ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Mengajar les


__ADS_3

...Happy Reading ...


...............


Alvin termenung di depan kontrakan, pikirannya masih saja tertuju pada satu nama yang pergi bahkan tanpa meninggalkan pesan. Entah bagaimana kabarnya sekarang di luar sana.


Selama beberapa bulan ini mereka sama sekali tidak berhubungan, Alvin tidak bisa menghubungi Jani, atau melihatnya lagi. Kadang dia pergi ke perumahan tempat rumah Jani, berharap sekedar bisa melihat gadis manja itu.


Namun, dia tidak pernah bisa melihatnya lagi, entah mungkin memang tidak pulang atau sengaja menghindarinya. Seperti beberapa hari yang lalu, pulang bekerja tiba-tiba saja motornya membawa Alvin menuju perumahan Jani.


Ya, kini dia mendapatkan sebuah motor dari kantor untuk alat trasportasinya.


Alvin baru tersadar saat dirinya sudah masuk ke perumahan. Dari seberang jalan rumah Jani dia duduk diam di atas motor, memandang rumah besar yang menyimpan kerinduan untuknya.


Hampir satu jam Alvin hanya berdiam diri, hingga akhirnya dia pergi dengan perasaan yang kembali hampa. Ditinggalkan seorang sahabat yang selama ini terus mengganggunya membuat Alvin dilanda sindrom, susah move on.


"Vin, sini ikut main, jangan bengong mulu, nanti kesambet setan kita juga yang repot," ujar Pak Umar dengan membawa kopi di tanganya.


Seperti biasa laki-laki tua itu mau berkumpul di pos bersama para bapak-bapak yang lainnya.


Alvin terperanjat, dia kemudian tersenyum sambil mengusap tengkuknya, merasa malu karena ketahuan melamun oleh Pak Umar.


"Ayo, kita seru-seruan bareng." Pak Umar menarik tangan Alvin, agar laki-laki muda itu mau ikut bergabung.


Alvin pun akhirnya ikut bergabung bersama para laki-laki yang lain, ada yang sudah mulai bermain kartu, sedangkan yang lainnya hanya mengobrol sambil menjadi penonton saja.


"Wah, tumben nih, anak bujang kita mau ikutan kumpul di sini," ujar salah satu bapak-bapak yang sedang memegang kartu di tangannya.


"Biar gak ngelamun mulu, jadi gue seret aja dia ke sini," jawab Pak Umar.


"Dih, yang lagi galau. Mikirin apa ish, Vin?" tanya bapak satpam.


"Gak ada kok, Pak. Itu mah Pak Umar aja yang ngada-ngada," jawab Alvin sambil tersenyum jahil pada Pak Umar.


"Eh, nih anak malah bohong lagi," kesal Pak Umar karena omongannya dibantah oleh Alvin.


"Kan tadi saya cuman duduk, gak ngelamun, Pak," bantah Alvin lagi, sambil terkekeh.

__ADS_1


"Dah lah, emang susah kalau ngomong sama anak jaman sekarang mah," desah Pak Umar yang hanya bisa mengalah.


"Bantah mulu bisanya, ya, Pak?" imbuh seorang laki-laki paruh baya dengan sarung diselempangkan, yang mungkin seumuran dengan Mang Lukman.


"Nah, tuh udah pada tau!" ujar Pak Umar diakhiri dengan tawanya.


"Sama tuh kayak si Ujang, tiap hari bilangnya galau mulu, gak tau kenapa? Disuruh susah kerjaannya bengong aja, udah kayak ayam kena penyakit tetelo, kalau di sunda mah," cerita bapak tadi yang mempunyai anak laki-laki remaja.


"Urusan sekolah mungkin, Pak," tebak Alvin.


"Ah, kayaknya mah enggak. Dia mah gak pernah peduli sama nilai, kan udah selalu dapat peringkat pertama," jawab bapak sarung itu.


"Wah, masa sih, si Ujang pinter? Padahal setiap hari gue suka dengan bini Lo ngomelin Si Ujang, gara-gara gak mau belajar," ujar Pak Umar gak percaya.


"Ya, mau gimana lagi atuh, Pak. Si Ujang kan peringkat pertama dari belakang," jawab Pak Sarung, yang membuat gelak tawa para bapak-bapak di pos itu, termasuk Alvin.


"Kenapa gak minta bantuan sama Alvin saja, dia kan menang beasiswa, pati pinter dong," ujar Pak Umar.


"Eh iya, aku baru sadar kalau ada bujang kita ini. Gimana, Vin, mau gak ngajarin Si Ujang belajar, daripada setiap hari bengong terus?" Bapak Sarung kini beralih pada Alvin.


"Yah, sibuk ya, Vin," desah Bapak Sarung lemas.


"Eh, bukan begitu, Pak. Tapi, aku ragu bisa mengajar Si Ujang," jawab Alvin.


"Coba dulu aja, Vin. Apa lagi sebentar lagi dia ada tes. bIsa-bisa istriku ngomel lagi kalau nilai Si Ujang jeblok lagi," ujar Pak Sarung.


"Emh, ya sudah, aku coba deh, Pak. Tapi, pas saya pulang kerja ya, Pak," jawab Alvin.


"Wah, makasih bayak, Vin. Nanti aku bilnagin ama Si Ujang," ujar ceria Pak Sarung.


Dari saat itu, Alvin mulai mengajarkan Si Ujang di waktu luang, membuat waktunya semakin tersita, hingga perlahan Jani pun mulai menghilang dari pikirannya,


Walau di saat dia sedang sendiri, bayangan perempuan itu masih saja mengganggu pikirannya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, ternyata memang sulit melupakan seseorang yang sudah lama bersama.


Anak sekolah yang meminta untuk diajarkan oleh Alvin semakin banyak, semenjak Ujang mendapatkan peningkatan nilai saat ujian sekolah.


Kini sudah ada lima orang yang malah meminta les tambahan pada Alvin. Cara mengajar Alvin yang santai dan sederhana membuat anak-anak mudah mengerti materi yang disampaiikan.

__ADS_1


Seperti saat ini, pulang kerja Alvin sudah ditunggu oleh para anak-anak remaja di depan kontrakannya.


Mereka sudah berkomunikasi lewat aplikasi pesan sebelumnya, karena terkadang Alvin harus bekerja lembur, hingga tidak bisa mengajar di hari yang sudah ditentukan.


"Ayo masuk, sebentar Abang mau bersih-bersih dulu ya," ujar Alvin sambil membuka pintu.


Dia menaruh tas kerjanya lalu mengambil handuk dan baju ganti, dia mandi lebih dulu sebelum memulai mengajar para anak remaja itu.


Beberapa saat kemudian Alvin sudah kembali dengan wajah yang lebih segar, dia bersiap untuk memulai mengajar les.


"Ayo, kita mulai pelajarannya," ujar Alvin sambil duduk di atas lantai yang beralaskan karpet.


Semuanya langsung mengeluarkan buku catatannya, bersiap menerima penjelasan dan pertanyaan dari Alvin.


.


.


"Alvin, nanti malam kamu harus bisa menemani aku di pesta ulang tahun pernikahan kedua orang tuaku, dan berusaha menarik banyak relasi di sana," perintah bos Alvin, saat Alvin berada di ruangannya.


"Tapi, Nona–"


"Tidak ada tapi, Alvin! Ini demi kemajuan perusahaan ini," tekan bos Alvin dengan mata melotot tajam.


Dengan berat hati Alvin akhirnya mengangguk pasrah, padahal nanti malam dia berencana untuk istirahat, setelah tiga hari ini dia bekerja lembur terus menerus.


"Bagus, di sana kamu harus menjalin relasi bisnis sebanyak-banyaknya. Karena di sana pasti akan banyak pebisnis besar yang hadir," perintah bos Alvin.


"In Sya Allah, Nona. Saya akan berusaha sebaik mungkin," jawab Alvin.


Sore itu Alvin pulang untuk bersiap menghadiri pesta kedua orang tua bosnya. Ini adalah pertama kalinya dia akan bertemu dengan keluarga bosnya, setelah beberapa bulan bekerja di sana.


"Pakai pakaian mahal, jangan mempermalukan aku!" itu adalah perintah bosnya yang paling sulit dia penuhi.


Untung saja, salah satu anak remaja yang mengikuti les padanya, mempunyai orang tua yang memiliki usaha penyewaan barang mewah, hingga dia bisa meminta tolong padanya.


.....................

__ADS_1


__ADS_2