ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Hari pertama


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Lagi ngapain lu, Tong?" tanya Pak Umar, yang baru saja ke luar dari rumah kontrakannya.


Alvin mengalihkan perhatiannya pada laki-laki itu, dia cukup terkejut saat melihat Pak Umar hanya menggunakan kaos dalam berwana putih tanpa lengan dengan celana sebatas lutut.


Sebungkus rokok dan satu buah korek tampak ada di genggaman tangannya.


Alvin tersenyum sambil mengangguk samar. "Lagi cari angin, Pak."


Diam-diam Alvin melihat bentuk tubuh Pak Umar yang masih terlihat bagus, walau perutnya tidak lagi rata, dia juga melihat ada beberapa tato kecil di lengan bagian atasnya.


"Ngapain cari angin di sini sendirian, nanti kesambet setan baru tau rasa, Lu!" Pak Umar menghampiri Alvin lalu duduk di sampingnya.


"Enggak mungkin lah, Pak. Emang masih ada setan di sini?" tanya Alvin sambil terkekeh.


"Yee, dasar bocah! Jangan kira di kota kaga ada setan ... malah di kota kayak ini lebih banyak setannye, hahaha!" ujar Pak Umar diakhiri dengan tawa lepas.


Alvin menggaruk belakang kepalanya, sambil meringis melihat tawa Pak Umar.


"Saya kira di sini udah gak ada setan, Pak. Karena udah padat sama manusia semua, hehe ...." Alvin tertawa kecil.


"Jangan dikira, Tong. Di kota begini, orang aja bisa jadi setan tanpa mati dulu. Bahkan kadang orang lebih menakutkan dan berbahaya dibandingkan dengan setan."


Alvin mengangguk samar, sambil memikirkan maksud dari perkataan Pak Umar.


"Si Lukman ke mane?" tanya Pak Umar, sambil melihat ke arah pintu.


"Katanya mau nongkrong sama bapak-bapak lainnya," jawab Alvin.


"Oh, paling mereka pada main kartu di pos." Pak Umar menoleh ke arah depan kontrakan.


.


.


Setelah cukup lama berbincang dengan Pak Umar, Alvin kembali masuk ke dalam dan bersiap untuk tidur.


Dia berdiri di ujung tempat tidur 120×200 centimeter yang baru saja dia rebahkan di atas lantai.


Ya, sebelumnya kasur itu diletakan berdiri di dekat tembok, agar ruangan terlihat lebih besar.


Hanya ada satu bantal di sana, yang pasti milik Lukman. Alvin yang tidak terbiasa tidur bersama orang lain, sedikit ragu untuk merebahkan dirinya.


Namun, akhirnya dia nekat berbaring dengan tangan sebagai bantalnya, setelah merasa nyaman dia mulai menutup matanya dan terlelap mengarungi dunia mimpi.


Malam sudah menunjukan pukul dua belas saat Alvin mendengar pintu rumah terbuka, dia langsung terbangun untuk melihat siapa yang datang.


Tidur di tempat baru, membuatnya lebih sensitif dan waspada. Alam bawah sadarnya yang belum terbiasa, membuat dia gampang terjaga, walaupun mendengar sesuatu yang tidak terlalu keras.

__ADS_1


"Kamu belum tidur, Vin?" tanya Lukman yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Eh, udah, Mang. Mamang, baru pulang?" Alvin mengucek matanya, memaksa untuk terbuka.


"Iya. Kalau udah nongkrong sama yang lain, suka lupa waktu," jawab Lukman.


"Ya sudah tidur lagi saja, aku juga mau langsung tidur," sambung Lukman lagi, sambil mendahului Alvin berjalan ke kamar.


"Iya, Mang," jawab Alvin.


Alvin memutuskan untuk mengambil air wudhu lalu melaksanakan shalat malam dulu, sebelum akhirnya ikut merebahkan tubuhnya di samping Lukman, yang sepertinya sudah terlelap.


Baru satu jam Alvin menutup mata, tidurnya sudah terusik dengan suara mendengkur Lukman yang cukup keras.


Alvin meencoba menutup mata dan bertahan, dia menutup telinganya menggunakan tangan, untuk meredam suara, sambil berbalik gelisah.


Namun, semua itu sama sekali tidak membantu agar dirinya bisa tidur kembali.


Astagfirullah, aku tidak biaa tidur lagi kalau begini! batin Alvin, merasa kesal. Alvin akhirnya menyerah, dia memilih untuk pindah ke ruang tengah.


Alvin mengambil kain sarung yang dia bawa dari kampung, lalu menggelarkannya di atas lantai. Dia kemudian berbaring meringkuk di atasnya.


"Sepertinya begini lebih nyaman," gumam Alvin, sambil mulai menutup matanya kembali.


Tidak perlu waktu lama, Alvin sudah bisa terlelap kembali. Mungkin karena tubuh dan hatinya sudah cukup lelah untuk hari ini, hingga mereka menagih istirahat kepada sang tuannya.


.


.


"Kamu beli di mana? Baru aja aku mau beli," ujar Lukman yang sudah bersiap untuk bekerja.


"Di depan, tadi sekalian beli bareng sama Pak Umar," jawab Alvin.


"Sebentar aku bawa piring dan minumnya dulu," sambung Alvin, langsung berjalan ke dapur.


Tidak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa dua buah piring dan sendok, juga satu gelas kopi dan teh manis sebagai minumannya.


"Ini, Mang," ujar Avin, setelah menyiapkan sarapan untuk Lukman.


"Bareng, Vin," ajak Lukman sambil bersiap untuk makan.


Alvin dan Lukman pun akhirnya sarapan bersama untuk pertama kalinya.


"Mang di sini, pasar yang deket di mana ya?" tanya Alvin di sela sarapan mereka.


"Emang ngapain kamu nyari pasar? Mau belanja?" tanya Lukman.


"Enggak, Mang. Aku cuman mau beli sesuatu aja. Lagian nanti juga pas OSPEK suka disuruh beli yang aneh-aneh," jawab Alvin.


"Ada kok, kamu tinggal naik angkot sekali-" Lukman menjelaskan arah ke pasar.

__ADS_1


Alvin mengangguk, setelah cukup mengerti ke mana arah pasar terdekat.


Setelah Lukman pergi kerja, Alvin pun berangkat ke pasar, dia membeli karpet untuk alas tidur sementara dan beberapa perlengkapan lainnya.


.


.


Hari berlalu begitu saja, Kini sudah waktunya Alvin untuk pergi ke kampus dan menjalani OSPEK di hari pertama. Dia sudah bersiap masih dengan memakai baju seragam sekolah menengah akhir.


"Wah, udah mau ke kampus, Vin?!" tanya Pak Umar yang sedang duduk di depan kontrakannya.


"Iya, Pak. Do'akan lancar ya, Pak," jawab Alvin.


"Pasti! Udah sono nanti, Lu, terlambat." Pak Umar sedikit mendorong pundak Alvin, setelah Alvin mencium tanganya.


"Assalamualaikum," pamit Alvin, sambil langsung berjalan menjauh dari Pak Umar.


"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Umar.


Beberapa saat kemudian Alvin sudah sampai di kampus tempatnya berkuliah. Untung saja, kemarin saat dia mengunjungi kampus, dia sudah bertemu dengan staf yang mengurus administrasi dan beasiswanya, hingga sekarang Alvin tidak perlu ke sana dahulu.


Alvin sedikit berlari dari halte bus, ketika dia sadar kalau dirinya sudah hampir terlambat.


Ya, untung saja dulu dia menyimpan jam tangan milik sang ayah, hingga sekarang bisa dia gunakan lagi.


Saat Alvin baru saja sampai di parkiran tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang menabrak dirinya dengan cukup keras, hingga Alvin hampir saja tersungkur.


"Aduh, maaf-maaf!" ujar si penabrak itu yang ternyata seorang perempuan.


"Iya, gak apa-apa," jawab Alvin, melirik sekilas lalu kembali meneruskan langkahnya.


Berbeda dengan Alvin, perempuan itu malah terkejut melihat laki-laki yang baru saja dia tabrak.


"Kamu?! Kamu ternyata kuliah di sini?" Gadis itu langsung menghampiri Alvin dan berjalan di sampingnya.


Kerutan halus di kening Alvin terlihat, dia kembali melihat wajah perempuan di sampingnya.


Apa aku pernah bertemu dengannya? Ah, sepertinya tidak, batin Alvin.


"Kamu ingat sama aku kan? Yang di bus waktu itu," ujar perempuan itu lagi, berusaha mengingatkan Alvin tentang dirinya.


"Aku pinjam ongkos bus! Kamu pasti ingat kan?!" Perempuan itu kembali berbicara.


Alvin menatap perempuan di sampingnya, penampilannya sangat berbeda saat mereka bertemu beberapa hari yang lalu.


Saat ini perempuan itu terlihat lebih feminim dan rapih.


......................


Pertemuan terkadang dilupakan hanya dalam sekejap mata. Namun, kita akan mengingatnya jika pertemuan itu terus berulang, hingga terbiasa bersama.

__ADS_1


__ADS_2