
...Happy Reading...
..................
Alvin pulang ketika malam sudah teramat larut, perasaannya sungguh tidak menentu setelah dia berbicara pada Arkan. Entah mengapa mendapatkan peringatan Arkan membuatnya semakin gelisah.
Perjalanan yang sebenarnya hanya membutuhkan tiga puluh sampai empat puluh menit jika berkendara di tengah malam seperti ini, rasanya semakin jauh dan melelahkan saat pikirannya benar-benar tidak bisa fokus hanya pada jalanan.
Entah mengapa, bukannya mengambil jalan menuju ke kontrakan, kini Alvin malah mengambil jalan menuju rumah Jani. Sungguh, hatinya begitu merindukan perempuan cantik itu.
Alvin ingin meminta maaf, dia ingin memperbaiki hubungannya dengan perempuan itu. Dia hanya butuh satu kesempatan untuk melakukan itu, sungguh. Walau ternyata mendapatkan kesempatan itu memang sangat sulit.
Mengapa sebuah penyesalan selalu saja datang di belakang, beriringan dengan duka dan tangis? Mengapa dia tidak datang di depan, hingga manusia tidak ada yang bisa salah melangkah?
Ingin sekali Alvin mengumpat seperti itu saat ini. Akan tetapi, dia juga sadar kalau memang itu semua adalah hukum alam. Bila penyesalan datang di depan makan namanya saja sudah akan berganti menjadi pembukaan, atau mungkin penyambutan.
Lagi pula jika sebuah penyesalan datang lebih dulu, mungkin tidak ada orang yang akan belajar dari kesalahan. Seperti dirinya saat ini. Mungkin sampai saat ini Alvin tidak akan sadar dengan perasaannya pada Jani.
Malam sudah larut, bahkan pintu gerbang menuju perumahan Jani sudah tertutup. Alvin menepikan mobil yang dikendarainya di seberang pintu masuk menuju rumah Jani.
Membuka jendela melihat gerbang dengan penjagaan ketat, perumahan mewah itu, yang membuat Alvin berdecak kagum. Akan tetapi, juga membuatnya takut untuk menaruh perasaan lebih pada perempuan yang hanya dia anggap sebagai sahabatnya.
Alvin memijit pangkal hidungnya menahan pening yang terus terasa. Beberapa saat dia berada di sana, hingga akhirnya memutuskan untuk kembali melajukan mobil menuju ke kontrakan.
Jam dua pagi dia baru sampai ke kontrakan, dia harus mengambil jalan memutar dan memarkirkan mobil kantor di lapangan, mengingat jalan ke rkontrakannya tidak cukup untuk mobil.
Hampir seluruh lampu kontrakan sudah dimatikan, hanya tinggal beberapa petak saja yang terlihat masih terang, mungkin itu yang mempunyai bayi, atau memang tidak suka tidur di dalam kegelapan.
Alvin membuka pintu dengan perlahan, dia membuka jas mahal yang sejak tadi melekat di tubuhnya dan menggantungnya dengan rapih. Ingat itu adalah jas milik orang lain, hanya untuk kebutuhan pesta. Besok pagi dia harus mengantarnya ke tempat laundry khusus dan mengembalikannya pada sang empunya.
Memutuskan untuk membersihkan diri yang sudah terasa lengket, lalu merebahkan dirinya di atas kasur. Tidak butuh waktu lama mata yang memang sudah lima wat itu, sudah tertutup rapat, dengan alam bawah sadar yang mulai memasuki mimpi.
__ADS_1
.
.
Akhir pekan kini telah kembali, hari ini Alvin benar-benar memilih beristirahat di kontrakan, aktivitasnya yang sangat sibuk di minggu ini, membuat tubuhnya merasa cukup lelah.
Dia mengingat pertemuan pertamanya dengan tunangan sang bos waktu di pesta. Selama ini hubungan bosnya dan sang tunangan memang harus berjalan dengan jarak jauh, mengingat tunangan bosnya tidak bertempat tinggal di kota ini.
Katanya, mereka bertemu di liar negeri, saat Indira sedang menjalani studi S2. Keduanya langsung jatuh cinta dan memutuskan untuk bertunangan beberapa bulan yang lalu.
Edhar, itulah namanya. Laki-laki bertubuh tegap dengan wajah yang lumayan tampan, menatapnya seolah mereka adalah musuh bebuyutan.
Padahal, Alvin merasa sama sekali belum pernah bertemu dengan laki-laki itu. Entah tatapan itu karena dia cemburu dengan kedekatan Alvin pada Indira, atau yang lainnya? Alvin pun tidak tahu.
Hingga saat Indira pamit ke kamar mandi dan meninggalkannya berdua dengan sang tunangan yang bernama Edhar.
"Jangan berani-berani kamu mengoda Indira. Ingat dia itu adalah bos kamu. Kalian tidak sepadan, kamu tidak pantas untuk Indira!" peringat laki-laki itu pada Alvin.
Alvin hanya mengangguk, malas rasanya harus menjawab ocehan para orang kaya sombong. Lagi pula dia juga tidak berniat untuk menggoda bosnya, bukan karena sadar diri, melainkan karena sepertinya hatinya sudah kadung memilih tempat berlabuh.
Alvin kembali menganggukkan kepalanya, tanpa mau bersuara untuk menimpali hinaan berkeringat mengingatkan.
Jangan lupa kalau aku, mendapatkan rekomendasi karena aku mempunyai potensi, batin Alvin sedikit menyombongkan diri.
Gak apa lah, sesekali sombong, lagi pula dia mendapatkan kepintaran juga dengan kerja keras, dia belajar siang malam di sela pekerjaan.
Jujur saja diremehkan dan dihina atas kerja keras yang dia lakukan, benar-benar membuat harga dirinya seolah sedang dijatuhkan. Itu semua membuat Alvin meradang, walau dia berusaha menenangkan hati dan pikirannya untuk tetap berpikir waras.
"Bang Alvin, kita main bola yuk!" ajak anak laki-laki tanggung dengan bola di tangannya. Di belakang anak itu terlihat anak-anak lainnya yang juga melihatnya penuh harap.
Alvin sempat terdiam, dia kemudian berujar, "Nanti saja habis shalat asar, sekarang mah panas."
__ADS_1
"Beneran ya, Bang. Abis asar kita main bola?!" tanya anak-anak itu, menuntut janji.
"Ya, In Sya Allah," jawab Alvin.
Para anak-anak itu pun akhirnya kembali pergi bermain entah ke mana, sedangkan Alvin beranjak ke dalam kontrakan mencari laptop dan buku untuk bahan referensi tugas-tugasnya.
Sebentar lagi dia sudah harus disibukkan dengan mengerjakan skripsi, makanya mulai sekarang Alvin sudah bersiap-siap untuk menghadapi masa tersulit di dalam dunia perkuliahan.
Kini tidak ada lagi tempat berdiskusi atau meminta saran. Jani sudah tidak ada lagi di sisinya, perempuan itu bahkan tidak bisa hanya untuk sekedar memberi semangat padanya.
Kembali terhanyut di dalam aktivitas pelajaran, Alvin sampai tidak sadar bahwa waktu beranjak cepat hingga matahari mulai menggelincir ke arah timur, sampai suara adzan asar terdengar berkumandang dari musala.
Alvin pun beranjak untuk membereskan semua buku dan laptop yang berserakan di lantai, kemudian bersiap untuk melaksanakan shalat berjamaah di musala tidak jauh dari kontrakan.
"Bang, jangan lupa janjinya tadi, ya!" teriak anak-anak dari arah lapangan kampung.
"Shalat dulu, nanti Abang ikut main. Kalau kalian gak shalat Abang gak mau main bola ah," jawab Alvin santai.
"Yah, Abang ... kita kan kotor." Anak-anak itu mulai mencari alasan untuk menolak ajakan Alvin.
"Ya sudah, kalau kalian gak mau shalat, Abang juga gak mau main bola." Alvin langsung melanjutkan kalangkahnya meninggalkan para anak laki-laki yang tengah kebingungan.
Mereka tampak saling bertanya satu sama lain, merasa enggan untuk meninggalkan permainannya. Akan tetapi, mereka juga sudah rindu bermain bola bersama Alvin.
Bukan hanya permainannya yang mereka rindukan dari Alvin. Akan tetapi, kebiasaan Alvin yang selalu meneraktir para anak-anak di warung setelah bermain lah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi anak laki-laki itu.
Walaupun sebenarnya sikap Alvin yang ramah dan seru untuk diajak main pun, tidak bisa mereka abaikan begitu saja.
Beberapa langkah Alvin berjalan suara teriakan anak-anak itu membuat senyum di wajah Alvin tampak mengembang.
"Abang, tunggu ... kita ikut!" teriak para anak-anak sambil berlari mengejar Alvin.
__ADS_1
"Nah gitu dong, jadi kan Abang gak akan percuma jajanin kalian semua," ujar Alvin begitu para anak laki-laki itu berada di sampingnya.
..................