ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Melepas rindu


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Esok hari setelah pemakaman Ganis, Pak Mardo memutuskan untuk menyerahkan diri, dia mengakui semua kejahatannya sekaligus membawa bukti yang selama ini dia sembunyikan dengan sangat rapih. Pak Mardo pun mendapatkan hukuman berat karena semua kejahatannya selama ini.


Rupanya kepergian Roy dan Ganis menjadi pukulan telak untuk Pak Mardo. Laki-laki itu, menyesali semua kesalahannya selama ini. Di dalam penjara dia fokus untuk menata diri dan memperbaiki iman yang sempat hilang dari dalam hatinya.


Nyatanya hidayah telah menyentuh hati Pak Mardo, setelah Bertahun-tahun berada di dalam jurang kegelapan dan lembah penuh dosa.


Setelah Pak Mardo mendapatkan vonis hakim, istrinya juga meninggalkannya, dia kabur bersama laki-laki lain. Sedangkan Indira pun menikah dengan tunangannya dan di bawa ke luar pulau, setelahnya.


Alvin sendiri memilih kembali bekerja dengan Ezra, dia meminta waktu untuk menata diri pada Jani, sebelum meresmikan hubungan mereka berdua. Alvin menolak adanya status pacaran, karena itu akan lebih mendekatkannya pada kesempatan berbuat dosa.


Awalanya Jani menolak, sebagai seorang perempuan dia tentu saja tidak mau menjalin hubungan tanpa status pasti. Namun, Alvin meyakinkan jika hanya ada Jani di dalam hatinya, dia hanya sedang membutuhkan waktu untuk menata hidupnya kembali, setelah kepergian ibunya.


"Aku ingin kamu tidak menyesal karena telah memilihku, Jani. Jadi biarkan semuanya mengalir seperti air. Jadikan waktu setelah ini untuk kamu bertanya kepada dirimu sendiri, apakah kamu mampu bertahan dengaku yang tidak bisa memberikan kemewahan untukmu?"


Alvin berucap saat keduanya tengah bertemu di salah satu kafe tidak jauh dari rumah Alvin. Laki-laki itu sedang membereskan rumah peninggalan orang tuanya, setelah beberapa hari lalu ditinggalkan orang yang sebelumnya mengontrak di sana.


Setelah perdebatan yang cukup panjang akhirnya keduanya sepakat untuk tidak bertemu selama jangka waktu yang sudah disepakati. Keduanya hanya akan bertukar kabar lewat pesan, seolah sedang melakukan hubungan jarak jauh.


"Kita akan bertemu di tanggal yang sama dan jam yang sama, juga tempat yang sama, satu tahun lagi dari sekarang, dengan jawaban di hati masing-masing," ujar Alvin sebelum keduanya berpisah.


.


Satu tahun berlalu begitu saja tanpa terasa. Alvin yang sekarang — sudah tidak sama lagi seperti dulu. Dia terlihat lebih dewasa, walau laki-laki itu juga menjadi salah satu orang yang gila kerja.


Ya, satu tahun ini Alvin memilih menghabiskan waktunya untuk bekerja, demi bisa menghilangkan kesedihannya. Hingga kini dia sudah memiliki sebuah usaha sendiri di bidang jasa antar barang dan juga trevel yang baru saja dibuka enam bulan yang lalu.


Ezra membebaskan Alvin untuk mengembangkan diri, asalkan pekerjaannya tidak terbengkalai. Usaha itu menggunakan modal dari uang asuransi yang ternyata sudah Ganis daftarkan sejak jauh-jauh hari.


Kini, Alvin bukan lagi hanya seorang asisten pribadi Ezra, dia juga mempunyai usaha kecil yang kini tengah berkembang pesat, setelah dua bulan lalu hampir saja bangkrut karena kesalahan manajemen.

__ADS_1


Alvin berhasil bangkit dan sukses dengan usahanya sendiri, walau dia juga tidak melupakan bahwa banyak orang di sekitarnya yang juga berjasa untuk hidupnya.


Alvin memilih untuk tidak menerima bantuan dari Tuan Gemang, bahkan dia juga menolak saham yang memang sudah menjadi hak milik ibunya di dalam perusahaan keluarga.


Sungguh, konflik sebuah warisan yang telah merenggut seluruh keluarganya membuat Alvin akan merasa sangat bersalah jika menerima semua harta dari Tuan Gemang, walau itu memang sudah menjadi haknya.


"Vin, kamu jadi pulang cepat hari ini?" tanya Ezra sambil duduk di depan asisten yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri itu.


"Iya, Pak. Ada sesuatu yang harus saya lakukan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Alvin sambil membereskan berkas yang baru saja selesai dia diskusikan dengan Ezra.


Selain menjadi bosnya, Ezra juga menjadi tempat Alvin berkonsultasi mengenai bisnis. Alvin bahkan tidak sungkan untuk bertanya pada Keenan jika memang laki-laki itu sedang senggang.


"Tidak ada, hanya saja tolong besok kamu pergi ke cabang yang ada di kota tetangga, sepertinya ada sedikit kendala di sana," jawab Ezra.


"Baik, Pak!" angguk Alvin langsung.


"Baiklah, setelah ini selesai, kamu sudah boleh pulang," ujar Ezra sebelum dia beranjak dari ruang rapat itu.


Alvin menghentikan kegiatannya sebentar kemudian menatap wajah Ezra dengan mata berbinar.


"Jangan lupa bawa kabar bahagia saat kembali," ujar Ezra sebelum ke luar dari ruangan.


Alvin tersenyum, bosnya itu memang selalu tahu apa pun yang dia lakukan, hingga sepertinya tidak ada yang bisa dia sembunyikan dari laki-laki yang menjadi inspirasinya itu.


Alvin melangkah cepat masuk ke dalam sebuah kafe yang sudah sedikit berubah dari setahun yang lalu, dia mengedarkan pandangannya saat sudah berada di dalam, hingga matanya kini bisa melihat seseorang yang dia ingin temui.


Alvin tesenyum tipis, dia kemudian memastikan tampilannya sudah rapih sebelum melanjutkan langkahnya menghampiri perempuan yang kini tengah duduk membelakanginya.


"Assalamualaikum," ujar Alvin saat sudah berada tepat di belakang perempuan itu, hingga membuatnya menoleh cepat.


Anjani. Ya, perempuan yang kini berada di depan Alvin itu terlihat melebarkan matanya menatap Alvin dengan wajah terkejutnya.


"Wa -- Waalaikumsalam." Perlahan Jani berdiri dengan pandangan tidak lepas dari wajah laki-laki yang kini berada tepat didepannya.

__ADS_1


"Apa kabar, Jani? Akhirnya kita bisa bertemu lagi di tempat dan waktu yang sama seperti satu tahun lalu," ujar Alvin dengan senyum tipis menghias wajahnya.


Berbeda dengan Alvin, kini Jani malah terlihat meneteskan air mata, tatapannya berubah sendu dan pandangangan yang tampak bergetar.


"Hei, kenapa menangis, hem? Apakah ada yang salah? Kamu sakit?" tanya Alvin bingung, menatap mata Jani yang sudah berkaca-kaca.


"Kamu salah, kamu jahat, Vin — kamu jahat sama aku." Jani memukul pelan dada bidang Alvin dengan air mata yang sudah berderai.


Dia tidak rela melihat Alvin yang malah tampak semakin tampan dan gagah, berbeda dengannya yang kini merasa sudah tidak secantik sebelumnya.


"Ada apa, hem? Apa terjadi sesuatu padamu?" Alvin bertanya dengan wajah yang berubah panik.


"Kamu membuatku terus menunggu, sekarang aku sudah tua, dan kamu baru datang menemuiku," keluh Jani, dengan bibir yang mengerucut lucu. Mata berair ditambah dengan hidung yang terlihat merah, membuat Alvin gemas melihatnya.


Alvin terkekeh mendengar kekesalan Jani, semua rasa khawatir tak berdasar yang tadi sempat membuatnya panik kini telah hilang, berganti dengan bahagia begitu melihat wajah manja Jani yang sudah kembali.


"Aku tidak pernah meninggalkan kamu, Jani. Aku ada di sekitarmu, hanya saja kamu tidak pernah menyadari keberadaanku," jawab Alvin sambil mengelus puncak kepala Jani yang kini telah tertutup oleh jilbab.


Ya, tiga bulan setelah dirinya berpisah dengan Alvin, Jani memilih untuk memperdalam imannya, dia banyak menghadiri pengajian hingga empat bulan setelahnya Jani memutuskan untuk menggunakan hijap.


"Kamu bohong! Itu pasti cuman omong kosong kamu saja!" Jani tidak percaya, dia masih saja mengerucutkan bibirnya.


Alvin tersenyum tanpa mau menjawab lagi, biarlah semua yang dia lakukan selama ini di belakang Jani menjadi rahasianya sendiri.


"Ayo duduk dulu, tidak enak kita bicara sambil berdiri. Tuh lihat banyak yang perhatiin kita dari tadi," ujar Alvin sambil menarik kursi untuk Jani.


Jani melirik Alvin, walau masih kesal dia tetap menuruti perkataan Alvin. Jujur saja, di dalam hatinya, saat ini begitu bahagia karena bisa bertemu lagi dengan Alvin setelah sekian lama.


Ya, sebenarnya selama ini Alvin selalu memperhatikan Jani dari jauh, dia juga selalu memastikan Jani dalam keadaan baik-baik saja. Dia selalu menjadi orang pertama yang melindungi Jani di mana pun dan kapan pun.


Alvin bahkan tahu jadwal rutin Jani setiap harinya, mulai dari ke luar rumah sampai pulang kembali. Semuanya sudah bisa dia hafal di luar kepala.


Walaupun dirinya sedang sibuk atau tenggelam di dalam pekerjaannya, tidak pernah sehari pun dia melupakan Jani. Nyatanya waktu yang dia pilih ternyata telah menyiksa dirinya sendiri, karena rasa cintanya pada Jani yang ternyata jauh lebih besar dari perkiraannya.

__ADS_1


......................


__ADS_2