ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Gnati baju


__ADS_3

...Happy Reading...


.....................


"Daah, Alvin!" Jani melambaikan tangannya dari dalam mobil yang sudah mulai melaju.


"Cie, yang bisa pake baju gebetan," goda Keyra, melihat betapa bahagianya sang anak perempuan.


"Apa sih, Mah?" sangkal Jani, sambil mengulum senyum. Pipinya tampak memerah, menahan malu pada Keyra.


"Gak usah malu, Mamah, udah tau kok kalau kamu suka sama Alvin." Keyra masih belum puas menggoda anaknya.


"Mamah, aku kan jadi malu." Jani menutup wajahnya yang terasa panas.


Keyra tergelak melihat wajah malu anaknya. "Gimana rasanya pake baju ayang?"


"Udah deh, Mah, jangan bikin aku malu." Jani semakin malu karena godaan dari sang Mama.


"Iya deh, Mamah, gak godain kamu lagi," jawab Keyra, masih menahan tawanya.


Sopir yang biasa mengantarkan Jani dan Keyra pun ikut menahan senyum melihat kedua majikannya itu.


"Untung aja, Mama yang sedang ada di dekat kampus. Coba kalau Papah kamu, bisa-bisa Alvin kena sidang dadakan," ujar Keyra diiringi kekehan kecil.


"Aku juga gak bakalan telepon, Papah atau Kak Arkan, Mah," jawab Jani.


Mana mau dia memberitahu dua laki-laki yang sangat posesif itu, bisa-bisa nanti hubungan antara dirinya dan Alvin, malah semakin renggang, gara-gara mereka.


"Kok gitu? Tapi, kapan-kapan kamu juga harus memberitahu mereka, Jani. APalagi kalau sampai hubungan kalian semakin dekat," nasihat Keyra.


"Iya, Mah, aku tau. Tapi, untuk sekaang, sepertinya Alvin gak akan mau menjalani hubungan lebih sama aku deh," keluh Jani dengan muka yang tiba-tiba saja berubah murung.


"Loh, kok gitu! Memang kenapa? Apa ada yang kurang dari anak Mama yang cantik ini, sampai Alvin menolak kamu?" Keyra tampak mengernyit bingung.


"Bukan gitu, Mah. Tapi, keadaan Alvin yang bukan seperti kita, yang akan menghambat hubungan kami," jawab Jani.


"Keadaan gimana, maksud kamu?" Keyra semakin penasaran.

__ADS_1


"Dia bukan dari kalangan seperti kita, Mah. Dia masuk kuliah dari jalur beasiswa, sepulang kuliah dia juga harus langsung bekerja, di salah satu area pembangunan sampai malam," jelas Jani.


"Jadi dia dari kalangan menengah ke bawah? Itu maksud kamu?" Keyra menatap penuh tanya pada Jani.


Jani mengangguk. "Iya, sekarang ini sepertinya dia hanya fokus sama kuliah dan kerja."


Tai dari mana kamu semua itu?" tanya Keyra.


"Selama ini aku mencari tau tentang dia, Mah. AKu juga sudah pernah mengikuti Alvin ke tempat kerjanya. Aku bahkan udah sempat nungguin dia pulang."


"Jadi waktu kamu pulang larut malam itu, kamu mengikuti Alvin?" Keyra geleng kepala dengan kelakuan anak bungsunya itu.


"Iya, Mah. Hehe." Jani menggaruk belakang kepalanya, sambil tertawa canggung.


"Dasar kamu ini!" decak Keyra.


"Ya sudah, tentang hubungan kamu dan Alvin, itu terserah kalian aja. Mama, cuman mau berpesan sama kamu, jangan sampai kamu bertindak bodoh dengan Alvin, hanya karena menginginkan cintanya," ujar Keyra, kembali mewanti-wanti anak perempuannya.


"Alvin bukan orang kayak gitu, Mah," sangkal Jani.


"Laki-laki itu sama saja, Jani. Mereka itu kayak kucing liar yang gak bisa liat ada umpan sedikit, pasti langsung diambil." Keyra berusaha membuka akal sehat anaknya, jangan sampai hanya karena rasa cinta, Jani akan dibodohi oleh orang lain.


"Iya, Mah. Aku pasti bisa jaga diri kok. Mamah, tenang aja," jawab Jani berusaha membuat hati ibunya lebih lega.


Percakapan antara anak dan ibu itu terus berlanjut sampai tidak terasa mereka sudah sampai di rumah.


.


.


Alvin terdiam, menatap mobil Jani melaju ke luar dari kampus. Dia kemudian berjalan ke toilet untuk mengganti baju. Lama berada di luar dengan pakaian yang basah, membuat tubuhnya mulai menggigil kedinginan.


Alvin masuk ke dalam toilet laki-laki, dia membuka paper bag yang diberikan oleh Keyra. Dia cukup terkejut melihat isi di dalamnya.


Satu stel pakaian lengkap dengan ukuran sedikit lebih besar darinya. Dia sempat tercengang saat melihat merek yang tertera di baju itu.


Harga baju ini setara dengan gajiku setahun. Astagfirullah, kok aku malah takut ya pakainya ... nanti kalau rusak terus aku disuruh ganti gimana?

__ADS_1


Alvin bergumam di dalam hati, saat melihat merek dari baju dan celana yang ada di dalam paper bag.


"Tapi, kalau aku gak pake, bisa-bisa malah aku yang masuk angin," lirih Alvin.


Dia menatap ragu paper bag itu, walau akhirnya dia menggelengkan kepala lalu mulai membuka bajunya yang basah.


"Urusan rusak dan ganti, aku pikirin nanti saja deh. Daripada aku sakit," gumam Alvin, akhirnya mau memakai baju pemberian dari Jani dan Keyra.


Ah, sepertinya tidak pantas kalau disebut pemberian, mengingat itu adalah baju dari ayahnya Jani, yang dipinjamkan oleh Keyra.


Astagfirullah. Alvin mendesah berat sambil mengusap wajahnya.


Setelah baju terpakai sempurna Alvin baru ke luar dari bilik toilet, dia tampak sangat berbeda. Kemeja warna putih yang dia gulung bagian lengannya, dengan celana bahan yang tampak tidak terlalu besar.


Kenapa aku merasa tidak percaya diri menggunakan pakaian seperti ini, batin Alvin, saat melihat pantulan dirinya di cermin.


Terlihat seperti bukan dirinya, atau mungkin dia versi dewasa. Ah, terserah lah, Alvin tidak mau ambil pusing, yang penting dirinya merasa lebih nyaman sekarang.


"Eh, ini Lo, Vin? Gue pikir ada dosen baru di kampus kita," ujar Gani yang baru saja masuk.


"Baju aku basah, jadi terpaksa pinjam baju orang," jawab Alvin.


Gani tampak melihat Alvin dari ujung kaki hingga ujung kepala, celana bahan berwarna coklat tua dipadukan dengan kemeja putih, rambut Alvin yang masih terlihat basah, dan sedikit acak-acakan.


"Lumayan juga sih, walaupun gak kayak, Lo, yang biasanya," ujar Gani.


Sepertinya sekarang penampilan Alvin lebih menarik perhatiannya, daripada niat awal dirinya ke toilet.


Alvin menghembuskan napas berat, dia juga tahu kalau ini memang bukan dirinya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Dirinya juga terpaksa.


"Aku duluan, sebentar lagi dosen masuk kelas," ujar Alvin lebih memilih mengacuhkan ocehan dari temannya.


"Eeh, tunggu-tunggu, lebih bagus kalau ini dibuka, biar gak kaku-kaku banget." Gani menahan langkah Alvin, lalu membuka dua kancing paling atas kemejanya.


"Nah, begini kan lebih keliatan santai, gak kaku kayak dosen kiler," ujar Gani lagi setelah berhasil merubah penampilan Alvin.


Alvin melihat penampilan dirinya di cermin, ternyata dirinya memang menjadi sangat berbeda dari sebelumnya, dengan dua kancing paling atas dibuka, dirinya tidak terlihat dewasa dan kaku.

__ADS_1


"Oke, makasih, Gan. Aku ke kelas duluan," ujar Alvin, sambil menepuk pundak Gani lalu ke luar dari toilet terlebih dahulu.


....................


__ADS_2