ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Diantara dua pilihan


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Vin? Ada apa? Tadi aku lihat ada wanita yang ke luar dari sini sambil menangis, apa itu ulah kamu?" Pak Umar yang baru saja datang tampak duduk di atas kursi bekas Indira.


Avin menyingkirkan tangan di kepalanya sambil kembali menegakkan tubuhnya.


"Pak–"


Pak Umar yang melihat wajah kacau Alvin langsung melebarkan matanya, dia begitu terkejut melihat semua itu.


"Ada apa, Vin? Kalau gak salah perempuan yang tadi itu mantan bos kamu, kan?" tanya Pak Umar menatap Alvin khawatir.


"Pak, aku harus bagaimana?" lirih Alvin dengan sedikit parau, membuat Pak Umar menatapnya dengan kening berkerut.


"Aku ingin segera menyudahi semua ini," sambung Alvin lagi, hatinya selalu merasa sakit saat dirinya menolak dan bersikap dingin pada mereka, yang dia tahu adalah keluarga ibunya.


Bahkan mimpi kejadian kecelakaan Bapak pun kini kembali terjadi dan terus berulang semenjak kejadian di bekas pabrik waktu itu.


Bayangan kekejaman Pak Mardo yang mampu malakukan apa saja demi harta, membuatnya lebih memilih menghindar, walau dirinya sendiri ikut tersiksa karena harus selalu menentang keadaan dan hatinya sendiri.


Pak Umar menatap prihatin wajah Alvin, dia terlihat menghembuskan napas kasar sambil mengalihkan pandangannya lurus ke depan.


"Hadapi, Vin. Kalau kamu terus berlari, maka masalah itu tidak akan pernah selesai ... mereka akan terus mengejarmu sampai kamu akhirnya menyerah dan kalah," ujar Pak Umar sambil menoleh menatap Alvin yang kini tengah menatapnya juga.


Walau Alvin tidak bicara dengan gamblang tentang masalahnya, setidaknya dia bisa membaca situasi mengingat jika yang berpapasan dengannya adalah anak perempuan dari Pak Mardo.


"Tapi, dia adalah keluarga ibuku, Pak. Aku tidak mau melawan keluarga sendiri ... aku takut Ibu akan kecewa padaku." Mata Alvin memerah, mengingat kalau pak Mardo itu adalah kakak ibunya sendiri.

__ADS_1


Alvin mungkin bisa saja menutup mata akan hubungan itu, karena dirinya memang tidak pernah mengenal mereka sebagai keluarga, Bapak dan Alvin, bagikan meninggal karenanya.


Namun, bagaimana perasaan ibunya nanti jika dirinya melawan kakaknya sendiri dan masuk ke dalam konflik keluarga yang selama ini ibunya hindari. Alvin bahkan tidak bisa membayangkannya.


Pak Umar tampak tersenyum tipis, dia berdecak dengan pandangan meledek pada pemuda yang duduk di sampingnya.


"Siapa yang menyuruhmu berperang, Vin? Menghadapi, bukan berarti harus melawan ... atau mungkin kamu tertarik untuk menjadi pewaris dan akan menggantikan Mardo?" tanya Pak Umar menatap Alvin dengan senyum tipis di wajahnya.


Alvin mengernyit, dia tidak menyangka kalau Pak Umar bisa menganggapnya seperti itu. Dia kemudian menggeleng cepat sambil berucap.


"Aku tidak pernah tertarik untuk menjadi pewaris, Pak. Pasti, Bapak, juga mengetahui itu. Aku hanya ingin ibuku bisa kembali bertemu dengan keluarganya, aku tau selama ini dia pasti sangat merindukan mereka. Tapi, tidak dengan suasana seperti ini, Pak ... aku gak mau kalau semua itu justru membahayakannya, karena Pak Mardo yang gelap mata," jelas Alvin panjang lebar.


"Tapi, itu hanya perkiraan dan ketakutan kamu saja, Vin. Semua itu belum tentu terjadi dan kamu tidak akan pernah mengetahui akhirnya jika kamu tidak pernah memulainya," ujar Pak Umar yang akhirnya diangguki oleh Alvin.


Semua perkataan Pak Umar memang benar, itu semua hanya perkiraan tanpa tahu apa sebenarnya yang akan terjadi. Alvin hanya takut dengan pemikirannya sendiri dan semua kemungkinan yang belum jelas akan terjadi.


Namun, apakah salah jika dirinya mencegah semua kemungkinan itu terjadi, walau mungkin dia tidak akan mengetahui bagaimana akhirnya nanti.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan, lebih baik kamu istirahat saja dulu, dan makan makanan itu. Jangan mubadzir." ujarnya melihat sekilas paper bag di atas meja kemudian berjalan menuju ke rumahnya.


Alvin mengangguk patuh, dia kemudian melihat Pak Umar masuk ke rumahnya. Setelah itu dia pun berdiri dan berjalan masuk ke rumahnya sendiri, dengan hembusan napas kasar berkali-kali.


.


Indira duduk di mobil yang masih terparkir di pinggir jalan, hatinya begitu sakit menerima penolakan dari Alvin, dia sudah terlanjur berharap untuk mendapatkan seorang saudara yang sederhana seperti Alvin, bukan saudara yang gila harta seperti Roy.


Namun, semua harapan itu sudah menguap begitu saja, saat Alvin bahkan tidak mengakui apa pun yang dia katakan, bayangannya langsung pupus begitu saja, seolah dia sedang terhempas oleh harapan yang dia gantungkan sendiri.


Suara dering ponselnya mengalihkan perhatian Indira, dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya, kemudian mencoba menetralkan suara sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.

__ADS_1


"Halo, Eyang," sapanya sambil memegang ponselnya di samping telinga.


"Halo, Dira ... bagaimana, Nak, apa kamu sudah bertemu dengan Alvin?" tanya seseorang di seberang sambungan telepon itu.


Mendengar pertanyaan penuh harap dari sosok perempuan tua yang tidak lain adalah Nyonya Hartari pun membuat Indira tersenyum miris dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Sudah, Eyang," jawabnya singkat.


"Lalu bagaimana, Dira ... apa Alvin mau mengakuinya padamu?" tanya Nyonya Hartari dengan harapan yang besar di dalam hatinya.


"Maafkan Dira, Eyang ... Alvin juga tidak mengkuinya sama Dira, dia membantah semuanya," ujar Indira dengan suara parau dan penuh penyesalan.


"Tidak apa, Dira, mungkin Alvin belum siap menerima semua ini, kita memang terlalu lama menemukannya. Wajar kalau Alvin terkejut dan sulit untuk menerima kenyataan yang terjadi sekarang. Kita lakukan pelan-pelan saja, ya." Nyonya Hartari terdengar menjelaskan dengan nada suara yang lembut.


"Maafin Dira, Eyang," ujar Indira lagi.


"Gak apa-apa, Nak, ini semua bukan salah kamu," ujar Nyonya Hartari dari seberang sana.


.


Sementara itu, beberapa waktu lalu, ditempat lain Mardo yang mendengar bahwa anak buahnya tidak menemukan apa pun dari rumah sakit tempat Ganis dirawat, tampak memukul meja dengan keras sambil mengumpat dan memaki anak buahnya menggunakan kata kasar.


"Dasar bodoh kalian, mendapatkan informasi di rumah sakit saja tidak bisa!" teriak Pak Mardo menatap dua orang laki-laki berbadan kekar yang tampak menunduk takut di depannya.


"Aku yakin ada sesuatu di rumah sakit itu yang membuat bocah itu terus datang ke sana ... aku yakin dia menyembunyikan Ganis di sana," sambung Pak Mardo lagi dengan suara yang lebih pelan, tatapannya pun beralih ke tempat lain dengan tangan yang mengepal erat. 


Beberapa saat kemudian, dua orang laki-laki lainnya juga masuk dan melaporkan kalau Nyonya Hartari datang ke tempat kerja Alvin, walau mereka tidak tahu apa yang terjadi di dalam.


"Brengsek! Sepertinya ibuku sudah mengetahui keberadaan anak itu! Kita harus segera menemukan Ganis, untuk menekan anak itu agar tidak mau menjadi pewaris di perusahaan," geram Pak Mardo, hatinya begitu panas, saat sesuatu yang selama ini dia cegah akhirnya mulai saling mendekat tanpa bisa dia kendalikan lagi.

__ADS_1


"Kenapa, Papi tidak menyingkirkan anak ingusan itu saja, sama seperti Bapak dan adiknya?"


......................


__ADS_2