ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Tukang Gosip


__ADS_3

...Happy Reading ...


................


Para tukang gosip itu langsung membungkam mulutnya, begitu melihat Alvin masuk bersama dengan ketua divisi.


Semuanya nampak menyambut kedatangan Alvin dan laki-laki yang bersama dengannya. Akan tetapi, itu semua tidaklah membuat rasa iri mereka mereda.


Semua itu malah semakin membuat mereka yakin dengan gosip yang beredar. Apalagi, siang harinya Jani datang menemui Alvin yang sedang makan siang.


Mereka yang tahu kalau Jani adalah adik dari bos besarnya, semakin yakin kalau Alvin memang bisa masuk kerja bukan karena kemampuan sendiri, melainkan karena dia mempunyai hubungan dekat dengan para petinggi kantor.


"Wah, hebat kamu, Vin, bisa pacaran sama adiknya bos!" ujar laki-laki kemayu, saat dia baru saja kembali mengantarkan Jani ke parkiran.


Alvin langsung menoleh, dengan kening berkerut, dia tahu pembicaraan laki-laki tadi dan rekan kerjanya yang lain saat pagi.


Namun, Alvin memilih untuk tetap diam, baginya tidak perlu berbicara jika mereka belum berkoar di depannya sendiri. Toh, apa pun yang dia katakan tidak akan merubah pikiran dangkal para tukang gosip itu.


Jadi untuk sementara biarkan saja, mereka menikmati masa kebahgiaannya, dalam membicarakan dan menghardik orang lain, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Buktinya Alvin memang tahu di sini ada lowongan pekerjaan karena Jani. Walupun, akhirnya dia menjalani seleksi dari mulai mengajukan surat lamaran sampai melakukan interview, bersama beberapa orang pelamar lainnya.


Dia tidak pernah meminta bantuan Jani untuk mendapatkan pekerjaan ini, kecuali untuk masalah kuliahnya yang berpindah pada kuliah untuk pekerja. Kalau itu, dia memang mengakuinya, karena itu semua cukup rumit jika da hanya mengandalkan dirinya sendiri, apalagi dia hanyalah mahasiswa yang mengandalkan beasiswa.


"Maksud, Abang, apa?" tanya Alvin.


"Gadis yang baru saja kamu antara itu, bukannya dia adalah adiknya bos? Sudahlah, gak usah sok polos," ujar laki-laki kemayu itu, sambil menepuk pundak Alvin. Mereka berjalan beriringan menuju ruang kerja karena waktu makan siang sudah hampir habis.


"Oh, Jani?" tanya Alvin santai, yang langsung diangguki oleh laki-laki kemayu itu.

__ADS_1


Sepertinya laki-laki kemayu itu sangat bersemangat untuk mendapatkan bahan gosip baru lagi dari Alvin. Dia sudah seperti turah lambe yang siap menampung dan menyebarkan gosip terbaru pada setiap orang di kantor.


"Aku hanya berteman dengan dia. Gak ada hubungan apa pun di antara kami, selain itu," jawab Alvin santai, dia bahkan bisa tersenyum tenang, hingga membuat laki-laki kemayu itu memicing penuh curiga padanya.


"Gak usah bohong deh, aku yakin kalian pasti ada hubungan spesial, kan? Bilang saja, aku janji gak akan ngomong sama siapa-siapa," rayu laki-laki kemayu itu.


"Astagfirullah, untuk apa aku berbohong, Bang. Aku beneran gak ada hubungan apa-apa sama dia, beneran deh." Alvin tetap pada jawaban sebelumnya.


Gak ngomong sama siap-siapa, katanya? Hah, justru dia yang menjadi sumber gosip di kantor ini, batin Alvin.


"Ish, kamu ini ak asik banget sih. Mentang-mentang punya orang dalam," decak laki-laki kemayu itu.


Wajah Alvin langsung berubah dia menatap laki-laki di sampingnya itu dengan raut wajah serius.


"Hah, di sini panas ya, udah kayak deket neraka, hahaha!" Alvin mengibaskan kerah bajunya seakan sedang kepanasan, sambil berjalan mendahului laki-laki kemayu itu.


Nada suaranya, seperti sedang bercanda, bahknadia menambahkan tawa id akhir kalimatnya. Akan tetapi, sebenarnya itu memang sebuah sindiran darinya untuk orang-orang dengan bibir lemas seperti laki-laki itu.


Dia terkejut mendengar perkataan Alvin yang ternyata bisa berujar tajam juga. Mukanya memerah menahan marah dan malu, karena kata-katanya dipatahkan begitu saja oleh Alvin.


Hari itu Alvin memutuskan untuk tidak lagi menjadi laki-laki yang lemah, yang hanya bisa membiarkan semuanya terjadi begitu saja. Dia ingin melawan ketidak adilan, yang diawali untuk dirinya sendri.


Dia tidak akan takut lagi melawan orang-orang yang sok berkuasa, atau dengan terang-terangan menindas orang yang lebih lemah dari mereka. Sepeninggal kakeknya dia banyak merenung dan memikirkan bagaimana dia akan menjalani hidup, setelah sandarannya telah tidak ada lagi.


Hingga akhirnya dia memutuskan untuk terus berubah menjadi lebih kuat dan tegas dalam melawan orang-orang seperti mereka. Itu adalah langkah pertamanya untuk meraih semua mimpinya, yang sejak dulu dia perjuangkan.


Alvin tetap bekerja seperti biasa ditengah intimidasi dari para seniornya yang semakin tidak suka dan selalu meremehkan kemampuannya. Untung saja ada satu orang teman kerjanya yang terus membantunya, hingga dua bulan kemudian Alvin bisa menunjukkan kemampuannya di hadapan para seniornya.


Dia yang bergabung di dalam divisi penjualan, berhasil memberikan ide promosi yang bagus, hingga penjualan bulan itu melebihi target, dan meningkat lebih pesat dari biasanya.

__ADS_1


Malam ini Alvin dan teman-teman satu divisinya, berencana untuk makan malam di luar sebagai perayaan karena kesuksesan penjualan bulan ini.


Info saja, jika acara makan malam itu akan disponsori oleh ketua divisi langsung. Mereka berangkat bersama setelah jam pulang kerja, dengan menggunkan taksi, menuju tempat yang sudah disetujui.


Hingga beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di sebuah restoran seafood tumpah yang sedang ramai diperbincangkan. Mereka sengaja mengabungkan dua meja, agar bisa tetap bersama-sama.


Suasana pun terasa santai dan ramai, dengan semua omongan tidak berguna dari para teman-teman satu tim Alvin, yang memiliki kepribadian beragam.


"Ucapkan selamat untuk Alvin, karena berkat ide darinya, bulan ini kita bisa meningkatkan penjualan, bahkan melebihi taget," ujar ketua divisi, sambil berdiri dan mengangkat gelas berisi minuman dingin lainnya.


"Selamat, Alvin!" seru mereka bersama, sambil ikut mengangkat gelas di tangan masing-masing.


Ingat itu bukan alkohol, gelas itu hanya berisi macam-macam minuman biasa, seperti jus dan yang lainnya.


"Semua ini, juga terjadi karena kerja keras kita semua. Terima kasih, sudah bekerja keras untuk tim kita!" jawab Alvin sambil ikut berdiri dan mengangkat gelasnya sendiri.


"Selamat untuk kita semua!" Seru Alvin lagi, dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.


"Selamat untuk kita semua!" seru yang lainnya bersamaan, sambil mengadukan gelas mereka, kemudian tertawa bersama.


Meja Alvin dan para rekan kerjanya yang terlihat lebih ramai dan mencolok dibandingkan dengan meja yang lainnya, membuat mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung, bahkan karyawan.


Hingga akhirnya tiga ember seafood pesanan mereka sudah datang. Dengan wajah sumringah, mereka menumpahkan semuanya langsung di atas meja, dan makan bersama-sama, tanpa merasa jijik ataupun malu.


Semuanya kini berbaur menjadi satu, seakan mereka adalah tim paling kompak. Saat ini tidak ada perasaan iri dan saling sindir, antara para anggota tim seperti seblumnya.


Alvin merasa senang, saat bisa bergabung dengan para taman kerjanya. Tidak ada rasa dendam atau pun kebencian, walau beberapa bulan yang lalu hubungannya dengan mereka sempat memanas akibat perlawanannya kepada laki-laki kemayu itu.


Laki-laki kemayu yang tidak bisa menerima sindiran dari Alvin, terus saja mencari masalah dengannya. Mulai dari menyebarkan gosip dan fitnah, hingga membuat nama Alvin semakin buruk di mata para karyawan lainnya. Bukan hanya di divisi mereka, akan tetapi, sampai ke luar divisi, hingga membuat Alvin selalu menjadi bahan perhatian par warga kantor.

__ADS_1


...^^^..............^^^...


__ADS_2