ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Geng Motor


__ADS_3

...Happy Reading ...


.................


Alvin baru saja pulang dari tempat kerjanya, kali ini Alvin harus naik angkot ke terminal terdekat, lalu beralih menggunakan merto mini, agar perjalanannya lebih cepat, mengingat waktu jam oprasional bis sudah lewat.


Suasana malam yang lengang membuat angkutan umum yang Alvin tumpangi melaju cepat menyusuri jalan raya.


Namun, saat mereka sedang berada di jalan yang sepi, tiba-tiba saja ada beberapa motor yang tiba-tiba menghadang laju angkot.


Mereka menghalangi seluruh badan jalan, hingga angkot yang Alvin tumpangi terpaksa berhenti. Beberapa orang penumpang yang ada di dalam tampak menggigil ketakutan melihat wajah seram para pengendara motor itu.


Alvin mengernyit, melihat semua orang tampak ketakutan, dia belum mengerti situasi yang akan terjadi beberapa saat lagi.


"Itu adalah geng motor kecoa terbang!" seru salah satu penumpang yang tau tentang geng motor itu.


(Otak otornya lagi agak konset liat level karya diturunin, jadi maafkan ketidak jelasan nama geng motornya ya😂)


Kecoa terbang? batin Alvin, hampir saja dia tergelak saat mendengar nama geng motor yang sangat lucu menurutnya.


Wajah sopir angkot itu langsung terlihat pucat pasi, mereka jelas tahu seberapa berbahayanya geng motor kecoa terbang itu.


Geng motor itu adalah penguasa kawasan jabodetabek. Kejahatannya tidak pernah pandang bulu, entah itu begal, curanmor, rampok, bahkan sampe jambret pun mereka lakukan, bahkan memalak dari tukang parkir jalanan dan para sopir pun, sudah menjadi program kerja mereka.


Targetnya adalah siap yang da di dekat mereka dan tampak menggiurkan untuk menjadi korban. Mereka tidak pernah melihat calon korbannya mempunyai uang atau tidak.


Sama seperti sifat kecoa yang sedang terbang, asal nemplok dan bikin panik orang, terus pergi lagi mencari mangsa yang lain. Itulah cara kerja geng kecoa terbang.


Mulai dari pasar sampai terminal, pun menjadi kawasan mereka, hingga tidak ada yang akan berani melawan jika geng kecoa terbang sudah datang.


Mereka sudah bagaikan raja dan para antek-anteknya, saat sedang berkunjung ke tempat kekuasaannya. Banyak preman yang yang mencari muka agar bisa masuk geng.


Para warga biasa juga tidak ada yang berani melawan, ataupun melaporkan mereka ke pihak berwajib. Mereka memilih tetap diam, daripada nanti akan menjadi senjata makan tuan untuk yang berani melawan.


Tinggal pilih, mau dimasukin ke penjara sebagai tumbal, atau ke rumah sakit sebagai bahan bersenang-senang mereka.


Semua itu cukup menakutkan bagi para warga sipil yang tidak mempunyai kekuatan seperti Alvin dan para penumpang angkot saat ini.


Alvin melihat beberapa orang tampak turun dari motornya, masing-masing dari mereka membawa senjata tajam di tangannya.


"Ada apa ini?" gumam Alvin pelan. Selama dia bekerja dan selalu pulang malam, ini baru pertama kalinya dia mengalami kejadian seperti ini.


Alvin belum mengetahui apa yang akan terjadi beberapa saat lagi, dia sama sekali tidak mengenal bahkan belum pernah mendengar nama geng motor kecoa terbang.


"Heh, keluar Lo semua!" teriak salah satu laki-laki dengan tato memenuhi seluruh tangannya.


Dia mengacungkan belati yang cukup besar, untuk menakuti para penumpang dan sopir angkot itu.

__ADS_1


Semuanya tampak ke luar dengan langkah sepoyongan, menahan rasa takut yang seakan membuat kaki mereka tidak menapak.


Alvin yang duduk di pojokan menjadi yang turun paling terahir. Dia tampak memperhatikan para anggota geng kecoa terbang itu.


Ada sekitar dua belas orang yang kini sedang mengelilingi Alvin dan penumpang yang lainnya, tatapan mereka begitu mengintimidasi, membuat nyali semua orang langsung jatuh ke dasar.


Namun, tidak untuk Alvin. Dia malah menatap balik setiap wajah anggota geng motor di depannya. Dia tidak suka suasana lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa seperti ini.


"Ampun, Bang. Kami cuman orang kecil, tolong jangan bunuh kami," lirih sopir angkot itu sambil menagkupkan kedua tangannya di atas kepala.


Dia berlutut di depan semua anggota geng motor, memohon ampunan agar mereka bisa selamat.


Alvin tidak suka melihat semua itu, lagi-lagi penindasan pada orang kecil yang hanya sedang mencari nafkah untuk keluarganya. Dia mengepalkan kedua tangannya begitu erat, menahan gejolak rasa marah dan geram di dalam dirinya.


Dasar manusia tidak berguna! Benalu masyarakat! umpat Alvin di dalam hati.


"Geledah mereka semua, ambil semua duitnya!" ujar pria yang tidak memiliki rambut.


"Ampun, Bang. Aku gak punya uang," ujar laki-laki berkacamata, sepertinya dia pekerja kantoran, terlihat dari gaya pakaiannya yang rapi.


"Gak usah drama, Lo! Serahin duit, Lo, cepetan!" sentak laki-laki yang memiliki postur tubuh pendek dan kecil.


"Ampun, Bang!"


Hampir semua orang kini tengah memohon ampunan dari para geng kecoa terbang. Mereka semua takut akan kehilangan harta dan nyawanya.


"Heh, Lo!" Laki-laki botak itu mendekati Alvin yang belum tersentuh sama sekali.


"Aku?" tanya Alvin, sambil menunjuk dadanya sendiri, seakan tidak tau situasi yang sedang dia hadapi.


Dia tahu, kalau dirinya tidak akan bisa menang kalau melawan para anggota geng motor itu. Akan tetapi, dia juga tidak bisa hanya diam saja melihat penindasan dan perampokan di depan mata.


"Iya, Lo! Siapa lagi?!" sentak pria botak itu, menunjuk tepat wajah Alvin, dengan satu tangan berkecak pinggang.


Ayo, Alvin, berfikir. Bagaimana cara membuat mereka mundur tampak harus melawan dengan kekerasan! batin Alvin.


"Serahin duit, Lo, sekarang!" sentak si botak.


"Aku gak punya uang, Bang," jawab Alvin. Untung saja dia tidak pernah membawa uang banyak saat ke luar rumah. Hingga saat unjuk di dompetnya hanya tersisa uang dua puluh ribu, itu juga sisa karena tadi siang tidak membeli makan.


"Gak usah, bohong! Muka, Lo, gak pantes bilang gak punya duit!" sinis si botak. Dia melihat penampilan Alvin yang lumayan rapih, dan berbeda dari yang lainnya.


Postur tubuh Alvin yang tinggi dan tegap, membuat mereka mengira kalau Alvin bukanlah orang dari kalangan bawah.


Alvin terus mengulur waktu, dia berpikir bagaimana caranya agar bisa membuat mereka tidak melakukan kekerasan. Akan tetapi, bukan dengan sebuah pertarungan.


Dia tiba-tiba saja, mendapatkan rencana yang mungkin akan sangat memalukan. Akan tetapi, dia yakin dengan melakukan itu setidaknya bisa mengulur waktu sampai ada bantuan.

__ADS_1


Semoga saja mereka masih normal, batin Alvin.


"Idih, si abang botak, gak percaya sama aku, hem?" Alvin merubah gaya bicaranya menjadi sedikit melambai, ujung jarinya menyentuh lembut dada si botak.


Dalam hati Alvin mengumpat, merasa jijik kepada dirinya sendiri. Akan tetapi, demi menyelamatkan orang-orang tidak bersalah dari kejahatan geng kecoa terbang itu, dia rela melakukan apa saja.


Jijik banget, aku harus ngelakuin ini! umpat Alvin.


Si botak langsung melangkah mundur, dengan tubuh bergidik ngeri dan wajah jijik.


"Buset, tampang ganteng, badan lumayan, ternyata melambai," ujar si botak, melirik para teman-temannya.


"Idih, Abang botak, kok ngejauh sih?" Alvin malah berusaha mendekat kembali.


Cih, aku juga merasa terminal berbuat gini, Bang! batin Alvin.


Kini Alvin menjadi bahan perhatian, karena menjadi laki-laki yang menggoda laki-laki lainnya.


"Awas, Lo! Jauh-jauh dari gue!" Si botak mendorong tubuh Alvin agar menjauh, hingga Alvin terhuyung ke belakang, walau tidak sampai terjatuh.


Melihat tatapan jijik dari para anggota geng kecoa terbang membuat Alvin tertawa dalam hati.


Baguslah, mereka masih normal. Jadi aku akan aman, batin Alvin.


Alvin tidak bisa membayangkan kalau salah satu dari mereka ada yang suka padanya. Uh, memikirkannya saja sudah membuatnya mau muntah.


"Loh kenapa, Bang? Aku rela loh Abang bawa, kita nikmati malam ini bersama. Gratis," ujar Alvin sambil mengedipkan salah satu matanya, hingga semakin membuat para laki-laki itu bergidik.


"Ogah gue main sama lobang t*i! Gini-gini gue juga masih normal!" ujar si botak.


"Heh! Lo, ngapain malah pada liatin gue? Cepetan bawa duit mereka semua, gue udah jijik liat benc*ng comber*n di sini!" sentak si botak pada semua anak buahnya.


Sepertinya malam ini dia adalah ketua pelaksana yang memimpin oprasi nyari korban.


Semua anak buahnya tampak terperanjat mendengar sentakan dari si botak, mereka langsung melanjutkan pekerjaannya, memeriksa semua orang, mencari uang yang tersembunyi di tubuh para korban.


Alvin sudah tidak ada cara lain lagi untuk mengulur waktu, dia sudah kehabisan ide untuk mengulur waktu lagi.


Saat Alvin berpikir keras, tiba-tiba dari arah depan datang beberapa mobil yang berhenti tepat di depan mereka semua.


Alvin dan semua orang tampak menutup matanya, saat sorot lampu dari mobil menyilaukan mata.


Alvin melihat seorang laki-laki turun dari pintu mobil, dia bernapas lega saat melihat wajahnya.


Akhirnya mereka datang juga, batin Alvin.


Dia memanfaatkan keterkejutan para anggota geng kecoa terbang, untuk menghampiri orang yang baru ke luar dari dalam mobil.

__ADS_1


...................


Nah, siapa ya yang datang? coba tebak🤭


__ADS_2