ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Kopi pagi


__ADS_3

...Happy Reading ...


.................


Satu minggu sudah berlalu, kini kondisi Kakek Darman sudah mulai membaik, bahkan dia sudah kembali bisa berjalan pagi di sekitar rumah sejak tiga hari yang lalu.


Alvin benar-benar mengurus kakek dan neneknya dengan sangat telaten, dia bahkan langsung membawa Kakek Darman ke rumah sakit, esok paginya setelah dia datang. Dia memastikan pengobatan yang terbaik untuk laki-laki tua itu.


Seperti pagi ini, dia sedang berkutat di dapur, dengan berbagai peralatan masaknya. Alvin tidak lagi mengizinkan neneknya untuk memasak, selama dirinya ada di sini. Walau Nenek Esih tetap saja akan membantu Alvin nantinya.


Alvin sengaja memperpanjang cutinya, dia ingin menebus semu waktu yang selama ini hilang untuk kakek dan neneknya, padahal Alvin sudah menganggap Kakek Darman dan Nenek Esih pengganti kedua orang tuanya.


Laki-laki yang sudah mengijak umur sembilan belas tahun itu benar-benar merasa bersalah, karena dirinya melupakan nenek dan kakeknya. Selama ini dia hanya fokus untuk menggapai cita-citanya, hingga lupa orang-orang yang selalu mendukungnya dari belakang.


"Alvin, kamu lagi ngapain?" tanya Nenek Esih yang baru saja ke luar dari kamarnya.


Ini memang masih sangat pagi, bahkan di luar cahaya matahari belum muncul sama sekali. Akan tetapi, Imran sudah sibuk di dapur dengan kompor yang sudah menyala.


"Masak air, Nek. Sekalian bikin pisang goreng buat teman ngopi," jawab Alvin.


Kini dia sudah terbiasa menenggak kopi di pagi hari, berawal hanya untuk menahan kantuk saat dirinya harus pergi kuliah hanya dengan tidur dua jam saja, akhirnya dia mulai terbiasa dengan kopi hitam yang membuatnya terasa lebih bersemangat menjalani hari.


"Aku juga bikin buah sukun goreng buat Kakek, kebetulan kemarin pohon sukun di belakang rumah buahnya udah bisa diambil. Nenek au coba?" Alvin menghidangkan sukun dan pisang goreng di meja makan.


"Kamu udah sholat?" tanya Nenek Esih, sambil duduk di bangku meja makan.


Alvin mengambil gelas lalu menuangkan air hangat untuk neneknya.


"Sudah, Nek," jawab Alvin sambil menggeser gelas ke depan neneknya.


Hari ini Alvin gak pergi shalat di masjid, mengingat dia yang bangun kesiangan, karena tadi malam dia asik menemani ngobrol para bapak-bapak yang meronda.


Nenek Esih tampak mengambil gelas yang sudah disiapkan oleh Alvin, kemudian menenggak airnya. Tadi waktu dia ke luar untuk mengambil air wudhu, Alvin belum ada di dapur.


"Assalamualiakum," ucapan salam dari luar terdengar, mengalihkan wajah Alvin, dengan ekspresi terkejutnya.


"Waalaikumsalam," jawab keduanya. Alvin langsung bangkit lalu membuka pintu belakang.

__ADS_1


Dia tampak terkejut melihat kakeknya yang berdiri dengan ayah Imran di sampingnya.


"Lho, Kakek, pergi ke mesjid?" tanya Alvin sambil memapah Kakek Darman masuk berbarengan dengan ayahnya Imran.


"Kenapa gak bangunin Alvin? Kan Alvin bisa nemenin Kakek ke masjid bareng," sambung Alvin, sedikit menggerutu.


Kakek Darman tampak tersenyum, dia kemudian duduk di meja makan, tepat di samping istrinya, disusul oleh ayahnya Imran.


"Kakek udah ketok pintu kamar kamu. Tapi, kamu gak jawab-jawab, jadi Kakek pergi duluan," jawab Kakek Darman.


"Maaf, Kek. Tadi Alvin kesiangan bangun, jadinya gak bisa shalat di masjid," ujar Alvin dengan penuh penyesalan.


"Mang, mau kopi?" tanya Alvin, sambil menyiapkan air putih hangat untuk kakek Darman.


"Boleh, Vin, kayaknya enak nih, ada temennya," jawab ayahnya Imran sambil melihat goreng pisang dan sukun di piring.


Alvin terkekeh lalu menggeser gelas berisi air putih pada kakeknya.


"Kakek gak dikasih warna nih airnya?" tanya Kakek Darman sambil mengambil gelas berisi air putih itu.


"Ah, kalau ada kamu jadi gak bisa nyolong deh," keluh Kakek Darman yang disambut gelak tawa semua orang.


Ya, mereka tahu kalau Darman hanya bercanda, walau memang hanya Alvin yang omongannya dia dengar. Laki-laki tua itu, selalu membantah jika orang lain melarangnya makan sesuatu yang dilarang dokter, bahkan istrinya sendiri.


Padahal kunci dari kesehatan orang yang mengidap darah tinggi dan kadar gula tinggi itu, ya bergantung dari gaya hidupnya, apalagi makanan.


Namun, semua itu berbeda jika Alvin yang berbicara, dia akan langsung menurut dengan senang hati. Sepertinya Alvin memang alasan untuk Darman tetap hidup.


Kadang ada perasaan tidak enak di hati Alvin saat para anak-anak dan cucu Kakek Darman yang lain menyinggungnya, walau itu secara halus.


"Si Kakek, kalau udah ada pawangnya mah, pasti langsung bisa diatur." Itu adalah perkataan dari salah satu menantu Kakek, saat Alvin baru datang seminggu yang lalu.


"Iya, Bapak kan cuman nurut sama cucu kesayangannya itu. Kalau omongan kita mah, mau sampe mulut berbusa juga, tetep aja masuk kuping kanan keluar telinga kiri. Gak dianggap!" timpal salah satu cucu Kakek Darman yang lainnya.


Alvin tidak sengaja mendengar obrolan mereka di teras, saat dia baru saja ke luar dari kamar Kakek Darman. Alvin tidak marah ataupun merasa sedang dibenci oleh keluarganya sendiri, dia tahu di balik omongan mereka yang pedas, mereka hanya sedang khawatir pada kesehatan Kakek.


Mereka juga sangat menyayanginya, itu semua terbukti saat dia baru datang ke sini. Mereka selalu berusaha meyemangati Alvin untuk terus menjalani hidup. Kadang kalau ada uang lebih, mereka juga sering memberinya uang jajan.

__ADS_1


"Mau ada Alvin ataupun enggak, Kakek harus tetap jaga makan, biar Kakek sehat terus. Alvin mau Kakek datang ke acara wisuda Alvin, terus lihat Alvin sukses," ujar Alvin diiringi kekehan di akhir kalimatnya.


Alvin menyerahkan kopi milik ayahnya Imran, kemudian ikut duduk di samping kakek Darman.


"Terima kasih, Vin," ujar Ayahnya Imran, yang langsung dibalas anggukkan kepala oleh Alvin.


"Kakek selalu berdoa semoga semua anak cucu kakek sukses dan hidup dengan bahagia, apalagi kamu, Vin. Kakek selalu bangga padamu, karena sudah bisa melewati setiap rintangan dan cobaan di dalam hidupmu," jawab Kakek Darman panjang lebar.


"Kakek yakin, suatu saat nanti kamu akan menjadi orang sukses," sambungnya lagi, sambil menepuk pundak Alvin berulang.


Senyum lembut terpatri di wajah tua yang sudah penuh dengan keriput itu, Alvin menatap sendu dia merasa belum bisa membahagiakan Kakek dan neneknya.


Untuk beberapa saat mereka tampak sama-sama terdiam, dengan pikirannya masing-masing.


"Kakek, udah kuat jalan sampai ke masjid?" Alvin memecah keheningan.


Selama sakit Kakek Darman selalu shalat di rumah, dia tidak diizinkan untuk jalan terlalu jauh, takut nanti tiba-tiba pusingnya kambuh di tengah jalan.


"Iya dong, Kakek kan kuat," jawab Kakek Darman dengan wajah sumringah.


"Lagian, Kakek kangen shalat di masjid. Kakek juga kangen ngobrol bareng sama temen-teman, setelah selesai shalat berjamaah," sambung Kakek lagi.


"Ya udah, nanti kalau Kakek mau ke masjid lagi, Kakek harus kasih tau Alvin atau yang lainnya, biar kita bisa nganterin Kakek, ya?" pinta Alvin dengan suara lembutnya.


"Ck, udah kayak anak kecil saja." Laki-laki tua itu berdecak dengan wajah merajuk.


"Bukan begitu, Kek. Kita hanya khawatir sama, Kakek. Iya kan, Mang?" ujar Alvin sambil meminta dukungan pada ayahnya Imran, agar Kakek Darman mengerti.


"Iya, Pak. Nanti kalau Alvin gak bisa, Bapak tinggal ngomong sama saya, biar saya jemput Bapak ke sini,"jawab ayahnya Imran, menyetujui perkataan Alvin.


"Hem, iya-iya." Darman seperti tidak rela untuk menyetujui perkataan anak dan cucunya itu.


Padahal di dalam hati, Kakek Darman sangat bahagia bisa mendapatkan perhatian dari anak dan cucunya.


Pagi itu, mereka habiskan dengan canda tawa bersama. Ayahnya Imran bahkan sampai pulang di saat matahari sudah mulai naik. Karena lupa waktu.


.....................

__ADS_1


__ADS_2