
...Happy Reading...
...................
Alvin menatap jendela di sampingnya, terlihat bulir air menetes mengenai beningnya dinding kaca, dia baru saja menutup laptopnya, setelah mengerjakan semua tugasnya.
Dia mengecek ponsel miliknya yang sejak tadi sengaja dia atur dalam mode senyap. Telihat ada kiriman gambar disertai tulisan di bawahnya dari Gani, salah satu teman satu kelasnya.
Gani: [Loe janjian sama Jani ya? Dia nungguin Loe tuh dari tadi.]
Alvin melebarkan matanya, dia baru ingat kalau tadi pagi Jani mengajaknya makna bareng di taman belakang kampus.
Astagfirullah, dia beneran masih nungguin aku? Dasar perempuan bod*h! batin Alvin, sambil merapihkan alat belajar lalu mengembalikam buku ke tempatnya.
Gerimis sudah semakin lebat, Alvin berlari menuju ke taman belakang, takut Jani masih manunggunya di bawah gerimis.
Anjani yang masih terdiam di tempatnya, tersenyum saat melihat Alvin yang tampak berlari menghampirinya.
"Ck, dasar bodoh! Ngapain kamu masih ada di sini?" tanya Alvin di sela napas yang memburu.
Alvin membuka jaketnya lalu memasangkannya ke tubuh Jani.
Perempuan itu tidak menjawab umpatan dari Alvin, aroma tubuh Alvin yang berada di jaketnya, membuat hati Jani berbunga.
Ya ampun, ternyata tubuhnya wangi banget. Ah, kapan lagi aku bisa nyium wangi tubuh kulkas dua belas pintu ini.
Jani malah menikmati aroma tubuh Alvin, hingga dirinya bahkan tidak lagi perduli pada air hujan ataupun Alvin yang menggerutu.
"Ck!" Alvin kembali berdecak saat Jani hanya tersenyum dengan pipi merahnya, seolah tidak mendengar perkataannya.
"Kita berteduh dulu, hujannya makin lebat," ujar Alvin lagi, sambil menggandeng tangan Jani menuju ke salah satu gedung universitas itu.
Jani hanya mengikuti arah Alvin melangkah, otaknya tiba-tiba kosong tidak bisa digunakan untuk berpikir. Dia terlalu terkejut dan bahagia melihat Alvin yang datang menghampirinya.
Mereka berteduh di selasar salah satu gedung universitas, Alvin menyibak rambutnya yang basah, juga mengibaskannya. Tentu saja semua itu malah terlihat semakin menambah ketampanan seorang Alvin di mata Jani.
Ya Tuhan, bagaimana aku bisa melepaskan mataku dan hatiku dari sosok sempurna seperti dia? batin Jani, menata penuh binar Alvin.
__ADS_1
Enam empat bulan menjalani pelatihan bela diri dari Pak Umar, menjadikan tubuh Alvin terlihat lebih berbentuk. Kini Alvin sudah bagaikan seorang yang sering berolah raga di tempat Gym.
Otot tangannya tampak terlihat jelas, membuat terlihat semakin seksi, apalagi dengan postur tubuh yang semakin sempurna.
"Maaf, aku lupa," ujar Alvin, setelah dirasa rambutnya sudah cukup kering, walau masih terlihat lembap dan basah.
Dia menatap Jani yang sejak tadi terus menatapnya dengan sorot mata penuh binar kagum.
"Jani?" Alvin menjentikan jarinya di depan wajah Jani saat perempuan itu tidak memberikan respon.
Jani mengedipkan mata dengan wajah yang berubah bingung.
"Hapus dulu liur kamu tuh," ujar Alvin sambil menunjuk ujung bibir Jani. Sepertinya mengerjai perempuan itu adalah ide yang tidak buruk.
Refleks Jani langsung mengusap bibirnya dengan punggung tangan, hingga beberapa saat kemudian dia tersadar kalau Alvin sedang mengerjainya.
"Kamu ngerjain aku ya?" tanya Jani, melihat tidak ada sedikit pun air liur di tangannya.
"Dasar bod*h!" Alvin tersenyum tipis.
"Apaan sih, Vin? Mana ada aku begitu. Aku itu selalu mendapat rengking selama sekolah tau!" jawab Jani tidak terima diktai bodoh oleh Alvin.
"Hah?!" Jani tidak mengerti dengan arti kata Alvin.
"Maaf." Tanpa mau menjawab rasa penasaran Jani, Alvin malah mengulangi permintaan maafnya.
"Maaf?" Jani mengernyit, merasa tidak ada yang salah dengan sikap Alvin padanya.
"Untuk apa?" sambungnya lagi.
"Aku lupa, kamu menungguku," jawab Alvin.
Ish, dasar kulkas! Minta maaf aja tetep aja irit ngomong. Sebenarnya dia ikhlas gak sih minta maafnya? gerutu Jani di dalam hati.
"Ck! Kamu tau gak sih, aku itu nungguin kamu lama banget, sampe rasanya sebentar lagi aku mau jamuran gara-gara kamu!"
"Bukannya udah," potong Alvin santai.
__ADS_1
"Apa maksud, kamu, hah?! Enak aja bilang aku jamuran. kulit aku itu mulus ya, jamur gak akan bisa nempel saking licinnya. Tuh lihat!" cerocos Jani, dia membusungkan dadanya menantang Alvin.
"Dih, bukannya tadi kamu sendiri yang bilang?" debat Alvin.
"Ish, dasar kulkas dua belas pintu! Udah dingin gak punya perasaan lagi! Udah buat aku nunggu lama sampe kena hujan, sekarang pake ngatain aku jamuran lagi! Kamu itu niat minta maaf gak sih?!" kesal Jani, dia memukul pundak Alvin dengan seluruh tenaganya berulang kali, hingga tubuh Alvin sedikit terhuyung ke samping.
Alvin menahan pukulan Jani menggunakan tangannya, dia menoleh menatap wajah Jani. Dirinya baru melihat kalau mata perempuan itu tampak berkaca-kaca.
Apa aku keterlaluan? batin Alvin merasa bingung sendiri. Ini pertama kalinya dia mau bercanda dengan perempuan setelah kepergian adiknya.
Dulu, biasanya Alin yang selalu menjadi sasaran kejahilannya, hingga akhirnya mereka terpisah oleh maut.
Entah mengapa, dia juga bisa berpikir untuk berkata seperti itu pada Jani, selama ini dia tidak pernah terpikir akan kembali dekat dengan perempuan setelah neneknya.
Namun, dibalik kata-kata ejekannya, dia sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti hati Jani, itu hanya sebatas candaan saja, tidak lebih.
"Oke-oke, aku minta maaf. Aku gak bermaksud membuat kamu marah, beneran!" Alvin berujar sambil terus menghindar dari pukulan tangan Jani yang ternyata cukup kencang.
"Gak, aku gak mau maafin kamu! Kamu sadar gak sih udah jahat banget sama aku!" Jani masih saja kesal pada Alvin.
"Iya-iya, aku minta maaf. Aku gak akan mengulanginya lagi," ujar Alvin.
Namun, sepertinya telinga Jani tiba-tiba tidak bisa mendengar perkataan Alvin, hingga dia terus saja memukul Alvin tanpa ampun.
Tempat yang lumayan sempit, membuat Alvin terus bergeser ke samping, hingga tanpa sadar kakinya terpeleset oleh cipratan air hujan yang menggenang.
Tubuh Alvin kehilangan keseimbangan hingga akhirnya oleng, tangannya refleks memegang lengan Jani sebagai pegangan.
Namun, kini yang terjadi, keduanya malah jatuh bersama dengan Jani yang menindih Alvin. Mereka jatuh ke area taman, hingga kini tubuh keduanya basah kuyup oleh guyuran air hujan.
Alvin terdiam, tangannya manahan tubuh Jani agar tidak menempel padanya, dia masih bisa berpikir waras, walau untuk beberapa detik dia juga sempat tenggelam di dalam keterkejutan.
Jani menatap wajah Alvin yang ada di bawahnya, kedua tangannya bertumpu di dada bidang Alvin, hingga dia bisa merasakan setiap lekuk tubuh laki-laki itu.
Apalagi Alvin yang hanya menggunakan kaos putih karena jaketnya diberikan pada Jani, membuat kini tubuhnya tercetak jelas di balik kaos yang basah.
...................
__ADS_1
Ish, berasa lagi nulis adegan film india dehðŸ˜ðŸ™ˆ