
...Happy Reading ...
..................
Alvin kemudian beralih menatap pada kondektur yang sedang menagih ongkos pada penumpang.
"Tolong dong, nanti kalau udah sampe Jakarta aku ganti dua kali lipat deh." gadis itu kembali berujar sambil memegang tangan Alvin.
Alvin yang merasa risih langsung melepaskan tangan gadis itu. Dia berdecak dalam hati, saat gadis itu mengumbar kesombongannya, dengan menjanjikan pengembalian dua kali lipat.
Dia pikir aku mata duitan, batin Alvin.
"Ongkosnya?" pinta kondektur yang sudah berada di depan gadis itu.
Alvin mengambil dompetnya di saku celana, untung saja, dia membawa cukup uang untuk bekal dirinya hidup sementara di Jakarta.
Dia mengambil beberapa lembar uang di dompetnya, lalu membayar ongkos miliknya dan gadis di sampingnya.
"Makasih, ya. Boleh aku minta nomor poselnya," ujar riang gadis itu.
Alvin sedikit menjauhkan tubuhnya dari gadis itu, dia kemudian menggeleng.
"Aku tidak punya ponsel," jawabnya.
"Astaga, jaman sekarang kamu masih belum punya ponsel? Aku gak percaya, pasti kamu bohong kan? Bilang aja kalau kamu gak mau ngasih nomor ponsel kamu ke aku," tuduh gadis itu.
"Udah punya pacar ya?" sambungnya lagi, sambil mendekatkan tubuhnya pada tubuh Alvin.
Alvin semakin menekan tubuhnya ke samping, dengan pikiran yang berkecamuk, kesal, marah, dan terkejut dia rasakan sekaligus.
Astagfirullah, apa dia tidak bisa bersikap layaknya perempuan normal? Kenapa ada perempuan bar-bar seperti ini? batin Alvin.
Alvin akhirya mengangkat tangannya lalu mendorong pundak perempuan itu, hingga kembali duduk tegak di tempatnya.
"Aku memang tidak punya ponsel dan aku juga gak punya pacar!" tekan Alvin, menatap tajam mata gadis itu.
"Satu lagi, tolong jaga jarak dariku. Hargailah tubuhmu sebagai seorang perempuan yang harus di jaga, bisa saja ada laki-laki yang akan memanfaatkanmu, jika kamu sembarangan bersikap seperti tadi," sambung Alvin lagi.
Dia merapihkan kemejanya yang sedikit berantakan lalu kembali duduk tenang, dengan bersidekap dada dan memejamkan mata.
Ada-ada saja, baru meninggalkan kampung sudah harus menghadapi gadis seperti ini. Alvin bergumam dalam hati.
Gadis itu tampak berkedip pelan, menatap wajah Alvin dengan ekspresi heran. Baru kali ini dia mendapatkan teguran dari seorang laki-laki yang tidak dikenal.
Dih, ini laki sok alim banget sih! Pake ngurusin tubuh gue segala. gerutu gadis itu di dalam hati.
"Gak usah sok nasehatin, aku udah biasa kok bersikap kayak gitu, selama ini gak ada yang kayak kamu tuh!" bantah gadis itu, dengan suara yang terdengar sedikit gugup.
__ADS_1
"Pasti kamu anak keluaran pesantren ya? Dasar sok alim!" sambung Gadis itu lagi.
Alvin tidak menjawab, dia kembali menutup mata, demi menghindari perdebatan tidak penting bersama dengan gadis cerewet di sampingnya.
Ck, pura-pura tidur, gak asik banget sih! batin gadis itu lalu duduk tegap di tempatnya tanpa mau menganggu Alvin lagi.
"Dasar sombong!" decak gadis itu lagi, menatap sinis Alvin.
Alvin yang mendengar semua kata-kata gadis itu, hanya terus memejamkan mata, tanpa mau menimpalinya.
Setelah beberapa jam berlalu, kini Alvin sudah mau sampai di tempatnya turun. Dia melihat gadis di sampingnya masih tertidur.
Tanpa membangunkannya Alvin ke luar dari kursi tempatnya duduk lalu berdiri dan mengenakan tas ranselnya kembali.
Dia berjalan mendekati pintu yang berada di dekat sopir, lalu menunggu posisi yang pas.
"Kiri!" serunya, setelah sampai di pemberhetiannya.
Alvin pun akhirnya turun tanpa menghiraukan gadis yang duduk di samping tadi.
Gadis itu yang sedang tidur tiba-tiba terbangun karena pundaknya tersenggol seseorang yang sedang berjalan menuju pintu.
Dia terkejut melihat bangku di sampingnya sudah kosong.
"Ya ampun, ke mana dia? Kok udah gak ada?!" tanyanya, sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Alvin.
"Astaga, kenapa dia gak bangunin aku kalau mau turun, aku kan masih punya hutang sama dia!" ujar gadis itu.
"Hei tunggu!" teriak gadis itu, sambil berdiri.
"Pak sopir, berhenti di sini!" imbuhnya lagi.
Sementara itu, Alvin sama sekali tidak menganggap teriakan gadis itu, dia langsung menanyakan ongkos ojek pangkalan untuk mengantarnya ke tempat tujuan, setelah itu dia bersiap untuk pergi dari tempat itu.
Gadis itu langsung turun begitu bus berhenti tidak jauh dari tempat Alvin turun beberapa saat yang lalu.
"Ke mana dia? Kok udah gak ada?" tanya gadis itu, mengedarkan pandangannya di tempat dirinya melihat Alvin tadi.
"Neng, ojek?" tanya salah satu tukang ojek pangkalan yang ada di sana.
"Pak, laki-laki yang turun dari bus di sini, ke mana ya?" tanya Gadis itu.
"Kayaknya udah naik ojek tadi, Neng. Neng, mau naik ojek juga?" tanya tukang ojek itu.
"Enggak, Pak. Aku dijemput," jawab gadis itu.
"Ye, bilang dong dari tadi!" gerutu tukang ojek itu, sambil kembali ke tempatnya.
__ADS_1
Gadis itu hanya bersikap acuh sambil menatap ojek pangkalan itu aneh.
Dih, dari tadi aku kan gak manggil dia, batin gadis itu, lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada ponsel di tangannya, untuk menghubungi seseorang yang akan menjemputnya.
Beberapa saat kemudian sebuah mobil terlihat berhenti di depan gadis itu.
"Neng Jani, maaf mamang terlambat." Seorang laki-laki paruh baya tampak ke luar dan menyapa gadis itu dengan nama Jani.
"Enggak apa-apa, Mang. Emang aku yang salah, main ganti tempat turun aja, untung aja gak jauh," jawab Jani.
Laki-laki paruh baya itu tampak membuka pintu bagian belakang mobil untuk Jani.
"Terima kasih, Mang," ujar Jani, sambil masuk ke dalam mobil.
"Iya, Neng, kok tumben gak turun di tempat biasa?" tanya laki-laki paruh baya itu, setelah duduk di kursi kemudi.
"Tadi aku lupa gak bawa dompet, terus ditolongin sama laki-laki. Tapi, dia turun di sini pas aku tidur, jadi aku ikutin," jelas Jani.
"Terus sekarang dia di mana, Neng. Biar mamang gantiin dulu uangnya."
"Itu dia, Mang, aku kehilangan jejak dia!" kesal Jani.
"Siapa namanya, Neng?"
"Gak tau!"
"Neng, gak tanya namanya?" Sopir Jani mengerutkan keningnya.
"Oh iya ya, kenapa aku bisa lupa tanya namanya?" Jani menpuk keningnya, merasa kesal pada dirinya sendiri.
"Ya sudahlah, mau gimana lagi, lebih baik kita langsung pulang saja, kasihan ibu sudah sangat khawatir sama, Neng Jani," ujar sopir itu, yang langsung diangguki oleh Jani.
.
.
Ojek yang ditumpangi oleh Alvin, kini sudah sampai di depan sebuah bangunan yang cukup besar, dia lalu membayar ongkos ojek terlebih dahulu.
"Terima kasih, Pak," ujarnya.
Setelah melihat tukang ojek itu pergi, Alvin menghela napas panjang, sebelum memasuki bangunan itu.
Ada rasa sesak di dalam hatinya, setiap kali dia datang ke tempat itu. Walaupun kerinduan pun terasa sangat besar di sana.
Perlahan Alvin mulai memasuki bangunan itu, dengan jantung yang bertalu, dan hati yang bersiap menerima apa pun yang terjadi di dalam sana.
....................
__ADS_1
Terkadang kita merasa tersinggung atau direndahkan dengan perkataan kecil seseorang yang sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung dan merendahkan kita.