
...Happy Reading ...
......................
Suara sirine mobil ambulans terdengar begitu nyaring di telinga. Alvin duduk di dalam mobil pengangkut jenazah dengan jasad sang ibu yang sudah siap di dalam keranda.
Kepalan tangan tampak menempel di bibir, dengan mata yang memerah dan tatapan kosong. Alvin masih belum bisa menerima kenyataan yang begitu menyakitkan ini.
Pak Umar dan Anjani ada di sampingnya, berusaha memberi kekutan untuk laki-laki yang kini sedang sangat terpuruk itu. Beberapa mobil dan motor pun terlihat ikut mengiring di belakang mobil jenazah.
Beberapa waktu menyusuri jalanan yang cukup padat, mobil dengan dominasi warna putih yang khas akhirnya berhenti di lokasi pemakaman. Begitu pintu di buka, Pak Umar ke luar lebih dulu, disusul oleh Alvin dan Jani di belakangnya.
Dengan langkah yang terlihat sedikit tertatih, Pak Mardo tampak mendekat. Wajah sangat kusut dengan mata dan hidung yang masih merah bekas tangis terlihat jelas di wajahnya.
"Tolong izinkan aku mengantarkan adikku untuk yang terakhir kalinya," ujar Pak Mardo pada Alvin. Suaranya terdengar parau dengan kepala sedikit menunduk, malu bertatap muka langusng dengan Alvin.
Alvin mengepalkan tangannya saat melihat wajah Pak Mardo berdiri di depannya, ingin sekali dia memukulnya hingga laki-laki yang merupakan pamannya itu sekarat, sama seperti ibunya.
Jani yang berada di belakang Alvin, maju selangkah kemudian mengelus genggaman tangan Alvin, agar laki-laki itu tidak terbawa oleh emosi.
Alvin menoleh menatap wajah Jani dengan mata yang dipenuhi emosi, perlahan dia mulai tersadar dari amarahnya. Menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan, wajah Alvin yang tadinya merah padam kini mulai terlihat kembali seperti biasa.
Jani menghembuskan napas lega akan semua itu, perlahan dia melepaskan tangan Alvin kemudian kembali mundur, untuk memberi ruang bagi Alvin.
Alvin bersyukur karena ada Jani yang selalu menemaninya di dalam situasi tersulitnya. Dia kemudian kembali menatap Pak Mardo yang sedang melihatnya penuh harap. Menunggu jawaban Alvin.
"Itu memang tugasmu, sebagai seorang kakak. Aku tidak memiliki hak untuk melarangmu," jawab Alvin dengan suara dingin, dia bahkan tampak malas untuk melihat wajah Pak Mardo. Alvin kemudian bersiap untuk mengeluarkan keranda tempat jenazah di mana jasad ibunya berada, lalu mengangkatnya bersama dengan Pak Mardo di sampingnya.
Semua orang yang menyaksikan itu menghembuskan napas lega, setelah beberapa saat lalu ikut tegang karena takut Alvin tidak bisa mengatur emosinya pada Pak Mardo. Namun, ternyata kehadiran Jani bisa meredam emosi Alvin.
Langit berselimut awan kelabu tampak menjadi saksi, untuk setiap langkah Alvin dalam mengantarkan kepergian sang ibu yang begitu dia sayangi. Laki-laki itu tampak tegar dan begitu gagah dengan keranda di pundaknya, melangkah menyusuri gang di pemakaman itu, demi membawa jenazah ibunya menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Sekuat tenaga, Alvin menekan rasa sakit di dalam dada, walau di setiap langkahnya, kilasan masa-masa bersama dengan sang ibu terus berputar di ingatan, bagaikan sebuah film.
__ADS_1
Senyuman Ganis saat menyambut kedatangan sang suami yang baru pulang bekerja, terlihat begitu menenangkan dan tulus. Tawa Ganis ketika bermain bersama Alin, terasa begitu nyata hingga rasanya kini Alvin bisa mendengarnya.
Kelembutan Ganis saat memberi nasihat padanya dan Alin yang terkadang bertengkar, dan kesabarannya dalam menghadapinya saat berulah dan nakal — semuanya kini hanya menjadi sebuah kenangan yang tidak akan bisa dia ulang kembali.
Tidak ada lagi harapan yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya. Syurganya kini memilih pergi menyusul Bapak dan Alin yang sudah meninggalkannya lebih dulu. Membawa kepedihan yang kembali berulang rasakan untuk kesekian kalinya. Dia sama sekali tidak terbiasa dengan perpisahan, walau beberapa kali sempat dia alami.
Tidak ada manusia yang bisa terbiasa dengan sebuah kehilangan orang yang begitu disayang. Begitu juga dengan Alvin. Dia juga tetap merasa tidak siap menerima kepergian Ganis.
Alvin melompat menuju liang lahat bersama dengan Pak Mardo, untuk menerima jasad Ganis dan membaringkannya di tempat peristirahatan terakhirnya. Mengantarkan Ganis pada dunia yang berbeda.
Tegar – mungkin itu yang kini terlihat bagi para pelayat yang mengantarkan kepergian Ganis, walau sebenarnya Alvin berulang kali harus menahan kakinya yang terasa goyah untuk terus berdiri kokoh demi ibunya.
Selamat jalan, Mah. Sekarang Mama pasti senang karena sudah bisa berkumpul kembali dengan Bapak dan Alin. Alvin ikhlas dan ikut bahagia untuk itu. Di sini Alvin akan terus berdoa, agar Mama, Bapak, dan Alin, ditempatkan di tempat terbaik dan bahagia di sana, batin Alvin saat menempatkan jasad tak bernyawa itu di atas tanah yang terasa lebab.
Alvin mungkin bisa berkata jika dirinya ikhlas, walau entah sampai kapan ucapan itu bisa dia lakukan, karena jika boleh jujur, sampai saat ini pun dia masih belum bisa menerima kepergian Ganis.
Berulang kali Alvin harus mengatur napas agar tidak meneteskan air mata saat dia mengumandangkan adzan terakhir untuk Ganis, dengan suara yang bergetar.
Tidak sedikit pelayat yang meneteskan air mata saat melihat betapa tegarnya Alvin dalam menghadapi kepergian Ganis, terutama para pekerja di rumah sakit tempat ibunya di rawat selama bertahun-tahun. Mereka tampak terisak, ikut merasakan kehilangan yang Alvin rasakan.
Kidung doa terangkai indah, mengalun menutup rangkaian proses pemakaman Ganis hari itu, hingga suara pelayat menjawab dengan kata Amin pun terdengar mengiringi hati Alvin yang berusaha mengikhlaskan kepergian surganya.
Satu per satu pelayat mulai meninggalkan pemakaman, dengan ucapan kata sabar dan tabah terus mengalir yang bahkan terasa bagaikan sebuah angin lalu untuk Alvin. Kini di sana hanya tinggal Alvin, Jani, Pak umar, dan Anji.
Alvin masih tampak bersimpuh di samping nisan sang ibu. Dia seakan masih enggan untuk beranjak meninggalkan tempat itu. Pak Umar dan Anji memutuskan untuk menunggu di parkiran saat hujan tampak turun semakin lebat.
Jani berdiri di belakang Alvin, dia dengan setia memayungi laki-laki yang kini tengah meratapi kepergian surganya itu. Setelah setengah jam berlalu, Jani akhirnya berlutut di samping Alvin, perlahan tangannya terulur menggenggam lengan Alvin yang tampak kotor karena tanah makam.
Tepat di samping makam Ganis, terdapat makam Bapak dan Alin yang sudah lebih dulu berpulang beberapa tahun lalu.
"Sudah cukup, kamu harus istirahat, Vin. Ibumu pasti akan sedih jika melihat kamu terus terpuruk seperti ini," ujar Jani dengan suara lirih.
Alvin menoleh dengan air mata yang kembali menetes tak tertahan. Dia sama sekali tidak perduli dengan harga dirinya sebagai seorang laki-laki, Alvin hanya sedang ingin menumpahkan rasa sedihnya.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana sekarang, Jani? Aku kehilangan tujuan hidupku — surgaku telah pergi meninggalkan aku, dia memilih bersama dengan Bapak dan Alin, dibandingkan bertahan di sini denganku," ujar Alvin bagaikan seorang anak kecil yang tengah kebingungan dan tersesat akibat kehilangan ibunya.
Jani melepaskan payung yang sejak tadi dia gunakan untuk menghalangi air hujan dari tubuh keduanya, dia tangkupkan kedua tangannya di pipi Alvin agar laki-laki itu menatap matanya.
Jani membiarkan tubuh keduanya basah oleh rintik hujan yang semakin lebat, dia tidak mau jika sampai Alvin terus terpuruk karena kehilangan ibunya. Dia tidak akan sanggup untuk melihatnya.
"Ini adalah takdir, Vin. Setiap manusia memiliki waktunya masing-masing, dan sekarang waktu ibumu di dunia sudah habis. Tidak ada satupun manusia yang bisa menolak jika Allah sudah memanggilnya untuk kembali, begitu juga dengan bapak, adik, dan ibumu. Mereka tidak bisa menolak takdir yang sudah digariskan sang Maha Pencinta."
Perlahan Jani mengelus punggung kokoh yang kini tampak sedikit membungkuk dan bergetar hebat. Jani biarkan air mata Alvin menyatu dengan air hujan yang terasa semakin deras menerpa keduanya.
"Aku tau kamu sedih — kamu sedang kecewa pada takdir. Tapi, kamu harus ingat, jika rencana Allah adalah sebaik-baiknya rencana. Allah sedang menguji keimanan kamu, agar kamu bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi, dan Dia juga percaya kalau kamu bisa melewati semua ini."
Jani berkata dengan suara yang lantang, wanita itu tengah menyadarkan Alvin dan berusaha membawa jiwa laki-laki itu dari gelapnya lembah kesedihan.
"Tapi, aku sekarang sendiri, Jani — aku sendiri!" Mulut bergetar itu masih bisa berkata lirih.
Jani menggeleng.
"Kamu tidak sendiri, Alvin. Ada aku di sini, ada Pak Umar, Mang Lukman, Pak Ezra, dan banyak lagi orang yang peduli padamu, Vin!"
Jani memberanikan diri meraih tubuh Alvin, dia memeluk laki-laki yang tengah terpuruk itu untuk menenangkannya. Entah karena sedang tidak sadar pada keadaan, Alvin sama sekali tidak menolak, laki-laki yang selama ini menjaga sekali bersentuhan fisik dengan perempuan kini tampak pasrah berada di dalam pelukan Jani.
Untuk pertama kalinya, dia menumpahkan tangisnya di depan perempuan lain, selain ibunya. Untuk pertama kalinya juga Alvin berada di dalam dekapan perempuan selain ibu dan neneknya.
"Aku di sini, aku akan selalu ada di sisimu apa pun yang terjadi," ujar lirih Jani sambil terus menepuk punggung bergetar Alvin.
Jani berusaha tetap tegar, walau hatinya ikut merasa sakit saat melihat laki-laki yang selalu tegar dan kuat itu, kini tampak lemah dan tidak berdaya.
Untuk sesaat Jani membiarkan Alvin untuk menumpahkan kesedihannya di dalam pelukannya, tanpa terasa tubuh keduanya kini sudah basah kuyup oleh air hujan. Anji yang hendak menyusul adiknya karena khawatir, kini hanya bisa diam mematung dari kejauhan, melihat betapa sayangnya sang adik pada laki-laki itu.
Ingin marah pada Alvin karena telah membuat Jani terkena air hujan, tetapi dia sendiri mungkin tidak akan pernah sanggup jika sampai mengalami nasib yang sama seperti Alvin.
Anji hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan rasa khawatir pada adiknya. Untuk saat ini dia membiarkan Alvin untuk menguasai Jani.
__ADS_1
Jika memang kebahagiaan adiku adalah bersamamu, maka aku akan mendukungmu.
......................