
...Happy Reading ...
......................
Hari demi hari berlalu begitu saja, sejak kejadian itu Alvin lebih memilih untuk mengajarkan les untuk anak-anak, sambil menunggu ada lamaran kerjanya yang diterima, sekaligus mengistirahatkan tubuhnya yang masih butuh pemulihan.
Selama beberapa hari ini, Pak Umar terlihat selalu menghindari Alvin, sejak saat mereka bertemu di rumah sakit Pak Umar tidak menjelaskan apa pun pada Alvin, dan Alvin yang saat itu masih terbawa emosi memilih untuk diam seribu bahasa.
Suasana kecanggungan antara Pak Umar dan Alvin membuat semua penghuni kontrakan juga ikut terlihat canggung, mengingat selama ini Pak Umar terkenal ramah dan mudah bergaul, hingga membuat ramai suasana kontrakan.
Namun, setelah kejadian Alvin beberapa minggu lalu, sikap pak Umar pun berubah menjadi lebih pendiam dari biasanya, begitu juga Alvin.
Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Alvin dan Pak Umar, karena keduanya kompak untuk tetap diam tanpa mau mengatakan masalah mereka pada siapa pun, bahkan kepada Mang Lukman sekalipun.
Sikap itu juga yang membuat orang lain tidak bisa masuk untuk sok ikut campur pada masalah keduanya, ataupun berusaha mendamaikan keduanya. Semuanya hanya berjalan dengan alami dan sesuai kehendak Alvin dan Pak Umar saja, tanpa melibatkan orang lain.
Jam tujuh malam Alvin ke luar dari kontrakan, malam ini sepertinya Mang Lukman harus lembur, jadi dia ingin membeli makan malam tidak jauh dari kontrakan.
Secara tidak sengaja Pak Umar pun ke luar dari rumah, sepertinya dia mau bergabung di pos, saat Alvin melihat secangkir kopi di tangannya.
Keduanya tampak terdiam untuk beberapa detik, dengan suasana yang canggung saat tidak sengaja mata keduanya malah sempat bertabrakan.
"Malam, Pak Umar, mau ke pos?" tanya Alvin mencoba untuk berdamai pada masalah dan mendekatkan diri lagi pada Pak Umar. Sungguh, dia sudah tidak tahan untuk terus berdiam diri tanpa mencoba menyelesaikan masalah yang ada.
Pak Umar tampak terkejut dengan perkataan Alvin yang mau menyapanya lebih dulu, dia menatap Avin dengan mata yang memerah kemudian mengangguk samar sebagai jawaban.
Awalnya dia sama sekali bisa mendapatkan maaf dari Alvin, setelah apa yang dia lakukan pada keluarga Alvin.
Alvin mengusap tengkuknya saat dia merasa bingung akan berkata apa lagi pada Pak Umar.
"Mari, Pak, kita jalan bareng saja," ujar Alvin mempersilakan Pak Umar dengan sikap yang tidak berubah sama sekali, masih begitu lembut dan sopan seperti sebelum Alvin mengetahui semua masalah kecelakaan itu.
Pak Umar tidak menjawab. dia meletakkan cangkir kopi di atas meja, kemudian menghampiri Alvin dengan tatapan wajah sendu.
__ADS_1
"Vin–" lirih Pak Umar dengan mata yang memarah, menahan segala gejolak rasa yang terpendam di dalam dada.
"Pak, maafkan aku," lirih Alvin, kemudian mereka saling memeluk dengan berbagai rasa yang mengiringinya.
"Tidak! Bukan kamu yang harusnya meminta maaf, Vin. Tapi, aku," ujar Pak Umar menepuk punggung Alvin yang terasa bergetar.
Kedua laki-laki berbeda usia itu tampak terdiam pada posisi yang sama, selama beberapa detik, sebelum akhirnya saling mengurai pelukan mereka masing-masing.
"Maafkan aku, Vin ... maafkan aku," lirih Pak Umar lagi dengan tetes air mata yang terlihat berusaha dia cegah menggunakan telapak tangannya.
"Sudahlah, Pak. Semuanya sudah selesai dari awal, aku hanya terbawa oleh rasa dendam yang memang tidak seharusnya aku pendam dan pelihara. Kecelakaan itu memang sudah ditakdirkan terjadi, lantas untuk apa aku masih mempermasalahkan semua itu?" jawab Alvin yang membuat Pak Umar tampak terisak, merasa kagum dengan kedewasaan Alvin.
"Kamu memang anak baik, maafkan aku karena sudah menjadi sumber penderitaanmu, Vin," ujar Pak Umar.
Alvin menggeleng, dia kemudian bertanya kembali pada Pak Umar.
"Pak, aku mau minta sesuatu, apa boleh?"
"Aku mau, Bapak, menjelaskan apa yang terjadi saat itu kepadaku sejelas-jelasnya," pinta Alvin yang membuat Pak Umar terdiam.
"Aku tau, itu mungkin akan sulit untuk, Bapak. Tapi, aku mohon untuk sekali ini saja, agar aku juga bisa melawan Pak Mardo jika suatu saat nanti datang lagi," ujar Alvin menatap Pak Umar penuh permohonan.
Pak Umar tampak terdiam beberapa saat, sebelum menjawab permintaan Alvin itu.
"Baiklah, ayo masuk ke rumahku, nanti aku ceritakan semuanya padamu," jawab Pak Umar, akhirnya mau menyetujui permintaan Alvin.
"Apa, tidak apa-apa, Pak, aku masuk ke rumah, Bapak?" tanya Alvin merasa ragu.
"Mau mendengar ceritanya, bukan? Kalau kamu memang sudah siap mengetahui semuanya, maka ikut masuk bersamaku," ujar Pak Umar menatap Alvin tegas.
Alvin terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya mencoba memantapkan diri untuk menganguk.
Mereka berdua pun masuk ke rumah Pak Umar, di mana selama ini tidak ada yang pernah masuk ke rumahnya, termasuk Alvin.
__ADS_1
Alvin mengedarkan pandangannya melihat rumah kontrakan Pak Umar yang selama ini begitu tertutup. Rapi dan bersih, itu lah pemandangan yang pertama kali Alvin lihat saat masuk ke dalam rumah Pak Umar.
Sebuah bingkai foto seorang laki-laki muda yang Alvin bisa tebak itu adalah Pak Umar dan sang istri. Pak Umar memang sudah terlihat gagah dan tampan saat masih muda, walau memang warna kulitnya galap. Sedangkan wanita di sampingnya yang tidak lain adalah istrinya, terlihat cantik. Warna kulitnya putih dengan rambut hitam bergelombang, senyumnya terlihat menambah manis wajah cantiknya.
"Istriku tidak suka rumah yang berantakan, makanya aku selalu berusaha membuat rumah ini terlihat bersih dan rapi," ujar Pak Umar, sambil ikut menatap potret gambar yang tergantung di dinding.
Alvin bisa melihat sorot mata penuh cinta yang begitu besar dari mata laki-laki menjelang tua itu. Bisa terlihat bahwa sampai sekarang Pak Umar bahkan masih begitu mencintai mendiang istrinya.
"Dulu aku dan Mardo adalah teman, kami bersahabat sejak dia SMA. Tapi, pertemanan kami hancur saat istriku datang di tengah-tengah kami, dia yang menyukai istriku akhirnya memilih untuk bermusuhan dengaku karena istriku lebih memilih menikah dengaku yang bukan orang kaya," sambung Pak Umar lagi, beralih menatap bingkai foto hitam putih yang terpajang di atas sebuah lemari kecil. Di sana terlihat dua orang laki-laki dengan seorang wanita di tengahnya.
Jadi Pak Umar dan Pak Merdo adalah teman lama? batin Alvin merasa terkejut dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui.
"Ayo, silahkan duduk," ujar Pak Umar lagi.
Alvin mengangguk, dia kemudian duduk di kursi yang tersedia di rumah petak itu. Ya, berbeda dengan rumah petak yang lainnya, Pak Umar bahkan mempunyai satu set kursi dan meja di ruang depannya, sedangkan penghuni lainnya lebih memilih menggunakan karpet untuk menerima tamu agar tidak memakan tempat.
"Sebenarnya masalah ini berawal dari Ibumu yang memilih meninggalkan keluarganya demi menikah dengan Bapakmu." Pak Umar akhirnya memulai ceritanya, setelah mereka cukup lama sama-sama terdiam.
"Jadi, Bapak dan Mama, menikah tanpa restu keluarga Mama?" tanya Alvin yang diangguki oleh Pak Umar.
"Latar belakang Bapakmu yang hanya anak dari seorang petani di kampung, membuat seluruh keluarga Ibumu, menentang hubungan mereka berdua. Masalah itu diperparah oleh pamanmu, Mardo, yang memanfaatkannya untuk mengadu domba Ibumu dan orang tunya karena ingin menjadi satu-satunya pewaris harta," sambung Pak Umar lagi.
"Apa Pak Mardo sejahat itu?" tanya Alvin, masih belum percaya dengan perkataan Alvin.
Pak Umar tampak beranjak masuk ke dalam meninggalkan Alvin yang masih mencoba mencerna semua perkataan yang Pak Umar ucapkan.
Beberapa saat kemudian Pak umar kembali dengan membawa sebuah laptop yang sudah menyala.
"Ini adalah semua bukti dari perkataanku tadi," ujar Pak Umar sambil menaruh laptop di depan Alvin.
"Aku selalu menyimpan kenangan atau berkas penting selama hidupku, jadi semua perkataanku bisa kamu cek kebenarannya sendiri," sambung Pak Umar, sambil duduk kembali di depan Alvin.
......................
__ADS_1