
...Happy Reading ...
......................
Perlahan Alvin turun dari motor, dia memilih maju beberapa langkah dan berdiri lebih dekat dengan para laki-laki berbadan kekar itu.
"Mau apa kalian?" tanya Alvin lagi, sambil bersiap-siap untuk melakukan kuda-kuda.
"Ikut dengan kita sekarang!" ujar tegas laki-laki yang menggunakan celana robek-robek.
Alvin mengernyit, memperhatikan satu per satu laki-laki di depannya. Bila diperhatikan dari penampilannya, mereka bukanlah preman jalanan atau bagian dari sebuah geng motor.
Tubuhnya terlalu terlatih, juga penampilannya yang tampak sedikit lebih rapi untuk kelompok preman, atau geng motor. Lagipula, memang ada geng motor yang menggunakan mobil? Dari kendaraannya saja sudah berbeda.
"Untuk apa aku harus ikut dengan kalian? Memang kalian siapa?" tanya Alvin, masih berusaha mengulur waktu.
Sementara itu, laki-laki paruh baya yang tadi ikut dengan Alvin, bersiap untuk pergi. Akan tetapi, salah satu anggota orang yang mencegat Alvin langsung menghentikannya.
"Biarkan dia pergi, ini adalah urusanku dengan kalian, kan?" ujar Alvin, beralih pada pria paruh baya itu.
"Kamu pikir kami bodoh, hah? Kalian sudah bekerja sama untuk meminta bantuan kan?" Laki-laki dengan celana robek-robek itu, tampak menatap tajam Alvin.
"Dia hanya ingin pergi ke rumah sakit, karena anaknya sedang menunggunya di sana," kesal Alvin.
"Ah, gak usah banyak omong, cepat bawa mereka berdua!" perintah laki-laki dengan celana robek-robek itu, pada anak buahnya.
"Pak, Pak, saya mohon, saya harus segera ke rumah sakit. Anak saya harus segera ditangani," mohon laki-laki paruh baya itu.
Alvin tampak geram melihat semua itu, bila tahu ini semua akan terjadi dia akan lebih memilih pulang sendiri, daripada harus melibatkan orang lain di dalam masalahnya.
"Aku akan ikut dengan kalian, asal lepaskan dulu dia!" ujar Alvin, dengan tatapan berubah tajam dan tangan mengepal kuat.
Laki-laki itu terlihat saling melihat satu sama lain, seperti sedang berkomunikasi lewat bahasa isyarat mereka sendiri.
"Serahkan dirimu dulu, baru kita akan melepaskan dia." Laki-laki dengan celana robek-robek itu memberikan syarat pada Alvin.
__ADS_1
Sepertinya mereka sedang malas bertarung, sampai memilih memberikan syarat dan mengikuti keinginan Alvin lebih dulu. Syukurlah, setidaknya Alvin bisa menyimpan energinya jika dalam keadaan terdesak nanti.
"Baik," angguk Alvin langsung.
Terlihat sekali bapak yang sedang di cekal itu tidak mau kalau Alvin mengorbankan diri sendiri untuk dirinya.
Salah satu laki-laki itu mendekati Alvin dengan waspada, sepertinya mereka sudah tahu kalau Alvin bisa bela diri, makanya mereka terlihat berhati-hati.
Alvin mengangkat tangannya, dia tidak melawan saat salah satu laki-laki itu mencekalnya dan mengikat tangannya.
"Lepaskan dia!" pinta Alvin.
Bapak itu terlihat menatap Alvin penuh rasa prihatin, mungkin dia merasa bersalah sekaligus berterima kasih pada Alvin.
Bapak itu pun terlihat dilepaskan, dia terus melihat Alvin, seakan ragu untuk meninggalkan laki-laki yang telah menolongnya itu.
"Sana, pergi! Dan, jangan coba-coba untuk lapor polisi, atau keluargamu akan jadi sasaran kita selanjutnya!" ancam laki-laki celana robek-robek itu.
Alvin mengangguk samar, seolah memberikan tanda kalau dirinya baik-baik saja.
"Hah, ternyata menangkapmu tidak terlalu sulit, kamu tidak melawan sama sekali," ujar laki-laki itu, saat mobil mulai melaju.
Alvin hanya diam, dia hanya memperhatikan setiap jalan yang mereka lewati, hingga beberapa saat kemudian, mobil berhenti di sebuah bangunan bekas pabrik.
Tunggu, Alvin mengenal tempat ini, walau bangunan itu sudah berhenti beroprasi cukup lama, hingga terlihat lapuk. Sopir di depan tampak menekan tombol klakson beberapa kali, dengan irama yang tampak seperti sebuah kode, Alvin mengerutkan kening, mencoba mengingat irama klakson itu.
Pintu gerbang terbuka oleh laki-laki bertubuh besar, bersamaan dengan bayangan masa remaja Alvin di saat berada di tempat itu. Alvin mengingat saat dirinya pertama kali datang dan berdiri tepat di balik gerbang masuk, menatap bangga gedung itu bersama laki-laki yang tak lain adalah Bapak.
Ya, gedung itu adalah bekas pabrik makanan siap saji perusahaan Bapak, yang bangkrut sejak satu tahun sebelum kecelakaan terjadi.
Mobil masuk ke dalam dengan perlahan, dia melihat bangunan itu masih terlihat cukup kokoh, besi-besi penopang dan pilar besar, masih tampak kuat, walau sudah terlhiat usang dan penuh debu.
Vin, ini adalah pabrik makanan kita. Kamu, mau masuk? Bayangan suara Bapak saat itu, melintas di kepala.
Wah, besar sekali, Pak. Bapak, keren! seru Alvin remaja, menatap gedung itu dengan mata berbinar.
__ADS_1
Ayo, masuk. Di dalam akan lebih keren lagi, ajak Bapak, sambil merangkul pundak Alvin yang waktu itu masih berumur sebelas tahun.
Alvin mengangguk cepat, kemudian mereka berjalan menuju ke dalam gedung berdua.
"Ayo turun!" sentak laki-laki celana robek-robek, menyadarkan Alvin dari bayangan masa kecilnya.
Ternyata mobil sudah berhenti dan mereka sudah bersiap untuk turun. Alvin menahan air matanya yang terasa sudah berkumpul di pelpuk, hingga tampak memerah.
Kenapa mereka tau tempat ini? Siapa sebenarnya yang mau berurusan denganku? batin Alvin, dia mengedarkan pandangannya melihat sekitar.
Alvin dibawa ke dalam, melewati pintu masuk utama, sama seperti dulu Bapak sering mengajak Alvin ke sini.
Wah, di sini luas ya, Pak! suara Alvin kecil terdengar lagi, begitu Alvin menginjakkan kakinya di dalam.
Bayangan saat dirinya sering datang dan bermain di tempat ini terus melintas di kepala. Keakrabannya dengan para pekerja pun, teringat jelas di kepala.
Alvin, kamu mau lihat tempat produksi? tanya Bapak yang langsung mendapat anggukkan dari Alvin kecil.
Seiring langkah Alvin yang semakin jauh ke dalam, maka ingatan tentang masa-masa kejayaan pabrik ini pun terus terlintas.
Banyaknya karyawan yang bekerja di pabrik, dengan berbagai pekerjaan, dari produksi hingga pengemasan. Semuanya selalu bekerja dengan wajah penuh semangat, hingga membuat Alvin juga ikut bersemangat bila berada di pabrik ini.
"Duduk!" titah laki-laki celana robek-robek itu lagi.
Alvin duduk di salah satu kursi besi yang terlihat sudah lapuk, dia mengedarkan pandangannya, melihat ruangan luas yang dulu menjadi ruangan pengemasan, ruangan yang paling bersih dan aman untuknya bermain.
"Mau apa kalian membawaku ke sini?" tanya Alvin, menatap satu per satu laki-laki yang kini tampak mengelilinginya.
"Untuk bertemu dengan bos kami, dia akan datang sebentar lagi," jawab laki-laki celana robek.
"Siapa sebenarnya bos kalian itu? Apa yang dia inginkan dariku?!" tanya Alvin.
"Kamu bisa tau nanti! Jadi sekarang lebih baik kamu diam, atau kamu akan merasakan sentuhan tangan salah satu di antara kami," ujar laki-laki celana robek-robek itu, mengancam.
"Ck!" Alvin hanya berdecak, sambil menatap tajam para laki-laki itu, dia kemudian duduk diam sambil terus memperhatikan skeitarnya, juga mengingat setiap hal tentang tempat itu.
__ADS_1
......................