
...Happy Reading...
......................
Alvin langsung berangkat menuju tempat pemberhentian bis, setelah lebih dulu mengantarkan Jani ke rumahnya.
Tidak perlu menunggu lama, sebuah bisa tampak berhenti di depannya. Alvin berdiri, bersiap untuk menyambut seseorang yang dia tunggu.
"Alvin! Aku kangen banget sama kamu!" teriak Imran yang langsung memeluk Alvin, begitu dia turun dari bis.
Alvin bergidik, dia langsung melepaskan pelukan Imran. Sahabat sekaligus saudaranya itu memang kadang-kadang bikin dia risih bahkan malu.
"Assalamualaikum, Ran," ujar Alvin.
Matanya bergerak melihat orang-orang di sekitarnya, mereka tampak menatap dirinya dan Imran dengan sorot mata berbeda-beda.
Alvin menghembuskan napasanya kasar. Baru datang aja udah bikin orang salah paham begini.
Alvin menggerutu di dalam hati, meringis saat tau arti dari pandangan orang-orang yang ada di sana.
Dia kemudian memanggil dua orang tukang ojek pangkalan, agar perjalanan mereka lebih cepat, mengingat waktu memang sudah hampir malam.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah sampai di kontrakan, Imran sudah beberapa kali datang ke sini. Sepertinya sahabat Alvin itu tidak punya teman lain selain Imran, sampai setiap kali ada libur dia pasti akan datang ke Jakarta.
"Baru dateng, Vin?" tanya Pak Umar yang sedang duduk santai di depan rumahnya.
"Iya, Pak," jawab Alvin, kemudian menghampiri Pak Umar untuk mencium punggung tangan laki-laki tua itu.
Imran pun mengikuti langkah Alvin, Imran sudah cukup mengenal Pak Umar, walau tidak sedekat Alvin.
"Kami ke dalam dulu, Pak," pamit Alvin.
Alvin dan Imran langsung masuk ke kontrakan, setelah mendapatkan anggukkan dari Pak Umar.
"Vin, tadi Nenek sama Kakek, titip ini buat kamu," ujar Imran memberikan bungkusan dari tas ransel yang dia bawa.
Alvin tersenyum, dia sudah tahu apa yang dititipkan oleh kakek dan neneknya itu.
"Pasti ayam bumbu kuning sama sambal goreng," tebak Alvin.
"Nah, itu kamu udah tau," jawab Imran.
__ADS_1
"Kemarin sore pas tau aku mau ke sini, kakek langsung beli bebek buat dimasak bumbu kuning," sambung Imran meneruskan ceritanya.
Alvin tersenyum walau di dalam hati dia juga menahan rindu pada dua orang tua yang telah merawatnya setelah keluarganya hancur.
"Pasangan bucin itu masih sehat kan, Ran?" tanya Alvin, dengan tenggorokan yang terasa tercekat.
Semenjak dia tangan ke Jakarta, Alvin hanya dua kali pulang kampung, itu pun hanya beberapa hari, mengingat kesibukannya sebagai pekerja dan mahasisiwa.
"Sehat kok, Vin. Kamu tenang aja, kondisi mereka masih sama seperti terakhir kamu tinggalkan," jawab Imran.
"Syukurlah." Alvin kembali tersenyum.
.
.
Akhir pekan bersama Imran, mereka berdua berniat untuk bermain bersama ke tempat-tempat yang menarik bagi para ank muda.
Dimulai dengan pagi harinya kedua sahabat itu menuju ke lokasi Car free day atau biasa disebut juga CFD. Setelah shalat subuh mereka langsung menuju ke lokasi, untuk olahraga pagi, sekaligus berwisata kuliner.
Jarak tempat dari kontrakan ke lokasi CFD tidak terlalu jauh, masih bisa dijadikan trek berlari pagi. Biasanya kalau Alvin joging sendiri, dia hanya membutuhkan waktu empat puluh lima menit sampai satu jam.
"Kamu kan udah bisa lari kayak gini. Lah, aku ke mana-mana pake motor, Vin. Jadi wajar dong kalau aku gak bisa ngikutin lari kamu," keluh Imran sambil duduk di trotoar jalanan, bekal minumnya pun sudah habis, padahal ini baru pertengahan jalan.
Alvin menghela napas panjang, dia masih berdiri dan berlari kecil di tempat, agar ototnya tidak kaku.
"Kalau tau gitu, kenapa kamu setuju buat lari sam aku," jawab Alvin.
Dia yang sudah memliki jadwal tetap untuk berlatih bela diri bersama Pak Umar, dan terbiasa bekerja berat, tidak merasakan lelah sedikitpun.
"Kamu bilang dekat, makanya aku mau ikut lari!" kesal Imran.
"Astagfirullah." Alvin mendesah, lari hari in sepertinya akan gagal dengan adanya Imran.
"Ya sudah, kalau gitu kita jalan aja," ujar Alvin, sambil mengulurkan tangannya untk membantu Imran bangun.
Lagi-lagi Alvin dan Imran tampak menjadi bahan perhatian para pengguna jalan lainnya.
Sorot mata mereka tampak jijik, saat menyangka kalau Alvin dan Imran adalah pasangan.
Alvin menggeleng pelan, dia berusaha bersikap dingin bagaikan kulkas dua belas pintu, seperti biasanya.
__ADS_1
Imran menerima uluran tangan Alvin, lalu bangun dengan wajah menahan kesal.
"Kamu lak-laki kan?" tanya Alvin yang membuat Imran menatapnya penuh tanya.
"Kamu pikir aku apa, war*a?" kesal Imran, dia yang sudah merasa lelah dengan perjalanan kali ini, malah dibuat kesl oleh pertanyaan tidak bermutu Alvin.
"Kalau memang laki-laki, bersikaplah sebagaimana laki-laki." Alvin menekan setiap kata-katanya.
"Apa sih, Vin? Gak jelas banget kamu dari tadi! Aku datang ke sini tuh buat liburan sekalian ketemu kamu, bukan buat dibikin kesel mulu!" cerocos Imran.
Sejak Alvin pindah ke Jakata, dirinya mempunyai pasilitas motor dari bapak, hingga tidak perlu lagi jalan kaki ke mana-mana. Jadi beginilah dia sekarang, badannya sedikit melebar hingga tidak kuat berjalan bersama Alvin.
"Kamu gak sadar, kalau dari tadi orang-orang pada merhatiin kita?" tanya Alvin sambil mengedarkan pandangannya.
Imran mengikuti arah pandangan Alvin, dia baru menyadari kalau dirinya sedang menjadi pusat perhatian orang di sekitarnya.
"Ya, mungkin itu karena aku ganteng. jadi wajar lah kalau kita jadi pusat perhatian," jawab Imran penuh percaya diri.
Dia bahkan lansung menegakkan tubuhnya dan berjalan seolah laki-laki yang bugar dan tidak merasakan capek sekalipun.
"Astagfirullah." Alvin menggeleng lemah, sambil mengikuti Imran yang sudah berjalan lebih dahulu.
Bisa-bisanya Imran malah mengira kalau mereka semua kagum dengan ketampanannya, dan kembali bersemangat dengan sejuta rasa percaya dirinya.
Sedangkan beberapa menit yang lalu, Alvin masih bisa mengingat kalau Imran terus mengeluh lelah dan menatapnya penuh kekesalan.
"Manusia ajaib," gumam Alvin, melihat Imran mengedarkan pandangannya mencari para perempuan cantik dan mulai mendekatinya.
Alvin hanya bisa menahan malu, saat sikap asli Imran sudah kembali seperti dulu, yang ceplas-ceplos saat bicara dengan tingkat percaya diri di atas rata-rata.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di area CFD, Imran sudah mulai membeli berbagai jajanan yang dijual di pinggir jalan.
Namun, sesuatu yang dihindari oleh Alvin terjadi, ternyata di sana dia bertemu dengan Jani dan teman-temannya yang juga sedang berolahraga.
"Alvin, kamu juga di sini?" tanya Jani sambil menepuk pundak Alvin dari samping.
Alvin yang belum sadar keberadaan Jani, langsung menoleh sambil melangkah menjauh dari seseorang yang tiba-tiba saja mendekatinya.
"Jani?" ujar Alvin, dengan ekspresi wajah terkejutnya.
..................
__ADS_1