ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Tertuduh?


__ADS_3

...Happy Reading...


....................


"Udah sarapan, Vin?" tanya Lukman dari luar, saat Alvin sedang mengganti baju.


Alvin sudah biasa mengganti baju di ruang depan, walaupun pintu sedikit terbuka, mengingat rumah di depan mereka juga dihuni oleh laki-laki, yaitu Pak Umar.


Jadi, Alvin tidak sungkan untuk mengganti bajunya, tanpa takut kelihatan perempuan penghuni pintu kontrakan yang lain.


"Belum, Mang. Sebentar lagi aku sarapan kok," jawab Alvin sambil mengeringkan rambut yang masih setengah basah.


"Beda ya, kalau bujangan yang habis mandi, wanginya sampe kecium ke luar."


Itu suara Pak Umar yang ternyata sedang duduk berdua dengan Lukman, mereka berdua tampak sedang menikmati kopi yang dibawa dari rumahnya masing-masing, sambil berbincang ringan.


Alvin melihat ke luar dia tersenyum pada Pak Umar.


"Biasa aja kok, Pak," jawab Alvin.


Hidup dengan dua orang laki-laki dewasa, membuatnya cukup bahagia walaupun dirinya selalu menjadi bulan-bulanan dan bahan bercanda para laki-laki dewasa di sekitarnya.


Bahkan kadang para ibu-ibu di sana juga sering melempar candaan atau godaan pada Alvin. Alvin yang ramah dan suka anak kecil, tentu saja mudah disukai ibu-ibu. Apalagi, dengan tampang yang lebih sedikit dari kata standar.


Tentu itu membuat Alvin menjadi pemandangan indah bagi para ibu-ibu yang setiap harinya dihabiskan dengan berbagai kegiatan.


Ada yang bekerja di rumah orang yang lebih berada, atau menjadi buruh cuci lepas, yang bisa memegang sampai beberapa rumah dalam seharinya.


Hampir tidak ada yang menganggur, baik para laki-laki maupun perempuan, semuanya bekerja. Anak-anak balita kadang dititipkan di saudara selama mereka bekerja, atau ada juga yang memilih membawanya.


Kehidupan seperti itu sudah Alvin lihat sejak tinggal bersama Lukman, makanya kontrakan itu hanya ramai di waktu sore, karena di saat itu semua makhluk yang namanya perempuan sudah pulang bekerja.


Jangan dikira kalau sikap Alvin selalu dingin pada setiap orang, sama sekali tidak. Dia hanya bersikap dingin pada para wanita muda, dia tidak mau kalau sampai tergoda untuk menjalin hubungan terlebih dahulu, sebelum cita-citanya tercapai.


Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk bersikap dingin, Alvin hanya memberikan batasan agar dirinya tidak terlalu dekat dengan perempuan mana pun, setidaknya sampai dirinya lulus kuliah.


"Bang Alvin, main bola yuk!" teriak anak laki-laki kira-kira berusia sembilan tahun dari ujung kotrakan.


Alvin sedikit melangkah ke depan, agar bisa melihat jelas anak-anak yang terlihat bergerombol di depan kontrakan.


"Nanti sore saja, sekarang Abang lagi ada tugas," jawab Alvin.

__ADS_1


Dia memang sering bermain bola bersama dengan anak-anak di lapangan kampung, tidak jauh dari kontrakan.


"Yaah," desah para anak-anak itu bersamaan, menatap kecewa karena Alvin tidak bisa bermain bola bersama mereka.


Alvin tersenyum dia kembali ke dalam untuk sarapan yang sudah sangat terlambat itu.


"Pak, Mang, aku sarapan dulu," ujar Alvin.


"Iya sana, jangan sampai, Lo, kena penyakit gara-gara telat makan," jawab Pak Umar.


Alvin terkekeh, dia kemudian berjalan kembali ke dalam, menghabiskan nasi uduk yang sudah sangat dingin. Entah jam berapa Lukman membelinya, hingga sekarang sudah tidak ada lagi rasa hangat di sana.


.


.


Jam dua siang, Alvin dihubungi oleh Dodi, mereka akhirnya berjanji temu tiga puluh menit lagi, tidak jauh dari tempat pengepul besi bekas itu berada.


"Udah lama nunggu ya, Pak?" tanya Alvin, setelah dia sampai di depan Dodi.


"Enggak kok, aku juga baru sampai. Kita harus berjalan ke dalam, gak terlalu jauh sih," ujar Dodi sambil memperlihatkan jalanan yang tidak dilewati oleh kendaraan umum.


Alvin mengedarkan pandangannya, semakin ke dalam mereka berjalan, semakin banyak pula berbagai barang bekas berserakan.


Ternyata ini bukan hanya pengepul besi. Akan tetapi, ini lebih seperti pengepul sampah, atau barang bekas, yang bisa didaur ulang lagi.


Alvin masuk ke dalam satu ruangan yang ternyata tempat pengepul besi, di sana banyak sekali besi-besi bekas dari berbagai macam bahan.


"Makasih, Vin," ujar Dodi, begitu dia sampai di tempat pengepul besi bekas.


Alvin mengedarkan pandangannya, melihat sekitarnya yang penuh dengan besi-besi bekas itu.


Dia juga sempat bertatap muka dengan pemilik tempat itu, yang terlihat cukup seram. Badannya yang besar dengan tato di badannya, membuat Alvin bergidik ngeri. Orang itu bahkan lebih seram dibandingkan dengan Pak Umar.


Selesai dengan urusan menjual besi, kini Alvin berjalan berdua dengan Dodi, menuju warung salah satu kedai soto betawi.


Katanya Dodi ingin mentraktirnya makan, setelah mendapatkan uang yang cukup banyak dari hasil menjual besi yang sudah dia kumpulkan selama satu minggu ini.


"Kamu tau, pemilik tempat pengepul besi bekas itu adalah seorang preman, bahkan katanya dia adalah mantan anggota geng motor," ujar Dodi saat mereka tengah menunggu pesanan soto bogor.


"Ooh, pantes aja serem begitu," jawab Alvin mengangguk-anggukkan kepalanya

__ADS_1


"Iya, sampai sekarang dia masih jadi pengusa kawasan ini. Dia sangat ditakuti orang-orang, makanya tidak ada yang berani membuka usaha yang sama dengannya di daerah ini," jelas Dodi.


Alvin tampak mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Dodi.


"Kok, Bapak, mau sih berurusan dengan orang seperti itu?" tanya Alvin, kalau tau Dodi berurusan dengan orang seperti itu, sudah pasti Alvin akan menghindarinya.


"Ya, habis mau gimana lagi, aku kan gak punya pilihan lain," jawab Dodi.


Soto yang ditunggu kedua orang itu sudah datang, kini dua laki-laki berbeda usia itu makan bersama dengan diselingi obrolan ringan, masalah pekerjaan atau yang lainnya.


.


.


"Ke mana kalian menjual besi-hasil curian itu?! Dikasih hati minta jantung, dasar tidak tau diri!"


Alvin mengepalkan tangannya mendengar cacian dari mandor. Kini dirinya dan beberapa orang yang lain tengah duduk di tempat istirahat untuk diintrogasi mengenai hilangnya kabel baja yang harusnya masih bisa digunakan.


Entah mengapa dirinya ikut terseret, padahal Alvin merasa tidak pernah ikut mengambil potongan besi di sana.


Hampir tiga jam mereka didesak dengan diberondong pertanyaan yang bercampur dengan cacian kasar.


Hingga akhirnya salah satu dari mereka ada yang mengaku, setelah mandor mengancam akan memanggil pihak kepolisisan. Di saat itu juga, orang itu langsung dipecat dari pekerjaannya.


Alvin mendesah, dia tidak habis pikir dengan pemikiran orang-orang seperti itu. Kenapa mereka bisa melakukan semua itu, padahal sudah diberikan pekerjaan dengan gaji yang lumayan.


"Namanya juga orang, Vin. Mereka yang memiliki sifat serakah, tidak akan pernah puas dengan apa yang mereka dapatkan, walaupun uangnya sudah tidak bisa lagi mereka hitung."


Itu perkataan Pak Umar, saat Alvin bercerita tentang kejadian di tempat kerjanya malam tadi.


Perkataan Pak Umar selalu terasa membingungkan, dia harus mencari artinya lebih dulu untuk memahami.


Namun, Alvin senang berbicara dengan laki-laki yang umurnya hampir sama dengan neneknya itu. Hanya berbeda beberapa tahun lebih tua neneknya.


Tanpa Alvin ketahui, tempat pengepul bekas yang kemarin sempat dia datangi pun sedang gaduh, dengan kedatangan polisi yang tiba-tiba saja menggerebek karena diketahui menjadi tempat penadah barang-barang curian.


Mereka juga ternyata bekerja sama dengan salah atu geng terbesar di Jakarta yang sering melakukan begal dan permpokkan, di jalanan.


.................


Apakah hubungannya Alvin dengan kasus tempat itu? Ayo tebak🤭

__ADS_1


__ADS_2