ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Sifat kekanakkan


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Alvin sampai di rumah sakit tempat ibunya dirawat, dia langsung berlari ke dalam begitu ke luar dari mobil. Sampai di sana dia menemui dokter yang selama ini menangani Ganis, karena dokter itu juga yang telah menghubunginya beberapa saat lalu.


"Dok, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alvin, begitu dia duduk di depan dokter wanita itu.


"Begini, Vin ... tadi dua orang laki-laki berbadan tegap, datang dan menanyakan nama ibumu pada resepsionis. Tapi, karena permintaan kamu terakhir kali, kami tidak memberi tahu mereka kalau ibumu memang dirawat di rumah sakit ini," jelas Dokter itu.


Alvin memang pernah meminta pada dokter dan pihak rumah sakit, untuk tidak memberitahu siapa pun tentang keberadaan ibunya di rumah sakit ini, jika tanpa sepengetahuan dirinya.


"Bisa bantu saya melihat CCTV di sini, Dok? Saya ingin tau bagaimana wajahnya," tanya Alvin, dia hanya ingin memastikan kalau mereka adalah anak buah Pak Mardo atau bukan.


"Itu mungkin akan sedikit sulit, Vin. Tapi, akan coba saya usahakan," jawab Dokter itu.


Alvin terdiam beberapa saat, dia benar-benar harus tahu wajah dari dua orang itu, agar dirinya bisa lebih waspada lagi. Akan tetapi, sepertinya itu memang bukan hal mudah, dia sampai harus menemui manager rumah sakit untuk memohon agar diizinkan melihat hasil kamera CCTV.


"Alasanmu untuk melihat rekaman CCTV itu belum bisa memenuhi syarat, Nak." Laki-laki paruh baya yang memiliki jabatan manager rumah sakit itu tampak masih berkeras untuk menolak permintaan Alvin dan dokter wanita itu, walaupun sejak tadi Alvin sudah memohon izin padanya.


Alvin tampak terdiam beberapa saat, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia kemudian menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, sebelum mengatakan sesuatu.


"Maaf, Pak. Boleh aku bertanya, untuk apa CCTV itu berada di sana?" tanya Alvin, dengan raut wajah terlihat lebih tenang.


Laki-laki berstatus manager rumah sakit itu tampak terdiam, mungkin dia terkejut dengan perubahan cara bicara Alvin, begitu juga dengan dokter wanita itu.


Sikap Alvin yang sebelumnya terlihat lemah dan lebih banyak memohon, kini malah terlihat tegas dan berwibawa dibandingkan bisanya. Di kalangan pekerja rumah sakit Alvin dikenal sebagai anak pendiam, walau masih tetap ramah. Alvin hanya akan berbicara seperlunya pada orang lain, meskipun saat bersama ibunya mereka melihat Alvin memang lebih banyak bicara.

__ADS_1


"A–apa, maksud kamu?" tanya laki-laki paruh baya itu dengan suara terdengar dipaksakan untuk biasa saja.


"Aku hanya bertanya, Pak. Apa fungsi CCTV itu dipasang di rumah sakit ini?" tanya Alvin kembali dengan ekspresi polosnya.


Dia hanya teringat tentang caranya mendapatkan rekaman CCTV di sekolah Naura, dengan bimbingan dari Ezra tentunya. Mencoba untuk menerapkannya lagi agar bisa mendapatkan rekaman CCTV demi ibunya. Mungkin itu tidak salah, bukan?


"U–untuk mencegah adanya tindak kriminal dan mendapatkan bukti jika itu terlanjur sudah terjadi," jawab manager rumah sakit itu. Sedangkan dokter wanita itu hanya terdiam sambil memperhatikan interaksi Alvin dan manager rumah sakit itu.


"Bukannya alasan saya juga untuk mencegah tindakan kriminal? Saya sudah menjelaskan kalau selama beberapa hari ini, saya sedang diikuti seseorang yang pernah mengeroyok saya hingga masuk rumah sakit, dan saya hanya ingin berjaga-jaga juga memastikan jika orang yang bertanya tentang ibu saya pada resepsionis tadi siang itu memang bukan bagian dari mereka, Pak."


"Coba, Bapak, bayangkan jika kejadian  kriminal itu sudah terjadi di rumah sakit ini, dan itu karena Bapak, tidak mau memperlihatkan rekaman itu pada orang yang sudah mencurigai sesuatu seperti saya. Apa Bapak dan rumah sakit ini bisa bertanggung jawab pada korban selain memperlihatkan rekaman CCTV yang sebelumnya bisa berfungsi sebagai alat pencegahan, dan kini malah menjadi alat bukti karena sudah ada seseorang yang berstatus korban."


"Oh, dan pikirkan juga, jika sampai semua itu terjadi, lalu tersebar luas. Apa itu tidak akan berdampak buruk bagi rumah sakit ini?" Alvin berbicara panjang lebar, hingga mematahkan penilaian dokter wanita itu pada Alvin sebelumnya. Dia yang awalnya ingin membantu Alvin bicara, kini hanya bisa terdiam.


"Pak, rumah sakit ini sudah banyak berjasa untuk saya. Maka dari itu saya sangat berterima kasih pada rumah sakit ini, yang telah merawat ibu saya selama ini. Makanya saya akan sangat sedih jika sampai terjadi sesuatu pada rumah sakit ini, apa lagi jika masalah saya yang menjadi sebabnya," sambung Alvin lagi dengan ekspresi wajah yang berubah memelas.


Manager rumah sakit itu terdiam untuk beberapa saat tanpa mengalihkan tatapannya pada Alvin, sepertinya dia terlalu terkejut dengan apa yang diakatakan oleh Alvin. Hingga akhirnya di berdehem beberapa kali untuk mengawali berbicara.


"Ya ampun, aku tidak menyangka kamu bisa berbicara panjang lebar seperti ini untuk mendesak aku. Padahal aku dengar dari para perawat, kamu adalah anak yang santun dan pendiam," ujar manager itu dengan raut wajah terkejutnya.


Ini semua demi memastikan keselamatan ibuku, Pak. Untuk ibuku aku akan berusaha keras dengan cara apa pun, batin Alvin.


"Pak, bukankah lebih baik Anda izinkan saja Nak Alvin untuk melihat rekaman CCTV? Apa Anda tidak merasa terganggu dengan keberadaannya sekarang? Jika Anda mengizinkannya semua kekacauan ini tidak akan terjadi." Dokter wanita itu ikut mendukung Alvin untuk membujuk sang manager rumah sakit.


"Astaga, kalian berdua ini benar-benar membuat kepalaku pusing! Kenapa hanya masalah CCTV, sampai membuatku tertahan di ruangan sampai sore begini, tanpa mengerjakan pekerjaanku sendiri?!" kesal manager itu sambil melepas satu kancing kemejanya paling atas, seolah dia merasa tercekik oleh pakaiannya sendiri.


"Kalau begitu izinkan aku melihatnya, maka aku akan sangat berterima kasih pada, Bapak, dan tidak akan mengganggu hidup Bapak lagi." Alvin tampak menimpali.

__ADS_1


Manager rumah sakit itu terdiam sambil memijit pelipisnya yang mungkin merasa berdenyut akibat ulah Alvin dan dokter wanita itu.


"Iya-iya, baiklah ... kamu boleh melihat rekaman CCTV itu. Kamu puas sekarang?" kesal manager rumah sakit itu dengan wajah menahan emosi.


"Tentu, Pak, saya sangat puas. Terima kasih, Pak, terima kasih!" Alvin langsung menyalami tangan manager rumah sakit itu, dengan wajah sumringah, bibirnya tertarik ke atas hingga gigi bagiannya terlihat, seperti seorang anak yang baru saja mendapatkan mainan yang dia dambakan.


"Iya, sudah-sudah. Bisa-bisa patah tanganku jika kamu seperti itu. Sana, kamu pergi dari ruanganku sekarang dan jangan menggangguku lagi," ujar manager rumah sakit itu sambil mengibaskan tangannya, yang digoyangkan oleh Alvin dengan kekutan yang lumayan membuat manager itu kewalahan.


"Eh, maaf, Pak, saya terlalu senang." ujar Alvin merasa tidak enak, akan tetapi saat melihat raut wajah laki-laki paruh baya di depannya yang hanya mengangguk-anggukan kepala sambil mengibaskan tangannya, seolah menyuruhnya agar cepag pergi, Alvin pun kembaki berbicara.


"Baik, pak, saya pergi sekarang. Sekali lagi terima kasih, semoga umur Bapak panjang dan selalu diberi keberkahan, Amiin! Assalamualaikum, Pak," ujar Alvin sebelum akhirnya berlalu dari ruangan manager itu dengan wajah senangnya.


Sedangkan dokter wanita itu terlihat menggeleng kepala melihat sikap Alvin yang baru kali ini dia lihat. Selama ini dia hanya melihat sikap Alvin yang serius dan pendiam, baru sekarang dia melihat Alvin dengan sikap riang seperti anak-anak bercampur dewasa saat berbicara pada manager itu.


"Anak itu ... aku sudah tau dia sejak masih remaja dan sekarang dia sudah dewasa. Aku tidak menyangka kalau dia juga mempunyai sikap kekanakkan seperti itu," ujar Dokter wanita itu sambil menatap pintu yang sudah tertutup kembali.


"Kalau aku tidak mengingat perjuangan anak itu untuk membiayai ibunya, aku tidak akan pernah memberikan izin padanya melihat rekaman CCTV," ujar manager yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh dokter wanita itu.


"Terima kasih, Pak. Itu pasti sudah sangat membantunya." Dokter wanita terlihat mengalihkan tatapannya pada manajer itu sambil mengangguk samar.


"Ish, sepertinya semua petugas medis di rumah sakit ini sudah terhipnotis dengan anak itu," decak manager rumah sakit tidak mau menunjukkan kepeduliannya.


Dokter wanita itu tidak lagi menanggapi, dia berjalan ke luar dari ruangan setelah pamit. Manager rumah sakit itu memang terkenal tegas dan cukup keras kepala hingga banyak dari para pegawai yang malas berurusan dengannya. Akan tetapi, sebenarnya dia juga memiliki sisi baik hati, itu terbukti dengan dia mengizinkan Alvin melihat rekaman CCTV, walau harus melewati drama panjang lebih dulu.


Sore hari akhirnya Alvin baru bisa melihat hasil rekaman CCTV di rumah sakit, untuk melihat wajah dua orang laki-laki itu. Benar saja, ternyata itu memang salah satu anak buah Pak Mardo, Alvin masih ingat betul wajah keduanya saat mereka bertemu di bekas pabrik tempo hari.


"Apa ini, yang dimaksud oleh Pak Ezra minggu lalu? Tapi, kenapa dia tidak bilang langsung saja?" tanya Alvin dengan kening bertaut, walau sebenarnya itu memang ditujukan untuk rasa penasarannya sendiri.

__ADS_1


......................


__ADS_2