
...Happy Reading ...
......................
Dalam perjalanan Alvin memberi kabar pada Ezra kalau hari ini dia izin tidak masuk kerja karena ada urusan yang mendesak.
Seakan tahu yang sedang terjadi atau mungkin berubah menjadi pengertian, bos posesifnya itu langsung mengizinkannya, tanpa banyak bertanya.
"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Alvin setelah sambungan telepon pada bosnya terputus.
"Kita langsung ke rumahnya," jawab Pak Umar sambil terus fokus menyetir.
Alvin hanya mengangguk, dia sama sekali tidak memiliki petunjuk, ke mana mereka membawa ibunya sekarang.
Beberapa saat kemudian Pak Umar sudah berhasil memarkirkan mobilnya di depan rumah Pak Mardo.
Gerbang tinggi dengan penjagaan ketat membuat mereka harus memeras otak agar bisa masuk ke dalam tanpa hambatan.
"Aku coba turun," ujar Pak Umar sambil membuka pintu kemudian berlalu.
Alvin memperhatikan, dia bisa melihat kalau Pak Umar tampak berbincang dengan salah satu penjaga, hingga akhirnya laki-laki tua itu berjalan kembali padanya.
"Aku bisa masuk. Tapi, sepertinya kamu harus menunggu di sini, karena mereka pasti sudah tahu wajah kamu," ujar Pak Umar sambil duduk di sampingnya.
"Tapi, Pak--" Alvin tampak ragu, terlihat sekali raut cemas di wajahnya.
"Aku akan baik-baik saja," jawab Pak Umar menenangkan Alvin.
"Pak Mardo bahkan lebih tau Bapak. Aku tidak akan mengizinkan Bapak masuk! Ini bisa saja sebuah jebakan." Alvin masih tidak mau mengizinkan Pak Umar masuk ke rumah itu.
"Kamu tau kan kalau aku adalah mantan anggota mafia? Jadi percaya padaku, aku bisa menjaga diriku sindiri!" ujar Pak Umar, masih peraya diri.
"Aku tau. Dan, aku tau kalau Bapak juga sudah tua! Jadi jangan buat aku khawatir dengan pergi ke dalam sendiri!" Alvin tetap kukuh dalam pendiriannya.
Rasa takut kehilangan kini tengah menyelimuti hati Alvin, dirinya memang sangat menkhawatirkan ibunya. Akan tetapi, Alvin juga tidak mau bodoh untuk menyerahkan Pak Umar pada seseorang yang kejam seperti Pak Mardo.
"Ck! Walaupun umurku sudah tua, tapi aku masih bisa menjaga diri, bahkan menjaga kamu saja aku masih bisa," decak Pak Umar saat Alvin sudah mengeluarkan keras kepalanya.
"Aku tau, Pak. Tapi, tidak untuk masuk ke sarang musuh. Lebih baik, kita cari cara lain saja." Alvin tetap menolak.
__ADS_1
"Lebih baik kita pergi saja, kita cari cara lain," sambung Alvin lagi.
Pak Umar tampak menghembuskan napas kasar. "Susah memang kalau berbicara dengan anak muda jaman sekarang."
Alvin tersenyum tipis mendengar gerutuan dari orang yang sudah dianggap menjadi tetuanya itu.
"Sudahlah, kalau Bapak gak mau pergi, lebih baik aku saja yang menyetir!" ujar Alvin hendak ke luar dari mobil.
"Tidak usah, biar aku yang menyetir," tolak Pak Umar yang akhirnya mau melajukan mobi dan ke luar dari area rumah Pak Mardo.
Baru saja mereka pergi selama lima menit dari rumah itu, tiba-tiba ada pesan masuk pada ponselnya.
Alvin mengernyit, saat itu adalah sebuah file video dari nomor asing. Perlahan dia memutar video berdurasi beberapa detik itu.
Alvin mengepalkan tangannya erat, begitu melihat itu adalah ibunya yang di ikat di atas sebuah kursi.
Satu lagi yang membuat hatinya teriris. Ganis tampak sedang mengamuk hingga akhirnya kursi itu jatuh dan mengakibatkan tubuh Ganis berguling ke lantai.
"Brengsek!" umpat Alvin. Kata-kata yang jarang sekali ke luar dari mulut laki-laki itu.
Pak Umar yang melihat gelagat aneh dari Alvin meliriknya dengan kening berkerut dalam.
Alvin menoleh, dia ingin membuka mulut untuk menjawab, saat tiba-tiba ponselnya kembali berdering, dan menunjukan nomor yang sama.
Alvin memperlihatkan layar ponselnya pada Pak Umar.
"Angkat dan gunanakan pengeras suara, jangan lupa rekam juga percakapan kalian!" titah Pak Umar sambil berhenti di bahu jalan.
Laki-lak tua itu seakan tahu kalau telepon itu berasal dari pihak Pak Mardo.
Alvin mengangguk, kemudian mengangkat telepon itu, walau dalam hatinya sempat merasa ragu, dia melakukan semua yang Pak Umar perintahkan.
"Bagiamana, Vin? Aku menjaga ibumu dengan baik, kan? Hahaha!" Suara seorang laki-laki langsung terdengar begitu Alvin mengangkat teleponnya.
Alvin dan Pak Umar saling menatap, itu bukan suara Pak Mardo.
"Siapa kamu?" tanya Alvin.
"Hahaha! Kalau kamu mau ibu gilamu itu selamat, datang sediri ke alamat yang aku berikan," ujar laki-laki itu, kemudian telepon terputus begitu saja.
__ADS_1
Setelah itu pesan masuk bertuliskan sebuah alamat pun terlihat. Setelah Alvin membacanya, dia langsung ke luar dari mobil, kemudian membuka pintu kemudi.
"Maaf, Pak. Aku harus menyelamatkan ibuku," ujar Alvin, setengah mengusir Pak Umar dari mobilnya.
"Tidak! Kita ke sana bersama," tegas Pak Umar.
"Pak, aku mohon. Ibuku pasti sangat ketakutan di sana. Dia belum bisa bertemu dengan orang baru!" Mata Alvin memerah, dia begitu memohon pada Pak Umar agar mengizinkannya untuk pergi sendiri.
"Terus, kamu mau mengantarkan nyawa kamu, Vin? Yang mereka incar itu bukan ibumu, tapi kamu, Vin! Jadi jangan bertindak gegabah!" Pak Umar berkata tegas dengan tekanan di hampir setiap katanya.
"Baiklah ... kalau Bapak tidak mau ke luar, biar aku cari cara lain untuk datang ke sana sendiri!" ujar Alvin, kemudian berlari ke sisi jalan untuk menyetop taksi yang kebetulan lewat di saat yang pas.
Pak Umar yang terkejut dengan keputusan Alvin langsung ke luar untuk mencegah Alvin. Akan tetapi, dia sudah terlambat karena Alvin sudah masuk taksi dan melesat begitu saja meninggalkannya.
"Sial! Dasar keras kepala!" umpat Pak Umar langsung kembali ke mobil Alvin dan mengejarnya, sambil berusaha menghubungi seseorang.
"Max, apa kamu sudah mendapatkan lokasinya?" tanya Pak Mardo pada seseorang di ujung telepon.
Sesaat hening, Pak Umar tampak sedang mendengarkan jawaban dari seseorang di sana.
"Alvin sudah tau lokasinya dan dia nekat datang sendiri. Sekarang aku sedang mengawasinya!" ujar Pak Umar seolah sedang melaporkan yang terjadi di sekitarnya.
"Aku menuju arah pinggir kota," jawab Pak Umar lagi.
.
Taksi yang ditumpangi Alvin berhenti di sebuah padang ilalang yang tumbuh tinggi di pinggir kota. Alvin melihat sekitar sebelum turun dari mobil.
"Terima kasih, Pak," ujarnya sambil memberikan uang cash pada sopir.
Dia berdiri di pinggir jalan sambil terus mengedarkan pandangannya, hingga sebuah notifikasi pesan kembali terdengar di ponselnya.
[Berjalan lurus ke arah barat daya]
Alvin mengernyit, dia melihat matahari agar bisa melihat arah yang harus dituju. Perlahan kakinya melangkah, menyusuri padang ilalang yang tampak tinggi.
Langkahnya begitu waspada dengan setiap indra bergerak aktif. Telinga mendengar dengan tajam, kulit merasakan dan mata melihat sekitar dengan begitu teliti. Hidung pun bahkan aktif mengenali bau yang ada di sekitarnya.
Beberapa menit berjalan dia menemui sebuah gedung terbengkalai, sepertinya ini adalah area pembangunan yang gagal dan akhirnya terbengkalai.
__ADS_1
......................