
...Happy Reading...
......................
Alvin kembali berjalan ke lantai dua kantor, sampai di sana ternyata dua orang yang lainnya sudah datang, mereka ditempatkan di ruangan sekretaris, dengan sekretaris lama sebagai pimpinan mereka.
"Selamat pagi," sapa Alvin pada dua orang lainnya, sambil mengambil tempat duduk yang tersisa.
"Pagi," jawab mereka sambil menatap lekat Alvin.
Baru saja Alvin hendak duduk di kursi kerjanya, seseorang sudah masuk ke dalam. Itu adalah orang yang kemarin menyambut mereka semua, saat akan melakukan interview.
"Selamat pagi semuanya," ujar laki-laki yang terlihat masih muda itu dengan suara cukup lantang.
"Selamat pagi, Pak," jawab Alvin dan dua orang rekannya.
"Perkenalkan, nama saya, Keenan. Saya adalah asisten pribadi Pak Ezra, karena ada sesuatu saya terpaksa harus ke luar dari sini, dan posisi ini pun akan salah satu di antara kalian gantikan setelah melalui seleksi terakhir ini," ujarnya memperkenalkan diri.
"Sebagai informasi, dari tiga orang yang mengikuti seleksi ini, hanya satu orang yang akan lolos dan diterima sebagai asisten pribadi Pak Ezra. Jadi, sepertinya kalian harus bekerja lebih keras, karena seleksi ini dinilai langsung oleh Pak Ezra, sebagai atasan kalian," sambung Keenan lagi.
Alvin sempat mengernyit, dia merasa saat ini sedang berada di dalam sebuah lomba, hanya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Walau memang sejatinya di dalam hidup selalu ada perlombaan yang harus dimenangkan, untuk lebih meningkatkan kualitas diri.
"Ohya, satu lagi ... kami tidak mentolelir sebuah kecurangan dalam bentuk apa pun, di dalam maupun di luar kantor. Jika kalian sampai ketahuan berbuat curang, maka kalian akan langsung di diskualifikasi dari kesempatan ini! Jadi, saya harap kalian bisa bersaing secara sehat, bahkan bekerja sama untuk saling membantu satu sama lain," Keenan kembali berbicara untuk memperingatkan.
"Baik, Pak," jawab ketiga orang itu, serempak.
"Bagus, sekarang aku akan membagi tugas kalian semua, selama melakukan seleksi ini," ujar Keenan sambil memperlihatkan tiga lembar kertas di tangannya, kemudian membagikannya pada Alvin dan teman-temannya.
"Baca itu dan pahami, setengah jam lagi, aku akan mengirimkan berkas yang harus kalian kerjakan," ujar Keenan, sebelum dia duduk di kursi kerjanya sendiri.
Alvin menerima lembar kertas itu kemudian duduk dan mulai membacanya dengan seksama. Tiga puluh menit kemudian Keenan mulai mengirimkan berbagai tugas untuk Alvin dan yang lainnya.
Mungkin karena ini adalah hari pertama, atau memang karena Alvin pernah menjabat sebagai sekretaris sebalumnya, jadi dia tidak kesulitan untuk mengerjakan tugas pertamanya.
Hingga akhirnya jam kerja selesai, dua orang rekan kerja Alvin sudah bersiap untuk pamit, sedangkan Alvin bingung, karena mereka belum diberikan jadwal pulang, sedangkan biasanya seorang sekretaris atau asisten hanya akan pulang setelah bos mereka pulang lebih dulu.
__ADS_1
"Kamu tidak bersiap-siap seperti yang lainnya?" tanya Keenan, saat melihat Alvin masih tampak sibuk dengan komputer di depannya.
Bukan karena pekerjaannya belum selesai Alvin begitu, dia hanya sedang mempersiapkan pekerjaan untuk besok saja.
"Maaf, Pak. Saya belum diberitahu kapan waktu kerja saya berakhir," jawab Alvin dengan wajah polosnya.
Keenan tampak menyungingkan sebelah ujung bibirnya tipis, kemudian memperhatikan reaksi dari kedua rekan kerja Alvin yang lainnya. Tentu saja mereka semua tampak tidak suka dengan pernyataan Alvin saat itu, mengingat saat ini mereka hanya sedang melakukan seleksi, jadi mereka berpendapat untuk bekerja seperti karyawan yang lainnya.
"Karena kalian masih dalam masa percobaan, maka kalian boleh pulang seperti karyawan yang lainnya," ujar Keenan pada ke tiga orang di depannya.
"Baik, Pak. Terima kasih, untuk hari ini," ujar ketiga orang itu.
Alvin dan dua orang lainnya pun ke luar dari kantor bersama-sama, saat mereka ke luar dari kantor, Alvin berjalan dengan diapit oleh kedua rekannya yang memiliki umur yang lumayan jauh lebih tua darinya.
Yang pertama, sepertinya sudah berumur empat puluh tahunan, sedangkan yang ke dua mungkin tiga puluh tahunan. keduanya tampak sudah berumah tangga.
"Ngapain sih kamu pakek ngomong kayak gitu tadi sama, Pak Keenan? Mau cari perhatian?" tanya kedua laki-laki itu.
Alvin membagi pandang pada dua orang rekannya itu, sebelum menjawab pertanyaan.
"Bukan begitu, saya memang belum mendapatkan jadwal kerja saya, makanya saya tidak ikut bersiap-siap seperti Bapak," jawab Alvin seadanya, walau memang itu benar adanya.
"Apa saya salah?" tanya Alvin, dengan kerutan halus di keningnya.
"Ya! Jelas salah lah. Harusnya kamu ikuti kita bersiap dan kita akan pulang seperti karyawan biasa. Ingat, kita di sini hanya sedang melakukan seleksi, jadi gak usah berlaga untuk menjadi asisten pribadi sungguhan," ujar laki-laki yang berusia empat puluh tahunan.
Walau nada bicara mereka tidak terdengar sombong atau arogan, bahkan marah pada Alvin. Akan tetapi tetap saja, Alvin merasa tidak enak.
Alvin menggaruk belakang kepalanya sambil meringis, ternyata kedua rekan kerjanya itu cukup perhitungan dengan pekerjaannya, mungkin karena mereka juga sudah berumah tangga dan pastinya memiliki tanggung jawab yang besar untuk keluarganya, berbeda dengan Alvin, yang bahkan pacar saja tidak punya.
Haish! Kenapa giliran inget pacar, aku jadi inget sama Jani ya? Ck, sepertinya otakku butuh penyegaran, decak Alvin di dalam hati.
"Ya sudah, sekarang kamu pulang naik apa?" tanya salah satu diantara mereka pada Alvin, menyadarkan Alvin yang tengah bergumam sendiri di dalam hati.
"Naik angkutan umum," jawab Alvin.
__ADS_1
"Ck! Biasanya anak muda seperti kamu akan meminta kendaraan terbaru pada keluarganya untuk gaya? Atau mungkin kendaraan kamu lagi di bengkel?" tanya laki-laki berumur tiga puluh tahunan, penasaran.
Alvin menggeleng. "Tidak, Pak. Saya memang tidak memiliki kendaraan," jawab Alvin sambil tersenyum.
"Wah, hebat sekali orang tua kamu mendidik kamu, sampai mereka tidak membelikan kendaraan untuk anaknya, ck ck ck," ujar yang lainnya, menggeleng seakan tidak percaya.
Alvin tampak terkekeh kecil. "Iya, Pak. Mereka memang mengajarkan aku untuk mandiri sejak kecil. Jadi aku sudah terbiasa," jawab Alvin.
Ditinggalkan Bapak dan Alin, juga harus merawat Mamah di rumah sakit. Bukannya itu namanya mengajarkan mandiri dari kecil? batin Alvin, mengingat nasibnya.
"Mantap. Kamu memang pemuda yang berbeda. Orang tua kamu pasti sangat bangga memiliki anak seperti kamu," ujar salah satu dari laki-laki di samping Alvin, sambil megacungkan ibu jarinya.
Alvin hanya tersenyum tanpa menjawab perkataan para rekan kerjanya.
Semoga saja, Bapak, Mamah, dan Kakek, benar-benar bisa bangga padaku, batin Alvin, mengingat orang-orang yang dia sayangi.
Ah, ternyata kedua rekan Alvin bersikap dewasa dan saling mendukung, walau awalnya mereka memang sempat kesal karena perbuatan Alvin. Akan tetapi, akhirnya mereka malah mendukung Alvin, bahkan salah satu di antaranya yang satu jalan dengan Avin, menawari tumpangan.
Namun, karena Alvin akan berkunjung kepada ibunya lebih dulu, dia pun memilih untuk menolak tawaran dari salah satu rekannya itu.
"Kita bersaing secara sehat, bila memang rezeki kita untuk bekerja di sini, pasti nanti akan terpilih. Tapi, jika tidak, ya ... mau bagaimana lagi, iya kan?" Itulah ucapan dari laki-laki yang berusia sekitar empat puluh tahunan, yang langsung diangguki oleh Alvin dan yang lainnya.
Ucpan itu juga yang membuat Alvin bisa bernapas lega, karena sudah bisa dipastikan jika di sini dia tidak akan mendapatkan kesulitan beradaptasi.
.
.
Beberapa saat kemudian Alvin sampai di depan sebuah rumah sakit tempat Ganis dirawat dalam beberapa tahun ini.
Alvin langsung menuju ke ruang dokter sebelum menemui sang ibu. Dia sudah membuat janji sebelumnya, untuk menanyakan kondisi sang ibu.
Alvin memang jarang menyempatkan waktu untuk menjenguk ibunya akhir-akhir ini, mengingat banyak kejadian yang membuat dirinya tidak bisa menemui sang ibu.
Bagaimana mungkin Alvin akan menunjukkan tubuhnya yang penuh luka pada ibunya? Hingga dia memilih untuk mengundur jadwal jenguknya.
__ADS_1
......................
Ternyata masih banyak yang ingat tentang Ezra dan Keenan ya😊