
...Happy Reading...
......................
Esok harinya Alvin sudah bersiap dengan pakaian rapih untuk menghadiri acara wisuda di salah satu gedung. Nenek, Imran, dan Mang Lukman pun ikut menemani Alvin, sebagai keluarga.
Semuanya pergi menggunakan mobil kantor yang kemarin Alvin pinjam. Hingga beberapa saat kemudian mereka semua sudah sampai di tempat parkir gedung tersebut. Nenek yang baru pertama kali mengikuti acara bersama Alvin, merasa gugup saat melihat penampilan orang-orang yang hadir.
Mereka tampak menggunakan pakaian yang sangat bagus juga dengan riasan yang cantik. Semua pendamping mahasiswa terlihat seperti ibu hajat di kampung, yang biasanya menggunakan make up tidak kalah seperti pengantin.
Kebanyakan mereka menggunakan pakaian adat daerah asalnya, atau setidaknya kain khas dan kebaya, dengan sanggul menghiasi kepala. Sedangkan Nenek Esih, hanya memakai baju kebaya jaman dulu yang dibelikan Kakek Darman sewaktu mereka masih muda, baju kebaya itu masih bagus dan terawat, warnanya pun masih belum pudar, kain batik khas sunda Nenek pakai sebagai bawahannya, juga kerudung instan yang dibelikan oleh ibunya Imran sebelum datang ke Jakarta.
"Vin, apa Nenek gak apa-apa, ikut kamu ke dalam?" tanya Nenek Esih, merasa ragu. Dia takut akan membuat Alvin malu di depan teman-teman kampusnya.
"Loh, bukannya Nenek ke sini, mau lihat Alvin diwisuda? Jadi Nenek harus ikut Alvin ke dalam," ujar Alvin tanpa merasa terbebani.
"Ayo, Nek, kita turun," ajak Alvin, begitu membuka pintu mobil di samping Nenek Esih.
"Tapi, Nenek begini." Nenek Esih masih merasa ragu, dia menunduk melihat baju yang dirinya pakai.
"Nenek cantik, ayo turun, nanti aku terlambat bagaimana?" ujar Alvin meyakinkan sang Nenek.
"Iya, Nek, ayo turun." Imran ikut menimpali.
Ragu-ragu Nenek Esih ke luar dari mobil, dia lebih dulu membenarkan kain yang terasa sedikit kusut karena duduk di dalam mobil.
"Pakai ini, Nek, biar tambah cantik." Alvin memberikan selendang dengan warna senada dengan kebaya Neneknya.
"Loh, ini dari mana, Vin?" heran Nenek Esih.
"Alvin sengaja beli untuk Nenek," jawab Alvin dengan senyum mengembang.
"Bagaimana? Nenek suka, enggak?" tanya Alvin kemudian.
__ADS_1
"Suka sekali, ini bagus, Vin. Terima kasih," ujar Nenek Esih, sambil mengusap selendang di tangannya.
"Ya sudah, ayo kita masuk." Alvin memberikan tangannya untuk Nenek Esih gandeng.
Nenek Esih terkekeh melihat sikap Alvin, dia kemudian mengaitkan tangannya pada tangan Alvin, lalu berjalan bersama, seolah mereka adalah pasangan muda yang percaya diri. Sedangkan di belakangnya ada Mang Lukman dan Imran, mereka seolah dua orang bodyguard yang siap menjaga keamanan dua orang penting di hadapan mereka.
Mereka berpisah setelah memasuki area gedung, Alvin harus bersiap di belakang untuk memakai toga dan perlengkapan wisuda lainnya, sedangkan Nenek, Imran, dan Mang Lukman langsung menuju deretan kursi tamu.
Nenek, Imran, dan Mang Lukman tentu sudah merasa kalau mereka akan menjadi bahan perhatian, dengan pakaian sederhana yang mereka pakai. Akan tetapi, untuk saat ini ketiganya mengacuhkan pandangan aneh dari para tamu undangan yang lainnya.
Apa selama ini Alvin juga dipandang seperti ini oleh teman-teman kampusnya, karena dia bukan dari keluarga berada? gumam hati Nenek Esih.
Sungguh dia merasa tidak nyaman dengan orang-orang yang tampak melirik dan mencuri pandang padanya, apa lagi tatapan mereka terlihat meremahkan. Ada juga yang terdengar berbisik-bisik, membicarakan tentang mereka.
"Mereka keluarga mahasiswa kampus ini? Kenapa pakaiannya lusuh sekali?"
"Pasti itu keluarga dari salah satu mahasiswa yang masuk lewat jalur beasiswa,"
"Mengganggu pemandangan saja, masa orang-orang seperti ini diperbolehkan masuk, sih!"
"Sabar ya, Nek, anggap saja kita sedang mendengarkan radio rusak," bisik Imran, sedikit berusha mencairkan suasana.
Nenek Esih terkekeh, dia kemudian mengangguk menyetujui perkataan Imran. Dia hanya tidak menyangka kalau kehidupan Alvin di kampus, ternyata seperti ini.
Entah bagaimana Alvin menghadapi teman-temannya selama berkuliah tempat yang penuh dengan orang yang hanya menilai seseorang menggunakan harta.
Acara pun berlangsung dengan lancar, kini saatnya Alvin mendapatkan giliran, laki-laki itu mendapatkan nilai yang baik, dia mendapat peringkat ke tiga di jurusan yang sama.
Nenek, Imran, dan Mang Lukman berdiri sambil bertepuk tangan mereka merasa bangga dengan prestasi yang didapatkan oleh Alvin.
Setelah acara selesai Alvin, Nenek Esih, Imarn, dan Mang Lukman, langsung meninggalkan area gedung, ada beberapa teman mahasiswa Alvin yang mengucapkan selamat dan menyapa Nenek dan yang lainnya, mematahkan pikiran buruk Nenek yang sempat terlintas beberapa saat yang lalu.
"Ternyata masih ada teman kamu yang bisa menerima kamu, Vin," ujar Nenek Esih begitu mreka masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kok, Nenek, bilang begitu?" tanya Alvin bingung.
"Tadi di ruangan wisuda, banyak orang-otang yang lihatin kita, terus pada bisik-bisik menghina kita, Vin. Jadi Nenek mengira kalau semua teman kampus kamu juga begitu sama kamu," jelas Imran yang langsung memdapat pelototan dari Nenek Imran.
"Oh, tidak semua orang begitu kok, Nek. Banyak juga yang bisa menerima Alvin apa adanya. Lagi pula di kampus, bukan hanya Alvin kok yang menerima beasiswa. Itu memang sudah program kampus, yang setiap tahunnya pasti ada menerima mahasisiwa beasiswa," jelas Alvin.
Tidak dia pungkiri kalau awal-awal masuk kulia, memang cukup banyak yang meremehkan para penerima beasiswa seperti Alvin. Akan tetapi, karena dirinya mengenal Jani, jadi tidak ada yang brani merundungnya secara terang-terangan. Hanya sesekali dia mendengar selentingan orang-orang yang membicarakan tentangnya.
Ah, lagi-lagi ingatannya kembali pada Jani, padahal sudah satu tahun lebih, dia tidak prnah berkomunikasi dengan Jani. Dia bahkan tidak pernah mendengar kabar dari perempuan itu.
Alvin mengingat saat dirinya berada di acara wisuda tadi, Arkan tampak ada bersama jajaran para petinggi kampus. Ingin sekali dia menghampiri dan bertanya tentang Jani. Akan tetapi, dia tidak mau membuat keributan di acara spesial ini.
Alvin tentu tahu, kalau Arkan masih saja membencinya, dia bisa melihat semua itu dari sorot mata laki-laki yang merupakan dari Jani.
"Gimana kalau, kita cari makanan yang enak dulu, untuk merayakan wisudaku?" saran Alvin pada yang lainnya.
"Boleh tuh, Vin. Kebetulan sekali, aku sudah lapar," angguk Imran cepat.
"Oke, kita cari makan dulu, sebelum pulang ya, Nek." Alvin beralih pada Nenek Esih.
"Nenek mah, ikut saja deh," jawab Nenek Esih.
"Kalau, Mamang, gimana?" tanya Alvin pada Mang Lukman.
"Hayu lah, Mamang mah, siap aja, kalau urusan makan mah," jawab Mang Lukman ditambah dengan gelak tawa di belakang kalimatnya, hingga membuat Alvin dan yang lainnya ikut terkekeh.
Mereka pun akhirnya melanjutkan perjalanan mencari rumah makan yang sekiranya enak dan cocok untuk semua orang yang ada di sana.
Alvin membawa mereka menuju sebuah rumah makan khas sunda, mengingat Nenek memang tidak terlalu familiar dengan makanan lainnya.
Kali ini Alvin mengeluarkan kocek yang cukup lumayan, mengingat rumah makan yang dia datangi, lumayan besar hingga harga makananya pun lumayan mahal untuk seseorang seperti Alvin.
Namun, sesekali mengajak Nenek, Imran, dan Mang Lukman, makan dengan suasana baru, tentu tidak akan membuat Alvin berpikir dua kali untuk mengeluarkan uang yang luamayan banyak.
__ADS_1
Selama ini dirinya sudah sering menyantap makanan yang enak, bahkan dari restoran yang cukup mewah, setelah dia menjadi seorang sekretaris Indira. Mengingat selalu dia yang diajak untuk menemani bosnya itu melakukan pertemuan atau rapat bersama para pengusaha lainnya.
......................