ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Kembar?


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Ini kan ponsel milik, Jani. Siapa lo, hah? Ngapain lo pake ponsel milik dia?" tanya kakak tingkat yang tadi memberikan arahan.


Alvin terdiam dia bisa melihat ada kemarahan di dalam mata laki-laki di depannya.


Jangan sampai terulang lagi, seperti masalah dengan Dandi dan Milka, batin Alvin.


Dia sama sekali tidak suka saat harus mengalami permusuhan yang diakibatkan salah paham, atau karena perempuan


Alvin kemudian mengingat kalau Jani mengakuinya sebagai sepupu di depan taman-temannya.


"Aku cuma meminjamnya, karena ponsel miliku tertinggal. Kami tidak ada hubungan apa-apa," jelas Alvin.


"Gak usah banyak alesan, lo! Awas aja kalau gue tau, lo, berhubungan dengan Jani," ujar laki-laki itu sedikit mengancam Alvin.


Alvin hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah dilepaskan oleh kakak tingkatnya, dia meneruskan tugas yang belum selesai.


.


.


"Ini, ponsel milik kamu. Terima kasih," ujar Alvin, sambil mengembalikam ponsel milik Jani.


Hari ini kegiatan OSPEK sudah selesai, mereka akhirnya diizinkan pulang setelah waktu sudah beranjak sore.


"Sama-sama," jawab Jani.


"Lo, mau pulang ke mana? Mau bareng gak?" tanya Jani lagi.


"Gak usah, makasih," jawab Alvin, sambil kembali berjalan menuju ke luar kampus.


"Ck, selalu saja dingin. Dasar kulkas!" hardik Jani, merasa kesal pada Alvin.


Alvin tidak menghiraukan perkataan Jani, walaupun sebenarnya dia bisa mendengarnya.


"Siapa yang kulkas, Jan?" tanya salah satu temannya yang baru saja bergabung.


"Hah? Gak ada! Yuk  mending kita pulang aja, capek banget nih," ujar Jani, sambil beranjak menuju motor miliknya.


Jika dia hanya pergi ke kampus, Jani akan menggunakan motor metic kesayangannya. Dia sebenarnya tidak suka ketika harus ke mana-mana diantar oleh sopir.


.


.


Hari berlalu begitu saja, kini sudah hampir satu bulan Alvin berada di Jakarta. Selama ini Alvin masih menyesuaikan waktu kuliah, sebelum akhirnya hari ini dia memutuskan untuk mencari kerja lagi, mengingat uang bekalnya semakin menipis, sedangkan dirinya harus segera membayar uang untuk biaya pelengkap pendidikannya, seperti buku dan yang lainnya.


Alvin terdiam di salah satu bangku taman, sambil menunggu pelajaran berikutnya. Sebuah buku terlihat ada di tangannya, seakan dia sedang membaca.

__ADS_1


Namun, kenyataannya pikirannya tengah berkelana, memikirkan cara untuk mencari kerja.


"Alvin?"


Alvin yang terkejut dengan panggilan seseorang yang kini sudah berada di sampingnya, dia langsung menoleh cepat.


"Ngelamun ya?" tanya orang itu, yang tidak lain adalah Anjani.


"Hah? E–enggak," jawab Alvin sambil mengalihkan kembali pandangannya.


"Gak usah bohong, buktinya aku panggil dari tadi gak jawab," ujar Anjani.


"Ada apa?" tanya Alvin lagi.


Setelah masa OSPEK selesai, dia belum pernah bertemu lagi dengan Jani. Sampai hari ini perempuan itu tiba-tiba berada di sampingnya.


"Nih, uang ongkos bis waktu itu." Jani mengulurkan uang cash yang lumayan banyak.


Kerutan di kening Alvin terlihat jelas, dia menatap uang di tangan Jani, lalu beralih pada wajah Jani.


Perempuan itu tampak meyakinkan Alvin untuk menerima uang darinya, dengan isyarat mata dan mimik wajahnya.


"Aku gak mau." Alvin mendorong tangan Jani dari hadapannya.


"Kenapa? Ini kan uang cash sesuai dengan janji aku dulu," ujar Jani.


Alvin menoleh lagi pada Jani dengan tatapan bingung bercampur kesal.


"Sudah aku bilang, aku gak mau," jawab Alvin, masih dengan tutur kata yang halus.


"Ini memang sedikit terlambat sih. Tapi, aku beneran mau balikin uang kamu ... terima ya." Jani masih saja mencoba untuk memberikan uang di tangannya.


"Aku ikhlas nolongin kamu, jadi gak usah ungkit-ungkit lagi masalah itu ... dan bawa kembali uang kamu," jawab Alvin.


"Heh, ngapain lo deket-deket sama Jani?!" Nada sarkas dari seseorang yang baru saja datang mengalihkan perhatian keduanya.


Alvin mengernyit melihat seorang laki-laki yang tidak lain adalah kakak tingkat yang dulu pernah memperingatkannya masalah Jani.


Astagfirullah, apa lagi ini? batin Alvin, mengeluh.


"Anji? Ngapain kamu ke sini?" tanya Jani, sambil melihat laki-laki yang berdiri di depan dirinya.


"Ngapain kamu deket-deket sama dia, Jani?" tanya laki-laki yang disebut dengan Anji oleh Jani.


"Dia yang nolongin aku di bis, kan aku udah pernah cerita," jawab Jani.


"Oh iya, Alvin, kenalin ini Anji, kembaran aku," sambung Jani lagi.


Alvin hampir saja dibuat ternganga saat mendengar pernyataan dari Jani. Dia setengah tidak percaya akan perkataan Jani.


Masalahnya wajah mereka sama sekali tidak mirip, dan postur tubuh pun tidak sama.

__ADS_1


Anji yang terlihat lebih tinggi dengan badan yang terbentuk, bagaikan seorang model. Sedangkan Jani terlihat lebih pendek, dan ramping.


"Kenapa? Gak percaya kalau kita saudara kembar?" tanya Jani, menatap kesal pada Alvin yang sama sekali tidak menggubrisnya sejak kedatangan Anji.


"Ck, ini semua gara-gara kamu. Ngapain juga punya badan tinggi banget kayak gitu," sambung Jani lagi, beralih pada Anji.


"Dih! Suka-suka aku dong," jawab Anji.


Jani dan Anji, memang terlihat sangat berbeda, mulai dari rupa dan juga sikapnya. Anji yang terlihat lebih dewasa, sedangkan Jani yang masih sedikit kekanakan.


Itu semua, membuat orang yang melihat keduanya sering kali salah faham dan menganggap mereka berpacaran. Itu juga yang terjadi pada Alvin, sebelum Jani menjelaskan.


Jadi mereka kembar? batin Alvin.


"Enggak kok, aku percaya. Eh, maaf nih, kayaknya aku harus segera kembali ke kelas," ujar Alvin, sebelum akhirnya berpamitan dan pergi dari dua saudara kembar itu.


"Ck, gak sopan!" hardi Anji, menatap kepergian Alvin.


"Jadi dia orang yang udah nolongin kamu?" tanya Anji lagi, begitu melihat Alvin sudah cukup jauh dari mereka berdua.


"Heem. Gimana dia orangnya baik kan?" tanya Jani dengan penuh semangat.


Kayaknya Jani suka sama anak itu? batin Alvin.


"Tapi, dia gak cocok buat kamu. Dia terlalu muda," jawab Anji langsung.


"Ish, dasar gak asik! Aku laporin sama Kak Arkan," ujar Jani.


J


"Heh, dasar tukang ngadu!" decak Anji.


"Ye, biarin." Jani tersenyum senang.


Anji memang tidak pernah berani melawan kakak mereka yang bernama Arkan, yang sangat menyayangi Jani.


"Aku juga akan bilang sama Kak Arkan, kalau kamu berhubungan dengan laki-laki tadi. Lihat saja, apa yang akan Kak Arkan lakukan sama laki-laki itu, karena sudah mendekati adik kesayangannya." Anji malah berbalik mengancam Jani.


"Eh, jangan dong. Kasihan dia," cegah Jani.


"Sudahlah, ayo pulang ... hari ini kamu sebenarnya gak ada kelas kan?" ujar Anji.


"Eh, a–aku ada kelas kok." Jani terlihat gelisah, dia mencari alasan untuk datang ke kampus, supaya dapat bertemu dengan Alvin.


"Gak usah bohong, kamu itu gak pinter kalau soal bohong gitu. Ayo pulang, atau nanti aku bilangin sama Kak Arkan," ujar Anji, sambil mengambil tangan Jani dan membawanya berjalan ke area parkir.


"Ck, sebenernya siapa sih yang tukang ngadu?!" Jani mengerutu, walau dia tidak melawan kemauan Anji.


......................


Terkadang sesuatu yang terlihat, tidak bisa menyiratkan apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2