ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Sadar


__ADS_3

...Happy Reading...


..................


Malam sudah mulai larut, seorang gadis terlihat sedang duduk termenung di atas ranjang, wajahnya tampak gelisah, dengan ponsel di tangannya.


Sudah seminggu ini dia sama sekali tidak bertemu ataupun melihat laki-laki yang dia sukai. Sejak sore tadi hatinya bimbang, apakah dia harus menghubunginya atau tidak.


Kini kepalanya tampak menoleh, melihat tumpukan koper di salah satu sudut kamarnya. Besok sore dia sudah harus terbang menuju ke luar negeri bersama dengan keluarganya.


"Vin, apa kamu bener-bener udah lupa sam aku?" cebik gadis itu sambil menatap ponsel di tangannya.


Layar itu memperlihatkan foto Alvin ketika memakai baju sang Papah. Terlihat sangat tampan dan cocok, itu adalah foto pertama yang dimilikinya.


Ujung jarinya menggeser, hingga berganti dengan foto-foto dirinya dan Alvin saat wisuda dirinya beberapa waktu lalu.


"Kamu tau gak sih, aku tuh kangen banget sama kamu, Vin?!" kesal gadis itu yang tak lain adalah Jani.


"Eh, tapi kan kamu udah punya pacar baru ya. Pasti sekarang kamu udah gak inget lagi sama aku," sambungnya lagi, dengan suara lirih.


Tubuhnya tiba-tiba saja lemas. Walaupun dia terus berusaha menampik rasa cintanya pada Alvin. Akan tetapi, rasa itu malah terus berkembang semakin besar.


Dia yang terus berusaha untuk menjauhi Alvin, tanpa sadar malah melukai hati dan jiwanya sendiri. Rasanya begitu berat jika dia harus hidup tanpa laki-laki itu.


Jani memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya di sana, dengan ponsel yang masih setia berada di genggamannya. Entah bagaimana kehidupannya di luar negeri nanti, tanpa sosok Alvin yang selalu membuatnya bersemangat menjalani hidup.


Beberapa saat Jani masih tetap di posisi yang sama, hingga suara dering ponsel membuatnya terperanjat, bahkan ponsel di tangan hampir terlepas akibat terkejut.


.


.


Alvin baru saja pulang dari kantor, hari ini dia lembur, mengingat banyak sekali pekerjaan yang harus dia kerjakan. Ke luar kantor jam sembilan malam, dia baru akan sampai rumah satu jam setelahnya.


Sepanjang jalan pikirannya terus tertuju pada satu nama, entah mengapa dia merasakan ada yang berbeda dari sikap sahabatnya itu.


Kalau kalian menebak Jani, berarti kalian hebat menebak pikiran Alvin. Beberapa hari ini Alvin memang merasakan ada yang berubah dari sikap Jani.

__ADS_1


Dia ingin sekali bertanya pada sahabatnya itu, apa yang menyebabkan Jani menjauhinya, atau mungkin bertanya, apakah dia berbuat salah, hingga Jani marah?


Namun, aktivitas kerja dan kuliah yang mulai sangat sibuk, karena sudah menuju tahun-tahun akhirnya, membuat waktunya banyak tersita.


Bukan melupakan, hanya saja jangankan mengingat untuk mengirim pesan, terkadang dia bahkan sampai lupa mengisi baterai ponsel miliknya, hingga berakhir dengan dimarahi oleh Mang Lukman, atau orang kantor yang kesusahan menguhubunginya.


Alvin menghembuskan napas lelah, pandangannya beralih ke samping. Deretan lampu jalan yang terlewati, membuatnya terasa semakin sepi. Tangannya bergerak mengambil ponsel di kantong celana bagian depannya.


Jarinya mulai menggulirkan layar, hingga menampilkan deretan menu utama. Menekan menu kontak, secara sadar atau tidak sadar, Alvin berhenti di kontak Jani yang dia beri nama tuan putri.


Kerutan di keningnya tampak dalam, Alvin bingung sendiri, mengapa dia bisa sampai pada kontak Jani.


Apa aku coba menghubunginya saja? Atau langsung ke rumahnya saja besok? gumam hati Alvin.


Asyik terlarut dalam pikirannya tentang Jani, Alvin sampai tidak menyadari kalau tempat pemberhentian bisnya sudah terlewat beberapa meter. Dengan terburu-buru, Alvin langsung bangkit lalu berjalan menuju pintu ke luar.


"Berhenti, Bang!" teriaknya.


Alvin langsung ke luar dari bis, begitu bisa yang biasa ia gunakan sebagai transportasi ke kantor itu berhenti. Dia bisa merasakan betapa kesalnya para penumpang dan sopir bis, saat dia dengan seenaknya menghentikan lanju bis bukan pada tempatnya.


Berjalan beberapa saat, Alvin akhirnya sudah sampai di kontrakan tempat dirinya dan Mang Lukman tinggal.


Dari pertama kali Alvin datng tempat nongkrong para bapak-bapak setiap malam itu, masih saja ramai. Tempat untuk sekedar melepas penat, akibat seharian bekerja, terutama bagi orang-orang seperti Mang Lukman, yang jauh dari keluarga.


"Iya, Pak," jawab Alvin ramah, dia mengangkat tangan sambil menganggukan kepala, sebagai tanda menyapa para laki-laki berbagai usia itu.


Ya, sebenarnya bukan hanya para bapak paruh baya yang ada di sana, laki-laki yang masih pada jomlo dan belum menikah pun ada. Akan tetapi, tentu umur mereka tetap saja lebih tua dari Alvin.


"Lembur lagi kamu, Vin?" Pak Umar yang baru saja ke luar dari rumah menyapa. DI tangannya tampak gelas berisi kopi hitam yang masih mengepulkan uap panas.


"Iya, Pak. Bapak, gak ke pos?" tanya Alvin.


"Ini, aku au ke sana," jawab Pak Umar sambil sedikit mengangkat gelas kopi di tanganya.


Alvin terkekeh kecil, "Aku ke dalam dulu, Pak."


Kedua laki-laki berbeda usia itu, berjalan kembali dengan tujuannya masing-masing. Sampai di salam rumah, Alvin langsung menaruh tasnya, dan berjalan mneuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Alvin sudah merebahkan tubuhnya di ataskasur tipis yang tiga tahun yang lalu dia beli, saat baru beberapa hari datang ke sini.


Kedua tangannya tampak dia jadikan bantalan, pandangannya lurus ke atas, menatap langit-langit rumah kontrakan itu, yang tampak berwarna putih. Lampu berbentuk bulat yang menggantung di tengahnya, tampak sudah mati, menyisakan cahaya temaram dari bias lampu di luar.


Pikirannya masih tetap berada pada satu nama, dia masih bimbang untuk memutuskan. Tiba-tiba dia mengalihkan pandangannya pada jam yang dengan setiap terus berputar di dinding.


"Sudah malam, pasti dia sudah tidur," gumamnya, sambil menutup matanya menggunakan punggung tangannya.


Alvin mendesah berat, dia memilih untuk menutup matanya walau ponsel pun masih berada di sampingnya.


Beberapa saat Alvin berusaha untuk tidur, tubuh dan pikirannya benar-benar lelah setelah seharian bekerja. Akan tetapi, entah mengapa, dirinya juga sangat sulit untuk terlelap.


Alvin beranjak duduk, dia mengambil ponsel yang ada di sampingnya, lalu beranjak menuju ke luar. Dia duduk di kursi yang berada di depan kontrakan.


"Kalau telepon, nanti aku ganggu dia lagi tidur," ujarnya melihat layar ponsel miliknya.


Terdiam sebentar, seolah sedang memikirkan sesuatu, dia tahu kalau besok sore Jani akan berangkat ke luar negri, maka dari itu malam ini pikirannya tidak lepas dari perempuan yang sudah dia anggap sebagai sahabat itu.


^^^Alvin: [Malam, Jani. Kamu udah tidur belum?]^^^


Alvin menggeleng, dia kembali menghapus setiap kata yang sudah diketik.


^^^Alvin: [Jani, apa kabar? Kamu baik-baik aja, kan?]^^^


Alvin kembali menghapusnya, sambil menggeleng kepala.


^^^Alvin: [Jani, aku dengar kamu kamu mau berangkat ke luar negri besok ya?]^^^


"Akh, kenapa aku jadi gak bisa mikir gini sih?!" kesal Alvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


^^^Alvin: [Maaf akhir-akhir ini aku jarang ngabarin kamu.]^^^


Alvin kembali menghapus pesan yang sudah dia rangkai, dia baru sadar kalau selama ini selalu Jani yang menghubunginya lebih dulu.


Dia terkekeh semu, sambil menatap ponselnya yang masih kosong. Dia melihat tanggal terakhir Jani mengirim pesan padanya. Ternyata itu sudah lebih dari satu minggu yang lalu.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


....................


__ADS_2