ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Persiapan


__ADS_3

...Happy Reading...


..................


"Vin, ada yang bisa nenek bantu?" Esih menghampiri Alvin yang sedang membereskan bajunya.


"Gak usah, Nek. Ini juga udah mau selesai kok," jawab Alvin, sambil memasukan baju dan barang-barang yang sekiranya dia butuhkan selama di Jakarta.


Ya, besok pagi Alvin harus segera pergi ke Jakarta, untuk persiapan menghadapi pendidikannya.


Setelah menempuh banyak rintangan, akhirnya Alvin lulus di kampus besar yang ada di daerah Jakarta, dengan beasiswa yang hampir mencakup semua biayanya, juga uang jajan per bualan.


"Nenek, ingin memberikan ini kepada kamu, sebaiknya kalaung ini kamu saja yang memegangnya, Vin." Esih mengeluarkan kalung dengan liontin batu biru milik Rengganis yang dulu Alvin titipkan padanya.


"Enggak, Nek. Sebaiknya kalung ini, Nenek, saja yang menyimpannya. Aku takut nanti akan hilang, kalau aku yang memegangnya ... lagipula di sana aku lebih dekat sama Mamah," tolak Alvin, sambil mendorong kalung di tangan Esih.


Esih melihat kalung di tangannya dengan tatapan sendu, kemudian dia simpan lai di sakunya.


"Kalau gitu, Nenek yang akan menyimpan kalung kamu ini. Tapi, suatu hari nanti, kamu harus menerima kalung ini ya, Vin," pinta Esih yang langsung dianggguki oleh Alvin.


"Kalau aku sudah merasa bisa menyimpan kalung itu, aku pasti akan mengambilnya kok, Nek," jawab Alvin.


Esih menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan.


"Nenek, selalu berdo'a semoga suatu saat nanti, kamu bisa mewujudkan semua impian kamu, Vin." Esih mengusap pundak cucunya dengan mata yang berkaca-kaca.


Alvin menangkup tangan neneknya di pundaknya, lalu mengambilnya dan menciumnya penuh kasih sayang.


"Terima kasih, Nek. Nenek dan Kakek, sudah mau mengurus aku selama tiga tahun ini, mengajarkan banyak nilai kehidupan dan bagaimana caranya berjuang untuk terus hidup dengan baik, walaupun Allah, sedang menguji kita dengan cobaan yang sangat berat."


"Terima kasih, untuk kasih sayang yang selalu, Nenek dan Kakek, berikan padaku. Aku bersyukur karena memiliki kalian. Aku selalu berdo'a ... semoga, Nenek dan Kakek, diberikan umur panjang dan selalu diberikan kesehatan," ujar Alvin.


Esih tersenyum mendengar semua ungkapan cucunya, walaupun air mata pun perlahan mengalir membasahi pipinya.


"Gak terasa kamu udah besar aja, Nak. Udah pinter banget ngomongnya, sampe bikin Nenek nangis gini," ujar Esih, diiringi kekehan kecil.

__ADS_1


Alvin pun ikut terkekeh, tangannya terulur untuk menghapus derai air mata di pipi sang Nenek.


"Aku memang sudah besar, Nek, bahkan sekarang aku sudah lebih tinggi dibandingkan Nenek." Alvin membenarkan perkataan Esih dengan kelakar yang dia maksudkan untuk menghibur neneknya.


Esih memukul pelan pundak Alvin sambil tertawa. "Iya, kamu memang sudah besar sekarang."


"Ya sudah, kalau kamu gak membutuhkan bantuan, Nenek. Nenek ke luar saja, sebentar lagi, Kakek kamu pati pulang penajian," ujar Esih sambil beranjak dari duduknya.


"Cie, yang mau nungguin suami pulang ... baru ditinggal sebentar saja kayakanya udah kangen banget ya," kelakar Alvin.


"Ck, biarin! Kan sama suami sendiri," decak Esih sambil terkekeh lalu berjalan ke luar dari kamar cucunya itu.


Alvin tertawa melihat wajah malu neneknya, dia memang suka sekali menggoda keromantisan kakek dan neneknya.


Melihat mereka masih rukun dan saling mencintai, bahkan sampai umur mereka yang sudah menua, membuatnya merasa senang. Walupun di dalam hatinya dia juga iri, ketika mengingat kedua orang tuanya, tidak bisa lagi seperti nenek dan kakeknya.


Alvin kembali meneruskan kegiatannya, dia mengambil salah satu bingkai foto di atas meja belajarnya, kemudian membuka dan melepaskannya, hingga kini hanya tersisa lembaran foto saja.


Alvin lalu memasukannya ke dalam sebuah pelastik, agar tidak kotor dan menaruhnya di dalam tas.


Kedua sudut bibirnya tampak tertarik, hingga membuat sebuah lengkungan halus ke atas, walau seklera matanya tampak memerah dengan air yang membingkainya.


Setelah selesai dengan persiapannya, Alvin langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Rasa lelah setelah seharian tadi, membatu kakeknya di sawah, membawanya langsung terlelap begitu kelopak matanya tertutup.


.


.


Di ruang keluarga Darman dan Esih duduk berdua, mereka berdua tampak sedang berbincang yang cukup serius.


"Bagiamana, apa dia mau menerima kalung itu?" tanya Darman.


Esih menggeleng, sambil menaruh kalung milik Rengganis ke atas meja.


Darman menark napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan, dia mengambil kalung itu, lalu melihatnya.

__ADS_1


"Mungkin belum saatnya dia dipertemukan dengan keluarga dari ibunya, Pak. Biarkan saja Alvin menjalani hidupnya saat ini ... aku yakin, suatu saat nanti akan ada waktunya dia mengetahui semuanya," ujar Esih.


Darman melihat wajah istrinya itu lalu kembali mengalihkan pandangannya pada pada kalung di tanagnnya.


Hembusan napas berat berulang kali Darman lakukan, untuk mengurai beban di dalam hatinya.


"Ya, sepertinya memang takdir belum mau mengungkapkan keluarga Rengganis padanya. Aku hanya berharap, suatu saat nanti mereka bisa menerima Alvin, pernikahan kedua orang tuanya tidak pernah direstui," ujar Darman.


"Bila memang tidak bisa, maka mungkin lebih baik Alvin memang tidak pernah tau, keluarga dari Rengganis," sambung Esih yang langsung diangguki oleh Darman.


"Ya, kalau memang mereka hanya akan menambahkan luka untuk cucuku, lebih biak Alvin tidak pernah mengenal keluarga ibunya, walaupun sebenarnya aku juga takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika sampai dia sama sekali tidak mengetahui asal usulnya."


Dalam hatinya, Darman msih berharap kalau suatu saat nanti Alvin akan mengetahui keluarga dari besannya.


"Aku yakin, kalau memang Alvin ditakdirkan untuk mengetahui semuanya, suatu saat nanti takdir yang akan menuntunnya untuk menuju ke sana," ujar Esih.


"Kenapa kita tidak memberi tau Alvin sendiri saja, tentang keluarga dari Rengganis, Pak?" tanya Esih.


"Jika kita menceritakannya sekarang, itu hanya akan menambah luka untuknya, dan aku tidak mau kalau sampai itu terjadi. Aku tidak mau hatinya yang masih bersih, akan tercemar oleh kebencian bahkan dendam," jawab Darman.


Esih enganggukkan kepalanya saat mendengar penjelasan dari suaminya. Dia juga tidak mau kalau sampai cucunya sampai terpengaruh rasa benci, karena perlakuan keluarga ibunya pada kedua orang tuanya.


"Ya, mungkin akan lebih baik untuk cucu kita," jawab Esih.


"Bahkan Rengganis pun sudah memutuskan hubungannya dengan keluarganya. Itu terbukti dengan kalung ini, yang tidak pernah dipakainya lagi, bahkan tidak pernah menceritakannya pada anak-anaknya," sambung Esih lagi.


Tanpa terasa waktu sudah semakin malam, setelah bebincang cukup lama, pasangan suami istri yang sudah cukup tua itu akhirnya memutuskan untuk beristirahat.


Keduanya masuk ke dalam kamar, berusaha untuk menutupi kegelisahan di hatinya masing-masing.


......................


Ada apa ya, dengan masa lalu kedua orang tua Alvin, dan siapa sebenarnya Rengganis?


Hai semuanya, aku kembali, setelah seminggu lebih gak sempat up🙏😘

__ADS_1


__ADS_2