
...Happy Reading...
......................
"Vin, mau bareng gak?" tanya Milka saat Alvin sudah berada di pinggir jalan.
Semoga saja dia tidak melihat kejadian barusan. Alvin berdoa di dalam hati.
"Hah?" Avin menggaruk belakang kepalanya, merasa terkejut bercampur bingung, melihat Milka yang tiba-tiba ada di sampingnya.
"Mau pulang bareng gak?" tanya Milka mengulang kembali perkataannya.
"Oh ... eum, gak usah deh. Aku sendiri aja," jawab Alvin, merasa tidak enak karena menolak ajakan dari teman sekelasnya itu.
Ini memang bukan pertama kalinya Milka mengajak Alvin untuk pulang bersama. Akan tetapi, biasanya Alvin akan terus menolak dan mencari berbagai alasan.
Imran, kenapa kamu pake sakit segala sih? Sekarang aku mau cari alasan apa lagi coba, kalau gak ada kamu? batin Alvin.
"Sekarang kan gak ada Imran, hadi kamu bisa dong pulang sama aku," desak Milka.
"Maaf, Milka, aku gak bisa." Alvin masih mencoba menolak.
Bukan tanpa sebab Alvin menolak setiap ajakan Milka. Dia hanya sedang mengindari masalah yang akan semakin besar, jika sampai semua itu terlihat oleh Dandi dan Pras.
"Mending kamu pulang sma ayang lain saja, ya. Aku ada urusan lain dulu," sambung Alvin lagi, sambil berjalan menjauh dari Milka.
Alvin baru bisa bernapas lega, saat dirinya sudah cukup berjarak dari Milka.
Sedangkan gadis itu, hanya bisa menatap punggung Alvin yang semakin menjauh darinya.
.
.
Hampir satu jam Alvin berjalan kaki, di tengah terik matahari siang itu. Baju sekolahnya bahkan sudah basah oleh keringat, ditambah dengan tenggorokannya yang serasa sudah kering, mengingat uang untuk membeli air minum pun dia tidak ada.
"Assalamualaikum," ujar Alvin begitu dirinya sampai di rumah.
"Wa'alaikumsalam." Esih ke luar melihat kedatangan dari cucu laki-lakinya.
Dia memang sedang mengkhawatirkan Alvin yang tidak biasanya pulang terlambat. Hingga saat mendengar suara dari remaja itu, dia langsung bergegas ke luar rumah.
Namun, penampilan Alvin saat itu, mambuat Esih melebarkan matanya.
Muka merah, napas memburu, rambut lepek dan baju berantakan menjadi pemandangan pertama, yang bisa dilihat oleh Esih.
"Astagfirullah! Alvin, kamu habis ngapain? Kenapa ini baju sampai basah begini?" cerocos Esih, sambil melihat dengan jelas wajah cucunya,
__ADS_1
"Aku gak apa-apa, Nek. Tadi uangku hilang di sekolah, jadi pulangnya jalan kaki," ujar Alvin sambil tersenyum lembut pada neneknya.
"Ya ampun, kamu jalan kaki dari sekolah sampai ke sini? Kenapa gak ikut sama temen aja, atau pakai ojek biar nanti sampai rumah baru dibayar." Esih masih belum merasa puas untuk mengoceh pada cucunya.
"Alvin gak apa-apa, Nek. Sekali-kali olahraga siang, biar badan aku sehat dan kuat." Alvin masuk ke dalam rumah, setelah membuka sepatunya.
"Olahraga biar apa hah? Tubuh udah kurus begitu, mau dibikin kayak gimana lagi?! Dasar anak ini!" decak Esih, menatap kesal bercampur khawatir pada cucunya itu.
Alvin terkekeh, mendengar ocehan dari neneknya yang seakan tidak ada habisnya. Dia mengambil gelas lalu duduk di meja makan, sambil menuangkan air dari teko.
Alvin kemudian menenggaknya hingga tandas, meredam dahaga yang sejak tadi seakan menyiksa tenggorokannya.
"Biarkan saja, dia bertanggungjawab atas keteledorannya. Siapa suruh dia menghilangkan uang untuk ongkos pulang." Darman yang baru saja masuk dari pintu belakang langsung menghentikan ocehan dari istrinya.
Alvin langsung mencium punggung tangan kakeknya lalu mengangguk, membenarkan perkataan dari Darman.
"Benar, Nek. Ini memang akibat karena aku gak bisa menjaga uang jajan yang aku punya," ujar Alvin kemudian.
"Ck!" Esih, menatap bergantian wajah suami dan cucunya itu.
"Kalian ini memang sama saja. Sama-sama keras kepala!" sambung Esih lagi, yang langsung disambut tawa dua orang laki-laki berbeda usia di depannya.
"Gimana keadaan Imran, Nek?" tanya Alvin, setelah mereka selesai dengan canda guraunya.
"Sudah mendingan kok, panasnya juga sudah turun. Kamu mau melihatnya?" tanya Esih.
Dia memang belum lama pulang dari rumah Imran, untuk melihat cucunya itu.
"Ya sudah, sana cepetan ganti baju, nanti kamu keburu masuk angin," ujar Esih.
.
.
Setelah melaksanakan salat isa berjamaah di masjid, Alvin mampir dulu ke rumah Imran. Rencananya untuk menengok Imran sore tadi terpaksa batal, karena Alvin ketiduran.
"Assalamualaikum," ujar Alvin saat masuk ke kamar Imran.
Dia tersenyum mengejek melihat saudara sekaligus sahabatnya itu, sedang terbaring di tempat tidur, dengan wajah yang terlihat pucat.
Imran menghembuskan napas kesalnya, melihat wajah Alvin yang seolah tengah berkata puas padanya.
"Ngapain sih kamu pake datang segala?" ujar malas Imran.
"Gak ada, cuman mau lihat orang yang katanya lagi sakit aja," jawab Alvin, sambil mengedarkan pandangannya, melihat kamar milik saudaranya itu.
"Terus kamu ke sini gak bawa apa-apa, buat aku?" Imran melihat kedua tangan Alvin yang tidak memegang apa pun.
__ADS_1
"Apa? Aku kan cuman mau lihat, ngapain juga pake bawa makanan," jawab acuh Alvin.
"Astaga! Bener-bener tega kamu ya jadi saudara ... nengokin yang lagi sakit masa gak bawa apa-apa."
"Yang penting kan orangnya datang, sama doanya biar cepet sembuh! Sakit kok pake dipiara?" Alvin memilih duduk di kursi belajar milik Imran.
"Siapa juga yang mau melihara penyakit?"
"Ya kamu lah, itu buktinya, kamu sakit sekarang."
"Kamu tuh ke sini, mau nengokin apa ngajak berantem sih, Vin? BIkin kesel orang aja!" kesal Imran.
"Untung saudara, kalau bukan udah aku usir kamu dari tadi!" sambung Imran lagi.
"Yeh, malah marah. Yang penting kan niat aku baik, mau jengukin kamu, Ran," ujar santai Alvin, seakan tidak terprofokasi dengan kekesalan Imran.
"Yaelah, punya saudara kok gini amat ya?" desah Imran, memilih mengakhiri perdebatannya, yang tidak mendapat respon berarti dari Alvin.
"Gini-gini, kamu juga gak bisa jauh kan sama aku?" Alvin menaikan salah satu alisnya.
"Bodo amat!" sentak Imran.
Alvin tersenyum tipis, melihat raut wajah kesal saudaranya itu, sambil beralih duduk di sisi ranjang.
Imran pun duduk bersandar di kepala ranjang, hingga kini mereka seakan sedang berhadapan.
"Ck, sakit kok kayak anak orok." Alvin kembali meledek Imran.
"Heh! Jangan sebarangan kamu ngomong ya, sini biar aku tularin seklian," Imran hendak meraih tubuh Alvin.
Namun, Alvin langsung menghindar dan berdiri kembali, hingga tangan Imran hanya bisa meraih angin saja.
"Cacar, kan emang penyakit bayi sama balita," jawab Alvin.
"Ran, ini tadi Alvin bawain bubur kacang hijau sama roti, kamu mau makan sekarang?" Tiba-tiba ibu Imran masuk ke kamar.
Imran menatap ibunya tidak percaya, ternyata Alvin tidak datang dengan tangan kosong, hanya saja Alvin memberikan barang bawaanya pada sang ibu.
"Aku dengar kacang hijau bagus buat pemulihan orang cacar. Tapi gak tau juga sih benar apa enggaknya," ujar Alvin, saat melihat Imran terkejut.
Imran mengalihkan pandangannya pada Alvin, kemudian kembali menatap ibunya.
"Iya, Bu. Aku mau makan sekarang!" ujar Imran penuh semangat.
Ada rasa haru di dalam hatinya, saat Alvin membawakan dirinya makanan, di saat Alvin sendiri sedang membutuhkan uang.
Tentu saja dirinya tidak boleh membuat Alvin kecewa. Imran tau Alvin pasti membawakannya makanan dari uang tabungannya.
__ADS_1
......................
Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🥰