
...Happy Reading ...
......................
Alvin duduk terdiam, menatap jendela besar di samping brankar rawatnya. Suasana siang hari dengan teriknya matahari, menjadi pemandangan yang terasa menyilaukan mata.
Sebenarnya lukanya saat ini tidaklah terlalu serius, hanya saja karena trauma luka bekas operasi patah tulang rusuk beberapa waktu yang lalu, belum pulih sepenuhnya, kini dia harus kembali menjalani rawat inap untuk melihat perkembangan selanjutnya.
Suara pintu dibuka mengalihkan perhatian Alvin, hingga dia menoleh melihat ke arah pintu masuk.
Garry Darmendra, itulah sosok laki-laki paruh baya yang kini tengah terlihat masuk ke dalam ruanganya.
"Assalamualaikum," ujar laki-laki paruh baya itu, dia terlihat tersenyum melihat Alvin yang sudah sadar dan kini sedang duduk di atas brankar.
"Waalikumsalam," jawab Alvin sambil membalas senyum laki-laki paruh baya itu.
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Vin," ujar Pak Darmendara sambil duduk di kursi yang berada di sisi brankar Alvin.
"Alhamdulillah, Pak. Terima kasih, Bapak, sudah menolong saya dan membawa saya ke sini," ujar Alvin.
"Kamu adalah anak temanku, jadi sudah kewajibanku untuk menolong kamu, Vin. Sekarang bagaimana keadaan kamu, apa masih ada yang dirasa sakit?" tanya Pak Darmenra menatap seluruh tubuh Alvin dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Tidak ada luka luar yang parah, hanya ada beberapa perban di pipi karena lecet bekas pukulan.
"Saya sudah lebih baik, Pak. Maaf karena saya sudah merepotkan, Bapak," ujar Alvin masih merasa tidak enak pada Pak Darmendra.
"Saya tidak tahu sekarang kamu tinggal di mana, dan saya juga tidak tahu nomor keluarga kamu, jadi sampai saat ini mereka belum tahu kalau kamu ada di rumah sakit ini," jelas Pak Darmendra.
"Iya, Pak. Nanti biar saya kabari keluarga saya," jawab Alvin.
"Lebih baik sekarang saja, kasihan keluarga kamu pasti khawatir karena kamu tidak pulang semalaman." Pak Darmendra mengulurkan ponsel miliknya pada Alvin.
Alvin terdiam dengan tatapan bingung, dia tampak ragu untuk menerima uluran ponsel dari Pak Darmendra.
"Ambil, kamu telepon saja pakai ponsel milikku," ujar Pak Darmendra.
"Tapi, Pak–" Alvin masih saja terlihat canggung dan enggan untuk menerima bantuan lagi dari Pak Darmendra.
"Ambil saja, kasihan keluarga kamu," ujar Pak Darmendra.
"Atau aku suruh sopirku untuk menjemput mereka saja," sambung Pak Darmendra lagi.
__ADS_1
"Tidak usah, Pak. Baiklah saya akan menelepon keluarga saya saja," ujar Alvin sambil mengambil ponsel di tangan Pak Darmendra pelan.
Alvin terdiam saat ponsel Pak Darmenra sudah ada di tangannya, dia bingung akan menghubungi siapa. Karena saat ini Mang Lukman pasti masih bekerja, sedangkan Pak Umar, ketika Alvin hendak menekan nomornya, bayangan kejadian kemarin sore membuatnya menghentikan jarinya.
"Ada apa, Vin?" tanya Pak Darmendra.
"Eum, Mamang pasti masih di pekerjaan, jadi biarkan aku telepon nanti saja kalau dia sudah pulang," jawab Alvin sambil mengembalikan ponsel Pak Darmendra.
"Baiklah kalau gitu," angguk Pak Darmendra sambil menerima ponselnya kembali.
"Ini kalung kamu? Kemarin aku menemukannya di tangan kamu," ujar Pak Darmendra memberikan kalung dengan liontin batu biru pada Alvin.
"Benar, Pak. Terima kasih sudah mau menyimpan kalung ini untukku. Ini sangat berharga untukku, Pak." Alvin menatap kalung itu dengan binar bahagia di wajahnya.
"Kalau begitu ambilah," ujar Pak Darmndra.
Alvin mengambil kalung itu dari tangan Pak Darmendra.
Beberapa saat kemudian suara pintu diketuk membuat dua laki-laki berbeda usia itu mengalihkan perhatiannya.
"Masuk," jawab Pak Darmendra, tanpa ada rasa curiga sedikit pun.
Ya, itu adalah Pak Umar dan Max yang ada di belakangnya, sepertinya mereka berhasil menemukan keberadaan Alvin tanpa harus diberitahu.
"Ada tamu? Maafkan kami kalau mengganggu," ujar Pak Umar hendak kembali ke luar.
Sedangkan Pak Darmendra yang bisa mengenali Max tampak mengernyit melihat orang itu bisa ada di sini, terlebih mengenal Alvin.
"Tidak-tidak, aku hanya sebentar saja, kebetulan sebentar lagi aku ada pertemuan di luar," jawab Pak Darmendra menahan Pak Umar dan Max.
"Alvin, saya pamit dulu, kamu jaga diri baik-baik, jangan sampai kejadian ini terulang lagi," ujar Pak Darmendra yang langsung mendapatkan anggukkan dari Alvin.
"Kalau kamu butuh bantuan, hubungi saja aku," sambungnya lagi, sebelum pergi dari ruangan Alvin.
"Saya juga permisi ke luar," ujar Max, sebelum akhirnya membiarkan kedua laki-laki berbeda usia itu hanya berdua di ruangan.
Pak Umar tampak berjalan mendekat pada Alvin setelah melihat pintu tertutup rapat. Dia memilih duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Pak Darmendra.
"Vin," panggil Pak Umar dengan nada suara lirih dan kaku.
__ADS_1
Alvin tetap terdiam, dia masih mengingat perkataan maaf Pak Umar di bekas pabrik kemarin, yang otomatis membenarkan semua ucapan dari Pak Mardo yang menuduh Pak Umar sebagai pembunuh Bapak dan Alin.
Bila dulu dia selalu berharap untuk tahu siapa yang mengendarai mobil truk itu. Sekarang Alvin merasa menyesal telah mengetahuinya, saat ini dia ingin melupakan semuanya, agar hubungannya dengan Pak Umar bisa terjalin seperti biasa.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku tidak perlu khawatir lagi padamu," ujar Pak Umar menatap sendu punggung Alvin yang sedang duduk memungunginya.
Alvin meremas selimut yang dia pakai untuk meredakan rasa sakit di dalam hatinya. Marah, kecewa, bercampur dengan rasa sayang yang terlanjur dia berikan pada laki-laki paruh baya, yang sudah dia anggap sebagai kakeknya sendiri, membuat Alvin merasakan tersiksa.
"Aku tau, aku memang tidak pantas mendapatkan maaf untuk kecerobohanku di beberapa tahun yang lalu. Aku juga merasa malu untuk meminta itu padamu, Vin," ujar Pak Umar sambil menunduk dalam, matanya tampak memerah, mengingat masa di mana kenangan terpahit di dalam hidupnya berada.
"Kamu memang berhak membenci aku,Vin. Aku juga tidak akan melarangnya," sambung Pak Umar lagi.
Sementara itu di depan ruangan Alvin, tampak pak Darmendra sedang duduk berdampingan dengan Max.
"Kenapa kamu bisa mengenal anak itu?" tanya Pak Darmendra pada Max.
"Dia adalah anak yang sudah dianggap anak oleh seniorku, Pak," jawab Max.
"Ohya?" Pak Darmendra tampak menatap wajah Max dengan kening berkerut.
"Apakah dia adalah salah satu korban tak bersalah dari oprasi kalian?" tanya Pak Darmendra penuh selidik.
Dia menemukan Alvin tergeletak di pinggir jalan dengan luka bekas pukulan dan perkelahian di sekujur tubuhnya. Kini tentu saja keberadaan Max menjadi bahan curiganya.
Pak Darmendra tentu tahu siapa itu Max dan organisasi mafianya, secara penerus bos mafia itu adalah teman dari anaknya sewaktu mereka sedang belajar di sana.
"Bisa dibilang begitu, Pak. Tapi, itu sudah terjadi sangat lama, dan masalah itu tidak ada hubungannya dengan organisasi," ujar Max.
"Lama? Apa kecelakaan yang terjadi beberapa tahun lalu?" tanya pak Darmendra makin dibuat penasaran, dia sungguh tidak pernah menyangka jika kecelakaan beberapa tahun yang lalu ada hubungannya dengan organisasi mafia.
"Bapak, tau?" tanya max, dengan wajah terkejutnya.
"Mobil yang dikendarai oleh Bapak Alvin, adalah mobil miliku. Dia meminjamnya untuk merayakan ulang tahun anak perempuannya," jelas Pak Darmendra yang membuat Max melebarkan matanya.
Ternyata dunia memang cukup kecil untuk mereka kali ini. Bagaiamana bisa kejadian itu terus melibatkan orang-orang yan sudah saling mengenal? Bahkan melibatkan orang-orang penting, seperti Pak Darmendra dan organisasi yang menjadi tempatnya bekerja saat ini.
Sungguh, ternyata kecelakaan itu bukanlah kecelakaan kecil biasa. Ini kecelakan yang melibatkan tiga keluarga perusahaan besar di negara ini. Darmenda sebagai yang memiliki mobil, organisasi mafia Black Eagle yang saat itu masih mempekerjakan Pak Umar sebagai kepala organisasi cabang Indonesia, juga keluarga konglomerat besar di Indonesia yaitu; keluarga Permadi–keluarga besar dari Mardo dan Rengganis, paman dan ibu dari Alvin.
......................
Yang udah baca cerita Mafia Story dan Berbagi Cinta pasti sudah tahu mereka itu siapa🤭
__ADS_1