
...Happy Reading...
......................
Beberapa saat berkendara, Max menghentikan mobil di lobi rumah sakit terdekat. Alvin langsung turun dengan masih menggendong tubuh Ganis yang sudah sepenuhnya kehilangan kesadaran.
Alvin berlari ke dalam diiringi oleh Pak Umar yang bergerak sigap memanggil dokter dan perawat untuk membawa brankar.
Suasana instalasi gawat darurat rumah sakit siang itu menjadi bahan perhatian, saat kedatangan Alvin yang membawa wanita bersimbah darah di dalam gendongannya.
Banyak pengunjung yang berkerumun bahkan memotret saat sudah tahu kalau itu adalah korban penembakan.
Max yang datang lebih belakang, langsung mengerahkan anak buahnya untuk membereskan orang-orang yang mengambil gambar.
Sedangkan di sisi lain rumah sakit, Jani dan Indira yang baru saja ke luar dari lift, setelah menjenguk salah satu teman Jani, terkejut ketika melihat Pak Umar yang berteriak dan membuat ribut di lobi.
"Dokter, suster, tolong ada pasien darurat!" teriak itu terdengar menggema dari mulut laki-laki yang sudah tak muda lagi itu.
Secara sadar mereka berdua akhirnya berjalan menghampiri laki-laki yang sudah dianggap sebagai keluarga bagi Alvin itu.
Namun, belum sempat mereka mendekat, mata keduanya dibuat melebar dengan jantung berdebar kencang, saat pandangannya kini beralih pada Alvin yang tengah berlari sambil menggendong seseorang yang sudah tidak sadarkan diri.
Luka lebam di wajah, dan darah yang terlihat mengotori baju juga celananya, sontak membuat dua orang wanita itu berlari cepat untuk menghampirinya.
Alvin merebahkan tubuh Ganis di brangkar dengan sangat hati-hati.
"Mama harus kuat, jangan tinggalin Alvin ya, Mah." lirihnya dengan satu tetes air mata yang jatuh kembali tepat pada wajah Ganis.
Dokter dan perawat yang datang pun kemudian mendorong brankar masuk ke salah satu ruangan pemeriksaan.
Alvin hendak ikut masuk ke dalam ruangan saat pintu akan ditutup oleh perawat, hingga Pak Umar menahannya dan berusaha menenangkan Alvin sebisanya.
"Jangan begini, Vin, ibumu harus segera ditolong," ujar Pak Umar sambil menahan tubuh Alvin yang masih saja mau memberontak.
"Tapi, Pak, Mama--" Alvin terus melihat Ganis yang sudah masuk ke dalam ruangan, kemudian ditutup rapat.
"Dia akan baik-baik saja. Ayo, lebih baik kamu duduk dulu, biarkan mereka memeriksa ibumu," ujar Pak Umar lagi, membawa Alvin duduk di kursi tunggu dengan paksa.
Alvin mengikuti langkah Pak Umar dengan tatapan tidak lepas dari pintu, dia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi tunggu, menutup wajahnya dengan tangan yang tanpa sadar masih penuh dengan darah Ganis.
Alvin menjambak rambutnya berulang kali, seolah sedang melampiaskan kemarahan dan kekecewaannya, serta kegelisahan di dalam hatinya, dengan menyakiti dirinya sendiri.
"Alvin, Pak Umar, ada apa ini?" tanya Jani begitu mereka sampai di depan kedua laki-laki berbeda usia itu. Napas keduanya tampak tersengal karena mengejar langkah Alvin yang cepat dan lebar.
Pak Umar yang duduk di sebelah Alvin mendongakan kepala, meliat dua orang gadis yang kini tengah berdiri di depannya.
Sedangkan Alvin, masih sibuk dengan dunianya sendiri, dia seolah tidak mendengar apa pun di sekitarnya, kegaduhan rumah sakit dan segala suara yang ada di sekitarnya seolah menghilang dari pendengaran, terhalang oleh segala rasa yang menyesakkan dada.
__ADS_1
"Ibunya Alvin sekarang sedang ada di dalam," jawab lirih Pak Umar dengan pandangan beralih pada ruangan tempat Ganis berada.
Mendengar itu, Indira melebarkan matanya. " Itu tadi, Tante Ganis?"
Indira memang sempat melihat foto Ganis di kamar Nyonya Hartari, akan tetapi, dia tidak pernah bertemu dengan wanita yang merupakan ibu dari Alvin itu.
Ganis kabur dari rumah, saat dirinya masih sangat kecil dan waktu itu ibunya pun masih hidup, dia tidak bisa mengingat masa itu, selain dari foto yang sering kali diperlihatkan oleh Nyonya Hartari.
Pak Umar mengangguk membenarkan pertanyaan Indira.
"Kenapa dengan Tante Ganis, Pak?" tanya India masih penasaran dengan yang teradi pada Alvin dan ibunya.
Sedangkan Jani kini lebih memperhatikan Alvin yang terlihat sedang sangat terpuruk, tubuhnya pun sudah tidak karuan, dengan banyaknya bercak darah dan kotoran di sana.
"Dia tertembak," jawab pak Umar singkat.
"Hah?! K–kenapa semua ini bisa terjadi?" tanya Indira dengan sedikit terbata akibat terkejut.
Jani yang mendengar jawaban Pak Umar pun mengalihkan perhatiannya dengan kening berkerut dalam.
Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Vin? Kenapa semua ini terjadi, dan luka itu--
Jani bertanya-tanya dalam hati, sambil kembali memperhatikan seluruh tubuh Alvin yang ternyata penuh luka.
"Apa sudah melapor polisi?" tanya Indira lagi dengan polosnya.
Entah bagaimana reaksi Indira jika sampai tahu kalau semua ini terjadi akibat keserakhan Pak Mardo dan Roy.
Indira yang ditatap kedua laki-laki berbeda usia itu, tampak salah tingkah, dia menggaruk belakang kepalanya, tidak tahu apa dirinya salah bicara.
Alvin menghembuskan napas kasar kemudian melihat dua orang perempuan di depannya bergantian.
"Ini bukan urusan polisi," ujarnya dengan nada suara terdengar dingin. Alvin kemudian menatap Indira penuh.
"Tolong hubungi Eyang," sambungnya lagi, kemudian kembali menundukkan kepala, seolah membatasi komunikasi dengan sekitarnya.
"Hah?!" Jani dan Ganis tampak terkejut dengan perkataan Alvin yang tidak mau melapor polisi, padahal ibunya kini tengah dalam bahaya di dalam sana.
"Ah, iya. Aku hubungi Eyang sekarang," ujar Indira yang mendengar ucapan kedua Alvin. Dia langsung menjauh sambil mulai menghubungi nomor Nyonya Hartari.
Jani menatap Alvin dengan kening berkerut, ada rasa takut dan curiga pada Alvin, walau hati kecilnya terus menyangkal tuduhan tidak berdasar akalnya sendiri.
Sikap Alvin yang selalu tertutup, membuat Jani tidak bisa menyelami kehidupan laki-laki yang selalu menjadi penguasa hatinya itu. Dia dibuat bingung dan penasaran bahkan terkadang berpikir buruk tentang Alvin, walau akhirnya selalu tidak terbukti.
Kenyataannya, semua itu tidak bisa merubah rasa cinta Anjani pada Alvin, dia masih menempatkan Alvin sebagai penguasa hatinya sampai saat ini.
Pertanyaan demi pertanyaan yang terus tepikir di dalam kepalanya kini semakin bertumpuk dengan kejadian yang baru dilihatnya.
__ADS_1
Max yang melihat ada orang lain bersama dengan Alvin, memilih mundur dan berjaga di sekitar, dia tidak mau banyak orang tahu tentang keterlibatannya di dalam hidup Alvin.
Alvin terlalu baik untuk dikaitkan dengan anggota mafia seperti dirinya, dia tidak mau memberikan noda di dalam kehidupan laki-laki muda itu.
Selama ini dia hanya terlibat karena permintaan Pak Umar, dan sebagai tanda terimakasihnya pada Pak Umar yang telah memberinya kehidupan juga posisi yang sekarang dia emban.
Beberapa saat menunggu, akhirnya pintu terbuka, Alvin langsung melangkah lebar menemui dokter yang berdiri di ambang pintu.
"Kami harus segera melakukan oprasi pengangkatan peluru," ujar dokter itu memberikan informasi.
"Laukan apa saja yang bisa menyelamatkan ibuku, Dok. Aku mohon, selamatkan ibuku, Dok," jawab Alvin sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Matanya memerah dengan air yang terlihat berkumpul di pelupuk, menandakan betapa hancurnya perasaan laki-laki itu saat ini.
"Baiklah, tolong segera selesaikan administrasinya," ujar Dokter itu.
"Saya akan segera menyelesaikannya. Tolong segera melakukan penanganan." Jani menyela, sebelum Alvin sempat menjawab.
Alvin mengalihkan pandangannya pada Jani, semetara dokter berlalu kembali ke dalam ruangan untuk melakukan persiapan oprasi untuk Ganis.
"Ini dompet kamu." Pak Umar memberikan dompet Alvin, yang sebelumnya diberikan secara diam-diam oleh Max, sepertinya dompet itu terjatuh saat bertarung beberapa saat lalu.
"Terima kasih, Pak," ujar Alvin sambil menerima dompet miliknya.
Avin kemudian mengambil kartu tempatnya menyimpan uang selama ini di dalamnya dan memberikannya pada Jani.
"Tolong bantu aku urus administrasi ibuku," lirih Alvin, dirinya mungkin tidak akan sanggup meninggalkan ibunya.
"Tapi, Pinnya?" tanya Jani bingung, sambil menerima kartu itu.
"Pinnya, ulang tahun kamu," jawab Alvin santai, tanpa tahu Jani yang melebarkan mata karenanya.
Beberapa saat kemduian Jani menunduk menyembunyikan senyum yang sebenarnya tidak pantas dia lakukan di waktu sekarang. Namun, rasa bahagia di dalam hatinya tidak bisa dia sembunyikan.
Pipinya pun sampai terasa panas, seolah sedang terbakar oleh kebahagiaan yang ada di dalam hatinya. Seolah mendapatkan jawaban atas rasa cintanya selama ini, Jani begitu berbunga hanya karena sebuah pin kartu ATM.
"Kalau begitu aku urus dulu administrasinya," pamit Jani pada Alvin dan Pak Umar masih dengan menundukkan kepala.
"Eh, kenapa muka kamu merah begitu, Jani?" Indira yang baru saja kembai setelah menghubungi Nyonya Hartari dan Tuan Gemang, bertanya polos pada Jani.
"E--enggak apa-apa, aku cuman merasa sedikit panas saja. Sudahlah gak usah banyak tanya, lebih baik bantu aku mengurus administrasi!" ujar Jani sambil menarik tangan Indira secara paksa, membawanya menjauh.
"Panas? Perasaan semua ruangan ini ber–AC?" gumam Indira masih tidak paham.
Pak Umar geleng kepala melihat sikap para anak muda di depannya, apa lagi saat dirinya melihat Alvin yang tampak tidak bereaksi apa pun, setelah mebuat anak gadis orang tersipu malu. Itu semua membuat Pak Umar gemas sendiri.
"Dasar anak muda!" gumamnya sambil kembali duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
......................