
...Happy Reading ...
......................
"Jadi ini anaknya Ganis?" tanya Tuan Gemang menatap Alvin dengan begitu dalam.
Alvin terdiam sambil menundukkan kepala, membiarkan Tuan Gemang melihatnya dengan seksama.
"Iya, Pak. Ini adalah anak pertama Ganis yang masih hidup," ujar Nyonya Hartari menjelaskan.
"Ayo, lebih baik kita duduk lagi," sambung Nyonya Hartari sedikit mencairkan suasana.
Walaupun Tuan Gemang sudah duduk di kursi roda dan tampak tua. Akan tetapi, Alvin bisa melihat jelas kalau masih ada keangkuhan di sana.
Dengan cara Tuan Gemang memandang Alvin, Alvin bisa merasakan kalau masih ada kebencian, mungkin karena dirinya mirip dengan ayahnya. Walau ada juga kerinduan dan rasa bersalah di sana.
Tuan Gemang mengangguk, Alvin dan Indira yang berdiri menyambut kedatangannya pun kini beranjak duduk kembali.
"Mana Ganis, kenapa dia tidak ada?" tanya Tuan Gemang, mencari keberadaan seseorang yang tidak lain adalah anak perempuannya.
"Ganis belum bisa datang, Pak," jawab Hartari yang duduk di samping Tuan Gemang.
Tuan Gemang langsung melihat istrinya dengan tatapan tajam, dia kemudian melihat Alvin yang duduk di depannya.
Untung saja Alvin sudah kebal dengan yang namanya tatapan tajam, karena semenjak bekerja dengan Ezra, setiap hari tatapan itu sudah menjadi makanannya. Hingga sekarang dia tidak terintimidasi sama sekali.
"Apa maksudmu, tidak bisa hadir, heh? Maksudnya Ganis tidak mau bertemu dengan orang tuanya sendiri?!" tanya Tuan Gemang pada Alvin dengan suara tinggi.
Alvin tidak terkejut kalau sikap Tuan Gemang juga akan keras seperti ini, karena dia juga sudah pernah melihat sikap keras dari Pak Mardo, mungkin itu juga turun dari Tuan Gemang.
"Tidak begitu, Tuan. Tapi, ada sedikit kendala pada ibu saya, hingga dia tidak bisa bertemu dengan orang baru," jawab Alvin dengan suara yang masih sopan, walau terdengar tegas.
__ADS_1
"Orang baru, katamu! Kami ini orang tuanya!" sentak Tuan Gemang.
"Sabar, Pak, bicara pelan-pelan saja, Alvin dan Indira baru saja datang." Nyonya Hartari berusaha menenangkan Tuan Gemang.
"Orang tuanya yang sudah tidak bertemu selama lebih dari dua puluh empat tahun? Bukankah itu sudah menjadi orang baru ... atau mungkin orang asing?" Alvin berkata dengan wajah santai seolah tanpa beban, walau di bawah sana kedua tangannya mengepal kuat menahan gejolak rasa yang membuatnya sangat tidak nyaman.
"Anak kurang ajar! Berani sekali kamu bilang kami adalah orang asing! Ternyata bukan hanya wajahmu saja yang mirip dengan Hardi, tapi kelakuanmu juga sama dengan bapakmu!" hardik Tuan Gemang menatap Alvin penuh amarah.
"Tidak tahu malu!" desis Tuan Gemang lagi, dengan suara yang lebih pelan.
Kepalan tangan Alvin di pangkuannya semakin erat saat mendengar Tuan Gemang menjelekan bapaknya Alvin yang sudah meninggal.
"Saya juga tidak terkejut dengan sikap Tuan yang seperti ini ... ternyata bukan cuman Pak Mardo yang memiliki sifat sombong dan keras kepala, tapi ayahnya juga. Tidak heran jika Pak Mardo sampai berani membunuh Bapak dan adik saya ... mungkin semua itu mirip seperti, Tuan?" ujar Alvin sambil menatap mata Tuan Gemang dengan sangat berani. Tentu saja itu semua malah semakin membuat Tuan Gemang naik darah.
"Pak, sudah ... jangan seperti ini, nanti darah tinggi, Bapak, kumat," lerai Nyonya Hartari sambil mengusap lembut dada Tuan Gemang.
"Alvin, tolong berhenti, jangan buat Eyang kakungmu terlalu emosi," sambung Nyonya Hartari lagi, beralih pada Alvin.
Alvin sekarang terlihat seperti anak laki-laki yang tidak terurus dan suka berbicara asal dan kasar. Itu sama sekali di luar dugaannya, sungguh dia tidak pernah menyangka semua ini bisa terjadi.
Alvin tampak diam, dia menghembuskan napasnya perlahan, mencoba mengatur emosinya yang sudah terlanjur memuncak. Jujur saja, awalnya Alvin hanya ingin menyembunyikan keadaan ibunya yang tengah sakit, makanya dia mencari kata lain.
Namun, balasan dari Tuan Gemang yang malah mengangkat hubungan kekeluargaan dan bersikap keras malah membuat emosinya memuncak.
Jujur saja, jika sekarang Alvin ditanya, apa sudah bisa melihat keluarga Karyoso sebagai keluarganya? Maka Alvin dengan tegas akan menjawab, tidak. Dia masih menganggap mereka orang asing yang tiba-tiba datang ke dalam hidupnya dan membuat kekacauan.
Walau mungkin di dalam hatinya dia juga mengakui kalau mereka adalah keluarga, dan patut diperlakukan sopan sama seperti orang tua lainnya, dan itu juga yang membuat dirinya merasa tersiksa setiap kali berbuat kasar dan tidak sopan pada keluarga Karyoso.
"Maaf atas semua kelancangan saya, kalau begitu saya permisi," ujar Alvin sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau ke mana, Vin?" tanya Indira.
__ADS_1
"Nona, saya pinjam mobil Anda dulu untuk mencari hotel, besok pagi saya jemput lagi sebelum kembali ke Jakarta," ujar Alvin sambil beranjak berdiri kemudian membungkuk.
"Tapi, Vin–" Indira hendak mencegah Alvin. Akan tetapi, Alvin tidak menanggapi Indira.
"Assalamualaikum!" sambung Alvin lagi sebelum beranjak ke luar dari rumah itu. Dengan tatapan sedih dan khawatir dari dua orang perempuan berbeda usia di sana.
"Lihatlah dia, masih anak-anak sudah bersikap sombong dan tidak sopan santun pada orang tua," geram Tuan Gemang melihat Alvin yang berjalan ke luar.
"Nak Alvin tunggu dulu, Nak!" Nyonya Hartari juga tampak mencoba mencegah Alvin.
"Biarkan saja, dia tidak tahu kalau di sini sulit untuk mendapatkan hotel, paling nanti juga dia balik lagi," ujar Tuan Gemang, menghentikan langkah istrinya.
Alvin sudah menghilang dari pandangan, berganti dengan deru suara mesin mobil yang dihidupkan dari luar sana.
"Eyang kakung salah, kalau Alvin diuji dengan kesusahan dia sudah biasa, dia berada di dalam posisi ini karena usahanya sendiri, sekolah melalui beasiswa dan sambil bekerja di berbagai bidang untuk membiayai hidupnya. Sepertinya kalau hanya tidur di dalam mobil, itu bukan sesuatu yang sulit untuk, Alvin." Indira mencoba menjelaskan sambil menuduk dalam, merasa bersalah pada Alvin.
"Eyang, Alvin awalnya tidak mau aku ajak ke mari, dia menyuruh kita untuk mencari bukti kuat agar dia tidak perlu menjelaskan lagi pada kalian. Tapi, aku yang memaksanya untuk menemui Eyang, karena aku yakin kalau Eyang akan senang dan menerima Alvin," sambung Indira lagi, menatap Tuan Gemang dengan wajah kecewa. Usahanya untuk membawa Alvin ke sini sekarang berakhir sia-sia.
"Tapi, ternyata semua perkiraan aku salah. Eyang malah membuatnya tersinggung ... jujur saja aku sekarang malu pada Alvin, Eyang." Indira menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa gagal untuk meyakinkan Alvin bahwa keluarganya hanya ingin bertemu lagi dengan Alvin dan Ganis dan menyatukan keluarga yang telah lama berpisah, tanpa ada maksud lain.
Nyonya Hartari menatap prihatin cucu perempuannya, dia kemudian berjalan menghampiri Indira dan duduk di sampingnya.
"Dira, kamu gak boleh menyalahkan diri kamu sendiri. Sekarang mungkin Alvin butuh menenangkan diri, kita coba bicara lagi besok pagi, sebelum kalian berdua kembali ke Jakarta," ujar Nyonya Hartari, mengusap rambut cucu perempuannya lembut, sedangkan Tuan Gemang memilih untuk pergi dari sana dengan kursi rodanya.
"Eyang tau? Setelah aku ditolak oleh Alvin, ada seseorang yang menghubungi aku dan memberitahu anggapan Avin tentang orang kaya, seperti kita. Dia bilang, hidup Alvin selama ini tidak pernah berjalan baik ketika berurusan dengan orang kaya, makanya Alvin membenci kekayaan. Itulah sebabnya awalnya Alvin tidak bisa menerima kita sebagai keluarganya," ujar Indira pada Nyonya Hartari, mencoba manceritakan bagaimana sulitnya dia merayu Alvin yang tidak tertarik dengan uang dan kekuasaan.
"Iya, Eyang mengerti, makanya lebih baik kita biarkan dulu Alvin berpikir dan menenangkan diri, besok pagi ketika dia datang menjemput kamu, baru kita coba ajak bicara lagi," ujar Nyonya Hartari.
"Iya, Eyang," angguk Indira akhirnya.
......................
__ADS_1