
...Happy Reading...
................
Alvin tampak berdiri di depan gedung bertingkat yang selama ini menjadi tempat kerjanya. Terdiam sambil melihat begitu megahnya gedung itu, jika dilihat dari luar. Tinggi dan gagah, sama seperti pohon keluarga Jani yang tampak menyilaukan matanya.
Alvin melihat berkas yang ada di tangannya, lalu tersenyum sambil berjalan masuk ke dalam. Banyak dari para karyawan yang menyapanya, mengingat akibat gosip skandal dirinya dan Jani selama ini. Alvin menjadi salah satu karyawan yang terkenal di kantor.
Alvin pun sempat menyapa beberapa orang yang dirinya kenal.
"Vin, kamu udah masuk kerja?" Sita yang baru saja datang langsung menyapa Alvin.
Alvin menoleh melihat perempuan yang sudah banyak mengajarinya dalam pekerjaan dan mau menjadi petner kerjanya itu.
"Udah mepet nih, yuk buruan," sambungnya lagi, sambil hendak mendahului Alvin.
"Aku harus ke kantor HRD dulu, Mba, duluan aja dulu," jawab Alvin.
Sita hanya mengangguk lalu melambaikan tangan sambil berjalan menjauh dari Alvin, mengingat sebentar lagi waktu absen sudah lewat.
Alvin melanjutkan langkahnya, untuk mengurus surat pengunduran dirinya. Tidak ada yang tahu semua itu, mengingat pihak HRD mengatakannya saat semua temannya pulang lebih dulu.
"Selamat pagi, Pak," ujar Alvin begitu dia memasuki kantor HRD.
Laki-laki yang mungkin baru seumuran dengan Arkan itu menyambut kedatangan Alvin. Dia adalah teman Arkan yang sengaja ditempatan di sana, agar tidak ada orang yang bisa memasukkan orang lewat jalur uang, atau rekomendasi.
Itu sebabnya juga, Alvin harus melewati semuanya sendiri setelah melamar keraja. Itu semua sudah merupakan kebijakan perusahaan yang tidak bisa diganggu gugat.
Namun, namanya juga manusia, pasti ada saja yang tidak percaya pada aturan. Mereka masih saja mengira ada beberapa orang yang bisa masuk kantor itu dengan cara rekomendasi, seperti Alvin contohnya.
"Akhirnya kamu memutuskan untuk mengundurkan diri?" tanya laki-laki itu menatap Alvin.
"Iya, Pak. Ini surat pengunduran diri saya," ujar laki-laki itu sambil mengambil amplop berisi surat pengunduran diri milik Alvin.
"Heuh, sebenarnya pekerjaanmu sudah cukup bagus sebagai orang yang bahkan masih berkuliah. Tapi, keputusan bos memang gak bisa diganggu gugat. Aku berharap kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi," ujar laki-laki itu.
"Sayang sekali kamu sudah membuat keluarga itu kecewa, Vin," keluh laki-laki itu dengan suara lemas.
__ADS_1
Alvin mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya.
Mungkin ini lebih baik untuk kami, Pak, batin Alvin.
"Iya, Pak. Terima kasih untuk selama ini. Saya pamit undur diri." Alvin berdiri lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan atasannya itu.
Ke luar dari ruangan HRD, Alvin langsung pergi ke ruangannya untuk mengambil barang-barang miliknya yang masih berada di kantor.
"Akhirnya kamu kembali ke kantor lagi, Vin," ujar salah satu teman kerjanya begitu Alvin sampai di dalam ruangan tim kerjanya.
Alvin tersenyum sambil sedikit menundukkan kepalanya, tangannya mengusap tengkuk gelisah.
"Halo, semuanya. Sebenarnya aku datang ke sini, untuk berpamitan kepada kalian semua," ujar Alvin ragu.
"Apa maksud kamu, Vin? Kamu dipecat?" tanya Sita sambil berdiri. Perempuan itu sudah merasa cocok bekerja satu tim dengan Alvin, dan merasa keberatan kalau laki-laki itu harus ke luar.
"Enggak kok. Aku mengundurkan diri," jawab Alvin.
"Kenapa?"
"Apa ada masalah di kantor lagi?"
Alvin tersenyum mendengar pertanyaan beruntun dari para teman satu divisi.
"Enggak ada kok. Aku cuman mau lebih fokus kuliah aja. Tahun ini kan tahun terakhir aku, jadi aku takut gak bisa kalau sambil bekerja," jawab Alvin dengan kebohongan.
Walau memang benar tahun ini adalah tahun terakhirnya untuk berkuliah dan pasti akan sangat sibuk. Akan tetapi, Alvin juga tidak akan sampai ke luar dari kantor hanya karena itu.
Acara perpisahan singkat, antara Alvin dan para teman satu divisi pun berlangsung haru. Ketua divisi akhirnya berinisiatif untuk mengajak semua timnya untuk makan malam bersama, sebagai tanda perpisahan untuk Alvin.
Siang hari, Alvin ke luar dari kantor dengan membawa dus berisi barang-barangnnya, akhirnya dia harus kembali merelakan pekerjaannya yang sudah membuatnya hampir bisa melunasi hutang-hutang perawatan ibunya di rumah sakit.
Kini dia harus mulai dari awal lagi, mencoba mencari kerja ke tempat lain, berbekal dari pengalam kerja di kantor ini. Dia hanya bisa berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi.
.
.
__ADS_1
Sudah hampir lima bulan dari semenjak perginya Jani ke luar negri, Alvin kini memutuskan untuk magang di salah satu perusahaan trasportasi. Berbekal surat rekomendasi dari dosennya, akhirnya Alvin bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.
Dia ditempatkan di salah satu cabang sebagai sekretaris. Bila biasanya sekretaris adalah seorang perempuan cantik dan seksi, yang harus melayani bos laki-laki. Alvin malah berbeda, dia malah bekerja dengan bos yang cantik yang masih cukup muda.
Usianya baru menginjak tiga puluh tahunan, rumor yang beredar dia adalah anak pemilik perusahaan yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di luar negri.
"Heuh!" Alvin mendesah beras saat baru mengetahui tentang calon bosnya itu.
Entah mengapa hidupnya selalu saja dipertemukan dengan para anak pemilik perusahaan. Apa tidak bisa dia mendapatkan bos seorang laki-laki saja.
Andai ini bukan perusahaan rekomendasi dari dosennya, dia lebih baik mundur. Cukup sudah ada Milka dan Jani di hidupnya, jangan yang lain lagi.
Namun, ternyata semua pemikiran Alvin itu sangat tidak berdasar, pertemuan mereka untuk pertama kalinya berjalan lancar, perempuan yang merupakan bosnya itu sudah mempunyai seorang tunangan.
"Selamat datang, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik," ujar bos barunya Alvin sambil mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, Bu," jawab Alvin, langsung menyambut uluran tangan bosnya.
Wanita berpenampilan mewah dengan semua pakaian mahalnya itu, tampak bersikap ramah dan profesional pada Alvin, membuat Alvin bisa menghembuskan napas lega. Pada pertemuan pertama kali mereka.
Namun, setelahsatu bulan Alvin bekerja di perusahaan itu, selama ini cukup banyak yang dia kerjakan. Ternyata bosnya adalah seorang perempuan yang terus memberikan tanggung jawabnya pada Alvin.
Dia hanya menerima berkas yang sudah siap dan menandatanganinya saja. Urusan mengoreksi, menyelesaikan masalah, bahkan menghadapi rapat penting, semuanya Alvin siapkan sendiri. Bosnya hanya terima beres saja.
Seperti sekarang ini, Alvin harus mengerjakan bahan untuk rapat sekaligus memperkirakan apa yang akan terjadi di dalam rapat kali ini, dan perkataan apa saja yang harus bosnya itu katakan. Semuanya harus terperinci sebaik mungkin agar bosnya tinggal membaca dan melakukannya.
Entah apa gunanya sekolah di luar negeri selam ini, sampai-sampai sekarang Alvin bahkan merasa menjadi pengganti kepal cabang, bukan lagi sekretarisnya. Dia yang mengerjakan semuanya, kecuali tanda tangan saja.
Suara dering telepon terdengar membuat Alvin mengalihkan perhatiannya. Itu adalah telepon dari bos cantiknya.
"Ya, Nona, ada yang bisa saya bantu?" sapa Alvin.
Perempuan itu tidak mau dipanggil Ibu, katanya dia belum menjadi ibu-ibu. Dia ingin dipanggil dengan kata Nona, mengingat dia adalah Nona besar di keluarganya.
"Persiapan rapat sudah selesai belum? Kalau sudah bawa ke ruanganku sekarang," perintahnya.
"Sedikit lagi selsai, Nona. Sekitar lima belas menit lagi," jawab Alvin.
__ADS_1
...................