ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Dua tahun yang lalu


__ADS_3

...Happy Reading...


.......................


Malam terasa semakin larut, Alvin terlihat berbaring di atas ranjang, dengan pandangan menatap langit-langit yang ada di atasnya.


Ingatannya kembali pada dua tahun yang lalu, di mana dirinya menemukan Bu Leni di gudang lama itu.


Keesokan harinya, Alvin langsung dibawa ke suatu tempat oleh salah satu staf yayasan sekolahnya.


Flash back.


Alvin dan Imran baru saja ke luar dari musala, setelah melaksanakan salat zuhur bersama.


"Vin, kamu dicariin sama Pak Kardi," ujar salah satu teman sekolahnya yang berbeda kelas.


Alvin mengernyitkan keningnya, dia tahu kalau Pak Kardi adalah staf keungan yang mengurus tentang beasiswa miliknya.


Alvin mengangguk. "Terima kasih."


"Ada apa, Vin, kok kamu dipanggil sama Pak Kardi?" tanya Imran.


Alvin menggeleng. "Gak tau. Ya udah aku ke ruangan Pak Kardi dulu ... kamu makan aja duluan."


"Gak mau aku temenin aja, Vin?" tanya Imran lagi.


"Apa-apaan sih kamu, Ran. Aku kan cuman dipanggil Pak Imran, bukan dipanggil polisi, gak usah lebay deh." Alvin menepuk pundak Imran.


Dia tahu kalau saudaranya itu khawatir padanya, mengingat selama ini Alvin jarang sekali dipanggil oleh Pak Kardi.


Alvin mengetuk pintu ruangan Pak Kardi, sebelum masuk.


"Bapak, memanggil saya?" tanya Alvin, setelah dia berada di hadapan Pak Kardi.


"Iya benar. Duduk, Vin," ujar laki-laki yang terlihat sudah tua itu.


"Apa benar kemarin kamu bertemu dengan Bu Leni di gudang belakang sekolah?" tanya Pak Kardi.


Alvin sedikit bingung dengan pertanyaan yang diberikan kepadanya, menurutnya kejadian itu bukanlah sesuatu yang besar dan pantas, untuk diurusi oleh staf seperti Pak Kardi.


Walau begitu, Alvin tetap memberikan jawaban dari pertanyaan Pak Kardi padanya.


"Iya benar, Pak. Memang ada apa ya, Pak?" tanya Alvin.


"Apa kamu juga melihat apa yang terjadi di dalam?" tanya Pak Kardi.


Kerutan di kening Alvin semakin terlihat, dia mmeras ada yang janggal dari semua pertanyaan Pak Kardi.

__ADS_1


"Tidak terlihat jelas. Tapi, aku melihat seperti punggung seorang wanita yang sedang menangis," jawab Alvin seadanya.


Alvin bisa melihat keterkejutan di wajah Pak Kardi, saat dirinya menjawab.


"Siapa saja yang sudah mengetahui itu?" tanya Pak Kardi lagi.


"Tidak ada, Pak. Hanya saya," jawab Alvin.


Pak Kardi tampak menatapnya penuh selidik. Sedangkan Alin, berusaha mengendalikan dirinya sebaik mungkin, agar Pak Kardi tidak merasa curiga atas semua jawabannya.


Sebenarnya ada apa ini? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang janggal? batin Alvin.


"Benarkah? Bu Leni mengatakan kalau kamu bersama Imran saat itu," desak Pak Kardi.


"Benar, Pak, saya memnag bersama dengan Imran saat itu. Tapi, dia tidak melihat apa pun, selain mendengar suara tangis," jawab Alvin.


Pak Kardi menatap tajam Alvin, berusaha untuk memberikan intimidasi pada murid yang sekolah dari beasiswa itu.


Namun, ternyata Alvin tidak bisa terintimidasi dari tatapan tajam Pak Kardi, dia hanya sedikit menundukkan kepalanya, agar terlihat lemah.


Hembusan napas kasar pun terdengar dari mulut Pak Kardi, sebelum kemudian berbicara kembali.


"Baguslah kalau begitu. Jangan sampai ada yang tau apa pun yang kamu lihat di gudang kemarin, atau kamu akan menerima sangsi yang berat," ujar Pak Kardi lebih terdengar seperti sebuah ancaman.


Alvin mengangkat kepalanya, menatap laki-laki tua di depannya dengan kening yang berkerut dalam, kejanggalan di dalam suatu kejadian yang menurutnya kecil itu semkin terlihat.


"Memangnya ada apa, Pak?" tanya Alvin, berusaha mengorek informasi dari Pak Kardi.


"Kamu anak yang pintar, tugasmu hanya belajar agar bisa membanggakan sekolah dan keluarga," ujar Pak Kardi lagi.


Alvin mengangguk, dia pun pamit kembali ke kelasnya, mengingat waktu istirahat sudah hampir selesai.


Semenjak saat ini dia terus terpikirkan kejadian di gudang, juga punggung seorang perempuan yang dia sendiri tidak tau siapa.


Semua itu hanya menjadi misteri untuknya, hingga satu minggu kemudian dia mengetahui kalau gadis itu adalah adik dari Bu Leni, yang sering membantu Bu Leni bekerja.


Dia mengalami pelecehan seksual oleh salah satu orang penting di dalam yayasan itu, sewaktu dirinya mengantarkan makan siang ke ruangannya.


Itu semua dia ketahui, saat tidak sengaja dia bertemu dengan Bu Leni dan Pak Kardi di rumah sakit, sewaktu menemani neneknya menjenguk salah satu tetangganya.


Alvin tidak sengaja mendengar pembicaraan dari Bu Leni dan Pak Kardi yang sedang menunggu perempuan itu di periksa.


Alvin yang ada di sana pun langsung menghampiri dua orang itu.


"Selamat malam, Bu Leni, Pak Kardi," sapa Alvin.


Bu Leni dan Pak Kardi yang sedang duduk di selasar rumah sakit tampak terkejut saat melihat keberadaan Alvin di depan mereka.

__ADS_1


"Alvin, kamu ngapain di sini?" tanya Pak Kardi.


"Saya sedang mengantar nenek menjenguk tetangga, Pak. Itu ruangannya di sana," tunjuk Alvin pada ruangan rawat yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Kedua orang itu tampak melihat ke arah telunjuk Alvin, kemudian mengangguk.


"Kamu–" Pak Kardi tampak ragu untuk melanjutkan perkataannya.


"Ya, saya mendengar apa yang dibicarakan oleh Bapak dan Ibu," jawab Alvin, seakan tahu apa yang akan ditanyakan oleh Pak kardi.


Pak Kardi tampak terkejut, begitu pun dengan Bu Leni.


"Alvin, Ibu mohon kamu jangan sampai memberi tahu siapapun tentang semua ini," ujar Bu Leni dengan wajah panik.


"Tapi, Bu, bagaimana dengan orang yang sudah elecehkan adik Ibu?" tanya Alvin.


Anak remaja itu masih bingung karena berita ini benar-benar seperti sengaja disembunyikan, padahal kejadian pelecehan itu terjadi di dalam lingkungan sekolah.


"Hanya itu usaha terakhir kami untuk bertahan hidup, Vin. Terkadang kita hanya bisa menerima takdir yang datang dan menguburnya untuk sendiri, tanpaharus orang lain ketahui apa yang kita alami," jawab Pak Kardi.


Alvin mengerutkan keningnya mendengar perkataan Pak Kardi, dia belum bisa mencerna dengan baik semua kata-kata yang membingungkan itu.


"Maksud, Bapak, apa?" tanya Alvin merasa bingung sendiri.


"Orang yang melecehkan adikku bukanlah orang sembarangan yang bisa kita lawan, Vin," ujar Bu Leni sendu.


Alvin semakin mengerutkan keningnya, dia yang mulai tau arti dari perkataan Pak Kardi, masa marah dan juga kecewa.


"Jadi dia adalah salah satu orang yang ada di posisi tinggi di yayasan. Itu sebabnya Pak Kardi juga tidak bisa melakukan apa-apa?" tanya Alvin, menatap dua orang dewasa di depannya bergantian.


"Iya, Vin. Bahkan salah satu anak buahnya sudah menemui Bu Leni dan mengancamnya akan menghancurkan hidup bu Leni dan adiknya kalau sampai kejadian ini terdengar oleh orang luar," ujar Pak Kardi.


Alvin mengepalkan tangannya, dia tau kalau ini sangat tidak adil bagi adik Bu Leni dan keluarganya. Akan tetapi, masalah jabatan dan kasta kembali membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


Ingin rasanya dia maju ke depan dan mencari keadilan bagi adiknya Bu Leni, hingga orang-orang semena-mena itu akan bisa menerima hukumannya.


Namun, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, umur yang belum cukup ditambah tidak adanya kemampuan dan koneksi, membuatnya hanya bisa menjadi penonton tanpa bisa bergerak maju.


Flash back off.


Sejak saat itu, tekadnya untuk menjadi orang yang sukses suatu hari nanti semakin besar. Dia ingin berguna untuk banyak orang, bila itu tidak mungkin pun, setidaknya dia bisa melindungi orang-orang di sekitarnya.


Satu bulan dari kejadian itu pun, Bu Leni dan Pak Kardi mengundurkan diri dari sekolah dan memilih pindah entah ke mana.


Sampai saat ini bahkan Alvin tidak pernah lagi mendengar kabar dari mereka.


......................

__ADS_1


Siapa kemarin yang penasaran sama kejadian di gudang?


Ayo, like dan komennya🙏🥰


__ADS_2