
...Happy Reading...
...................
Sudah sepuluh hari Alvin berada di kampung, para teman-temannya di kantor sudah pada menanyakan kapan Alvin kembali bekerja. Mengingat Alvin masih menjadi karyawan baru di kantor itu.
Besok pagi setelah shalat subuh, Alvin berencana untuk kembali ke Jakarta. Melihat kondisi kesehatan kakeknya yang sudah mulai stabil lagi, Alvin akhirnya memantapkan diri untuk meninggalkan sepasang orang tua itu lagi.
Alvin sudah bersiap sejak sore, agar pagi-pagi bisa langsung berangkat, dengan menumpang pada Imran yang akan berangkat ke kampus.
"Vin, sekarang kamu sudah dewasa, sudah waktunya kamu menyimpan kalung ini sendiri," ujar kakek Darman ketika menghampiri Alvin di kamarnya.
"Kakek, aku takut nanti hilang kalau aku yang menyimpannya," tolak Alvin.
Dia tidak mau benda berharga milik ibunya akan hilang, mengingat dirinya mempunyai aktivitas yang sibuk, mulai dari kuliah dan bekerja.
"Kakek yakin, kamu anak yang bisa bertanggung jawab. Lagipula ini adalah milik ibumu, jadi sudah sepantasnya kamu yang memegangnya." Kakek Darman menyerahkan kalung itu pada cucunya.
"Kalau kamu takut menghilangkannya jika disimpan, lebih baik kamu pakai saja," sambung Kakek Darman lagi.
"Apa boleh? Rasanya akan sangat tidak nyaman kalau aku memakai perhiasan, Kek," ujar Alvin, menatap kalung yang diletakkan Darman di tangannya.
"Gak akan, ini bukan dari emas. Kamu masih bisa memakainya di balik baju, jika malu." Darman sedikit mendesak Alvin.
Alvin mengerutkan keningnya, entah kenapa malam ini kakeknya terasa lebih memaksa dan keras kepala dibandingkan sebelumnya.
Walau begitu, Alvin masih tetap menuruti perkataan Kakeknya, dia akhirnya memakai kalung dengan liontin batu biru milik ibunya.
"Sudah, Kek," ujar Alvin sambil memperlihatkan liontin batu biru yang sudah berhasil dia pakai, pada Darman.
"Bagus, kamu cocok memakai itu," jawab Darman tersenyum puas.
Alvin ikut tersenyum lalu memasukkan kalung itu ke balik baju yang dia pakai.
"Vin, hidup di dunia itu bagikan sebuah panggung drama. Setiap orang adalah pemeran utama untuk hidupnya sendiri, mereka menghadapi masalahnya sendiri, sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Allah SWT," ujar Darman tiba-tiba, tatapannya tampak melihat lurus ke depan, tepat pada foto keluarga Alvin, yang berada di atas meja belajar.
"Kita semua adalah pejuang, untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, dan meraih ridho dari Sang pemilik kehidupan," sambung Darman lagi, beralih menatap Alvin.
Alvin sedikit terpana melihat sorot mata kakeknya yang tampak sangat damai, hingga membuatnya hampir tirbuai oleh tatapan hangat itu.
__ADS_1
"Jangan pernah menyerah, apa pun masalahnya, tetaplah berjuang dan yakin kalau Allah, tidak akan memberikan kamu masalah yang berlebihan. Dia sudah mengukur kemampuan kamu terlebih dahulu, sebelum memberikan ujian padamu."
Alvin sempat terdiam hingga Darman menepuk tangannya diambil mengangkat kedua alisnya, seakan bertanya 'apa kamu mendengarkan apa yang aku katakan?'
Alvin mengangguk samar, diambil teersenyum. "Iya, Kek, aku akan selalu ingat nasihat dari Kakek," jawab Alvin.
Malam itu keduanya asyik berbicara berdua, hingga tidak sadar kalau malam sudah mulai larut. Darman menceritakan tentang dirinya sendiri, bahkan kenangannya bersama ayah Alvin.
"Sudah malam, Kakek harus istirahat. Ayok, aku antar Kakek ke kamar," ujar Alvin.
Bukan dirinya tidak mau lebih lama berbicara dengan kakeknya. Akan tetapi, kakeknya belum pulih seperti semula. Laki-laki tua itu masih harus menjalani masa pemulihan, agar kadar gula dan darah tingginya tidak akan naik turun secara tiba-tiba lagi.
Alvin bisa melihat wajah enggan kakeknya, saat dirinya mengulurkan tangan untuk membantu berdiri.
"Ayo, Kakek," ajak Alvin lagi, sambil tersenyum.
"Kakek bisa sendiri, Vin," decak Darman berdiri dengan bantuan Alvin, lalu mulai berjalan ke luar dari kamar cucunya itu.
"Kamu juga harus istirahat ya, jangan sampai besok kesiangan," ujar Darman setelah mereka berdua berada di depan pintu kamar Darman.
"Iya, Kek. Setelah ini aku langsung tidur," jawab Alvin sambil tersenyum.
Adzan subuh berkumandang di masjid kampung itu, Alvin langsung bangun dan berjalan menuju kamar mandi, walau matanya masih terasa berat untuk dibuka.
Bagaimana tidak, Alvin baru saja tidur setelah waktu menunjukkan pukul dua pagi, dan setengah lima dia harus bangun kembali. Kepalanya bahkan terasa sedikit pening, karena tidak cukup istirahat.
Ke luar dari kamar mandi, Alvin berpapasan dengan neneknya yang baru ke luar dari kamar.
"Kakek mana, Nek?" tanya Alvin, sambil melihat ke belakang neneknya.
"Udah bangun kok, paling sebentar lagi ke luar," jawab Nenek Esih, yang langsung mendapat anggukkan dari Alvin.
Alvin masuk ke kamar untuk mengganti baju, dia sedikit terburu-buru, karena sebentar lagi komat pasti akan terdengar.
Alvin mengetuk pintu kamar Kakek dan Neneknya saat dia melihat Kakeknya belum ke luar juga, sedangkan suara air di kamar mandi menandakan kalau Nenek Esih masih berada di dalam sana.
"Assalamualaikum, Kek," ujar Alvin sambil membuka pintu kamar.
Kerutan di kening Alvin tampak dalam, saat melihat Kakeknya masih terlihat berbaring di atas tempat tidur dengan mata tertutup.
__ADS_1
"Kakek?" panggil Alvin sambil mulai melangkahkan kakinya masuk ke kamar.
Perasaannya tidak enak, jantungnya berdebar tidak karuan saat dia tidak mendapatkan jawaban dari kakeknya.
"Kek," Alvin duduk di kursi yang ada di dekat ranjang, kemudian menggenggam tangan kakeknya.
"Kakek," panggil Alvin lagi.
Darman perlahan membuka matanya, dia bisa sambil tersenyum pada Alvin.
Alvin langsung menghembuskan napas lega, saat melihat mata kakeknya terbuka kembali, dia menggenggam tangan Kakek Darman sambil sesekali mengusapnya dengan gerakan gelisah.
"Kakek ketiduran lagi, kamu, ke masjid duluan aja, Vin. Kakek biar shalat di rumah saja," ujar Kakek Darman.
"Tapi, Kek." Alvin menatap ragu, merasa enggan untuk meninggalkan kakeknya.
"Kalau kamu nungguin kakek, nanti kamu ketinggalan berjamaah." Darman langsung memotong perkataan Alvin yang hendak membantahnya.
Alvin pun akhirnya mengangguk lalu mencium punggung Darman sebelum akhirnya berdiri, dia kembali melihat wajah Darman yang terlihat berbeda dari biasanya.
Darman hanya mengangguk samar, membuat Alvin langsung berbalik dan melangkahkan kaki menuju pintu ke luar.
"Vin." Darman memanggil lagi saat tangan Alvin sudah memegang gagang pintu.
"Langsung pulang ya, ajak paman-pamanmu dan saudaramu yang lain, kakek ingin bertemu," ujar Darman yang langsung diangguki oleh Alvin.
"Assalamualiakum," ujar Alvin yang langsung di jawab oleh Darman.
Selesai shalat berjamaah, Alvin langsung mengajak anak dan cucu kakek Darman ke rumah, termasuk Imran dan ayahnya. Ada yang langsung berangkat bersama dengan Alvin, ada juga yang harus pulang terlebih dulu ke rumahnya dan akan menyusul setelahnya.
Sampai di rumah, Alvin melihat neneknya sedang berada di dapur, dia langsung mencium tangan Nenek Esih, lalu menanyakan kakeknya. Entah mengapa sepanjang dia berada di masjid pikirannya tidak pernah lepas dari sang kakek.
"Ada di kamar, Vin. Dari shalat subuh belum ke luar lagi," jawab Nenek Esih, sambil menyiapkan air minum untuk anak dan cucunya.
Alvin pun langsung berpamitan untuk melihat kakeknya ke kamar, sekaligus memberi tahu kalau anak dan cucunya sudah ada yang datang.
Namun, saat dia membuka pintu Alvin hanya bisa mematung, melihat apa yang ada di hadapannya.
..................
__ADS_1
Alvin kembali lagi, hayu pada kumpul😂