ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Pasar malam


__ADS_3

...Happy Reading...


.......................


Alvin menutup matanya saat ingatan itu kembali berputar, dia kejadian yang terjadi pada adik dari Bu Leni masih menjadi sebuah ganjalan di hatinya.


"Beginikah nasib orang kecil seperti kita? Selalu berdampingan dengan yang namanya ketidakadilan? Kami bahkan tidak mempunyai hak untuk berbicara," gumam Alvin sambil membuka matanya kembali.


Kedua tangannya dia selipkan di belakang kepala, dijadikan bantalan agar kepalanya berada lebih tinggi dari tubuhnya.


Alvin mengglengkan kepalanya, berusaha untuk menghilangkan fikiran yang sudah lama berlalu.


Dia kemudian bangun, lalu duduk di sisi ranjang, tangannya meraih gelas berisi air putih yang berada di meja belajar yang hanya berjarak dua langkah darinya.


Alvin menenggaknya hingga habis. Perhatiannya kini teralih pada foto keluarga yang berada di depan meja belajar.


Ada rasa sakit di dalam hatinya saat melihat sebuah gambar yang seolah menyembunyikan cerita di dalamnya.


Selesai dengan kenangannya bersama dengan keluarganya, kini Alvin terpikirkan dengan kejadian siang tadi, di mana Milka yang mengungkapkan cinta padanya.


"Ssshh." Alvin mengusap tengkuknya, dia merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu.


"Kenapa perempuan bisa berbuat nekat seperti itu?" tanyanya, merasa heran dengan sikap Milka.


Selama ini dia tidak pernah menyangka kalau Milka memendam perasaan untuknya.


Entah memang dirinya yang terlalu fokus pada kehiduupannya, hingga membuatnya tidak peka akan sekitarnya. Atau mungkin memang Milka yang tidak memperlihatkannya?


"Lagian, apa sih yang menarik dari aku? Perasaan tidak ada satupun alasan untuk dia menyukaiku," gumam Alvin lagi, melihat tubuhnya sendiri.


"Kenapa dia gak pacaran benaran saja sama si Dandi, setidaknya dia mempunyai orang tua yang kaya raya," cebik Alvin lagi.


Alvin kemudian terdiam, baru pertama kali mendapatkan ungkapan cinta, membuatnya terkejut sekaligus tidak percaya.


"Akh, sudahlah! Lagipula, aku juga udah nolak dia ... semoga aja dia gak sakit hati sama aku." Alvin mengacak rambutnya.


Dia merasa bersalah karena sudah membuat anak gadis orang patah hati. Akan tetapi, dia juga benar-benar belum terpiirkan untuk menjalin sebuah hubungan percintaan.


Akhirnya Alvin memutuskan untuk ke luar dan mengambil air wudhu. Melakukan salat malam menjadi pilihan terakhir Alvin, saat matanya malah terasa segar.


.


.


"Vin, bangun, kakek kamu udah nungguin buat ke musala bareng." Esih mengetuk pintu kamar Alvin, di saat cucunya itu belum juga ke luar.

__ADS_1


Alvin menggeliatkan tubuhnya, dia meregangkan otot yang terasa pegal. Alvin baru menyadari kalau dirinya tertidur di atas sajadah, dengan posisi duduk bersandar pada sisi ranjang.


"Iya, Nek, aku ke luar sekarang," jawab Alvin, sambil berusaha bangun dari tempatnya duduk.


Dengan mata yang terasa perih karena kurang tidur, Alvin berjalan untuk membuka pintu kamarnya.


"Ya, Nek," ujar Alvin sambil memperlihatkan setengah kepalanya ke luar kamar.


"Astagfirulah, Vin, udah jam berapa ini? Kamu baru bangun tidur?" tanya Esih, dengan wajah terkejutnya.


Alvin mengerjapkan matanya, saat mendengar ocehan dari sang nenek, ditambah lagi suara komat dari arah masjid, membuatnya sadar kalau dirinya bangun kesiangan.


"Ya ampun, Nek, aku kesiangan ya?" tanya Alvin, sambil melihat jam diding yang berada di belakang neneknya.


"Iya, kakek kamu nungguin kamu dari tadi, sekarang malah udah pergi. Kamu kenapa sih, kok bisa kesiangan? Kamu gak sakit kan?" tanya Esih, sambil melihat keseluruhan tubuh Alvin.


"Maaf, Nek. Tadi malam aku gak bisa tidur, jadi kesiangan begini," jawab Alvin.


"Gak bisa tidur kenapa sih? Ada yang lagi kamu pikirkan?" tanya Esih.


"Gak ada kok, Nek. Ya udah, kalau gitu aku mandi dulu ya, Nek. Nantiwaktu subuhnya keburu lewat," ujar Alvin yang langsung diangguki oleh Esih.


Alvin langsung masuk lagi ke kamar untuk mengambil handuk, kemudian bergegas menuju ke kamar mandi.


.


.


Pekerjaan ini dia dapatkan dari salah satu tetangganya yang juga bekerja di sana. Di sini dia bekerja dengan beberapa orang teman sekampungnya.


"A', mau naik," ujar salah satu ibu-ibu dengan anak laki-laki berusia empat tahun di sampingnya.


Slah satu teman Alvin yang menjadi oprator mesin penggerak pun menghentikan laju kereta yang mengangkut beberapa orang anak itu.


Ibu itu langsung mengangkat anaknya untuk duduk di kursi, setelah itu Alvin bertuhas untuk memasangkan sabuk pengaman dan memastikan keamanan anak yang akan naik permainan yang dia jaga.


Setelah semuanya siap, Alvin, kemudian memberikan kode pada temannya untuk kembali menjalankan kereta itu. Musik khas an-anak pun diputar, menjadi pengiring sekaligus penanda waktu untuk anak-anak itu.


"Berapa, A'?" tanya salah satu ibu-ibu muda yang menghampirinya dengan anak perempuan berumur kira-kira tiga tahun.


"Lima ribu, Teh, kalau mau langsung, atau bisa juga membeli kupon dulu di kasir," jawab Alvin.


Ibu muda itu, tampak memperhatikan sebentar permainan itu, kemudian kembali mendekati Alvin.


"Udah penuh ya, A'? tanyanya.

__ADS_1


"Iya, Teh. kalau mau bisa tunggu sebentar, kalau ada yang turun nanti gantian," jawab Alvin.


Ibu itu tampak bertanya pada anaknya yang terlihat bersemangat lalu mereka menunggu di pinggir.


Alvin yang notabene menyukai anak kecil, tampak menikmati pekerjaannya saat ini. Walupun tidak setiap hari dia bisa berpartisipasi di dalam acara pasar malam.


Ya, mereka sering kali bepindah-pindah tempat, hingga Alvin tidak bisa mengikuti mereka, mengingat dia yang masih sekolah.


Tidak lama kemudian salah waktu salah satu anak untuk menaiki permainan ini sudah selsai, hingga harus segera turun.


Alvin membuka sabuk pengaman dan memastikan anak itu kembali lagi pada orang tuanya, juga mendapatkan uang ataupun kupon pasar malam, yang sudah dibeli oleh para pengunjung sebelumnya.


Anak perempuan dari ibu muda itu pun, akhirnya bisa menaiki permainan itu, setelah mendapatkan kursi duduk.


"Sebentar, A', adik saya sedang membeli kuponnya," ujar ibu muda itu, saat yang lain sudah memberikan uang atau kupon untuk ongkos permainannya.


Alvin tersenyum kemudian mengangguk, tangannya memberi kode kepada temannya untuk kembali menjalankan kereta itu.


"Ini, Teh, kuponnya," ujar gadis yang menghampiri ibu muda itu.


"Ini, A', kuponnya." Ibu muda itu kembali memanggil Alvin yang sedang membelakanginya.


Alvin pun berbalik menghadap ibu muda itu lagi, berniat untuk mengambil kupon permainan. Akan tetapi, kini perhatiannya teralihkan pada gadis yang ada di samping ibu muda itu.


"Alvin, kamu kerja di sini?" tanya gadis itu yang ternyata adalah Milka.


Alvin mengangguk sambil tersenyum canggung, setelah pernyataan cinta Milka padanya beberapa hari lalu, mereka belum pernah bertemu lagi.


Baik Alvin maupun Milka, sama-sama saling menghindar jika mereka harus datang ke sekolah. Rasanya sangat canggung dan tidak enak saat mereka harus bertemu satu sama lain.


"Iya, Mil. Kamu apa kabar?" tanya Alvin sedikit basa basi.


"Aku baik. Kamu gimana?" Milka tersenyum canggung.


Alvin kembali mengangguk samar. "Alhamdulillah."


"Bukanya kamu sedang persiapan tes untuk beasiswa, kok sekarang malah kerja di sini?" tanya Milka lagi.


"Iya," angguk Alvin. Belum sempat dia meneruskan perkataannya, panggilan dari temannya membuat Alvin harus izin pergi dari hadapan Milka.


Alvin yang merasa tegang saat bertemu dengan Milka, kini menghembuskan napas lega.


.......................


Siapa yang gak peka, sama kayak Alvin? Atau punya Ayang yang gak peka😂

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya 🙏🥰


__ADS_2