ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Perhatian


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


"Ada apa, Bang?" tanya Alvin, setelah mereka duduk berdua di depan kontrakan, wajah Alvin memang masih sedikit pucat, walau rasa pening di kepala sudah mulai reda.


"Ini, aku disuruh membawakan ini untukmu, dari Bu Nindi," jawab Gino sambil menaruh paper bag di atas meja.


Alvin melihat paper bag di atas meja, dia kemudian melihat kepada sopir pribadi dari istri bosnya itu.


"Apa ini, Bang?" tanya Alvin.


"Buka saja, aku juga tidak tau apa isinya. Tapi, tadi Bu Nindi berpesan kalau dia meminta maaf, karena tidak bisa menjenguk kamu," jawab Gino, mengingat pesan majikannya sebelum berangkat.


Alvin mengambilnya kemudian melihat isi di dalamnya, ternyata itu adalah kotak makanan. Alvin tersenyum tipis melihat perhatian dari keluarga bosnya yang sekarang. Dari semua orang kaya yang bertemu dengannya, sepertinya hanya keluarga Darmendra yang bisa membuatnya nyaman, dengan perlakuan mereka. Dan, mungkin menganggapnya sebagai manusia, bukan lagi budak yang hanya bisa diperlakukan seenaknya.


"Terima kasih, Bang. Maaf, aku merepotkan," ujar Alvin, kembali menyimpan paper bag itu di atas meja, dengan pandangan menuju pada Gino.


"Gak usah ngerasa gak enak gitu, aku sudah terbiasa disuruh begini sama Bu Nindi, dia memang sangat perhatian pada para pekerjanya. Makanya kami semua merasa betah bekerja di keluarga itu. Aku harap, kamu juga begitu," Gino sedikit bercerita tentang keramahan dan kehangatan keluarga itu pada semua pekerjanya, termasuk harapannya pada Alvin.


Setelah sekitar lima belas menit berbincang, Gino pamit. Kini tinggal Alvin yang duduk sendiri di depan rumah. Melihat sekitar kontrakan yang tampak sepi.


Begitulah suasana siang di kontrakan itu, terasa sepi karena kebanyakan penghuninya memang bekerja, dan yang tidak bekerja akan memilih untuk beristirahat di dalam rumah. Paling ada satu, dua orang yang menemani anaknya bermain di depan rumah.


"Assalamualaikum." Suara salam dari arah pintu gerbang membuat Alvin mengalihkan perhatiannya.


Alvin dibuat terkejut saat melihat ada seorang perempuan yang dia kenal sedang berjalan menuju ke arahnya.


"Nona Indira?" gumamnya sambil berdiri dengan wajah terkejutnya.


"Alvin, aku mencarimu ke kantor katanya kamu sedang tidak masuk, jadi aku mencoba datang ke sini. Ternyata benar kamu ada di sini," ujar Indira dengan hembusan napas kasar menyertainya, seolah dia sudah sangat lelah untuk mencari keberadaan Alvin.

__ADS_1


"Nona Indira ada apa mencari saya?" tanya Alvin saat mendengar ocehan mantan bos wanitanya itu.


Indira tampak melihat Alvin dengan sorot mata tidak terbaca, entah apa yang sedang wanita itu pikirkan saat ini. Alvin mengernyit saat melihat itu.


"Kamu gak suruh aku duduk dulu?" tanya Indira tiba-tiba.


"Hah?" Alvin sempat terkejut dengan reaksi dari wanita di hadapannya.


"Ah iya, silahkan duduk, Nona. Maaf tempatnya seperti ini," ujar Alvin sambil mengelap kursi untuk duduk Indira dengan tangannya.


"Tidak usah seperti itu, Vin," Indira menyingkirkan tangan Alvin kemudian duduk begitu saja.


Alvin menatap Indira dengan kening yang semakin bertaut, walau tidak lama kemudian dia kembali menetralkan raut wajahnya, kemudian duduk di kursi satunya lagi.


Kenapa siang ini aku banyak kedatangan tamu begini? batin Alvin yang tidak pernah mengira kalau Indira akan sampai datang ke rumahnya.


"Kalau boleh saya tau, ada perlu apa, Nona, mencari saya?" tanya Alvin dengan nada yang sangat berhati-hati.


"Aku sudah tau semuanya!" ujar Indira tiba-tiba, sambil menatap Alvin dengan tatapan yang berubah kecewa.


"Jadi kamu adalah anak dari tante Rengganis? Itu berarti kita adalah saudara? Iya, kan?" tanya Indira dengan wajah yang sumringah, dia menatap Alvin dengan pupil mata yang melebar seolah sangat senang dengan kabar itu.


Sementara itu, Alvin malah terlihat bingung dan sedikit waspada, dia refleks menegakkan tubuhnya dengan perubahan raut wajahnya yang terlihat lebih mengeras dari biasanya, walau tidak lama kemudian Alvin menghembuskan napas kasar dan berusaha untuk bersikap santai lagi.


"Apa maksud, Nona?" tanya Alvin seolah tidak mengerti dengan apa yang dia dengar.


Indira tampak terdiam, dia menatap Alvin dengan penuh selidik.


"Kamu gak tau? Bukannya kamu ke luar dari kantor karena masalah ini?" tanya Indira.


"Maaf, Nona. Tapi, sepertinya, Anda, salah faham. Saya ke luar dari kantor karena alasan lain, dan saya juga bukan saudara Anda," bantah Alvin langsung.

__ADS_1


Sungguh dia sudah tidak mau berurusan dengan keluarga itu lagi, walau mungkin sekarang dia juga sudah bisa menebak, dari mana Indira bisa tahu semua ini.


Setelah beberapa hari yang lalu Nyonya Hartari datang menemuinya dan dia menolaknya dengan terang-terangan, kini wanita itu menggunakan Indira yang tidak lain adalah mantan bosnya untuk menariknya masuk ke dalam konflik keluarga mereka.


"Maaf, Nona, saya sedang tidak enak badan, sepertinya lebih baik Anda pergi saja, karena saya ingin beristirahat," ujar Alvin tanpa basa basi.


"Tapi, Vin, kamu memang beneran saudara aku, kamu anaknya tante Rengganis. Kalung itu buktinya." Indira tampak menahan Alvin, dia kemudian menujuk kalung yang menggantung di leher Alvin.


Alvin terdiam, dia memegang kalung milik ibunya itu, kemudian kembali menatap wanita di sampingnya, dengan senyum tipis di wajahnya.


"Kalung seperti ini banyak di pasaran, Nona. Aku hanya iseng membelinya karena suka warna batunya." Alvin tersenyum sambil memberikan alasan.


"Sepertinya, Nona, sudah salah faham," sambung Alvin lagi dengan senyum di wajahnya.


Indira terdiam, dia menatap wajah Alvin dengan tatapan tidak terbaca, walau Alvin masih bisa melihat ada kekecewaan di sana.


"Lebih baik, Anda, pergi saja. Saya bukan orang yang, Nona, kira," ujar Alvin sambil berdiri di dari duduknya.


"Maafkan saya, Nona," ujar Alvin, sambil menganggukkan kepalanya kembali.


Alvin mengalihkan pandangannya, saat melihat mata Indira mulai memerah, menatapnya penuh dengan rasa kecewa.


"Aku kira kamu bisa jadi saudara aku, Vin. Ternyata kamu juga sama saja, tidak bisa aku jadikan sebagai suadara," ujar Indira sebelum melangkah pergi meninggalkan Alvin begitu saja.


Alvin terdiam, dia hanya melihat Indira yang berjalan gontai ke luar dari area kontrakannya dari ujung matanya. Setelah wanita itu tampak tidak terlihat lagi, Alvin menjatuhkan tubuhnya pada kursi dengan dengusan yang terdengar kasar.


Alvin membungkukkan tubuhnya sambil mengacak rambutnya, mencoba menghilangkan rasa tidak nyaman yang ada di dalam hatinya. Rasa pening di kepalanya yang awalnya sudah lebih baik, kini terasa berdenyut kembali, akibat kehadiran Indira.


"Vin? Ada apa? Tadi aku lihat ada wanita yang ke luar dari sini sambil menangis, apa itu ulah kamu?" Pak Umar yang baru saja datang tampak duduk di atas kursi bekas Indira.


Avin menyingkirkan tangan di kepalanya sambil kembali menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Pak–"


......................


__ADS_2