ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Luat biasa


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Setelah kurang lebih lima menit berhasil menahan serangan dari para anak buah Pak Mardo, karena ternyata kaca mobil Ezra anti peluru, hingga sulit untuk dipecahkan, ditambah dengan Ezra yang terus berusaha memberi alasan dan bernegosiasi, dengan para penyerang, walau tahu itu semua tidak akan ada gunanya.


"Kamu bisa bertahan bertarung sekitar lima sampai enam menit?" tanya Ezra sambil mempersiapkan diri untuk ke luar dari mobil.


"In Sya Allah bisa, Pak," jawab Alvin yakin, dirinya tidak mungkin bisa mundur lagi selain maju dan melawan.


"Baiklah, dalam hitungan ke tiga kita keluar sambil menyerang." Ezra memberi aba-aba.


Alvin menghirup napas dalam kemudian menghembuskannya lagi sambil mempersiapkan diri untuk bertarung. Saat ini adalah kali pertamanya Alvin bertarung setelah menerima pelatihan dari Ezra tempo hari.


"Satu–" Ezra mulai menghitung dengan tangan siap untuk membuka pintu.


"Dua–" Alvin menempatkan salah satu tangannya untuk membuka kunci secara otomatis di sampingnya.


Semua sisi pintu mobil sudah dijaga ketat oleh beberapa orang berbadan besar, mereka juga dilengkapi oleh senjata tajam dan juga senjata tumpul lainnya.


"Tiga!" Alvin langsung menekan pembukaan kunci otomatis sambil membuka pintu sekaligus menghentakkannya, agar bisa menabrak orang yang berdiri di luar, hingga terhuyung beberapa langkah ke belakang.


Ezra pun melakukan hal yang sama, dia lebih mudah karena fokus semua orang sedang teralihkan oleh teriakan salah satu rekan mereka yang tertabrak oleh pintu yang dibuka Alvin.


Alvin dan Ezra berdiri sambil bersiap menerima serangan, di kedua sisi mobil yang berbeda, di depan mereka banyak laki-laki yang menjadikannya target sebagai buruan.


Pandangan para anak buah Pak Mardo itu bahkan bagaikan hewan buas yang melihat bahan makanan mereka.


"Gila! Mereka memang sudah berniat untuk membunuh, persimpangannya sangat lengkap," gumam Ezra sambil memperhatikan satu per satu orang di depannya.


Mereka semua membawa senjata dan siap untuk melukai lawannya. Sepertinya mereka semua sudah tahu kalau Alvin pintar bela diri, hingga melakukan persiapan yang matang, agar misi mereka akan berhasil.


Sedangkan Alvin mengepalkan tangannya dengan sangat erat hingga urat-urat di tangannya tampak menonjol. Wajahnya memerah menahan segala rasa yang bergejolak di dalam dada.


Alvin benar-benar tidak pernah menyangka kalau Pak Mardo yang merupakan kakak dari ibunya sendiri dengan terang-terangan menyerang dan ingin membunuhnya.

__ADS_1


"Sepertinya dia memang ingin membunuhku! Cih!" gumam Alvin dengan decihan kecil di akhir kalimatnya.


Alvin pikir perkataan Pak Mardo untuk membunuhnya di bekas pabrik hanya sebuah ancaman semata. Akan tetapi, kini dia sadar, kalau semua ucapan Pak Mardo padanya bukanlah sebuah bualan semata, melainkan itu adalah kenyataan.


"Serang mereka!" teriak seseorang yang mungkin adalah ketua mereka semua.


Mendengar aba-aba itu, semua orang yang mengepung mobil Ezra pun bergantian menyerang Alvin dan Ezra dengan kekuatan penuh.


Jalanan sepi dan cukup lebar itu pun menjadi arena pertarungan antara Alvin, Ezra, dan banyak anak buah Pak Mardo. Alvin dan Ezra pun terus melawan sambil mencoba mengulur waktu, hingga satu per satu anak buah Pak Mardo perlahan tumbang, walau akhirnya bangkit dan kembali mengantre untuk menyerang.


Alvin dan Ezra berusaha menangkis setiap serangan yang mengarah padanya, walau dari begitu banyak penyerang, akan ada saja yang melukai tubuh mereka.


"Wah, aku baru sadar kalau ilmu beladiri aku jauh lebih baik dari sebelumnya, tubuhku terasa ringan," gumam Alvin, merasa takjub dengan dirinya sendiri.


Namun, ditengah kebahagiaan itu tiba-tiba ada yang menyerang Alvin dari belakang, hingga sebuah tendangan tepat mengenai punggung sebelah kanannya dan mengakibatkan dirinya terhuyung ke depan beberapa langkah.


"Jangan lengah, Vin!" Ezra yang melihat fokus Alvin teralihkan, terlihat mencoba memberi instruksi sambil terus menangkis serangan yang mengarah padanya.


Mendengar itu, Alvin langsung kembali pada posisi siaga, dia sadar telah salah karena kini bukanlah saatnya untuk bersantai.


Dengan gerakan cepat Alvin pun mulai kembali menangkis dan menyerang dengan penuh semangat, dia merasa ada energi baru di dalam dirinya.


Untung saja mereka tidak ada yang membawa senjata api, jadi aku dan Alvin saja sudah cukup untuk menahannya, batin Ezra.


Kini keduanya tampak sibuk dengan lawannya masing-masing, hingga beberapa menit kemudian beberapa mobil lainnya tampak berhenti dengan disusul keluarnya para laki-laki yang merupakan anak buah Ezra.


Posisi kini imbang, hingga tidak lama semua anak buah Pak Mardo pun tumbang dan akhirnya kalah.


Alvin dan Ezra menyandarkan tubuhnya di sisi mobil, setelah melihat semua anak buah Pak Mardo kalah. Napas keduanya tampak memburu hingga derunya terdengar jelas.


"Kenapa kalian lama sekali datangnya, heh?" kesal Ezra menatap ketua anak buahnya yang kini tengah berdiri canggung di depannya.


Sebenarnya tidak ada keterlambatan, para anak buah Ezra bahkan datang lebih cepat dari perkiraan, walau mereka masih harus melawan beberapa orang di ujung jalan.


Ya, ternyata jalan itu sudah dijaga ketat dan dipersiapkan untuk melakukan penyerangan pada Alvin dan Ezra.

__ADS_1


"Maaf Pak!" ujar para pengawal Ezra, seraya membungkuk dalam.


Ezra tidak bereaksi, dia hanya menatap datar para anak buahnya..


"Sekarang kita apakan mereka, Pak?" tanya ketua pengawal itu tampak memberatkan diri.


Ezra mengalihkan pandangannya ke depan, melihat para anak buah Pak Mardo yang sedang diikat oleh para pengawalnya. Dia kemudian menoleh pada Alvin yang berdiri di sampingnya.


"Mau diadakan mereka, Vin?" tanya Ezra kemudian.


Alvin menatap Ezra cepat, dia tidak pernah memutuskan untuk hal seperti ini, hingga pertanyaan Ezra membuatnya bingung.


Alvin berdehem beberapa kali sebelum menjawab. "Menurut, Bapak, lebih baik kita apakah mereka?"


Ezra menghembuskan napas kasar, saat mendengar jawaban Alvin yang melahirkan bertanya kembali padanya.


"Segera kawal proses hukumnya, jangan biarkan satupun dari mereka lolos," titah Ezra kemudian.


"Baik, Pak!" jawab tegas anak buah Ezra sebelum akhirnya berjalan menjauh lagi dari Alvin dan Ezra.


"Terima kasih, Pak," ujar Alvin tiba-tiba, hingga membuat Ezra menoleh cepat dengan kerutan di keningnya, walau tidak lama kemudian dia berdecak remeh.


"Sudahlah, ayo pulang ... aku sudah lelah," ujar Ezra sambil menepuk pundak Alvin beberapa kali sebelum berbalik dan masuk ke delam mobil.


Alvin cukup terkejut dengan perlakuan Ezra, walau akhirnya dia tersenyum sambil berjalan masuk ke dalam mobil dan kembali mengendarainya. Dia tidak pernah menyangka bisa sedekat ini dengan bos barunya itu.


Keduanya pun meninggalkan tempat itu bersamaan, dengan perasaan lega dan senang karena kemenangan yang mereka dapatkan.


.


Sementara itu, di tempat lainnya Pak Mardo dan Roy yang mendengar tentang kekalahan anak buah mereka menjadi murka.


"Sialan, kita sudah salah menganggap anak itu mudah! Tapi, sekarang dia malah memenjarakan hampir anak buahku!" geram Pak Mardo dengan mata memerah dan kepalanya tangan yang semakin kuat.


"Iya, Papi, kita terlalu meremehkan anak itu. Lebih baik sekarang kita selidiki dulu, darimana dia mendapatkan dukungan selain Pak Umar itu." Roy menimpali perkataan ayahnya.

__ADS_1


"Hem, mulai sekarang jangan bertindak gegabah, kita biarkan saja sampai dia merasa sedikit lengah, agar lebih mudah untuk membunuhnya," angguk Pak Mardo, menyetujui usul dari anak laki-lakinya.


......................


__ADS_2