
...Happy Reading ...
......................
"Mas, jadi menyuruh Alvin untuk pulang naik mobil?" tanya Nindi begitu melihat suaminya ke luar dari kamar mandi, sedangkan dia sendiri baru masuk ke kamar setelah melihat kedua anaknya yang sudah tertidur.
"Iya. Menyuruh dia memakai mobil saja harus ada alasannya. Bener-bener tuh anak, bikin kesal saja!" kesal Ezra, kemudian memeluk Nindi kilas sambil mengecup keningnya.
"Itu berarti dia orang yang sangat berhati-hati, Mas. Bukannya itu bagus?" tanya Nindi
"Hem, mungkin. Tapi, dia masih terlalu payah untuk menyadari situasinya saat ini," jawab Ezra sambil duduk bersandar di atas ranjang, sedangkan Nindi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan.
"Sini, sayang," sambung Ezra lagi, menepuk ranjang di sebelahnya.
"Mas kan bisa memberitahu Alvin, apa yang terjadi padanya saat ini." Nindi tampak menuruti keinginan suaminya, dia duduk di samping Ezra dengan kepala disandarkan pada pundak suaminya.
"Aku sudah memberikan pertanda untuknya, kita lihat nanti apa dia bisa melihat pertanda yang aku beri dan menyadari apa yang janggal di sekitarnya, atau dia akan tetap menjadi orang bodoh," ujar Ezra santai, sambil mengeratkan pelukannya.
"Tapi, Mas, bagaimana kalau sampai dia tidak sadar dan terjadi sesuatu padanya?" Nindi terlihat khawatir dan itu membuat Ezra berdecak tidak suka.
"Hei, kenapa kamu jadi mengkhawatirkannya, sayang?" Ezra tampak menatap istrinya dengan alis bertaut.
Nindi yang mendengar nada bicara suaminya berbeda, langsung sedikit menegakkan tubuhnya, hingga bisa melihat raut wajah suaminya saat ini. Dia pun terkekeh kecil.
"Aku hanya bertanya, lagi pula bukannya Alvin sudah menjadi asisten, Mas? Itu berarti dia juga sudah menjadi bagian dari keluarga kita kan?" jelas Nindi sambil mengusap dada bidang suaminya lembut.
"Baiklah, kamu menang, sayang. Tapi, aku tetap tidak suka kamu memperhatikan laki-laki lain selain aku dan Zain, sayang," ujar Ezra sambil kembali memeluk istrinya.
"Walaupun aku bertanya tentang Alvin, Keenan, atau Papah. Bukannya, Mas, sudah tau kalau laki-laki yang menjadi perhatian utama aku tetap saja, Mas dan Zain? Lalu kenapa harus khawatir, hem?" tanya Nindi.
"Iya, aku tau. Tapi, tetap saja aku tidak suka." Ezra berkata lembut sambil mengusap puncak kepala istrinya. Walau begitu di telinga Nindi, nada bicara Ezra malah seperti seorang anak yang tidak suka ibunya memberi perhatian pada anak lainnya.
Nindi pun memutuskan untuk tidak bertanya lagi masalah Alvin untuk saat ini, mengingat suaminya sudah mengeluh dan memperlihatkan sifat posesif‐nya.
Ezra memang pernah membicarakan Alvin yang sedang diikuti oleh seseorang padanya, suaminya itu mengetahui hal itu ketika Ezra pergi bersama Alvin dan merasa ada yang mengikutinya.
Awalnya Ezra mengira kalau itu adalah musuhnya atau musuh dari Papahnya, makanya dia memilih untuk menyelidikinya diam-diam. Akan tetapi, ternyata Ezra malah mendapati kalau sasaran mereka bukan padanya dan keluarganya, melainkan pada asisten pribadinya.
__ADS_1
Sejak saat itu Ezra menyuruh salah satu anak buahnya untuk menyelidiki kehidupan Alvin sebelum menjadi asistennya, dan dia sudah bisa menebak siapa dalang di balik semua itu.
.
Alvin mengendarai mobil barunya yang dia dapatkan dari Ezra untuk pulang ke rumah, entah kenapa bosnya itu menyuruhnya untuk langsung pulang naik mobil pemberiannya, dan meninggalkan motor miliknya sendiri di rumahnya.
Perkataan bosnya itu sebelum dia pulang pun terus mengusik pikirannya, hingga tanpa dia sadari tubuhnya mengikuti keinginan bosnya untuk lebih waspada, dia terus memperhatikan sekitarnya di saat perjalanan pulang.
Bahkan tanpa sadar Alvin yang biasanya tidak pernah mencurigai mobil di belakangnya pun kini mulai merasa ada yang sedang mengikutinya, walau tentu dirinya belum yakin akan hal itu.
"Apa mungkin mobil itu mengikutiku? Tapi kenapa?" tanya Alvin, saat melihat mobil yang sepertinya sejak tadi mengikuti.
"Dari pada penasaran mending aku coba saja," gumam Alvin sambil mulai menurunkan kecepatannya dan masih memperhatikan mobil yang ada di belakangnya.
Namun, ternyata mobil yang sejak tadi dia curigai mendahuluinya dan melaju jauh di depannya.
"Huh! Mungkin Pak Ezra hanya mengerjai aku? Atau takut aku membuat mobil pemberiannya baret saja." Alvin menghembuskan napas kasar, sambil menebak arti dari perkataan Ezra padanya.
Alvin pun akhirnya memilih untuk fokus menyetir tanpa memikirkan perkataan bosnya itu, dia pun membuktikan kalau sampai dirinya di rumah, tidak ada yang janggal dengan kondisi di sekitarnya.
"Loh, Vin. Kamu pulang jalan kaki? Motor kamu mana?" tanya Pak Umar yang masih berada di pos.
"Wah, sudah pulang naik mobil kamu sekarang, Vin?" ujar salah satu bapak-bapak di sana, menimpali obrolan Alvin dan Pak Umar.
"Cuman mobil pinjam, Pak. Biasa ... pasilitas kantor katanya," jawab Alvin sambil tersenyum canggung, niat hati hanya menjawab pertanyaan Pak Umar, kok dia malah terkesan pamer karena didengar oleh banyak orang.
"Baguslah, itu berarti makin ke sini, pekerjaan kamu semakin bagus kan. Dari gak punya kendaraan, terus beli motor, sampai sekarang sudah bisa pake mobil," ujar Bapak itu, yang diangguki semua orang di sana.
"Iya, Pak. Alhamdulillah," ujar Alvin, sambil mengusap tengkuknya yang terasa dingin.
.
Pagi Hari, Ezra ke luar dari rumah dia kemudian menemui salah satu anak buahnya yang bertugas tadi malam.
"Bagaimana? Apa kamu masih melihat orang-orang itu di luar?" tanya Ezra.
"Sudah tidak ada, Pak. Sesuai perintah, Bapak, setelah lebih dari tengah malam, kami melaporkan mereka pada penjaga komplek. Mungkin setelah itu mereka ditegur, kemudian pergi dari sana," jawab anak buah Ezra.
__ADS_1
Ezra mengangguk, dia kemudian mengalihkan perhatiannya pada motor Alvin yang terparkir di depan rumahnya.
"Motor itu sudah kamu priksa?" tanya Ezra lagi.
"Sudah, Pak. Saya tidak menemukan adanya alat pelacak di sana. Sepertinya mereka masih mengikuti Alvin secara langsung," jawab anak buah Alvin lagi.
"Baguslah, kalau begitu dia pasti akan cepat sadar. Nanti siang, kamu kembalikan motor ke rumahnya, dan usahakan jangan sampai mereka mengetahuinya," perintah Ezra.
"Baik, Pak," angguk anak buahnya.
.
Sementara itu, Alvin berjalan ke luar dari rumah kontarkan tempatnya tinggal beberapa tahun ini, dia harus berjalan kaki sebentar untuk mengambil mobil yang dia parkir di lapangan.
Beberapa hari beraktivitas menggunakan mobil dari Ezra, Alvin masih tidak menemukan kejanggalan, dia merasa tidak ada yang mengikuti atau mengawasinya, hingga seminggu setelahnya dia mendapatkan telepon dari rumah sakit, kalau ada seseorang yang bertanya tentang ibunya.
"Pak, Maaf. Apa boleh saya pulang cepat hari ini? Ada sesuatu yang harus saya kerjakan," ujar Alvin dengan wajah khawatir, dia tiba-tiba teringat dengan Pak Mardo yang ingin mengetahui keberadaan ibunya.
"Ada apa?" tanya Ezra tanpa melihat asisten pribadinya itu.
"Eum, aku harus melihat ibuku di rumah sakit, Pak. Aku mohon, kali ini izinkan aku pulang lebih awal, setelah aku bisa memastikan ibuku tidak apa-apa, aku akan bekerja lebih keras lagi," janji Alvin, pikirannya sekarang sedang tidak tenang, karena yang ada di pikirannya saat ini hanyalah keamanan ibunya.
Alvin tahu, kalau Pak Mardo bukanlah sosok kakak yang menyayangi adiknya, laki-laki paruh baya itu sudah terlanjur tenggelam dalam iming-iming harta dan kedudukan, hingga akhirnya gelap mata dan melupakan semuanya.
Jika Pak Mardo bisa merencanakan sesuatu untuk membunuh adik ipar dan keponakannya sendiri, bukan tidak mungkin jika dia juga bisa merencanakan hal yang sama pada adiknya sendiri.
Ezra tampak terdiam beberapa saat dengan kening bertaut, "Atur lagi jadwal pertemuanku dengan klien, dan bawakan dulu berkas yang harus aku kerjakan hari ini!" titah Ezra.
"Baik, Pak," angguk Alvin, dengan capat dia mengerjakan apa yang diperintahkan oleh bosnya dan kembali ke ruangan untuk melapor.
"Baiklah, hari ini kamu aku izinkan pulang. Tapi, bersiaplah, karena kedepannya kamu akan sangat sibuk," ujar Ezra.
"Baik, Pak. Saya akan selalu siap!" jawab Alvin tegas.
"Terima kasih, Pak. Saya permisi, Assalamualaikum," sambung Alvin lagi sambil menunduk samar sebelum ke luar dari ruangan kerja bosnya itu.
Tanpa sepengetahun Alvin, setelah Alvin pergi, Ezra pun ke luar dari kantor dan memilih membawa pekerjaannya ke rumah, karena tidak ada jadwal pertemuan lagi.
__ADS_1
......................
Gimana-gimana, ada yang kangen sama bucinnya Mamas Ezra?🤭