
...Happy Reading...
.......................
Tidak terasa kini sudah tahun terakhir Alvin di sekolah menengah pertama. Hari ini adalah hari terakhir ujian kelulusan.
Alvin ke luar dari kelas terlebih dahulu, saat dia sudah yakin dengan jawaban dari semua pertanyaan di ujian itu.
Dia menunggu Imran di taman depan sekolah, mengingat mereka memang selalu pergi dan pulang sekolah bersama.
Alvin mengedarkan pandangannya, melihat ke sekitarnya yang belum banyak orang. Hanya ada beberapa orang siswa yang mungkin sama seperti dirinya.
"Kamu hebat banget sih, Vin, selalu ke luar di urutan pertama."
Alvin terperanjat mendengar suara seseorang yang begitu dikenalnya, dia langsung menolehkan kepalanya ke samping, di mana perempuan itu duduk.
"Milka?" ujar Alvin, dengan kerutan halus di keningnya.
Milka tersenyum, dia menatap Alvin dengan tatapan teduh.
"Kamu mau nerusin sekolah ke mana?" tanya Milka..
Alvin terdiam, dia memang sedang mencari-cari beasiswa yang bisa meringankan biaya kuliahnya nanti.
Namun, dia sendiri belum tahu, beasiswa mana yang akan menerima dirinya.
"Gak tau, aku belum mikirin ke sana," ujar Alvin, sedikit berbohong.
Milka mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi jawaban dari Alvin.
"Kalau, kamu?" tanya Alvin.
"Aku?"tunjuk Milka pada dirinya sendiri. Dia sedikit terkejut saat Alvin kembali beratnya padanya, karena biasanya Alvin hanya akan menjawab, tanpa mau memulai pembicaraan dengannya.
Mimpi apa aku semalam, bisa ditanya balik sama Alvin? batin Milka kegirangan.
Selama tiga tahun ini, Milka terus mencoba untuk mendekati Alvin. Akan tetapi, sepertinya Alvin tidak pernah tertarik padanya.
Alvin mengangguk samar.
"Aku juga gak tau. Aku belum nentuin mau kuliah di mana," jawab Milka.
"Aku kira kamu sudah tau mau nerusin di mana, biar aku bisa ikutin kamu," sambung Milka lagi, dengan nada pelan di akhir kalimatnya.
"Apah? Maaf aku tidak terlalu mendengarkan kamu tadi," tanya Alvin.
__ADS_1
"Hah? Eu–enggak kok, aku gak ngomong apa-apa," geleng Milka gelagapan sendiri.
Ya ampun, malu banget sih! untung aja dia gak denger, batin Milka.
"Ouh." Alvin mengangguk samar, sambil mengedarkan pandanngannya.
Mereka sama-sama diam dengan gestur tubuh canggung. Milka sudah bingung untuk memulai pembicaraan lagi dengan Alvin.
Sedangkan Alvin yang memang tidak terbiasa berbicara banyak, membuatnya hanya bisa terdiam, tanpa memiliki cara untuk memulai pembicaraan dengan perempuan di sampingnya.
Alvin sesekali melihat ke pintu kelasnya, menunggu Imran yang tidak kunjung datang.
"Vin, sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu," ujar Milka dengan nada bicara ragu.
Alvin melihat kembali ke arah Milka. "Ada apa, Mil?"
Alvin dapat melihat dengan jelas, wajah gugup Milka, bahkan kedua kedua tangan gadis itu terlihat saling meremas.
Ada apa sebenarnya? Kenapa dia terlihat gugup begitu? batin Alvin.
Milka yang ditatap intens oleh Alvin semakin bertambah gugup, hingga rasanya mulutnya semakin tidak bisa digerakkan.
Astaga, kenapa dia malah ngeliat aku begitu sih? Kan aku jadi tambah gugup. Milka ketar-ketir menghadapi laki-laki di sampingnya.
"Ada apa, Mil?" Alvin kembali bertanya, saat melihat Milka yang tidak berbicara apa pun sejak tadi.
Alvin melebarkan matanya, saat mendengar sebuah pengakuan dari gadis di sampingnya.
Ya Allah, kenapa harus terucap sekarang? batin Alvin.
Sebenarnya Alvin sudah tahu kalau Milka sudah padanya sejak awal mereka bertemu, bahkan mungkin satu sekolah pun mengetahui itu.
Namun, karena nama Dandi dan teman-temannya yang selalu berkata kalau Milka adalah pacarnya Dandi, membuat semua orang seakan menutup mata akan semua itu.
Begitu juga dengan Alvin, dia memilih bersikap dingin dan menjauh dari Milka, demi mempertahankan beasiswanya di sekolah.
Ya, Dandi pernah mengancam Alvin, akan mencabut semua beasiswa Alvin, jika dia berani mendekati Milka.
Alvin menelan salivanya dengan susah payah, bibirnya seakan kaku untuk memberikan sebuah jawaban.
Jantung Milka bertalu semakin cepat, saat telinganya tidak mendengar sepatah kata pun dari Alvin.
"Maaf, Mil. Kamu sendiri tau bagaimana kehidupanku, kita bukanlah dua orang yang setara untuk menjalin sebuah hubungan."
Mila perlahan membuka matanya, dia sudah siap dengan apa pun jawaban dari Alvin. Menurutnya lebih baik mengungkapkan sekarang, daripada terus memendam perasaan.
__ADS_1
"Saat ini, bagiku sebuah hubungan percintaan tidaklah menjadi nomor satu. Karena hidup bukan hanya soal cinta. Masih banyak tujuanku untuk meraih cita-cita, dan aku tidak mau semua itu tertunda hanya karena satu kata yang memiliki banyak makna."
Alvin berkata lirih, ada rasa bersalah di dalam hatinya saat menolak ungkapan cinta dari Milka. Dia juga takut akan ada yang mendengar perkataannya, dan membuat Milka merasa malu.
Alvin tidak mau memberikan sebuah harapan walau itu hanya sedikit, dirinya mau Milka bisa melupakan rasa cinta untuknya, agar bisa melanjutkan hidup dan pendidikannya tanpa rasa sakit di hati.
Milka menarik napas panjang lalu menghembuskannya, dia tersenyum canggung berusaha untuk terlihat ceria, walaupun rasa kecewa di dalam hati, tidak bisa dia pungkiri.
"Iya, gak apa-apa kok, aku ngerti," ujar Milka, setelah mencoba mengendalikan dirinya.
"T–tapi, kita masih bisa berteman, kan?" tanya Milka lagi.
Alvin tersenyum tipis. "Ya, aku rasa itu bahkan terdengar lebih baik."
Milka tersenyum sambil mengangguk samar, mencoba terlihat bahagia dan biasa saja di depan laki-laki yang baru saja menolak cintanya.
"Vin!"
Panggilan dari Imran, menyadarkan dua remaja yang tengah berada dalam kecanggungan luar biasa.
Kedatangan Imran, seakan sebuah angin segar bagi Milka maupun Alvin.
Alvin langsung melabaikan tangannya pada Imran, sebagai tanda agar temannya itu menghampirinya.
"K–kalau gitu aku pergi dulu," ujar Milka, berusaha menghindar dari Imran.
Alvin mengangguk sambil tersenyum tipis, membuat hati Milka bertambah sakit.
Ya ampun, kenapa dia sangat manis kalau sedang tersenyum begitu? Bikin aku gak bisa berpaling. batin Milka.
"Dadah!" Milka melambaikan salah satu tangannya, sambil berjalan menjauh dari Alvin.
Alvi hanya mengangkat tangannya sebatas dada, sebagai tanda balasan untuk Milka.
"Loh, kok Milka pergi?" tanya Imran yang baru saja bergabung dengan Alvin.
"Gak tau, mau gabung sama teman-teman yang lainnya kali," jawab acuh Alvin.
"Lah, kok gak tau sih. Bukannya tadi dia sini ke sini sama kamu?" tanya Imran merasa heran.
"Enggak kok, kita cuna kebetulan aja ke luar dari kelas dengan jarak yang berdekatan," elak Alvin, tidak mau kalau sampai berbuat Milka
"Beneran?" goda Imran, pada sahabatnya. Kok aku gak tega liat wajah Milka, dia kayak lagi sedih banget.
..........................
__ADS_1
Masalah Bu Leni, nanti aku bahas di bab berikutnya ya👋🥰