ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Main bola


__ADS_3

... Happy Reading ...


......................


Selepas shalat Ashar, Alvin pun menepati janjinya, dia berjalan bersama dengan para anak-anak untuk bermain bola bersama.


"Abang ganti baju dulu, ya. Kalian main aja dulu," ujar Alvin bergitu merka melewati lapangan.


"Jangan bohong ya, Bang!" teriak para anak yang mengelilingi Alvin.


Alvin melanjutkan langkahnya menuju ke kontrakan, untuk mengganti baju. Beberapa saat kemudian Alvin sudah berada di lapangan. Saat ini Alvin hanya menggunakan kaos oblong dan celana training sepanjang bawah lutut.


Tubuhnya yang sudah terbentuk, akibat latihan bela diri membuatnya terlihat segar dan gagah, karena sebagian otot tangannya terlihat.


"Yee, Bang Alvin, datang!" seru anak-anak itu, sambil berjingkrak menyambut kedatangan Alvin.


"Yuk, mulai. Bagi tim dulu," perintah Alvin pada para anak-anak.


Mereka semua mengikuti pembagian tim acak, dengan melakukan hompimpa bersama-sama. Semua anak berharap untuk satu tim dengan Alvin, mengingat ituakan sangat menguntungkan untuk mereka.


Namun, Alvin tetaplah hanya satu orang, jadi dia juga tidak bisa memilih. Pembagian grup diambil berdasarkan posisi tangan di dalam hompimpa, antara tangan tengkurap dan tangan terlentang.


"Hompimpa Alaium gambreng!" seru mereka bersamaan sambil mengulurkan tangannya serempak ke depan.


Setelah mendapatkan tim yang sama, mereka memulai pertandingan bolanya. Semakin sore hari, semakin banyak juga orang-orang yang melihat pertandingan itu.


Walaupun Alvin memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka memang mengikuti pelajaran bola tambahan dari pelatih, hingga gerakannya begitu lincah dan mampu membuat Alvin kewalahan.


Anak-anak itu, bahkan sudah sering bertanding untuk mewakili sekolah atau tempat latihan mereka. Jadi, jangan anggap pertandingan main-main itu akan berjalan dengan mudah. Alvin bahkan harus mandi keringat, walau ini baru saja pertengahan babak awal.


Pertandingan yang tampak berjalan dengan kekuatan seimbang itu sepertinya cukup menarik penonton, hingga orang-orang yang tidak sengaja melintas pun ikut berhenti di tepi lapangan, untuk melihat pertandingan sore ini.


Sorak sorai penonton semakin membuat para pemain bertambah semangat. Ini lah kebahagiaan lain Alvin, tinggal di lingkungan ini. Anak-anak yang ceria dan penuh semangat, juga para warga yang saling mendukung satu sama lain.


Akhir babak pertama, tim lawan berhasil mencetak satu gol. Semua itu tentu membuat para anggota grup Alvin merasa pesimis untuk menang.

__ADS_1


"Semangat, ini kan hanya permainan, kalah mau pun menang sudah biasa terjadi. Kalah atau pun menang, itu tidak penting. Yang terpenting itu, kita semua sudah berusaha yang terbaik. Dan lebih lagi, kalau kita merasa bahagia."


Alvin memberikan semangat kepada anak-anak itu. Untuk beberapa saat Alvin dan para anggota timnya, beristirahat di pinggir lapangan. Untung saja, sebelum memulai pertandingan Alvin sudah membeli satu dus air mineral untuk para anak-anak yang pastinya membutuhkan minum.


Beberapa saat kemudian pertandingan bola pun akhirnya berakhir, dengan skor dua untuk tim Alvin dan satu untuk tim lawan.


"Hadiahnya apa, nih, Bang?" tanya mereka pada Alvin, berkumpul di depan Alvin sambil duduk di pinggir lapangan.


Bukan hanya tim yang menang, yang menagih hadiah pada Alvin. Akan tetapi, tim yang kalah pun ikut menagih hadiah kepada Alvin.


Alvin menggelengkan kepala saat melihat tingkah para anak-anak itu, disertai kekehan kecil dari mulutnya.


Alvin menoleh ke depan, di mana langit senja sudah memunculkan warna indahnya.


"Sekarang sudah mau magrib, jadi hadiahnya ditunda sampe ba'da shalat isya. Kita akan makan bakso mang Rohmat, di depan jalan raya. Gimana?" ujar Alvin, memberikan pengumuman yang membuat anak-anak bersorak gembira.


"Yee! Ditraktir bakso sama Bang Alvin!" teriak para anak-anak itu.


Menjelang magrib mereka semua membubarkan diri, begitu juga para penonton dadakan yang mulai pergi dari sana sejak pertandingan selesai.


Tidak ada yang mencurigai, mengingat sudah biasa orang-orang mengambil foto untuk sekedar mengabadikan momen yang sedang dilalui, atau mungkin sesuatu yang mereka sukai.


Sesuai dengan jadwal, setelah shalat isya Alvin mengajak anak-anak menuju warung bakso tidak jauh dari gang menuju kontrakan. Para anak-anak yang merupakan tetangga Alvin itu, mulai memesan bakso untuk dirinya sendiri.


Kedatangan Alvin dan para pasukan anak kecil langsung membuat kedai warung bakso kecil itu terlihat penuh sesak.


.


.


Jani duduk termenung di balkon apartemen tempatnya tinggal bersama Anji. Sudah beberapa bulan ini dia tinggal di sana dengan penjagaan ketat oleh saudara kembarnya itu. Angin malam terasa dingin menusuk tulang, Jani mengeratkan jaket yang dia pakai.


Ponselnya dijaga ketat oleh kedua kakaknya, mereka tidak mau sampai dia menghubungi Alvin. Padahal sejak kejadian malam itu, dia tidak pernah tahu bagaimana kondisi Alvin.


Sejak saat itu, tidak ada satu hari pun dia lewati tanpa memikirkan laki-laki yang dicintainya itu. Ingin rasanya di menghubungi dan bertanya bagaimana kabarnya. Akan tetapi, semua akses untuk menghubungi Alvin ditutup oleh kakak dan kembarannya.

__ADS_1


"Kamu ngapain sih duduk di sini malam-malam begini? Nanti kalau sakit lagi gimana?" gerutu Anji yang baru saja datang.


Jani menoleh menatap saudara kembarnya itu, dia tersenyum tipis kemudian kembali melihat ke depan.


"Aku bosan," keluhnya.


"Tadi kan aku sudah mengajak kamu ikut ke super market, kenapa gak mau, hem?" tanya Anji sambil berjalan menghampiri perempuan itu.


Jani tidak menjawab, dia hanya menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kasar.


"Ayo masuk, aku sudah belikan pesanan kamu," sambung Anji lagi.


Jani berbalik, kemudian berjalan lebih dulu untuk masuk ke dalam, tanpa mau menjawab perkataan dari kakak kembarnya itu. Anji menghembuskan napas kasar, sambil menggelengkan kepala melihat sikap Jani yang berubah drastis setelah mereka berdua pindah ke negara ini.


"Kamu sudah minum obat?" tanya Anji lagi.


"Heem." Jani hanya bergumam.


Keduanya duduk di sofa, Anji mengambil kantong belanjanya, kemudian mengambil beberapa barang dari sana.


Berbagai camilan sehat dan buah-buahan kesukaan Jani pun tampak di keluarkan.


Bukannya senang, Jani malah menghembuskan napas kasar. Dia sudah bosan terus memakan makanan sehat seperti itu. Dirinya rindu makan berdua dengan Alvin, atau jajan di pinggir jalan.


Masa-masa bersama dengan orang biasa seperti Alvin, menjadi hidup yang paling bahagia untuk Jani. Bisa berjalan-jalan naik bis, atau meminjam motor Mang Lukman. Duduk berdua di taman sambil mengerjakan tugas, atau melihat anak-anak bermain bola.


Itu semua membuat Jani merasa lebih hidup. Setiap aktivitasnya bersama Alvin, membuat kenangan indah yang selalu memberikan energi padanya. Akan tetapi, kini semuanya hanya tinggal kenangan, kedua kakaknya sudah tidak mengizinkannya lagi untuk berteman dengan laki-laki itu.


Sang Papa yang selama ini mendukung hubungannya dan Alvin pun, kini malah mendukung kedua kakaknya. Ternyata selama ini mereka selalu mengawasi dirinya, mencari tahu bagaimana Alvin memperlakukannya saat sedang berdua.


Mengetahui kalau Alvin terus menggantung perasaan Jani, membuat kakak dan Papanya mengira kalau Alvin hanya mau memanfaatkannya dan mempermainkan perasaan Jani, hingga di belakang Jani, mereka merencanakan untuk menjauhkan Jani dari Alvin. Salah satu cara melakukan itu, yaitu dengan menyuruh Jani untuk meneruskan kuliah di luar negeri.


Insiden malam itu yang membuat mereka salah paham dan mengira Alvin yang mengajak Jani pergi hingga tengah malam, membuat kakak dan Papa Jani murka. Sekeras apa pun Jani berusaha menjelaskan apa yang terjadi antara dirinya dan Alvin, sudah bagaikan angin lalu, karena mereka mengira kalau Jani sudah buta oleh rasa cintanya pada Alvin, hingga dengan suka rela terus membela Alvin, walau sebenarnya Alvin bersalah.


......................

__ADS_1


__ADS_2