
...Happy Reading ...
......................
Seperti biasa, Alvin memarkirkan mobilnya di lapangan yang langsung disambut oleh riuh anak-anak yang sedang bermain.
"Maaf ya, aku gak bisa bawa mobil ke depan kotrakan, jadi kita jalan sebentar," ujar Alvin sambil membuka sabuk pengaman di tubuhnya.
Jani tersenyum, dia kemudian mengedarkan pandangannya ke luar mobil, yang terlihat banyak terlihat anak-anak berkerumun.
"Kamu selalu seperti ini setiap pulang kerja?" tanya Jani, tanpa perduli dengan ucapan Alvin sebelumnya.
Alvin ikut memperhatikan ke luar mobilnya, dia tersenyum tipis kemudian mengangguk. "Heem."
"Seru ya," ujar Indira kemudian melepaskan sabuk pengaman dan ke luar begitu saja.
Alvin lebih dulu mengambil kantong plastik yang sudah dia siapkan sebelumnya di kursi belakang, kemudian menyusul Jani ke luar.
"Bang Alvin!" Teriakan riuh terdengar dari anak-anak yang menghampirinya.
Alvin tersenyum, kemudian memberikan kantong plastik di tangannya pada mereka. "Bagi-bagi, ya."
"Makasih, Bang!" seru mereka bersama-sama sambil menerima kantong plastik berisi berbagai macam snack dari Alvin.
Alvin tersenyum sambil mengacak rambut anak laki-laki yang paling kecil di depannya, kemudian mengangguk sebagai jawaban.
"Yee, dapat jajanan dari Bang Alvin!" sorak sorai terdengar dari para anak-anak yang kini mulai berjalan menjauh dari Alvin dan Jani.
"Apa itu?" tanya Jani setelah keduanya kembali berdampingan.
"Hanya makanan ringan. Sudah terbiasa," jawab Alvin. Keduanya pun berjalan beriringan menuju ke kontrakan.
"Kamu masih tingal di sini? Aku kira kamu sudah pindah," tanya Jani sambil sambil mengedarkan pandangannya, melihat pemandangan sekitar.
Banyak warga yang berusaha menyapa keduanya, bahkan ada yang terang-terangan menggoda Alvin, yang tampak berjalan bersama Jani.
Pemandangan yang sangat jarang terjadi pada Alvin yang selama ini tidak pernah memiliki hubungan dengan perempuan.
Alvin hanya menanggapinya dengan santai, kadang dia juga membalas candaan itu dengan candaan lainnya, hingga membuat Jani tersenyum dengan pipi yang memerah.
Tidak lama berjalan bersama, keduanya mulai memasuki rumah konrakan, Jani bisa langsung melihat seorang perempuan yang sedang duduk di depan rumah Alvin dan Mang Lukman.
Alvin sudah menceritakan semuanya tentang dirinya dan Indira di perjalanan, walau ada beberapa masalah yang Alvin lewatkan.
"Assalamualaikum," ujar Alvin begitu mereka sampai.
__ADS_1
Indira tampak tersenyum melihat kedatangan Alvin, walau akhirnya dia mengernyit saat melihat ada perempuan di sampingnya.
"Waalaikumsalam. Udah pulang, Vin?" tanya Indira sambil beranjak berdiri.
Alvin mengangguk.
"Perekenalkan, ini Jani, teman kuliahku," ujar Alvin sambil melihat Jani yang ada di sampingnya.
Indira tersenyum kemudian memperkenakan dirinya sambil mengulurkan tangan, yang langsung disambut oleh Jani.
"Kalian ngobrol dulu saja, aku ke dalam dulu," ujar Alvin setelah Inidra dan Jani terlihat sudah saling mengenal.
Inidra pun mempersilahkan Jani untuk duduk di sampingnya. Dia tersenyum sumringah karena akhirnya ada perempuan yang bisa dia ajak bicara.
"Kamu pacarnya Alvin, ya?" tuding Indira langsung.
"Hah?" Jani melebarkan matanya, terkejut.
"Bukan, Mba. Aku hanya teman kuliahnya," geleng Jani kemudian.
Indira memicingkan matanya, melihat Jani penuh selidik. "Alvin itu orangnya tertutup. Aku gak nyangka dia bisa punya teman perempuan."
Jani mengangguk sambil tersenyum. "Iya, sejak kuliah dia juga sudah tertutup, mungkin temannya hanya bisa dihitung pakai jari."
"Berarti kamu hebat, karena bisa berteman dengannya," ujar Indira tiba-tiba.
"Martabak tuh spesial." Suara Alvin yang tiba-tiba datang sambil membawa air putih mengejutkan keduanya.
"Eh, ngapain sih pake ikut-ikutan sama obrolan perempuan?" decak Indira, menatap malas Alvin.
"Cuman mau kasih air saja," ujar Alvin sambil menyodorkan air putih pda Jani.
Indira melihat interaksi keduanya, dia jelas melihat kalau di mata Jani dan Alvin ada sesuatu yang belum selesai.
"Buat dia aja? Buat aku mana?" Indira menengadahkan tangannya.
"Ambil saja sendiri," jawab Alvin.
"Ck!" Indira hanya berdecak, walau ada senyum tertahan di bibirnya. Dia begitu senang saat Alvin sudah tidak bersikap formal lagi padanya.
Alvin kembali masuk ke dalam untuk membersihkan diri, meninggalkan Jani dan Indira yang mulai bercerita, hingga perlahan mereka mulai dekat.
Sikap Indira yang ternyata cukup ramah jika di kehidupan biasa, mampu mengimbangi Jani yang sedikit manja dan tidak terlalu banyak berbicara.
Jani pun menceritakan tentang dirinya dan Alvin, hingga rencana Alvin untuk menitipkan Indira padanya.
__ADS_1
"Maaf ya, aku jadi ngerepotin kamu," ujar Indira, merasa tidak enak.
Jani menggeleng, dia sama selain tidak merasa direpotkan oleh Alvin dan Indira.
"Sebenarnya keluargaku tidak terlalu menyukai Alvin, jadi nanti di rumah jangan sampai menyebutkan namanya ya, Kak," bisik Jani dengan suara kecil dan rasa tidak enak di dalam hati.
Walau begitu, semua itu memang harus dikatakan, mengingat nanti Indira akan ikut pulang ke rumahnya.
Indira tampak mengernyit merasa heran dengan ucapan Jani. "Masih ada orang yang tidak suka pada Alvin? Ck, ck, ck ...."
Jani menunduk, dia juga tak habis pikir dengan kakaknya yang seolah terus menabuh genderang perang pada kehadiran Alvin, padahal mereka tahu kalau Alvin masih begitu bertahta di dalam hatinya.
"Aku juga berharap mereka bisa menerima Alvin," lirih Jani.
Setelah Alvin selesai bersiap dan memastikan tidak ada anak buah Pak Mardo di sekitar kontrakan, mereka bertiga pun ke luar bersamaan. Alvin harus mengantar Jani dan Indira ke rumah Jani.
"Kalian udah lama saling kenal?" tanya Indira memecah keheningan di dalam mobil.
"Sejak Alvin datang ke Jakarta. Kami tidak sengaja naik bis yang sama," jawab Jani, mengingat awal pertemuannya dengan Alvin.
"Wah, berarti lama banget dong ya? Kalian awet juga jadi teman ... gak mau ganti status baru apa?" Indira memancing reaksi dua orang lainnya.
Alvin tampak menegang, walau bibirnya tidak berkata apa pun, sedangkan Jani malah melihat Alvin dengan tatapan penuh harap.
Indira tersenyum melihat reaksi keduanya, dia bisa menebak kalau di hati Jani dan Alvin, ada rasa yang masih terpendam dan menunggu untuk diungkapkan.
Ternyata ini sebabnya, Alvin terlihat selalu menghindar dari perempuan? Hatinya sudah menargetkan seseorang hingga tidak bisa berpaling, batin Indira sambil menganggukkan kepala samar.
Berbagai rencana untuk mempersatukan Alvin dan Jani pun mulai tercipta di otak cerdasnya. Sejenak dia bisa melupakan masalah yang sedang mendera, saat melihat kasih sayang terpendam di depan mata.
"Sampai sini saja, Vin," ujar Jani, begitu mereka sampai di depan gerbang rumah Jani.
Namun, sepertinya Alvin tidak mendengarkan, dia malah menekan klakson hingga penjaga gerbang menghampirinya, mengingat mobilnya terasa asing.
"Saya mengantar Jani," jawab Alvin begitu penjaga gerbang sampai di samping mobilnya.
"Eh, Nak Alvin, lama gak kelihatan. Silahkan masuk!" ujar penjaga gerbang itu sambil menekan remot di tangannya, hingga gerbang terbuka secara otomatis.
"Vin, kamu ngapain sih pake masuk segala, kalau ada Kak Arkan dan Anji gimana?" Jani tampak protes dengan nada khawatir, kejadian beberapa tahun yang lalu masih membekas di ingatan, di mana dia melihat Alvin dipukuli habis-habisan hingga tidak sadarkan diri oleh kedua kakaknya.
"Gak apa, ini lebih baik dari pada menurunkan kamu di depan gerbang," jawab Alvin santai.
Jani tidak menjawab lagi, dia hanya menghembuskan napas pelan sambil mengedarkan penglihatannya, berharap kedua kakaknya belum pulang.
Namun, sepertinya semua harapannya harus langsung terpatahkan, begitu dia melihat dua kendaraan yang menyusul di belakang mobil Alvin.
__ADS_1
Aduh, bagaimana ini?
......................