
...Happy Reading...
......................
Setelah puas melepas rindu, Alvin mengantarkan Jani pulang sampai ke rumah.
"Lho, kok kamu ikut turun?" tanya Jani saat melihat Alvin turun dari mobil.
"Aku mau menemui ayah dan kakakmu," jawab Alvin santai.
"Hah! Sekarang?!" Jani melebarkan matanya terkejut dengan perkataan Alvin.
"Heem," jawab Alvin masih dengan nada yang teramat santai, bagi laki-laki yang ingin menemui orangtua dari kekasihnya.
"Kamu yakin?" tanya Jani memastikan. Tatapannya masih menyiratkan keraguan.
"Kamu gak percaya sama aku? Pak Ezra menantangku untuk membawa kabar baik saat menemuinya, jadi apa boleh buat," jawab Alvin sambil terkekeh ringan.
Jani menatap Alvin dengan mulut yang setengah terbuka, dia tidak menyangka jika laki-laki di depannya itu sudah berubah begitu banyak. Kini Alvin, sudah seperti laki-laki yang berpengalaman dalam merayu perempuan dan menjalani sebuah hubungan, sampai tidak ragu untuk langsung menemui orang tuanya.
"Kamu pikir hubungan kita adalah sebuah permainan?" tanya Jani yang kini mulai merasa kesal dan heran pada Alvin.
"Kapan aku menganggap hubungan kita sebuah permainan, hem?" tanya Alvin menarik tinggi sebelah alisnya. Kini dia sedang menikmati kebahagiaan menggoda Anjani.
"Itu, kamu bilang tadi menemui papah hanya karena ditantang oleh Pak Ezra," jawab Jani sambil mengerucutkan bibirnya. Dia merajuk.
Alvin terkekeh, melihat Jani yang salah paham dengan perkataannya.
"Sudahlah, nanti aku jelaskan. Yang penting, aku sudah bosan menjadi pelampiasan dua bucin bosku itu, jadi lebih baik kita masuk saja sekarang," ujar Alvin sambil sambil mendorong pelan pundak Jani.
Belum sempat mereka masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja Anji ke luar hingga mereka menghetikan langkahnya.
Ya ampun, kenapa malah Kak Anji yang ke luar sih? batin Jani merutuki situasi yang pasti akan menjadi sangat canggung ini.
Jani tentu tahu kalau kedua kakaknya masih tidak suka pada Alvin, dan itu membuatnya merasa takut jika nanti Anji akan berbuat yang tidak-tidak pada Alvin. Apa lagi setelah Arkan menikah dan memutuskan untuk pindah, Anji menjadi lebih protektif terhadapnya.
Untuk beberapa saat hening terjadi, suasana pun terasa begitu canggung hingga membuat Jani bingung mau berbicara apa. Semuanya terdiam dan hanya saling beradu pandang.
__ADS_1
Namun, beberapa saat kemudian, Anji tertawa yang disambut kekehan dari Alvin, hingga membuat Jani terkejut dan melebarkan mata.
"Akhirnya kamu datang juga, Vin. Akh, aku sudah lelah menjaga gadis liar ini," ujar Anji sambil menghampiri Alvin dan mengadukan kepalan tangan dengan laki-laki itu.
Anji kemudian merangkul pundak Jani dengan wajah yang terlihat sumringah menyambut kedatangan Alvin, seolah mereka adalah teman dekat yang sudah lama tidak bertemu. Itu semua semakin membuat Jani bingung.
Tanpa sadar Jani membuka mulutnya, matanya berkedip pelan, seolah tidak percaya dengan pemandangan yang terjadi di depan matanya saat ini.
Sejak kapan Anji dan Alvin bisa akur? Bukannya sebelumnya Anji masih membenci Alvin?
Jani hampir saja pingsan karena terkejut oleh pemandangan yang tidak terduga itu.
Alvin tampak terkekeh. "Terima kasih untuk bantuanya selama ini, aku senang ada kamu di sisi Jani, sampai aku tidak perlu merasa khawatir."
"Jani adikku, kamu bisa percaya seratus persen dengan yang aku katakan tentang gadis manja ini," ujar Anji dengan bangga, sambil mengacak pelan puncak kepala Jani.
Jani menyingkirkan tangan Anji di kepala dan pundaknya, tidak suka diperlakukan bagaikan anak kecil. Dia kemudian membenarkan jilbabnya yang sedikit berantakan akibat ulah Anji.
"Tunggu-tunggu -- kenapa sekarang kalian bisa akrab begini? Bukannya Anji masih tidak merestui hubunganku dan Alvin?" tanya Jani menatap Alvin dan Anji bergantian.
"Sejak kapan aku tidak merestui kalian? Aku tidak pernah merasa begitu -- iya kan, Vin?" tanya Anji bagaikan seseorang yang sedang mengalami lupa ingatan atas segala yang pernah dia lakukan pada Avin sebelumnya.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Alvin dan Anji?
"Sudahlah, lebih baik kita masuk sekarang, Papa dan Mama sudah menunggu di dalam," ujar Anji menyudahi rasa penasaran Jani, kemudian membawa Alvin dan Jani masuk ke rumah.
"Hah? Jadi papa dan mama sudah tahu kalau Alvin mau menemui mereka sekarang?" tanya Jani yang masih merasa penasaran.
"Iya, aku sudah memberitahu orang tua kamu lebih dulu sebelum datang," jawab Alvin sambil tersenyum pada Jani.
Benar saja, begitu mereka masuk, papa dan mama Jani sudah menunggu mereka di ruang keluarga. Kini Jani merasa dirinya sedang dikerjai oleh Alvin dan seluruh keluarganya, karena hanya dia satu-satunya orang yang tidak tahu mengenai rencana pertemuan ini.
"Om, Tante, seperti apa yang saya bilang sebelumnya. Saya berada di sini untuk melamar Jani kepada, Om dan Tante, untuk menjadi istri saya," ujar Alvin, setelah cukup lama mereka berbicang hal yang sederhana.
Jani yang duduk di samping sang ibu tampak melebarkan matanya, dia menatap Alvin dengan wajah yang sangat terkejut. Tidak menyangka jika hari ini dirinya akan langsung dilamar pada orang tuanya oleh Alvin.
Mama tampak menyikutnya sambil tersenyum menggoda, sepertinya ibunya juga terpesona oleh Alvin yang dianggap sangat bertanggung jawab menjadi seorang laki-laki.
__ADS_1
Sementara itu, Papa berdehem sebelum menjawab perkataan Alvin.
"Saya sebagai ayah kandung Jani, tentu tidak bisa memutuskan apa pun, karena kamu dan Jani yang akan menjalani hubungan ini, maka saya serahkan semua jawabannya pada Jani langsung. Jika memang dia menerima kamu menjadi calon suaminya, maka kami sebagai orang tua hanya bisa merestui kalian beruda dan berdoa untuk kebahagiaan kalian. Namun, jika Jani menolaknya, kami harap kamu bisa berlapang dada untuk menerima keputusan anak kami," jawab papa Raka, sebelum kemudian melirik Jani.
"Bagaimana, Jani, apa kamu mau menerima lamaran dari Alvin? Silahkan kamu jawab sendiri," sambung papa Raka lagi.
"Ayo, sayang cepat jawab lamaran Alvin," bisik Mama di telinga Jani.
Jani tampak menunduk menyembunyikan semburat merah di pipinya. Sungguh ini adalah kejutan yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Ingin rasanya dia mengumpat Alvin karena tidak memberinya waktu untuk mencari jawaban yang bagus untuk lamarannya.
Namun, dibalik rasa kesalnya, nyatanya rasa senang terasa jauh lebih besar, hingga membuat Jani bahkan menjadi bingung mau menjawab apa saat ini.
"Jani." Papah bahkan harus memanggil Jani, agar anak perempuannya itu kembali tersadar dari lamunanya, dan segera memberi jawaban pada Alvin.
Berbeda dengan Jani yang sedang merasakan bahagia hingga tidak sadar telah melamun, suasana hati Alvin kini terasa tidak menentu. Walau dia tahu kalau dirinya dan Jani saling mencintai, tetapi, nyatanya ini adalah lamaran pertama yang dia berikan untuk Jani.
Mungkin saja Jani akan menolaknya karena belum siap untuk langsung menuju jenjang yang lebih serius dari sebelumnya. Apa lagi mereka baru saja bertemu, setelah setahun ini keduanya saling berpisah.
Waktu terasa berjalan begitu lambat bagi Alvin. Dia tidak pernah menyangka kalau perasaannya akan segugup ini, saat menunggu jawaban dari Jani. Padahal sebelumnya dirinya sudah menyiapkan hatinya sebaik mungkin.
Unjung jarinya bahkan terasa dingin, karena rasa gugup yang tidak bisa dia tahan lagi. Sepertinya, jika saja dia harus menerima penolakan dari Jani, dirinya akan langsung terkena serangan jantung saat itu juga.
Bagaimana tidak, jika saat ini saja irama detak jantungnya sudah terasa berbeda dari bisanya. Dadanya bahkan mulai terasa sesak, karena terlalu gugup.
"A–aku ... aku mau, Pah," jawab Jani lirih, tanpa berani menatap Alvin yang kini duduk tepat di depannya.
"Mau apa nih? Jawab yang jelas dong." Anji yang duduk di sebelah Alvin tampak ikut menggoda Jani.
Rasanya Jani ingin membekap mulut Anji menggunakan sandal, agar tidak ikut bersuara dan mengacaukan suasana dalam momen yang sangat berharga ini.
"Benar kata, Anji. Coba jawab dengan jelas, Jani?"
Ah, sekarang giliran ayahnya yang menggodanya. Tidak tahukan kalau saat ini lidahnya begitu sulit untuk digerakkan, dia terlalu gugup akibat lamaran dadakan ini.
"A—aku mau menerima lamaran Alvin," jawab Jani dengan susah payah.
Alvin tersenyum, dia menghembuskan napas lega begitu mendengar jawaban dari perempuan di depannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah," gumam Alvin penuh syukur.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?"