ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Tangis bahagia


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Senyum terlihat menghias wajah Alvin begitu dia ke luar dari ruang dokter, kabar kondisi Ganis yang semakin membaik, membuat kebahagiaan tersendiri untuk Alvin, hingga rasanya dia tidak sabar untuk bertemu.


Langkahnya terhenti saat melihat ibunya duduk di kursi taman, seperti hari-hari biasanya. Sepertinya itu adalah tempat kesukaan Ganis untuk menghabiskan waktu selama berada di dalam rumah sakit ini.


Ganis tampak terdiam dengan boneka yang selalu berada di dalam pelukannya, wajahnya terlihat lebih segar dari pada biasanya, membuat senyum Alvin pun semakin lebar, terbentuk di bibirnya.


Ganis tampak menoleh melihat Alvin yang kini berdiri tidak jauh darinya, senyum tipis yang diberikan oleh wanita paruh baya itu, membuat hati Alvin terasa menghangat dengan semangat baru yang terasa menggebu.


Perlahan Alvin melanjutkan langkahnya, menghampiri Ganis.


"Assalamualaikum, Mah," sapa Alvin sambil berjongkok di depan Ganis.


Alvin tampak memerhatikan reaksi dari ibu kandungnya terlebih dahulu, sebelum kemudian perlahan mengambil tangan Ganis untuk dia cium. Ketika dia mematikan kalau Ganis masih terlihat tenang dan tidak terganggu dengan kehadirannya.


Satu tetes air mata pun akhirnya jatuh begitu saja, saat bibr Alvin berhasil mengecup punggung tangan Ganis, yang selama ini begitu sulit dia lakukan.


Bukan air mata kesedihan yang kini menetes membasahi pipinya. Akan tetapi, itu adalah air mata penuh kebahagiaan yang tidak bisa dia bendung lagi.


Sungguh dia sangat merindukan ibu kandungnya. Walau semenjak dirinya pindah ke jakarta, jarak di antara keduanya tidak lagi berjauhan. Akan tetapi, semua itu terasa tidak bisa meredam kerinduan Alvin pada sang ibu.


Ganis tampak terdiam, dia menunduk menatap wajah Alvin lekat, tanpa ada kata yang ke luar dari bibir yang masih terlihat pucat dan kering itu.


Alvin menutup matanya menikmati hangatnya tangan sang ibu, sambil mencurahkan kerinduannya. Para petugas medis yang bertugas di rumah sakit itu pun, tampak menghentikan kegiatannya demi melihat Alvin dan Ganis yang baru saja bisa melakukan sentuhan setelah sekian lama.


"A–Alvin ...."


Suara lirih dari bibir yang tampak bergetar itu membuat Alvin langsung melebarkan matanya sambil mengangkat wajahnya.


"Mah?" Mata merah itu tampak bergetar, menatap wajah Ganis yang kini sedang membalas tatapannya.


"Alvin," ujar Ganis, kembali memanggil Alvin dengan nada suara lirih.

__ADS_1


"Iya, Mah, ini Alvin," angguk Alvin, dengan senyum yang merekah, walau tetes air mata tampak mengiringinya.


Sunggingan senyum tipis dari bibir Ganis terasa bagaikan sebuah gerimis di tengah gersangnya kemarau, begitu sangat menyejukkan hati, menyiram kerinduan yang sudah hampir membuatnya putus asa dalam sebuah harapan.


Tangan yang kini terasa ringkih, perlahan terulur mengusap air mata yang membasahi pipi Alvin. Alvin menutup mata menikmati kehangatan yang telah lama dia nantikan. Sentuhan lembut seorang ibu itu begitu terasa hingga ke dalam hatinya.


Isak tangis yang terdengar lirih dari mulut Alvin, tak ayal membuat jajaran para petugas rumah sakit lainnya ikut meneteskan air mata, mereka adalah saksi hidup perjuangan Alvin untuk mengembalikan kehangatan seorang ibu, sejak usianya masih sangat muda.


Kesabaran dan usaha Alvin selama beberapa tahun ini akhirnya bisa terpenuhi, saat kondisi Ganis yang semakin berangsur pulih, walau itu memerlukan waktu yang sangat lama.


"Mah, Alvin kangen," ujar Alvin sambil menelusupkan wajahnya di pangkuan sang ibu.


Tidak ada kata lain yang ke luar dari bibir Ganis, dia hanya mengusap lembut rambut Alvin yang masih asik terisak di atas pangkuannya, untuk beberapa saat keduanya tampak terhanyut dalam kebahagiaan itu, walau akhirnya mereka harus kembali terpisahkan, saat Alvin harus pulang dan meninggalkan Ganis di rumah sakit.


"Mulai sekarang, usahakan lebih banyak meluangkan waktu untuk menjenguk Ibumu, Vin, agar dia bisa lebih dekat dan terbiasa dengan keberadaan kamu di sisinya. Jika memang kesehatan Ibumu terus membaik, aku yakin tidak akan lama lagi, kalian bisa bersama kembali." Itulah pesan dokter yang merawat Ganis pada Alvin, sebelum laki-laki itu pulang.


"Baik, Dok. Terima kasih atas semua usaha dokter, untuk mengobati Ibuku. Sekali lagi terima kasih, Dok," jawab Alvin dengan senyum yang telrihat merekah, wajahnya pun terlihat lebih bersemangat dari biasanya.


Menjelang malam Alvin pulang dari rumah sakit, dia lebih dulu mampir di sebuah toko kue. Membeli beberapa kue untuk dibawa ke rumah membagi-baginya pada tetangga, sebagai tanda sukurnya karena kemajuan kesehatan Ganis sepertinya buka sesuatu yang berlebihan.


"Nona Indira?" sapa Alvin, menatap wajah wanita muda itu yang kini berada di depannya.


"Aku kira kamu itu laki-laki yang mempunyai sikap yang baik dan sopan, ternyata kamu sama saja dengan laki-laki lainnya!" sentak Indira, menatap Alvin dengan sorot mata penuh kekesalan.


Tentu saja perkataan Indira yang cukup kencang langsung menarik perhatian hampir seluruh pengunjung yang ada di toko kue itu.


Alvin mengedarkan pandangannya dengan hati meringis menahan malu, dia bagaikan seorang laki-laki brengsek yang sedang didatangi oleh mantan kekasihnya.


Sorot mata penuh tuduhan dan bisik-bisik para pengunjung pun tampak terdengar, melihat wajah marah Indira pada Alvin.


Itu pasti pasangan yang baru pisah karena laki-lakinya berselingkuh!


Kayaknya itu bukan laki-lakinya yang selingkuh. Tapi, mungkin itu pelakor yang ditinggalkan sama laki-laki itu.


Alvin menghembuskan napas kasar saat telinganya mendengar beberapa kata yang ke luar dari para pengunjung toko kue yang memerhatikan dirinya dan Indira.

__ADS_1


"Nona, lebih baik kita bicara baik-baik dulu, biar aku jelaskan semuanya," jawab Alvin berusaha melerai kemarahan mantan bosnya itu.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi! Semuanya sudah jelas, kamu memang laki-laki menyebalkan, Vin!" ujar Indira sambil berkecak pinggang.


"Bisa-bisanya kamu ke luar dari kantor tanpa menemui aku dulu? Kamu bahkan tidak mau menemui aku saat aku mengunjungi kamu ke rumah! Dasar berengsek!" hardik Indira, meneruskan ucapannya.


"Astagfirullah, Nona, saya tidak bermaksud begitu, saya hanya sedang tidak bisa menemui Nona waktu itu," ujar Alvin berusaha menjelaskan.


Tiga hari setelah insiden pengeroyokan Alvin oleh anak buah Pak Mardo, Indira memang mendatanginya ke kontrakan, karena Alvin mengirimkan surat pengundran dirinya melalui Mang Lukman.


Namun, karena kondisi Alvin yang masih babak belur, Alvin menolak untuk menemui Indira. Dia tidak mau kalau sampai hubungan Indira dan keluarganya memburuk hanya kerana dirianya.


Sebab itu Alvin memilih untuk menghindari Indira, karena dia juga tahu kalau permasalahan antara dirinya dan Pak Mardo, pasti akan menyembabkan rasa sakit di hati Indira.


"Halah, gak usah banyak alasan, aku sudah sangat kecewa sama kamu!" ujar Indira, terlanjur menganggap Alvin tidak baik.


"Maaf, Pak, pesanannya sudah selesai," ujar pelayan toko kue sambil memberikan paper bag pada Alvin.


"Terima kasih, Mba," angguk Alvin sambil menerima paper bag itu.


"Saya terima semua perkataan Nona pada saya. Terima kasih untuk pekerjaannya selama ini, saya banyak mendapat pelajaran dari, Anda, selama mendampingi Anda menjadi seorang sekretaris. Kalau begitu saya pamit duluan, Assalamualaikum," ujar Alvin panjang lebar, sebelum akhirnya menganggukkan kepala sopan kemudian berjalan ke luar dari toko kue itu.


Saat Alvin baru ke luar dari toko kue, diaberpapasn dengan tunangan Indira. Alvin hanya menganggukkan kepala samar, sebagai tanda hormat, tanpa mau menyapa lebih jauh.


Indira tampak menatap punggung tegap Alvin yang semakin menjauh darinya. Dia cukup terkejut dengan sikap Alvin yang baru saja dia lihat.


Mulutnya tampak sedikit menganga dengan mata berkedip pelan. Sepertinya Indira cukup terkejut dengan sikap Alvin yang terlihat tegas dan sangat berwibawa. Itu sangat berbeda dengan perangai Alvin yang dia lihat selama ini, yang selalu mengalah dan sabar padanya.


"Apa benar itu Alvin?" gumam Indira.


"Ada apa, Honey?" tanya tunangan Indira, saat dia melihat kebingungan di wajah Indira.


"Ah, tidak! Aku hanya sedikit terkejut saja," ujar Indira, tanpa menjelaskan apa yang terjadi padanya dan Alvin beberapa saat yang lalu.


......................

__ADS_1


__ADS_2