
...Happy Reading...
......................
"Kak Al!"
Alvin teridam dengan tubuh mematung, suara anak kecil yang terasa samar di ingatan membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
Ya, itu adalah suara Alin, adik Alvin yang sudah lama meninggal di dalam insiden kecelakaan itu.
"Kak Al!" Alvin kembali mendengar suara itu untuk yang kedua kalinya.
Cepat Alvin menoleh ke belakang untuk mencari keberadaan adiknya. Akan tetapi, dia tidak menemukan apa pun di sana.
Alvin mengedarkan pandangannya, mencari arah suara yang tadi sempat dia dengar. Hingga untuk kesekian kalinya suara itu kembali terdengar.
"Kak Al." Alvin langsung menoleh ke arah suara, dia mematung melihat seorang anak kecil yang dia tahu pasti itu siapa.
Ya, itu adalah Alin, adik yang selama ini begitu dirindukan oleh Alvin. Alvin mencoba menggosok matanya merasa tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Akan tetapi, sosok itu masih tetap ada dan kini berjalan menghampirinya.
"Alin–" gumamnya lirih, dengan mata yang memerah, menahan segala rasa yang bergejolak di dalam dada.
Dengan langkah lebar Alvin berjalan cepat menghampiri gadis kecil itu.
"Alin, kakak kangen banget sama kamu," ujar Alvin sambil berlutut kemudian memeluk gadis kecil itu, erat.
Air mata pun menetes membasahi pipi, rasa rindu yang begitu dalam, kini tercurah melalui isak tangis yang tidak bisa dia bendungan lagi. Isak tangis yang selama ini berusaha dia sembunyikan di dalam ketegaran yang dirinya tampilkan.
"Kakak, kenapa ada di sini?" tanya Alin masih di dalam pelukan Alvin.
Alvin mengernyit, dia mengurai pelukannya kemudian menatap wajah Alin dalam.
"Memang Kakak ada di mana?" tanya Alvin bingung.
"Kakak mau ikut sama Alin, ketemu Bapak sama Kakek?" Bukannya menjawab, Alin malah mengajukan pertanyaan lagi pada Alvin.
"Ikut ke mana?" tanya Alvin, matanya kembali mengedar melihat sekitarnya. Dia kembali dikejutkan dengan sekitarnya yang kini sudah berubah menjadi padang savana luas, dengan rumput yang sedang berbunga.
"Vin?" Satu panggilan lagi, membuat Alvin menoleh mencari sumber suara.
Alvin kembali melebarkan mata saat melihat dua sosok laki-laki yang sangat dia rindukan sedang berjalan menghampirinya.
"Kakek, Bapak?" gumam Alvin, menatap wajah dua laki-laki itu secara bergantian.
Alin tampak melangkah ke tengah-tengah Kakek dan Bapak, mereka sama-sama melihat Alvin begitu dalam.
Bapak dan Kakek tampak tersenyum hangat, kemudian tangan Bapak menepuk pundak Alvin satu kali, tanpa melepaskannya kembali.
"Kamu ngapain di sini, Nak?" tanya Bapak dengan nada begitu lembut dan penuh kasih sayang.
Tangis Alvin yang baru saja berhenti, kini sudah tak bisa dia tahan lagi. Melihat sosok yang selama ini menjadi panutannya dan menjadi semangat hidupnya membuat Alvin tidak bisa lagi menahan emosinya.
__ADS_1
Tubuhnya bergetar, dengan wajah menunduk dalam, menyembunyikan air mata yang sudah kadung menetes membasahi pipinya.
"Bapak," lirih Alvin. Dia ingin mengadu, dia ingin bertanya, juga mengeluarkan keluh kesahnya. Akan tetapi, entah kenapa bibirnya tampak kelu, hingga tidak ada yang bisa keluar kecuali kata itu.
"Belum saatnya kamu ada di sini, Vin. Sekarang lebih baik kamu kembali," ujar Bapak, sambil mengusap lembut kepala Alvin.
"Bapak–" Alvin ingin menolak, dia ingin di sini bersama dengan Alin, Bapak, dan Kakek. Sungguh, sebenarnya sudah berulang kali dia ingin menyerah dengan hidupnya.
"Jalanmu masih panjang, Nak. Kembalilah ...." Kakek ikut menimpali.
Alvin menggelengkan kepala, entah kenapa lidahnya tidak bisa dibmgerakkan untuk menolak perintah Bapak dan Kakeknya.
"Kakak, harus kembali ya, Pak?" tanya Alin menoleh pada Bapak, yang langsung diangguki oleh Bapak.
"Bersabarlah ... sebentar lagi kamu akan ke luar dari semua masalah ini. Sekarang kamu harus kembali," ujar Bapak lagi. Dia tersenyum mencoba menyemangati anak laki-lakinya.
"Anggukkan kepalamu jika kamu mau kembali, Nak" perintah Bapak lagi, sambil mundur satu langkah.
Alvin terdiam beberapa saat, dia melihat wajah Bapak, Alin, dan Kakek bergantian. Rasanya begitu berat hanya untuk menganggukkan kepala, dia enggan melakukannya.
"Kamu bisa, Vin," ujar Bapak lagi, yang dianggukki oleh Kakek dan Alin.
Entah bagaimana kepala Alvin terasa bergerak sendiri, hingga akhirnya dia pun mengangguk, dan di saat bersamaan Alin, Bapak, dan Kakek pun menghilang dari pandangan.
Alvin terkejut dengan semua itu, dia mengedarkan pandangannya sejauh dia bisa melihat.
"Bapak? Alin? Kakek?" panggil Alvin sambil mencari keberadaan ketiga orang itu. Akan tetapi, Alvin sama sekali tidak bisa melihat keberadaan mereka bertiga.
.
.
"Coba berhenti di depan," ujar seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk di kursi belakang sebuah mobil.
Sang sopir pun menghentikan laju mobil yang dikendarainya. Mereka berdua tampak waspada, walau laki-laki paruh baya itu yakin kalau orang yang tergeletak itu mirip dengan yang dia kenal.
"Biar saya saja yang melihatnya dulu, Tuan," ujar Sopir itu.
"Kita ke luar bersama, agar bisa saling menjaga," jawab laki-laki paruh baya itu. Dia tidak bisa membiarkan rasa penasarannya menghantui, walau dirinya juga takut itu adalah sebuah jebakan dari geng motor atau begal yang sedang marak akhir-akhir ini.
Walaupun berat, akhirnya sopir itu mengangguk kemudian ke luar bersama dengan laki-laki paruh baya itu.
Laki-laki paruh baya itu tampak menunduk melihat seorang laki-laki muda yang tampak tergeletak di pinggir jalan di bawah sebuah pohon besar.
"Alvin?" gumam Laki-laki paruh baya itu, terlihat sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Ini anak teman saya. Ayo kita bawa ke rumah sakit," ujar laki-laki paruh baya itu pada sang sopir.
"Kita ke rumah sakit terdekat," perintah laki-laki paruh baya itu sambil merebahkan kepalanya Alvin di pangkuannya.
"Vin, bangun ... kamu harus sadar," ujar laki-laki itu, sambil menepuk pipi Alvin pelan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mobil berhenti di depan lobi rumah sakit tidak jauh dari tempat kejadian.
Alvin langsung dibawa ke UGD, kemudian dilakukan prosedur pertolongan pertama.
"Bagaimana keadaannya?" tanya laki-laki paruh baya itu setelah menunggu hampir satu jam di luar ruangan.
"Lukanya lumayan parah, walau begitu dia berhasil melewati masa kritisanya. Untuk malam ini pasien masih harus dalam pantauan," jawab dokter yang menangani Alvin.
"Baiklah, terima kasih, Dok," angguk laki-laki paruh baya itu.
Malam itu Alvin sempat mengalami kondisi kritis untuk kedua kalinya. Akan tetapi, dokter bisa menanganinya dan membuat Alvin kini mulai membuka matanya.
Flash back off
Silau cahaya yang menabrak kornea membuat Alvin sulit untuk membuka matanya lebih lebar lagi. Suara alat medis yang terdengar jelas di telinga membuat Alvin sangat ingin membuka mata.
Di mana aku sekarang? batin Alvin, bertanya.
"Bagaimana kondisi kamu?" tanya seorang wanita berbaju perawat yang berdiri di sampingnya.
Alvin terdiam dia masih di ambang sadar dan tidak sadar, otaknya masih mencoba menerima keputusan yang dia ambil saat bertemu dengan Alin, Bapak, dan Kakek.
"Apa kamu bisa mendengar suaraku atau melihatku?" tanya perempuan itu lagi setelah memeriksa tanda vital Alvin.
"Anggukkan kepala atau gerakan jarimu, jika kamu bisa mendengar dan melihatku," perintah perawat itu lagi.
Alvin perlahan menganggukkan kepalanya. Membuat perawat itu tersenyum sambil menghembuskan napas lega.
"A–aku ada di mana?" tanya Alvin lirih.
"Kamu berada di rumah sakit XX, Tuan Darmendra membawa kamu ke mari kemarin sore," jelasnya dengan begitu ramah.
Jadi ini bukan lagi mimpi? Bapak, Alin, dan Kakek? batinnya mengingat mimpinya yang terasa sangat nyata.
"Kamu akan berada di ruangan ini sampai dokter memeriksa, jika semuanya sudah baik kamu sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat," sambung perempuan itu lagi yang hanya diangguki samar oleh Alvin.
"Kalau begitu saya permisi dulu."
"Ter rima kasih," lirih Alvin, dengan suara terbata.
"Ini sudah tugas kami," jawab perawat itu tersenyum lembut.
Alvin menghembuskan napasnya saat melihat perempuan itu sudah ke luar dari ruangannya. Dian melihat langit-langit ruangan yang tampak putih bersih.
Terima kasih karena sudah menemuiku walaupun hanya dalam mimpi. Aku senang bisa bertemu dengan kalian, batin Alvin saat mengingat Bapak, Alin, dan Kakek.
Alvin tersenyum tipis, rasa rindunya sedikit terobati, walau itu hanya ada di dalam mimpi. Tidak lama dia kemudian mengernyit, saat ingatannya teralihkan pada ucapan perempuan tadi.
"Tuan Darmendra?" gumam Alvin, mengingat perkataan perawat itu.
......................
__ADS_1
Jangan lupa komen🙏🥰