke kelas, tanpa ada terpikir apa pun.
Sedangkan Imran, masih terlihat bingung diambil menebak-nebak di dalam hati, apa sebenarnya yang dilakukan salah satu penjaga kantin itu di gudang tidak terpakai.
__ADS_1
.........................
Ngapain ya kira-kira Bu Leni di sana?