
...Happy Reading ...
....................
Kamu pilih kampus jauh banget sih, Vin, aku kan gak bisa ngikutin kamu ke sana," keluh Imran saat keduanya masih berada di perjalanan.
"Maaf, Ran. Tapi, hanya di sana beasiswa yang lumayan besar, juga ada uang jajanya. Aku gak mau dong ngelewatin kesempatan itu," jawab Alvin.
"Halah, sebenarnya itu alasan kamu aja kan? Sejak awal kamu memang sudah mencari beasiswa di daerah Jakarta, agar dekat dengan ibumu!" cebik Imran dengan nada merajuk.
Alvin tersenyum tipis. Semua yang dikatakan oleh Imran memang benar adanya, sejak awal dirinya sudah berencana untuk kuliah di Jakarta, agar dirinya bisa dekat dengan ibunya.
"Kamu tau dari mana, Ran?" tanya Alvin.
"Tau lah! Kan, dari awal kamu memang tidak pernah tertarik dengan kampus di tempat lain selain di Jakarta."
Alvin terkekeh canggung, dia merasa tidak enak karena dirinya tidak pernah mengatakan niat yang sebenarnya pada Imran.
"Maaf, Ran. Aku hanya mau deket sama ibuku, dari awal aku pindah ke sini, aku hanya bisa melihat ibuku tiga kali, itu pun harus memikirkan ongkosnya lebih dulu."
Alvin menjelaskan alasan untuk berkuliah di Jakarta.
"Jangan bilang semua ini sama kakek dan nenek ya, Ran. Aku gak mau mereka kepikiran nantinya," sambung Alvin lagi.
"Iya, aku ngerti kok. Kalau aku ada di posisi kamu, aku juga pasti memilih hal yang sama." jawab Imran.
"Tenang saja, aku gak akan bilang apa pun sama kakek dan nenek," sambungnya lagi.
Alvin menghembuskan napas lega, begitu mendengar jawaban dari imran.
"Terima kasih, Ran. Kamu memang saudaraku yang paling baik deh," ujar Alvin sambil tersenyum senang.
"Yee, giliran kayak gini aja, baru deh aku dipuji. Coba kalau gak ada maunya pasti gak bakalan dianggap," decak Imran.
"Siapa bilang?! Aku gak kayak gitu yah!" Alvin langsung membantah perkataan Imran.
"Tapi, kok aku ngerasanya begitu ya?"
"Ya, terserah kamu aja deh," jawab Alvin, dia pun bersiap untuk turun, saat motor yang dikendarai oleh Imran sudah berhenti.
__ADS_1
Alvin membuka helm lalu menyerahkannya pada Imran, kemudian mengambil tas ransel yang ditaruh di bagian depan motor.
"Terima kasih, Ran," ujar Alvin, sambil memakai tas ransel miliknya.
Berbarengan dengan itu mobil yang akan menuju Jakarta sudah datang.
"Gak ada kata terima kasih di dalam kamus persahabatan kita. Aku senang bisa nganterin kamu ke sini," jawab Imran.
Alvin mengangguk sambil tersenyum, mendengar jawaban Imran.
"Aku berangkat ya, Ran. Titip kakek dan nenek di sini, kabari aku kalau ada apa-apa sama mereka. Kamu juga jaga diri baik-baik, ingat belajar, jangan cari perhatian sama cewek terus," pamit Avin, dengan sedikit candaan di akhir kalimatnya.
Imran mengangguk. "Ye, kalau masalah caper sama cewek itu harus, Vin ... lumayan buat hiburan. Hahaha!"
"Pasti, aku akan jaga kakek dan nenek di sini, kamu jangan khawatir. Kamu fokus aja belajar di sana, dan jangan lupain aku," sambung Imran lagi.
"Mana mungkin aku bisa ngeluarin saudara dan sahabat kayak kamu, Ran," jawab Alvin.
Keduanya saling berpelukan kilas, untuk kali ini Alvin mau untuk berpelukan dengan saudaranya itu, sebagai tanda perpisahan.
"Hah, sial! Kenapa mata aku perih sih?" umpat Imran, sambil mendongakkan kepalanya, ketika mereka mengurai pelukan.
Alvin menepuk pundak Imran,sebelum akhirnya berbalik dan menaiki bus jurusan Jakarta. Dia menoleh ke tempat Imran, saat sudah menaiki Bus, dengan tatapan yang bercampur aduk.
Imran masih tetap berdiri di samping motornya, melihat bus yang ditumpangi oleh Alvin perlahan menjauh dari pandangannya.
Bus pun melaju meninggalkan kota kelahiran ayahnya, di mana dirinya menghabiskan waktu tiga tahun setelah meninggalnya ayah dan adiknya di kota ini.
Kota yang penuh dengan kenangan dalam menjalani pahitnya kehidupan tanpa orang tua, di mana belajar untuk bekerja demi untuk menyambung hidupnya.
Selamat tinggal, dan terima kasih karena kota ini sudah menerima aku dan mengobati luka yang aku derita dan menyembuhkannya. Kenangan di kota ini, tidak akan pernah aku lupakan, sampai kapan pun. batin Alvin, menatap hamparan luas sawah di sisi perjalanannya.
Bayangan saat dirinya pertama kali datang bersama kakek dan neneknya dengan luka yang seakan masih berdarah di dalam hati, akibat musibah yang merenggut nyawa ayah dan adiknya serta membuat ibunya deperesi.
Luka yang membuatnya terpuruk sekaligus memaksanya untuk bangkit di dalam waktu yang sama. Hingga akhirnya dia harus bersikap dewasa, walau terkadang itu semua menyiksa batinya.
Ya, kehilangan sosok kedua orang tua memang membuat luka tersendiri baginya, walau akhirnya dirinya harus menutup luka itu untuk di pendam di hatinya, demi tidak menjadi beban orang-orang di sekitarnya.
Membiarkan rasa sakit menjadi penyemangat untunya terus melangkah, juga memberinya tujuan dalam menjalani hidup yang tidak seindah dulu.
__ADS_1
Alvin menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, lalu mulai memejamkan matanya, menikmati kenangan yang dengan sendirinya berputar di dalam ingatannya.
Dari awal dirinya mulai memberanikan diri untuk membantu kakek dan neneknya di sawah, lalu mendapatkan pekerjaan, hingga penerimaan warga dan keluarga yang baik dan menyenangkan.
Kehadiran Imran pun tidak luput dari ingatannya, sosok laki-laki periang yang lebih bisa mencairkan suasana hatinya yang sedang mendung.
Kemudian dunia sekolah yang memberikan berbagai kenangan baik dan buruk secara bersamaan.
Dari perkenalannya dengan gadis yang bernama Milka, kebencian tanpa sebab Dandi dan teman-temannya, juga kasus yang melibatkan petinggi yayasan tempatnya sekolah.
"Iya, Mah, ini aku baru naik ke bus."
Alvin terkejut saat tiba-tiba ada yang menduduki kursi di sebelahnya, dia membuka mata sambil menoleh ke sampingnya.
Seorang gadis dengan dandanan yang lumayan nyentrik, tampak duduk santai dengan ponsel di telinganya.
Kaus pendek berwarna hitam dibalut jaket kulit berwarna merah hati, dengan celana denim robek-robek yang membentuk kaki, menjadi pemandangan yang cukup baru untuk Alvin.
Alvin mengedarkan pandangannya pada seluruh isi bus itu, dia baru sadar kalau semua kursi di bus itu sudah penuh semua.
Sejak tadi, dia memang terlalu fokus dengan kenangannya, hingga tidak pernah memperhatikan orang-orang yang naik di setiap pemberhentian.
Gadis itu tampak melirik Alvin sekilas lalu mengangguk samar sambil tersenyum, kemudian kembali fokus pada ponsel miliknya.
"Tenang aja, Mah, aku gak apa-apa kok naik bus sendiri. Mamah tenang aja ya ... lagian ini kan cuma dari kota K sampai ke Jakarta," ujar gadis itu lagi.
Alvin kembali menutup matanya dengan tangan bersidekap dada, dia tampak acuh dengan perbincangan antara gadis yang duduk di sampingnya itu dengan seseorang di balik ponselnya.
Baru saja beberapa menit Alvin memejamkan mata, kini tangannya terasa ada yang menusuk berulang.
Alvin langsung membuka matanya dengan kerutan di kening yang tampak dalam.
"Dompet aku ketinggalan, kamu bawa uang lebih gak? Tolong bayarin aku dulu ya," ujar gadis tidak dikenal itu.
Kerutan di kening Alvin semakin dalam, dia menatap seluruh tubuh gadis itu, dan memang benar tidak ada tas yang gadis itu bawa.
Astagfirullah, dia niat naik bus enggak sih? decak Alvin di dalam hati.
....................
__ADS_1
Terkadang kita harus ke luar dari kenyamanan, agar bisa mendapatkan pengalaman baru dan warna lain di dalam kehidupan.