ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Penyebab masalah


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


"Apa ini semua karena Alvin adalah anak Papi dari selingkuhan Papi yang lain?" sambung Indira lagi, yang langsung membuat mata kedua paruh baya itu melebar. 


"Jangan sembarangan bicara kamu, Indira!" bentak Pak Mardo pada anak perempuannya, bahkan telapak tangannya sudah mendarat di pipi Indira.


Indira tampak memegang sebelah pipinya yang terasa panas dan perih, akibat tamparan keras Pak Mardo. Matanya berkaca-kaca menahan rasa kecewa kepada ayah kandungnya sendiri.


Namun, semua itu tidak membuat Indira gentar, dia malah semakin menantang Pak Mardo dan menuntut penjelasan pada kedua orang tuanya.


"Terus apa lagi alasannya kalau bukan itu? Kenapa kalian mempermasalahkan keberadaan Alvin?" cecar Indira lagi.


Pertengkaran terus berlangsung tanpa menemukan jalan keluar, mereka sama-sama keras di dalam keinginannya masing-masing. Alvin yang berdiri di luar sayup-sayup mendengar pertengkaran keluarga bosnya itu.


Pada awalanya Alvin hanya mengacuhkannya dan menganggap itu bukan lagi ranahnya untuk ikut campur. Akan tetapi, saat dia mendengar namanya di sebut, otomatis telinganya seolah bisa mendengar lebih jelas setiap perkataan yang ke luar dari setiap orang yang berada di dalam ruangan.


Walau dia terlihat berdiri tegak sambil berjaga dan melihat para karyawan lain bekerja. Akan tetapi telinganya menjadi awas mendengar perdebatan yang terjadi di balik pintu.


Mereka memperdebatkan aku? batin Alvin dengan kening berkerut dalam.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka menampilkan kedua orang tua Indira, Alvin langsung berbalik dan menggeser tubuhnya untuk memberi jalan pada dua orang paruh baya itu.


"Dasar tidak tau diri!" decak Bu Mardo, ketika melewati Alvin.


Setelah memastikan kedua orang tua Indira pergi, Alvin mengetuk pintu ruangan Indira, dia perlahan masuk setelah perempuan itu mengizinkannya.


Begitu Alvin masuk, dia bisa melihat Indira sedang duduk di sofa sambil berusaha menghapus air matanya.


"Ada apa, Vin?" tanya Indira sambil melihat Alvin sekilas kemudian memilih membuang muka.


Alvin bisa melihat ada warna kemerahan di salah satu pipi Indira, itu pasti adalah bekas tamparan yang tadi sempat terdengar oleh Alvin.


Ada rasa bersalah di dalam hati Alvin, entah mengapa dia merasa selalu saja menjadi masalah bagi perempuan yang ada di dekatnya. Mulai dari Jani dan sekarang Indira.


"Tunggu sebentar, saya akan kembali," ujar Alvin yang langsung ke luar lagi, dia mengambil kotak P3K, handuk dan es batu untuk mengompres pipi Indira.


Tidak lama berselang Alvin benar-benar kembali dengan semua itu di tangannya. Dia berjalan menghampiri Indira yang tampak masih duduk di atas sofa.


"Sebenarnya ada apa, Nona?" tanya Alvin, tangannya menyerahkan handuk yang berisi batu es kepada Indira.


Indira menatap Alvin, dia tidak pernah menyangka kalau laki-laki kaku seperti Alvin, memiliki sisi lembut juga.

__ADS_1


"Terima kasih," ujar Indira mengambil handuk berisi batu dari tangan Alvin, kemudian menempelkannya di pipi.


"Saya tau, ini memang lancang. Hanya saja saya juga tidak bisa diam saja saat mendengar nama saya disebut," ujar Alvin lagi.


Alvin mengoleskan betadine pada luka sobek di sudut bibir Indira yang terlihat berdarah.


"Ssh," desis Indira saat merasakan perih.


"Ini masalah keluargaku, tidak ada hubungannya denganmu, Vin," jawab Indira sambil mengalihkan pandangannya.


"Bila tidak ada hubungannya denganku, lalu kenapa namaku disebut? Aku bisa mendengarnya?" Alvin berusaha mencari tau kebenaran atau mungkin pengakuan dari Indira.


"Tidak ada yang menyebut namamu, Vin. Mungkin kamu hanya salah dengar," ujar Indira, terus mengelak dari pertanyaan Alvin.


Alvin menghembuskan napas pelan, dia kemudian kembali berdiri.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi kembali ke meja saya. Saya harap kedepannya Anda bisa menjaga diri Anda dengan lebih baik lagi, Nona," ujar Alvin, kemudian berjalan menuju pintu.


"Tunggu!" Alvin menghentikan langkahnya kemudian kembali melihat bosnya itu.


"Apa yang akan kamu lakukan, jika orangtua kamu memaksamu untuk membuang orang yang sudah banyak membantumu?" tanya Indira tiba-tiba.


Alvin terdiam, kerutan di keningnya terlihat dalam. Dia kemudian berjalan kembali mendekat ke arah bosnya.


"Saya tidak pernah mengalami apa yang Anda tanyakan. Akan tetapi, mungkin lebih baik jika Anda lebih menuruti perintah orang tua, karena mereka pasti selalu berusaha yang terbaik untuk anak-anaknya," jawab Alvin.


"Orang tua kamu pasti sangat baik, sampai kamu mau merelakan orang di sekitar kamu demi mereka," tebak Indira dengan senyum miris di bibirnya.


Alvin tersenyum dia kemudian mengangguk. "Iya, mereka memang sangat luar biasa," jawabnya.


Dalam ingatannya Alvin hanya melihat kedua orang tuanya selama keluarga mereka masih untuh, sebelum kecelakaan merenggut semua kebahagiaannya.


"Ya sudah, kamu bisa ke luar sekarang," ujar Indira, kemudian menyandarkan punggunya di sofa.


Alvin menunduk kilas, kemudian berjalan ke luar.


Kalau aku yang menjadi permasalahan keluarga mereka, mungkin lebih baik Nona Indira memilih orang tuanya dibandingkan denganku, batin Alvin.


Dengan langkah pasti Alvin berjalan menuju ke meja kerjanya lagi, setelah siang itu berjalan sangat kacau, karena kedatangan kedua orang tua bosnya.


Sedangkan di dalam duangannya, Indira tampak terdiam, dia terus memikirkan perkataan Alvin. Mungkin jika keluarganya seperti keluarga lainnya, dia tidak akan sulit untuk memilih seperti sekarang ini.


Dia hanyalah sudah sepertinya anak tanpa orang tua, semenjak ibu kandungnya meninggal dan ayahnya menikah lagi. Dia hanya dianggap sebagai seorang anak yang menumpang hidup pada ayah dan ibu tirinya.

__ADS_1


Hidupnya selalu dibandingkan dengan Kakak tirinya yang katanya selalu menjadi kebanggan keluarganya. Sejak saat itu Indira selalu bekerja keras untuk bisa lebih pintar dari kakak tirinya itu.


Persaingan di keluarga pun berlangsung terus menerus, tanpa ada yang tau, keduanya terus berlomba. Dibalik pujian yang datang pada keluarga Mardo, di sana ada permusushan antara anak-anaknya, yang tertanam sejak kecil, hingga sampai sekarang Indira bahkan belum bertegur sapa dengan kakak tirinya itu.


"Apa sekarang aku juga harus mengalah?" gumam Indira lagi.


.


.


Alvin berjalan ke luar dari kantor, menuju ke parkiran untuk mengambil motor. Karena waktu pulang karyawan, Parkiran tampak ramai, dengan karyawan lainnya yang juga ingin pulang. Mereka berlomba untuk pulang lebih dulu, agar cepat sampai ke rumah masing-masing.


Alvin berjalan santai di belakang, dia sampai parkiran saat kondisi sudah cukup sepi dan banyak kendaraan sudah menghilang, dibawa oleh pemiliknya masing-masing.


Memakai helm dan bersiap untuk menaiki motor, saat seorang karyawan lainnya tampak kebingungan di area parkir. Alvin yang melihat itu, mengurungkan niatnya, kemudian memilih menghampiri orang itu.


"Ada apa, Pak?" tanya Alvin, pada laki-laki paruh baya yang memakai baju seragam sopir, sepertinya dia salah satu sopir unit kendaraan perusahaan itu.


"Saya harus cepat menyusul anak saya ke rumah sakit. Tapi, motor saya mogok ... aduh, gimana ini?" ujarnya kebingungan.


"Anak, Bapak, masuk rumah sakit?" tanya Alvin.


"Iya, anak ke tiga saya sudah panas dari kemarin, dan sekarang harus dirawat di rumah sakit, mereka gak bawa uang, makanya aku harus segera ke sana, agar anak saya bisa dapat perawatan," jelas Bapak itu.


"Kalau begitu, Bapak, saya antar saja, bagaimana?" tanya Alvin.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Bapak itu penuh harap.


"Tidak, Pak. Kebetulan saya sedang senggang," ujar Alvin.


Keduanya akhirnya meninggalkan kantor bersama, Alvin mmebonceng Bapak tadi menuju ke rumah sakit. Namun, di tengah jalan tiba-tiba ada mobil yang berhenti tepat di depan motor Alvin, hingga Alvin hampir saja terjatuh karena harus mengerem secara medadak.


"Ada apa ini, Nak?" tanya Bapak yang Alvin bonceng, dia merasa panik saat beberapa orang berbadan kekar tampak keluar dari mobil itu.


"Saya juga tidak tau, Pak," jawab Alvin.


Dengan cepat Alvin berusaha memundurkan motornya, hendak menghindar dari para laki-laki itu. Akan tetapi, ternyata Alvin tidak cukup cepat, karena para laki-laki kekar itu bisa mencegahnya. Untung saja Alvin bisa mengambil kunci motor lebih dulu, sebelum dirampas oleh orang-orang itu.


"Siapa kalian?" tanya Alvin, saat dirinya sudah dikepung oleh lima orang berbadan kekar.


"Bagaimana ini, Nak?" tanya Bapak di belakang Alvin.


Alvin berpikir keras, dia kemudian diam-diam menyerahkan kunci motornya pada Bapak di belakangnya.

__ADS_1


"Aku akan menghadapi mereka, sementara itu Bapak harus bisa pergi dari sini, dan mencari bantuan," ujar Alvin memberi instruksi, yang langsung diangguki oleh laki-laki paruh baya di depannya.


......................


__ADS_2