ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Naik Bis


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Ada apa, Vin? Mamang perhatikan, kamu, ngelamun dari tadi," tanya Lukman, sambil duduk di kursi sebelah Alvin.


Saat ini mereka tengah duduk di depan kontrakan, Alvin baru saja pulang dari masjid, dia tidak langsung masuk seperti biasa.


Alvin tampak menghirup napas dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Aku bingung, Mang," jawab Alvin.


"Bingung kenapa?" Keningnya berkerut, dengan mata sedikit memicing.


"Aku mau nyari kerja. Tapi, dengan ijazah SMA, kira-kira aku bisa ngelamar ke mana ya? Atau mungkin, Mamang, ada saran?" tanya Alvin.


Lukman tampak terdiam, dia seakan sedang mengingat sesuatu, yang bisa membantu Alvin.


"Sebenarnya di tempat mamang kerja lagi ada lowonga. Tapi, ini kerjanya cukup berat," ujar Lukman sedikit ragu.


"Boleh, Mang. Aku mau kerja apa aja yang penting halal!" jawab Alvin dengan penuh semnagat.


"Kamu yakin? Ini kerja di lapangan dan penuh dengan resiko, karna kamu harus terlibat langsung dengan para pekerja di pembangunan," ujar Lukman, masih ragu dengan persetujuan dari Alvin.


"Yakin, Mang. Setidaknya aku mau coba dulu, urusan sanggup atau engga, kita lihat saja nanti." Alvin berkata yakin.


"Ya sudah, besok kamu datang saja ke tempat mamang kerja, biar bisa mamang kenalkan sama mandor dan tim kamu yang lain," ujar Lukman.


"Baik, Mang. besok setelah jam kuliah, aku langsung pergi ke sana," jawab Alvin.


.


.


Pagi harinya seperti biasa, Alvin akan pergi ke kampus menggunakan bis. Akan tetapi kali ini ada yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya.


"Hai, Vin! Kebetulan banget kita ketemu di sini," ujar Jani saat Alvin sedang menunggu bis di halte terdekat.


Alvin mengernyit, dia menatap bingung keberadaan Jani di sampingnya.


Ngapain dia ada di sini? batin Alvin sambil mengedarkan pandangannya, mencari teman Jani atau Anji.


Namun, dia sama sekali tidak bisa melihat keberadaan mereka, hingga akhirnya Alvin terpaksa menatap gadis di sampingnya.


"Ngapain, kamu, di sini?" tanya Alvin.


"Mobilku mogok, jadi terpaksa harus naik bis deh," ujar Jani memberi alasan.


Alvin mencari keberadaan mobil Jani di sekitarnya. "Mana?"

__ADS_1


Jani melebarkan matanya, dia tidak menyangka kalau Alvin akan menanyakan keberadaan mobil miliknya.


"Eumh, i–itu ... mobilnya udah dibawa ke bengkel sama sopir aku," jawab Jani, dengan nada sedikit gugup.


Alvin mengangkat salah satu alisnya, menatap Jani dengan wajah ragu, sedikit tidak percaya.


Detak jantung Jani berdegup cepat, saat mata keduanya bertaut, hingga akhirnya Jani mengalihkan pandangannya lebih dulu.


Astaga, kenapa dia ganteng banget sih? Bikin jantungku gak sehat aja, batin Jani, menghindari tatapan Alvin.


Saat ini Alvin memakai hodie warna hitam dengan celana jins panjang, juga sepatu kets sebagai pelengkap.


Sebenarnya semua itu bukanlah barang mahal, pakaiannya Alvin beli dari pasar loak, atau pasar tradisional, dengan harga yang sangat jauh dari produk mall, atau pusat perbelanjaan lainnya.


Gayanya pun terbilang sederhana, dia tidak pernah memikirkan gengsi atau sebagainya, hingga hidupnya berjalan apa adanya.


Namun, karena Alvin cukup pandai memadupadankan pakaian, ditambah dengan postur tubuh yang lumayan bagus, membuatnya selalu tampak tampan, walau kulitnya tidak terlalu putih.


"Oh ...." Alvin mengangguk samar, sambil kembali mengalihkan pandangannya pada jalanan. Dia melihat bis yang ingin ditumpangi sudah mulai mendekat.


Jani menghembuskan napas lega, saat melihat Alvin tidak lagi bertanya tentang mobil miliknya.


Bis berhenti di depan halte. Karena masih jam orang-orang berangkat kerja, mengakibatkan pintu masuk penuh sesak, hingga cukup sulit untuk masuk.


Alvin dengan mudah menyalip orang-orang untuk segera masuk ke dalam bis. Hampir satu bulan berada di Jakarta dan selalu pergi mengandalkan angkutan umum, membuatnya terbiasa dengan kepadatan seperti ini.


"Alvin, tolongin aku gak bisa masuk!" teriak Jani, sambil melompat berulang kali dan tangan di angkat ke atas, menjadi penanda untuk Alvin.


Alvin yang merasa ada yang memanggilnya menghentikan langkahnya, saat salah satu kakinya sudah hampir menyentuh pijakan bis. Dia menoleh ke belakang, mencari asal suara yang dia kenal.


"Astaga, perempuan ini bikin repot aja," gumam Alvin sambil kembali ke belakang.


Dia mengambil pergelangan tangan Jani dan menggenggmnya. "Ikuti aku."


Jani yang melihat Alvin memegang pergelangan tangannya, terpaku dengan otak yang seakan berubah kosong.


Ya ampun, cool banget sih! jerit batin Jani, menatap terpesona Alvin yang berada di depannya.


Jani bahkan sampai lupa kalau dirinya sedang terdorong dan terhipit oleh kerumunan orang yang ingin naik ke dalam bis.


Alvin menyuruh Jani duduk di salah satu kursi yang masih kosong, disusul dengan dirinya sendiri.


"Kalau gak biasa naik angkutan umum seperti ini, gak usah sok-sokan," ujar Alvin setelah mereka berdua duduk bersebelahan.


Jani yang sejak tadi masih terpaku dengan rasa kagumnya pada Alvin, mengerjap beberapa kali, berusaha mengembalikan kesadarannya.


"Dih! Aku udah biasa kok naik bis kayak gini. Kamu aja yang enggak tau," jawab Jani, sambil mengalihkan pandangannya ke samping.


"Kalau udah biasa, pasti tadi gak butuh bantuan aku buat masuk dong." Alvin tidak percaya.

__ADS_1


"Ya ... biasanya gak ramai seperti ini." Jani masih mencoba memberi alasan.


Alvin tidak menjawab lagi, dia memilih untuk menyandarkan tubuhnya, sambil menutup mata.


Ya, itu adalah posisi yang sangat nyaman bagi Alvin saat menaiki angkutan umum seperti ini. Duduk bersidekap dada sambil memejamkan mata.


"Ck, dasar!" decak Jani, melihat Alvin yang sudah menutup matanya.


Bis berhenti di beberapa halte, Alvin berdiri saat melihat ada seorang ibu-ibu yang membawa anak balita di gendongannya.


"Mau ke mana?" tanya Jani, mencekal tangan Alvin.


"Kamu duduk aja, aku cuma mau kasih kursi ke ibu itu," jawab Alvin.


Jani terlihat sedikit kecewa, karena Alvin berdiri. Akan tetapi, dia juga merasa kasihan kepada ibu-ibu itu.


"Duduk di sini, Bu," ujar Alvin, begitu dia berdiri tegap.


Ibu-ibu itu tampak tersenyum, kemudian menghapiri Alvin. "Terima kasih, Dek."


Alvin mengangguk, dia meneruskan perjalannya dengan posisi berdiri, sedangkan Jani duduk di dekat Alvin.


Aku kira dia orangnya cuek sama sekitarnya. Ternyata aku salah, dia cukup peka dengan keadaan, batin Jani.


Bis berhenti di helte yang tidak jauh dari kampus, Alvin melihat Jani yang selalu menatapnya saat bis akan berhenti.


"Yuk, udah sampai," ajak Alvin. Dia membantu Jani berdiri dan ke luar dari bis yang terasa masih sesak oleh banyaknya penumpang.


Begitu sampai di luar Alvin langsung melepaskan genggaman tangannya, lalu berjalan mendahului Jani. Dia bisa melihat kalau di sana banyak anak-anak kampus yang berlalu lalang.


"Eh, kok dilepas sih?" ujar Jani, saat merasakan tangannya tidak lagi digenggam Alvin.


"Eh, tunggu!" Jani berteriak sambil menyusul langkah cepat Alvin.


"Seneng banget sih ninggalin aku!" gerutu Jani, setelah bisa menyamakan langkahnya dengan Alvin.


"Ada apa lagi?" tanya Alvin, dia benar-benar tidak mau lagi ada gosip yang beredar tentangnya dan seorang perempuan, seperti kasusnya dengan Milka, selama sekolah SMA.


"Ya–, kita kan berangkatnya bereng. Masa kamu ninggalin aku gitu aja di halte bis sih?" ujar Jani.


"Kan udah sampe kampus, ngapain lagi kita harus bareng. kamu juga udah tau jalan," jawab Alvin


Jani mendesah kesal, melihat Alvin yang masih aja cuek kepadanya. Ingin rasanya dia mengumpat dan memukul Alvin, melampiaskan rasa kesalnya, melihat sikap dingin dan cuek Alvin.


Sabar, Anjani, lama-lama pasti kulkas dua belas pintu ini akan mencair, kalau kamu terus mendekatinya, batin Jani.


......................


Berusaha? harus. Tapi, jangan terlalu berharap, karena bila terkadang harapan akan mengakibatkan sakit yang lebih dalam.

__ADS_1


__ADS_2