
...**Selamat datang di pernikahan Alvin dan Jani**...
...****************...
...Happy Reading ...
........
"Saya terima nikah dan kawinnya Anjani Anggita Wiratmadja binti Raka Wiratmadja dengan mas kawin seperangkat alat solat dan uang senilai —"
Suara Alvin yang sedang mengucapkan ijab kobul terdengar menggema di seluruh balroom hotel yang sudah dihiasi begitu mewah itu.
"Bagaiama para saksi, sah?"
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
Riuh suara para kerabat yang menyambut ucapan dari penghulu dan saksi, menambah rasa kebahagiaan di hati Alvin dan orang-orang terdekatnya yang selama ini mendampingi Alvin berjuang.
"Alhamdulillah," Alvin menetesekan air mata begitu kata sah itu terdengar.
Hatinya tidak bisa menggambarkan rasa bahagianya saat ini.
Lantunan doa mengiringi, mengungkapkan pengharapan akan kehidupan rumah tangga yang berjalan dengan indah dan bahagia, serta penuh kasih. Tentunya diiringi dengan berkah yang diberikan Allah SWT.
Ingatannya kembali pada kedua orang tua, adik, dan kakaknya yang Alvin yakini ikut menyaksikan momen bahagianya ini.
Bapak, Mama, Alin, Kakek, Aku yakin kalian sedang melihatku dari suatu tempat yang sangat indah. Aku harap kalian juga bisa ikut bahagia dengan keberanianku untuk membuka lembaran baru dalam hidupku. Kini aku bukan lagi bertanggung jawab atas diriku sendiri, melainkan juga ada seorang istri yang harus aku jaga dan pastikan kebahagiaannya.
Alvin membantin, mengungkapkan kebahagiaannya pada keluarga yang telah berpulang lebih dulu.
Sementara itu, di salah satu ruangan tidak jauh dari tempat Alvin melakukan ijab kobul Jani tampak tak kuasa menahan air mata begitu Alvin berhasil mengucapkan kalimat kobul yang diiringi oleh kata sah para tamu yang hadir.
"Alhamdulillah," gumamnya dengan tetes air mata yang membasahi pipi.
"Selamat ya, sayang, sekarang kamu sudah resmi menjadi seorang istri." Mama Jani tampak langsung memeluk anak perempuannya dengan perasaan haru, karena sudah berhasil mengantarkan anak perempuannya menempuh hidup baru.
Ada sedikit rasa tidak rela di benak Mama, karena harus melepas putri kecilnya untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama dengan orang lain.
Ya, bagi orang tua, seorang anak tidak akan pernah tumbuh dewasa, mereka akan tetap menjadi anak kecil yang manja dan membutuhkan perlindungan serta kasih sayangnya. Begitu juga yang sedang dirasakan oleh kedua orang tua Jani.
"Terima kasih, Mah," jawab Jani dengan mata yang memerah, karena MUA sudah memberi peringatan agar tangisnya tidak tumpah, mengingat sebentar lagi jani harus ke luar untuk menemui Alvin.
Mama mengurai pelukannya kemudian menangkup pipi Jani, air mata tampak masih menentes membasahi wajah cantik wanita paruh baya itu.
"Anak Mama sekarang sudah besar," ujarnya sambil tersenyum haru,l lalu memperikan kecupan penuh kasih di kening Jani.
"Ayo, sudah waktunya pengantin untuk ke luar," ujar pengatur acara sambil mengatur posisi para pengiring pengatin agar bersiap.
Jani berdiri dengan dibantu oleh sang mama, dia kemudian bersiap di ujung pintu masuk ke balroom, di mana Alvin dan semua tamu yang hadir sudah menanti kedatangannya.
Anjani menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, saat kru pengatur acara sudah menghitung mundur menuju pintu balroom dibuka. Jantungnya terasa berdetak kencang hingga ujung jarinya terasa dingin. Jani sangat gugup.
__ADS_1
Dalam hitungan terakhir, dua daun pintu yang terlihat besar nan tinggi menjulang perlahan mulai terbuka, memperlihatkan dekorasi indah yang didominasi berbagai warna biru dan putih.
Tepat di depannya terlihat karpet berwarna emas bertabur kelopak bunga berwarna putih, terbentang jauh, siap menyambut kedatangan sang ratu di hari ini. Warna yang terlihat begitu kontras dari dekorasi lainnya, membuatnya menjadi pusat perhatian.
Di ujung karpet emas itu, terlihat Alvin berdiri gagah dengan stelan tuksedo berwana senada dengan gaun pengantin modern yang Jani kenakan. Untuk beberapa saat mata kedua raja dan ratu sehari itu, saling bertaut dalam, seolah sedang mengungkapkan rasa bahagia dan penuh cinta yang begitu membuncah di dalam dada.
Sesuai aba-aba, Jani mulai melangkah perlahan dan teratur masuk ke ruang pesta, melewati barisan kursi para tamu yang menghadiri acara, menjadi saksi ikrar janji cinta seorang laki-laki sejati kepada pujaan hatinya.
Bisik ucapan selamat terdengar saat dia melewati para teman kuliah yang menjadi saksi perjuangan Jani dalam mendekati Alvin, mereka tampak mengacungkan ibu jari tangannya, bangga atas keberhasilan yang kini dicapai Jani.
Jani hanya menanggapi kehebohan para temannya dengan senyum malu, sungguh pipinya terasa panas saat ini, ketika bayangan masa-masa pertama dia bertemu dengan Alvin, di mana dia yang mendekati lebih dulu laki-laki sedingin kulkas dua belas pintu itu.
Tidak pernah dia sangka, jika kini dirinya bisa bersanding dengan laki-laki yang menjadi cinta petamanya, laki-laki yang begitu dia perjuangkan dan lama dia tunggu. Sungguh, tidak mudah untuk mencapai titik ini, mengikuti riak kehidupan Alvin yang naik dan turun bagaikan sebuah wahana roler koster.
Bertumbuh dewasa dengan menumpu harapan tanpa ada kepastian di dalam hubungan adalah bukan hal mudah, bersusah payah meyakinkan kedua kakak dan ayahnya demi mendapatkan restu, adalah hal yang membuatnya hampir menyerah.
Namun, ternyata keyakinannya tidak salah, Alvin hanya meminta waktu satu tahun untuk menyiapkan diri, dan laki-laki itu membuktikannya. Entah bagaimana caranya, Alvin datang dengan semua masalah yang sudah selesai.
Kedua kakaknya dan sang ayah sudah merestui, keuangan yang mapan, bahkan kesiapan mental untuk langsung meresmikan hubungan mereka dengan sebuah ikrar pernikahan.
Penantiannya ternyata tidak pernah sia-sia, kini dia bahkan bisa memiliki Alvin seutuhnya.
Jani berhenti tepat di depan Alvin, laki-laki itu kini tampak membawa kakinya satu langkah mendekat. Sorot matanya tampak penuh cinta, hingga senyum tipis pun tidak pernah menghilang di wajahnya.
Jani juga bisa melihat, ada bekas air di sudut mata Alvin, hingga dia tahu kalau laki-laki itu juga sedang menahan tangis kebahagiaannya.
"Assalamualaikum, istriku," bisik Alvin pelan, hingga mungkin hanya Jani yang bisa mendengarnya. Membuat perempuan itu tampak sedikit menundukkan pandangannya, dengan pipi yang memanas.
Untung saja, dia memakai riasan khas pengantin yang pasti cukup tebal, hingga bisa menuntupi semburat merah di pipinya, akibat godaan Alvin.
Jani mengulurkan tangan saat aba-aba dari pembawa acara menyuruhnya mencium tangan Alvin, sebagai tanda bakti pertamanya sebagai seorang istri.
Alvin memejamkan matanya dengan satu tetes air kembali ke luar begitu saja, menggambarkan sebuah rasa syukur yang begitu besar atas penikahannya dengan Jani saat ini.
Begitu juga dengan Jani, dia pun tidak bisa menahan tetes air mata saat bibir yang terasa hangat itu menempel di keningnya.
Riuh suara tepuk tangan, dan kilatan sinar kamera yang mengarah pada keduanya, seolah tidak bisa mengganggu kebahagiaan sepasang insan yang baru saja menyatu itu.
.
Alvin mengedarkan pandangannya, melihat satu per satu wajah yang kini berada di sana. Hingga pandangannya terpaku pada salah satu sudut balroom, di sana dia melihat bayangan Bapak, Mama, Alin, dan Kakek, yang sedang tersenyum kepadanya.
Alvin membalas senyum itu dengan mata berkaca-kaca, sebelum akhirnya bayangan itu perlahan menjadi kabur dan menghilang, menyatu dengan udara.
Seperti pesan terakhir Mama, sekarang Alvin sudah melepaskan masa lalu, dan menata kebahagiaan Alvin sendiri, semoga sekarang kalian juga bisa tenang di sana, batin Alvin dengan senyum harunya.
"Sedang liat siapa sih, serius banget," tanya Jani yang kini sudah berada di sisinya.
Alvin menoleh sambil tersenyum, dia memeluk pinggang Jani dengan penuh kasih.
"Tidak ada, aku hanya sedang bahagia karena sekarang ada kamu di sisiku," jawab Alvin dengan nada suara lembut.
Ah, Jani bahkan hampir melupakan jika dulu Alvin pernah begitu dingin, sampai dia memberi julukan manusia kulkas dua belas pintu.
Kini, laki-laki itu terasa begitu hangat dan lembut, hingga Jani selalu terbuai oleh kata manis dan perlakuan penuh kasih yang ditujukan Alvin untuknya.
__ADS_1
"Terima kasih, untuk semua kesabaran kamu dalam menungguku. Aku mencintimu, sungguh sangat mencintaimu," ujar Alvin kemudian kembali mengecup kening sang istri, tanpa ragu.
Jani kembali tersipu, dia belum terbiasa menerima ungkapan cinta dari Alvin, hatiya masih saja berdebar begitu kencang saat laki-laki itu terus menghujaminya dengan kata indahnya.
"Aku juga cinta sama kamu," jawab lirih Jani.
"Hei, sudah-sudah ... jangan bermesraan terus di depan umum, tidak malu apa menjadi tontonan banyak orang!"
Tiba-tiba, suara yang sangat familiar di telinga Alvin terdengar, hingga mengacaukan momen romantis keduanya. Alvin menoleh ke arah kedatang serombongan keluarga yang sudah dia anggap sebagai kakak sendiri.
Ya, itu adalah suara Keenan yang menggodanya, yang disusul dengan keluarga Ezra di belakangnya.
"Ish, bukankah kalian yang mengajariku untuk berbuat seperti ini, jadi sebagai ahli dalam perbucinan, jangan suka meremehkan yang masih pemula sepertiku, ya," jawab Alvin santai.
Ya, jika tidak sedang berada di kantor, Alvin bisa menggunakan bahasa tidak formal pada Ezra dan yang lainnya. Mereka memang sudah tampak bagaikan adik kakak yang sesungguhnya.
"Jangan sembunyikan rasa cintamu dan menyalahkan aku. Aku tidak pernah mengajarimu untuk melakukan itu." Keenan tidak terima.
"Kalau bos kamu, sepertinya aku juga setuju," sambung Keenan lagi sambil melirik ke arah Ezra.
"Hei, aku diam saja sejak tadi!" Ezra yang tidak mau melepas tangannya dari pinggang sang istri membantah dengan santai seolah tidak bersalah jika selama ini dia terus mempertontonkan kemesraannya di depan Keenan dan Alvin.
"Lihatlah, bahkan di situasi seperti ini tangannya tidak bisa lepas dari Kak Nindi!" Keenan menujuk tangan Ezra yang melingkar santai di pinggang istrinya.
"Ini sitriku, dan aku sedang menjaganya," ujar Ezra memberi alasan. Nindi yang sudah tidak bisa langi menahan rasa malu, mencubit perut suaminya, hingga Ezra mengaduh sambil meringis menahan rasa sakit.
"Sayang," keluhanya pada Nindi yang tidak dianggap sama sekali oleh wanita berhijab itu.
Semua orang di sana pun tertawa melihat keharmonisan keluarga kakak tertua mereka, sekaligus inspirasi mereka dalam membahagiakan istrinya masing-masing. Termasuk Alvin, yang sudah menetapkan hatinya untuk Jani seorang.
Merka pun mengucapkan selamat atas pernikahan Alvin dan Jani, kemudian berfoto bersama, untuk mengenang kebersamaan dan hubungan yang terjalin.
Nyatanya persaudaraan tidak harus ada ikatan darah, dan itu terbukti dengan kedekatan antara Ezra, Keenan, dan Alvin.
Antrian para tamu yang terus berdatangan ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat pada Alvin dan Jani pun seakan tidak pernah putus, mulai dari kerabat, teman, dan kolega bisnis, semuanya mengantre dengan tertib di sisi pelaminan, sedangkan sebagian tamu lainnya tampak sedang menikmati hidangan yang sudah tersedia sambil melihat jalannya acara dan hiburan yang ada.
Kini Alvin sudah mebuktikan jika dirinya bisa sukses tanpa ada harta warisan yang selama ini manjadi biang masalah di keluarganya. Dia bisa berdiri sendiri, dengan takdirnya yang harus jatuh bangun tanpa henti, hingga sampai di titik ini.
Dendam pada masa lalu dan kehilangan ayah dan adiknya pun kini sudah dia lepaskan, hingga membuat hatinya lebih tenang, tanpa melepaskan silaturahmi dengan siapa pun di dalam keluarganya.
Pernikahan ini bukanlah akhir dari perjuangan Alvin, ini adalah sebuah awal untuk Alvin menginjakkan kehidupannya pada tahap yang berbeda. Banyak juga rintangan yang pastinya menanti untuk menguji kekutan cinta kaduanya.
Kehidupan ini memang tentang cobaan dan ujian yang akan berakhir dengan suatu pembelajaran yang begitu berarti, semua itu terus berulang hingga waktu kita untuk bernapas telah habis.
Kita selalu dihadapkan oleh sebuah pilihan yang akan berujung pada dua akhir yang berbeda, dan semua keputusan yang kita ambil akan memiliki rintangan juga kebahagiaan yang berbeda pula.
Semuaya tergantung dengan pilihan kita, apa itu akan menuju pada sebuah kebahagian sejati seperti Alvin, atau mungkin akan membawa kita menuju jurang penyesalan yang begitu dalam seperti Pak Mardo.
...TAMAT...
...****************...
Terima kasih kepada para readers yang sudah setia menunggu cerita Alvin ini. Kini aku akhiri ceritanya dengan ucapan Alhamdulillah ....
Di akhir pergantian tahun ini, aku juga mau mengucapkan selamat Tahun baru untuk kalian semua. Semoga di tahun yang ka datang, kita bisa lebih baik lagi sebagai seseorang, baik itu untuk diri kita sendiri, keluarga, maupun orang di sekitar kita. Amiin🤲
__ADS_1
Sampai jumpa di karyaku yang lain semuanya👋👋🙏🥰🥰