ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Satu tahun


__ADS_3

...Happy Reading...


...................


"Hai, Vin! Nih makan siang buat kamu," ujar Jani, saat mereka masuk bersama ke kampus.


Ya, semenjak kejadian di kafe setahun lalu, kini hubungan keduanya tampak semakin dekat, walau Alvin masih menganggap Jani sebagai temannya.


Seperti biasa, Jani akan membawakan makan siang untuk Alvin, di saat mereka ada jadwal kelas yang sama.


Tanpa terasa kebiasaan itu sudah terjadi hampir uda tahun, hingga Alvin sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Jani di sisinya, dia bahkan kini bersikap santai dengan perempuan itu.


Semua itu membuat hampir semua teman kampusnya mengira kalau keduanya memang benra-benar menjalin hubungan, dengan berkedok sebagai teman.


Merasa lelah menyangkal, akhirnya Alvin dan Jani membiarkan berita itu begitu saja. Mereka malah fokus pada kuliahnya masing-masing.


"Makasih," jawab Alvin.


Ya, walaupun sudah lebih santai. Akan tetapi, kebiasan sedikit bicara masih menjadi khas seorang Alvin. Bahkan sebutan kulkas sudah menyebar pada setiap mahasiswa yang menyukainya.


Ah, Alvin pun membiarkan itu semua, biarlah dia dikenal sebagai kulkas, baginya itu lebih baik daripada harus terkenal dengan pencinta wanita.


"Kamu ada berapa kelas hari ini?" tanya Jani.


"Dua," jawab Alvin singkat.


Sangat singkat hingga membuat Jani berdecak kesal.


"Aku cuman ada satu kelas, kamu mau gak anterin aku ke toko buku, ada beberapa buku yang harus aku beli," ujar Jani, dia bahkan dengan senang hati menjelaskan berapa jumlah kelas kuliahnya hari ini, walaupun Alvin tidak menanyakannya.


"Boleh. Tapi, setelah aku selesai."


"Oke!" Jani menyatukan ujung jari telunjuknya dengan ibu jari, membentuk huruf O.


Dia pun berjalan mendahului Alvin, lalu berjalan mundur di depan laki-laki itu.


"Jangan seperti itu, bahaya," peringat Alvin, dia sudah terbiasa dengan sikap kekanakkan Jani.


Baru saja Alvin selesai berbicara, kaki Jani sudah tersandung, hingga hampir saja terjatuh mencium beton cor jalanan kampus, kalau saja tangan Alvin tidak sigap menangkap tubuhnya.


"Dasar bocah!" dengus Alvin, sambil menegakkan tubuhnya kembali, lalu mepaskan tubuh Jani.


"Enak aja, aku bahkan lebih tua dari kamu," jawab Jani tidak terima disebut bocah oleh Alavin.


"Aku merasa kamu bahkan sepuluh tahun lebih muda draiku." Alvin menggeleng dengan ekspresi mengejek pada Jani.

__ADS_1


Dia meneruskan langkahnya, meninggalkan Jani dengan kekesalnnya.


"Alvin! Dasar kulkas dua belas pintu!" teriak Jani, meluapkan rasa kesalnya.


Ya, teriakan Jani lah yang mengawali sebutan kulkas bagi Alvin.


Alvin tak menjawab ataupun menolah, dia dengan santai terus melanjutkan langkahnya. Senyum tipis tampak terpatri di bibirnya, saat bayangan wajah cemberut Jani melintas di pikirannya.


"Satu ...." Alvin mulai menghitung d dalam hati.


"Dua ...."


"Tiga ...."


"Alvin, tunggu!" Tepat hitungan yang ke tiga, Jani sudah berada di sebelahnya lagi.


"Dasar bocah!" Kembali Alvin berguman sambil terkekeh.


"Ck! Daripada kamu, kulkas dua belas pintu?" debat Jani.


Alvin hanya mengedikkan bahu, dia tidak lagi menjawab. Mereka berdua akhirnya berjalan bersama menyusuri koridor kampus. Alvin lebih dulu mengantarkan Jani ke kelasnya, kemudian baru dia akan menuju kelasnya sendiri.


Satu tahun lebih berhubungan dengan Jani sebagai teman, Alvin pernah bertemu dengan semua anggota keluarga Jani. Mulai dari ayahnya, kakak pertamanya, tentu saja dengan ibu dan kakak kembarnya.


"Berani-beraninya loe nolak adik gue dan bikin dia nangis semalaman! Laki-laki miskin dan pengecut kayak loe, bahkan gak pantas untuk jadi pacar dia, ngaca dong!"


Hinaan berbalut kasih sayang seorang kakak itu terdengar dari mulut Anji, saat Alvin sudah tak berdaya menyelamatkan diri dari sepuluh orang teman-teman Anji, yang memukulnya tanpa belas kasih.


Alvin tidak marah, dia tahu bagaimana sakitnya seorang kakak laki-laki jika adik perempuannya disakiti orang lain. Dia sendiri mungkin akan melakukan hal yang sama, jika semua itu terjadi pada Alin.


Karena itu juga, Jani sempat tidak mau menegur Anji selama beberapa hari. Perempuan itu marah besar karena Anji melakukan itu pada Alvin.


"Aku tau kamu anak yang baik, makanya kamu menegaskan status di antara kalian. Aku titip Jani padamu, selama dia berada denganmu, aku rasa kamu bisa aku percaya untuk menjaga anak perempuanku satu-satunya."


Itulah, perkataan yang dikatakan oleh ayah Jani, saat dia dipaksa untuk makan malam di rumah besar keluarga Jani.


"Jangan macam-macam kamu pada adikku, atau aku bisa menghancurkan hidupmu hanya dengan sekali tepukkan tangan."


Itu adalah kata ancaman dari kakak pertama Jani, yang ternyata sangat dingin dan lebih menyeramkan dari pada ayahnya.


"Gue gak akan memberikan kesempatan lagi, kalau sampai lo berani menyakiti adik gue lagi!"


Ancaman itu kembali terdengar setelah Anji meminta maaf padanya.


Sejak hari itu, Alvin merasa dirinya mempunyai kewajiban untuk menjaga Jani. Ada harapan dari seluruh keluarga Jani, dengan pertemanan mereka berdua.

__ADS_1


Alih-alih, mereka melarang Janj berhubungan dengannya karena masalah kasta, seluruh keluarga Jani malah mendukung pertemanan keduanya.


"Tante titip Jani, tolong jaga dia saat dia bersama dengan kamu."


Ucapan itu ke liar dari mulut lembut seorang ibu, yang tak lain adalah Mamanya Jani.


Ya, semua itu yang membuatnya mencoba menerima Jani di sisinya sebagai teman. Hingga akhirnya mungkin dirinya yang merasa telah terbiasa.


Melihat tingkah ceria dan sedikit konyol Jani, membuatnya merasa terhibur. Perempuan yang berumur dua tahun lebih tua darinya itu, terlihat seperti adiknya.


Sikapnya sangat kekanakkan dan manja. Mungkin karena dia terlahir sebagai anak bungsu keluarga kaya, juga anak perempuan satu-satunya. Membuat kehidupan Jani penuh dengan kasih sayang dan harta yang melimpah.


.


.


Setelah makan siang, Alvin dan Jani pergi ke toko buku bersama-sama. Sesuai janji tadi pagi.


Jani sibuk mencari berbagai buku referensi untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Sedangkan Alvin hanya mengikutinya dari belakang.


Sekitar tiga puluh menit berkeliling toko buku, kini mereka sudah berjalan ke luar, dengan Alvin yang memang paper bag di tangan.


"Langsung pulang?" tanya Alvin, dia harus segera sampai di rumah karena hari ini ada Imaran yang akan datang.


"Kita ke kantor Kak Arkan aja yuk. Bukannya mulai minggu depan kamu sudah mulai bekerja di sana?" ajak Jani.


Ya, mulai minggu depan, pengajuan untuk pindah ke kelas karyawan sudah bisa berlaku, hingga dia bisa bekerja di kantor milik keluarga Jani. Tentu saja semua kemudahan ini ada bersamanya karena bantuan dari keluarga Jani yang ternyata sangat berpengaruh.


"Mau ngapain?" Alvin tampak mengerutkan keningnya, merasa keberatan dengan ajakkan dari Jani.


"Ya, lihat-lihat aja," jawab Jani santai.


"Gak usah, nanti kalau aku udah kerja kamu juga bisa lihat-lihat sepuasnya," jawab Alvin.


"Yah, terus kita ke mana dong?" tanya Jani.


"Langsung pulang, aku ada urusan lain," jawab Alvin.


"Urusan apa? Aku boleh ikut gak?" tanya Jani.


"Gak, kamu aku anterin pulang aja," jawab Alvin sambil berjalan menuju pintu ke luar utama.


...................


Gimana udah TTM gak? Komen🤭

__ADS_1


__ADS_2